Heart, Mind, and Soul (Oneshot)


Title: Heart, Mind and Soul

Author: Jaehyunmi

Genre: Angst, Romance

Rating: T

Length: One shot

Cast: Lee Hyunmi, Shim Changmin, Kim Jaejoong, and other.

DISCLAIMER: This fanfiction is mine (Annisa Fitri Wulandari a.k.a Jaehyunmi). I’m not plagiat! Because I hate plagiat!!

WARNING: TYPO(S), OOC, UGLY DESCRIPT, BORING VOCABS, JUDUL GAK NYAMBUNG SAMA CERITA. SO, DON’T LIKE DON’T READ. I WON’T ACCEPT ANY RUBBISH FLAME, BUT I’LL ACCEPT ANY GOOD CRITICS😉

“…..”  berarti percakapan

‘…..’  berarti ucapan dalam hati

Sebelumnya… konbanwa minna-san~~~ O genki desu? lol xD

Yo I’m back with my new fanfic. Haha,  oh iya… saya mau cuap cuap sedikit nih, ini adalah fanfic terakhir saya sebelum saya hiatus selama 5-6 bulan. Seperti yang sudah saya bilang di ff sebelumnya (breathless), bahwa saya sebentar lagi akan mejalani UN, karena itu saya izin hiatus. saya akan kembali sekitar bulan Juni, atau mungkin lebih cepat. Doakan saya, semakin tinggi hasil UN saya, semakin cepat pula saya kembali(?) #gaknyambung

Hm… kayaknya gitu aja deh. Lastly, enjoy my fict!

***

Seorang wanita cantik berdiri terpaku ditempatnya berdiri, sepasang mata indah miliknya menatap tak percaya pemandangan yang berada jauh didepannya. Kerumunan orang orang berbaju serba hitam yang mengelilingi sebuah gundukan tanah yang terlihat baru yang diiringi oleh isak tangis sebagian besar orang orang tersebut, semua pemandangan itu sudah lebih dari cukup bagi wanita itu untuk menyadari apa yang terjadi.

Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut sang wanita, lidahnya terasa kelu setiap kali ia ingin mengucapkan sesuatu. Hatinya terasa sakit. Rasanya bagaikan ditusuk tusuk oleh sebuah belati yang cukup tajam berulang ulang kali. Atau bahkan lebih dari itu. Rasanya sakitnya begitu tak tertahankan. Belum pernah ia merasakan rasa sakit yang begitu menyakitkan seperti ini, rasa sakit yang seakan akan dapat membunuhnya.

Angin pun berhembus kencang, membuat tubuh wanita itu bergetar saat angin tak bersahabat itu menerpa tubuh bagian atasnya yang hanya terbalut oleh sebuah kaus berwarna putih dan cardigan berwarna kuning cerah, berbanding terbalik dengan suasan hatinya saat ini.

Ia masih terus menatap tak percaya pemandangan dihadapannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, dan tubuhnya kembali bergetar hebat saat itu juga. Bukan, tubuhnya bergetar bukan hanya karena angin kencang yang terus berhembus dan menerpa tubuhnya, namun juga karena wanita itu berusaha menahan tangisannya.

Wanita itu mengerjap-kerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menahan sekuat tenaga air mata yang dapat mengalir kapan saja keluar dari matanya. Ia mencoba, wanita itu mencobanya. Karena ia tahu, sekali saja air mata itu jatuh, ia ragu ia dapat menahannya lagi, ragu dapat membendung perasaannya lagi.

Perlahan namun pasti, kedua kelopak mata wanita itu terbuka, memperlihatkan sepasang bola mata indah berwarna cokelat milik wanita itu. Ia berharap, wanita itu berharap saat ia membuka matanya semua akan kembali seperti semula, berharap bahwa semua ini hanya mimpi dan tak mungkin pernah terjadi.

Namun siapa sangka, saat itulah puncak kehancuran dirinya. Tubuh wanita itu melemas saat itu juga, otaknya terasa kosong seketika, dan tanpa sadari kedua tangan wanita itu terkepal erat. Suatu tindakan yang sia sia belaka dari wanita itu, karena tindakan itu tak bisa mengatasi gejolak dihatinya saat ini, tak cukup untuk meredam nyeri dihatinya yang makin begitu terasa menyakitkan.

Matanya menatap nanar kearah depan, menatap sebuah gundukan tanah yang sedari tadi dikelilingi oleh banyak orang yang menggunakan pakaian serba hitam dengan isak tangis yang keluar dari sebagian besar orang orang itu, seolah olah tangisan mereka merupakan backsound yang pantas untuk situasi yang terjadi saat itu.

Tidak, gundukan tanah itu bukanlah sebuah objek yang menjadi pusat perhatian wanita itu, namun sebuah tulisan yang terukir indah dibatu nisan itulah yang menjadi pusat perhatian wanita itu. Di sana, di batu nisan itu, terukir sebuah nama seseorang yang sangat dikenalnya, seseorang yang juga sangat berarti baginya.

Ia membuka mulutnya, ia ingin berteriak, apapun itu. Namun yang terjadi diluar dugaannya, ia tidak bisa berteriak, tak ada suara yang keluar dari mulut wanita itu, bahkan untuk berbicara pun tak bisa, tenggorokannya terasa tercekat, seolah-olah mencegahnya untuk berteriak atau bahkan hanya untuk mengeluarkan sebuah suara.

Wanita itu menggeleng. Ia menolak, menolak menerima kenyataan tersebut. Ingin rasanya ia berteriak, mengatakan pada semua orang yang ada disana untuk menghentikan pemakaman itu, mengatakan pada semua orang bahwa orang didalam peti itu bukanlah orang itu, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.

Air mata kini telah membasahi wajahnya, ia benar benar tak sanggup lagi menahan air matanya. Wanita itu merasa hatinya hancur, benar benar hancur. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya berdiri terpaku ditempatnya, menatap sebuah gundukan tanah baru yang dikelilingi oleh banyak manusia yang tengah menangis. Sama seperti dirinya.

Namun pada akhirnya, wanita itu mulai membalikkan badannya. Tak sanggup, wanita itu tak sanggup terus berada disana. Ia tak sanggup terus menatap gundukan tanah itu, gundukan tanah dimana seseorang yang ia sayangi terbujur kaku didalam peti mati didalam sana.

Rasanya lebih baik mati dari pada terus menerus menatap gundukan tanah tersebut, ia tak sanggup.. ia belum dapat menerima kenyataan yang begitu menyakitkan seperti ini. Ini semua seperti mimpi, mimpi buruk yang membuatnya ingin segera mengakhirinya.

***

Seorang pria yang begitu tampan terlihat membuka pintu mobil Ferrari hitam miliknya dengan cepat, raut wajah pria itu terlihat gelisah, rentetan kata kata berisi umpatan yang tak patut didengar oleh anak dibawah umur pun meluncur dari bibir merah miliknya dengan begitu mudahnya.

‘Brak!’

Sebuah suara yang cukup keras tiba tiba saja yang memecah keheningan alam disekitarnya. Suara itu tak lain berasal dari pintu mobil yang baru saja ditutup dengan cukup keras oleh pria tampan tadi. Dari caranya menutup mobil miliknya dapat diketahui ada kemarahan yang tersimpan dan bergejolak didalam diri pria tampan itu.

Hembusan angin semilir yang terasa begitu sejuk tiba tiba saja berhembus, bagaikan sebuah sambutan bagi sang pria sesaat setelah ia menapakkan kakinya keluar dari mobil mewah miliknya. Hal itu membuat sang pria tertegun, terdiam seketika ditengah tengah hembusan angin semilir yang terus berhembus dan keheningan yang tercipta disekitarnya.

Selama beberapa detik pria itu masih terdiam, terhanyut dengan keheningan yang entah mengapa ia sukai. Dengan jantung yang masih bergemuruh, pria tampan itu perlahan lahan memejamkan matanya, mulai menikmati angin yang menerpa tubuhnya dengan syahdu.

Sebuah perasaan hangat tiba tiba saja menyelinap masuk kedalam relung hati pria itu, membuatnya merasa nyaman. Kegelisahan dan kemarahan yang berkecambuk didalam hatinya hilang begitu saja, seolah-olah terbang dan hilang terbawa angin yang masih saja menerpa tubuhnya.

Rambut coklat yang mulai memanjang milik pria itu melambai dengan mengikuti arah angin, membuat tatanan rambut coklat itu berantakan, namun tidak mengurangi ketampanan yang terpancar dari tubuh pria itu.

Perlahan lahan, kedua kelopak mata milik pria itu pun terbuka. Sebuah helaan nafas terdengar keluar dari bibir sang pria, yang diikuti dengan sebuah senyum tercipta diwajah tampannya, ia merasa lebih baik saat ini.

Selang beberapa saat, kedua kaki panjang milik pria itu pun mulai bergerak, membawanya berjalan memasuki sebuah area pemakaman umum dihadapannya.

“Drrtt.. drrtt…”

Getar ponsel di saku celana pria itu membuatnya langkahnya terhenti. Tangannya dengan cepat bergerak merogoh sakunya, mencari cari ponsel miliknya.

‘Appa calling’

Tulisan itulah yang terpampang di jelas di layar ponsel pria itu ketika ia berhasil mengambil ponselnya. Dengan malas diangkatnya panggilan telfon itu sedangkan kedua kakinya kembali ia langkahkan memasuki area pemakaman umum dihadapannya.

Changmin-a!” Rahang pria yang dipanggil Changmin itu mengeras tatkala sebuah suara bentakan keras yang begitu familiar menyambut indera pendengarannya,  bahkan sebelum dirinya mampu membuka mulutnya hanya untuk sekedar menyapa sang penelfon.

“Ah, appa. Wae?” tanya Changmin to the point, suaranya terdengar begitu datar.

 “Masih bertanya kenapa?! Cih, kau memang anak tidak tidak berguna, Shim Changmin! Kau lupa bahwa hari ini pemakaman kakakmu, hah?!”

Saat itu juga langkah Changmin terhenti, dadanya terasa sesak seketika. Dan tanpa Changmin sadari, tangannya kini mencengkram ponsel miliknya begitu kuat ketika mendengar bentakan dari sang ayah, mencoba menahan gejolak kemarahan yang tiba tiba saja berkumpul di dadanya.

“Ani.” Jawab Changmin akhirnya, suaranya dibuat sedatar mungkin.

“Cepat datang, jangan buat appa dan umma malu didepan keluarga besar kita dan teman teman appa yang datang karena kau tidak datang kepemakaman! Kau tahu sekarang dirimu itu siapa kan, Changmin-ah?!”

Sebuah senyum tiba tiba saja terbentuk di wajah tampan pria bermarga Shim itu. Bukan, senyum itu bukan senyum ceria yang dulu sering ia tunjukkan pada siapapun, melainkan sebuah senyum miris yang selalu terbentuk saat ia mengingat siapa sebenarnya dirinya, sebuah senyum miris yang ia tunjukkan untuk dirinya sendiri, dan juga senyum tak pernah ia perlihatkan pada orang lain, kecuali kedua orang itu, dua orang yang sangat berarti dihidupnya.

Perlahan lahan, Changmin menghela nafasnya, berharap sang ayah tidak mendengar helaan nafas yang keluar dari bibirnya. Pria itu membuka mulutnya dan berkata dengan datar, “Ne, aku tahu appa. Aku yang sekarang adalah seorang Shim Changmin yang merupakan seorang pewaris tunggal Shim corporation, Perusahaan terbesar se-Asia yang bergerak dibidang Perhotelan, bukan seorang Shim Changmin yang dulu, Shim Changmin yang merupakan seorang jurnalis, Shim Changmin yang selalu membangkang perkataan kedua orang tuanya.”

Usai berkata seperti itu, dengan sangat jelas Changmin dapat mendengar sang ayah tertawa senang diseberang sana, membuat cengkraman jari-jari Changmin diponsel miliknya semakin kuat.

“Bagus. Akhirnya kau sadar siapa dirimu yang sebenarnya. Jadi cepat sekarang kau datang, atau kau akan dapat hukuman yang setimpal karena telah mempermalukan appa mu sendiri. Arraseo?!” tanya Mr. Shim, ayah Changmin.

“Ne, arraseo appa.”

‘Pip’

Changmin memejamkan matanya, tangan kirinya-yang tadi ia gunakan untuk menerima telfon dari sang ayah-terkulai disamping tubuhnya. Sambungan telfon itu memang sudah berakhir, namun cengkraman jari jari Changmin diponsel miliknya masih belum berhenti, bahkan kini tangan kanan pria itu mulai terkepal dengan kencang.

“ARRGHH DAMN!!!!” Changmin berteriak penuh emosi, tangan kirinya terangkat, bersiap siap melempar ponsel miliknya ke tanah. Namun gerakan Changmin seketika terhenti ketika ekor matanya menangkap sebuah object yang merupakan sebuah foto yang ia jadikan walpaper ponsel miliknya, sebuah foto dimana seorang gadis berdiri seraya tersenyum manis kearah kamera, dikanan kiri gadis itu berdiri masing masing seorang laki laki yang juga tengah tersenyum manis kearah kamera.

‘Deg!’

Seketika Changmin mencelos, segala kemarahan, rasa frustasi, dan juga kekesalannya yang beberapa saat yang lalu memuncak tiba tiba saja hilang, tergantikan oleh sebuah perasaan sakit yang perlahan lahan menyelusup masuk kedalam hatinya.

“Changmin.” Ucap Changmin seraya menatap seorang laki laki yang berdiri paling kiri dalam foto itu, laki laki itu adalah dirinya, sosok dirinya yang masih berumur 16 tahun, 9 tahun yang lalu.

“Jaejoong hyung.” Suara yang terdengar lirih itu keluar dari mulut Changmin, matanya kini menatap lekat lekat kearah seorang anak laki laki yang berdiri paling kanan dalam foto itu, kakaknya, Shim Jaejoong.

“Dan…………” seketika nafas Changmin terasa tercekat. Kedua mata pria itu kini beralih menatap sosok seorang gadis cantik yang berdiri ditengah tengah dirinya dan Jaejoong dalam foto itu, sosok gadis yang begitu indah, begitu cantik, dan begitu…. sempurna dimata seorang Shim Changmin.

Mulut Changmin kembali terbuka, mencoba mengucapkan nama gadis itu, nama seorang gadis yang selama ini ia rindukan, nama seorang gadis yang telah berhasil mengacaukan seluruh perasaan Changmin selama bertahun tahun. Namun tak bisa, ia tetap tak  bisa menyebut gadis itu, lidahnya terasa kelu seketika, entah apa yang terjadi.

Tangan kiri Changmin pun terkulai lemas disisi tubuhnya. Dapat dilihat dengan jelas, dada pria itu naiC-turun dengan cepat, menandakan nafasnya yang tak teratur. Dan kini mata pria itu terpejam, mencoba mengatasi perasaan yang sejak tadi bergejolak didalam dadanya.

Perlahan lahan, nafas Changmin mulai teratur, matanya yang semula terpejam pun mulai terbuka, menandakan bahwa ia telah berhasil mengendalikan perasaannya dengan baik. Namun tiba tiba saja iris matanya menangkap sosok seorang wanita yang tengah membelakanginya didepan sana, sosok wanita yang begitu ia kenal, yang begitu berharga dihidupnya.

Ia tak percaya, wanita itu memang benar benar datang ke pemakaman hyungnya, Jaejoong hyung. Dengan jantung berdebar keras, dilangkahkannya kedua kakinya menuju wanita itu.

Tinggal beberapa langkah lagi sampai ia tiba di belakang wanita itu, ia terus berjalan dan….

‘deg’

Seketika langkah Changmin terhenti, sosok wanita yang ditujunya tiba tiba saja membalikkan tubuhnya dan kini mereka berdua berdiri berhadapan. Dan saat itu juga Changmin bersumpah dapat melihat wajah wanita itu penuh dengan air mata.

“H-Hyunmi… noona?”

“Changmin-ah?”

***

“Sudah lebih baik?”

Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang Shim Changmin seolah olah memecah keheningan yang telah tercipta sejak 10 menit yang lalu di sebuah taman tempat mereka berada, hal itu berhasil membuat seorang wanita cantik didekatnya menolehkan kepalanya kearahnya.

Ya, kini Changmin tengah berada disebuah taman, berdua dengan seorang wanita yang ia temui dipemakaman hyungnya, seseorang yang sudah sangat lama ia kenal, Lee Hyunmi. Kini ia duduk disalah satu ayunan yang berada ditaman tersebut, sedangkan Hyunmi duduk di ayunan lain yang berada tepat disebelah ayunan tempat Changmin duduk.

Ia memutuskan membawa wanita itu pergi setelah bertemu-secara tak sengaja-dengannya dipemakaman hyungnya dan mendapati wanita itu tengah menangis dan terlihat begitu rapuh. Ia menghela nafas sejenak sebelum menggerakkan ayunan tempatnya duduk kedepan dan kebelakang, membuat ayunan itu bergoyang kedepan dan kebelakang dengan perlahan, seolah-olah angin lah yang menggerakkan ayunan tersebut.

Changmin pun menoleh dan tersenyum manis kearah wanita tersebut-Lee Hyunmi-ketika ia menyadari wanita itu masih menatapnya sejak tadi. Dapat ia lihat dengan jelas mata wanita itu terlihat sembab, dan hidungnya memerah, khas setiap wanita yang habis menangis.

Seharusnya setiap wanita dengan mata sembab dan hidung yang memerah pasti terlihat aneh, atau bisa dibilang kecantikan wanita itu berkurang. Namun entah mengapa, wanita tersebut masih terlihat cantik. Tak peduli dengan mata yang sembab dan hidung yang memerah, ada sesuatu dalam diri wanita itu yang membuatnya tetap terlihat cantik dimata seorang Shim Changmin.

“Merasa lebih baik, noona?” tanya Changmin sekali lagi. Ia mengerti, wanita itu tadi pasti tak mendengar dengan jelas pertanyaannya karena sibuk melamun, oleh karena itu Changmin mengulang pertanyaannya.

“Ah, ne.” ucap Hyunmi yang akhirnya mengerti pertanyaan Changmin. “Gomawo.” Lanjutnya lagi, sebuah senyum tipis tersungging diwajah cantiknya, menandakan bahwa dirinya memang sudah merasa lebih baik.

Changmin terdiam sejenak, ditatapnya wanita itu tepat dimaniak matanya, mencoba mencari kebohongan dikedua bola mata wanita tersebut. Setelah dirasanya Hyunmi tak berbohong, Changmin kembali melayangkan sebuah senyum manisnya. “Tidak perlu berterima kasih, noona. Ini memang sudah menjadi tugasku untuk membuatmu merasa lebih baik.”

Seketika kening Hyunmi berkerut, menandakan bahwa ia tak mengerti apa maksud ucapan Changmin barusan. “Tugasmu? Membuat ku merasa lebih baik? Apa maksudmu?” selidik Hyunmi.

‘Itu memang sudah menjadi tugasku noona. Karena sebelum Jaejoong hyung meninggal…. ia menitipkan mu padaku.’ Lirih Changmin dalam hati, ditatapnya Hyunmi dengan tatapan sendu.

“Changmin-ah? Ya! Kenapa kau malah diam?”

Changmin tersentak dari lamunannya ketika indera pendengarannya menangkap sebuah suara yang tak lain adalah suara Hyunmi. Ia menghela nafas dalam hati sebelum menatap Hyunmi kesal, berpura pura marah padanya. “Aish, masa noona tidak sadar? Tentu saja itu tugasku, noona kan sahabatku. Tugas seorang sahabat memang harus membuat sahabat lainnya merasa lebih baik saat sahabatnya itu merasa sedih, bukan?” bohong Changmin.

Ia tersenyum sejenak sebelum mengalihan pandangannya, ia tahu kini Hyunmi tengah menatapnya, mencoba mencari kebohongan dia kedua mata Changmin. Changmin tak ingin Hyunmi tahu jika ia berbohong. Karena Changmin tidak dapat memberitahukan alasan sebenarnya jika Hyunmi menanyakan jawaban yang sebenarnya atas pernyataannya beberapa saat yang lalu. Ia tak bisa, setidaknya tidak untuk saat ini.

“Kau… tidak berbohong kan, Shim Changmin?” pertanyaan Hyunmi membuat Changmin menolehkan kepalanya kearah sumber suara itu. Didapatinya Hyunmi yang tengah menatapnya curiga, dan hal itu berhasil membuat Changmin sedikit gelagapan.

“Tentu saja. Noona pikir sudah berapa lama noona mengenalku? Mana mungkin aku berbohong padamu, noona.” Jawab Changmin

“Arraseo. Aku percaya padamu, Changmin-ah.” Jawaban yang keluar dari mulut Hyunmi berhasil membuat Changmin tertegun. Dipaksakannya sebuah senyum diwajahnya sebelum mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya, menatap kosong kearah air mancur yang tepat berada ditengah tengah taman tersebut.

Keheningan pun tercipta diantara keduanya. Mereka terdiam, tak ada yang bersuara, masing masing sibuk dengan lamunan dan pikirannya masing masing. Tapi pada akhirnya, keheningan pun terpecah. Suara yang berasal dari Hyunmi yang memanggil nama Changmin memecah keheningan disekitarnya.

Changmin yang merasa namanya dipanggil pun menoleh kearah sang wanita-Hyunmi-yang tengah menatapnya lekat lekat, “Boleh aku bertanya…. sesuatu padamu?” tanya Hyunmi pada Changmin.

Changmin tersenyum dan mengangguk kecil, “Boleh. Noona mau bertanya apa?”

Hyunmi menghela nafas berat sebelum membuka mulutnya dan berkata, “Apa… Jaejoongie… menyampaikan sesuatu tentang ku padamu… sebelum ia… meninggal?” tanya Hyunmi hati hati, ditatapnya Changmin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kosong miliknya.

“Changmin-ah? Kau mendengarku?” tanya Hyunmi setelah cukup lama mereka terdiam, ah tidak, lebih tepatnya Changmin lah yang terdiam. Sedari tadi ia hanya terdiam dan menatap kosong kearah Hyunmi, hanya terdiam dan tak kunjung menjawab pertanyaan Hyunmi.

“Ya! Changmin-ah!” kali ini suara Hyunmi terdengar sedikit meninggi. Tidak, Hyunmi tidak marah karena Changmin masih juga terdiam, tapi ia khawatir, khawatir akan keadaan Changmin, pria yang sudah lebih dari 10 tahun menjadi sahabatnya, tak pernah ia melihat raut wajah Changmin yang seperti ini, ia terlihat seperti tengah memanggul beban yang berat dan membuatnya tersiksa, dan hal itu benar benar membuat wanita bermarga Lee itu khawatir.

“Changmin-ah?” nada khawatir kini terdengar jelas dalam suara Hyunmi. “Kau baik baik saja kan? Ada apa dengan-“

“Tidak.”

Seketika kalimat Hyunmi terhenti, ditatapnya Changmin yang kini mengalihkan pandangannya darinya. Hyunmi tidak mengerti, apa yang pria itu maksud dengan….

“Tidak. Jaejoong hyung tidak mengatakan apa pun padaku tentang mu, noona.”

‘deg’

Seketika itu juga tubuh Hyunmi terasa kaku, dadanya tiba tiba terasa sesak, hatinya terasa begitu sakit. “B-begitu, kah?” tanya Hyunmi, suaranya terdengar begitu lirih dan… bergetar. Wanita itu menundukkan kepalanya, dan kedua tangannya ia letakkan pada kedua pahanya, meremas rok berwarna merah muda yang ia kenakan.

Air mata terlihat menggenang dipelupuk mata Hyunmi yang masih terlihat membengkak karena tangisannya sejak dipemakaman Jaejoong tadi pagi, orang yang sangat ia cintai, kekasihnya.

‘Tes… tes…”

Tanpa bisa ia cegah sama sekali, air matanya kini jatuh, tepat mengenai punggung tangannya, membuat air mata itu perlahan lahan mengalir menuruni punggung tangannya menuju rok yang ia kenakan. Punggung wanita itu kini bergetar, setetes demi tetes air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya.

“Hahahaha….” tiba tiba saja suara tawa yang terdengar begitu lirih terdengar dari arah Hyunmi, membuat Changmin-yang sedari tadi memilih tak menolehkan kepalanya kearah wanita itu-kini langsung menoleh dan menatap wanita itu lekat lekat.

“N-noona?”

“Begitu, kah? Hahaha aku memang bodoh. Seharusnya aku menyadarinya sejak awal tentang perasaannya padaku, seharusnya aku menyerah sejak awal. Ia tidak mencintaiku, atau mungkin dia membenci ku? Hahaha entahlah.” Ucap Hyunmi yang mulai melantur.

Hyunmi mengangkat kedua tangannya dan dengan kasar menghapus jejak air mata yang mengalir menuruni pipinya, tapi itu semua percuma, karena setetes demi tetes air mata kembali mengalir menuruni pipinya, membuat jejak air mata yang baru di wajahnya.

“Seharusnya aku tidak menerima pertunangan itu, karena ia pasti sangat tersiksa bertunangan denganku. Aku bodoh, aku mencintainya tapi aku malah membuatnya menderita. Aku bodoh, aku tidak berguna.” Racau Hyunmi ditengah isakannya yang mulai terdengar, membuat Changmin menatap khawatir kearahnya.

“N-noona, t-tidak begitu. Kau salah, dia-”

“Apa yang salah, Changmin-ah? Bukankah benar? Dia memang tidak mencintaiku, dan dia memang tak suka bertunangan denganku, Changmin-ah. Dia bahkan seperti menghindariku dan selalu bersikap dingin padaku setelah pertunangan itu.” Lirih Hyunmi.

“Noona-“

“Aku telah membunuhnya Changmin-ah, membunuh orang yang benar benar aku cintai. Aku benar benar tak berguna, aku selalu menyusahkan orang lain. Bahkan menyebrang jalan pun aku tak becus, sehingga akhirnya dia mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkanku dari tabrakan itu.  Bodoh, aku bodoh Changmin-ah….”

Seketika rahang Changmin mengeras mendengar ucapan Hyunmi, saat itu juga ia berdiri dan melangkahkan kakinya mendekat kearah Hyunmi.

“Akh!” Hyunmi tersentak kaget saat dirasakannya sebuah lengan menarik lengannya dengan kasar, menyebabkan tubuhnya kini berdiri dari posisi duduknya.

Kepalanya pun terangkat, dan seketika tubuhnya terasa membeku tatkala kedua mata besarnya bertubrukan dengan kedua mata Changmin yang tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam dan dingin.

“A-akh!  C-Changmin-ah…ap..po…” rintih Hyunmi saat dirasakannya sakit pada pergelangan tangan kirinya. Cengkraman Changmin terasa begitu kuat, membuat pergelangan kiri  Hyunmi terasa panas dan juga sakit.

“Y-Changmin-ah, le-lepaskan.. sa-sakit….”

“Andwae.”

“Y-ya! Y-Changmin-ah, jebal…..“

“Aku akan melepaskan noona jika noona berjanji berhenti mengatakan bahwa noona lah penyebab Jaejoong hyung meninggal, bahwa ia menyelamatkan noona karena tanggung jawabanya sebagai tunangan noona.” Ucap Changmin lambat-lambat dan penuh penekanan disetiap katanya, membuat wanita dihadapannya tertegun.

“Wae? WAE???” teriak Hyunmi dengan suara bergetar. “Bukankah benar? Harusnya aku yang berada dipeti mati itu, harusnya aku yang meninggal saat itu! Tapi ia menyelamatkanku, dia sudah berjanji pada orang tua ku untuk menjaga ku, karena itu dia menyelamatanku. Itu semua sama saja, aku telah membunuhnya karena membiarkannya menyelamatkanku. Aku pembunuh, aku-“

‘Grep’

Kalimat Hyunmi seketika terhenti saat dirasakannya cengkraman yang begitu kuat pundaknya. “Berhenti mengatakan hal itu, Lee Hyunmi.” Ucap Changmin penuh penekanan disetiap katanya, sedangkan matanya kini menatap penuh benci kearah wanita dihadapannya saat ini. “BERHENTI MENGATAKAN BAHWA KAU LAH YANG MENYEBABKAN JAEJOONG HYUNG MENINGGAL!! DIA MENCINTAI MU KARENA ITU DIA MENYELAMATKAN MU!!!”

‘deg’

Seketika itu juga tubuh Hyunmi terasa lemas, kalau saja tangan Changmin tak mencengkram pundaknya dengan keras, mungkin ia sudah jatuh tertunduk saat ini. Hyunmi pun menatap laki laki dihadapannya dengan pandangan kosong selagi otaknya mencoba mencerna kalimat yang terlontar dari mulut Changmin beberapa saat yang lalu.

“M-mweo?” Hyunmi bertanya dengan terbata-bata. Belum, ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Otaknya masih terus sibuk mencerna ucapan Changmin, sedangkan matanya kini sibuk menatap langsung ke maniak mata laki laki dihadapannya, mencoba mencari kebohongan dimata itu.

“T-tidak mungkin. Tidak mungkin Jaejoong….“ ucapan Hyunmi terhenti, tenggorokannya terasa tercekat. Dapat dirasakannya cengkraman tangan Changmin dipundaknya perlahan lahan mengendur hingga akhirnya terlepas, menyebabkan tubuh Hyunmi sedikit terhuyung akibat tak ada lagi yang menahan tubuh Hyunmi kecuali kedua kakinya yang terasa begitu lemas.

“B-bohong! Kau bohong Shim Changmin! Tidak mungkin… tidak mungkin Jae-“

“Noona tidak percaya padaku?” potong Changmin. Ditatapnya wanita yang lebih tua 1 tahun darinya itu dengan tatapan tak percaya. “Noona masih meragukan kata kataku?”

“C-Changmin-ah….”

“Baiklah, akan kubuktikan kalau Jaejoong hyung memang mencintaimu, noona. Dan saat itu, aku harap noona tidak meragukannya lagi.”

Hyunmi tertegun mendengar ucapan Changmin, suaranya terdengar begitu tegas, dan dari tatapan matanya Hyunmi tahu jika pria dihadapannya saat ini sedang tidak bercanda. Dan saat Changmin menariknya menuju mobil miliknya yang terparkir diluar taman, Hyunmi sama sekali tak menolak.

***

“C-Changmin… untuk apa… untuk apa kita kemari??” tanya Hyunmi terbata bata, ditatapnya Changmin yang kini tengah menatapnya kosong sebelum mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil, menatap jalan setapak kecil yang seolah membelah hutan diluar sana, jalan setapak yang membawa menuju sebuah tempat didalam hutan itu, tempat yang mengandung sebuah kenangan besar dalam benak wanita tersebut.

“Tentu saja untuk membuktikan bahwa Jaejoong hyung memang mencintai mu….” Ditatapnya wanita cantik disampingnya itu lekat lekat sebelum menghela nafas kecil dan dengan cepat membuka pintu mobilnya.

Changmin pun keluar dari mobilnya dan berjalan mengitari depan mobilnya menuju dan membukakan pintu mobil untuk Hyunmi. “Kajja, noona.” Changmin mengulurkan tangannya lalu menarik Hyunmi dengan lembut keluar dari mobilnya.

“Changmin-ah.” Panggil Hyunmi pelan, ia pun menahan tangan Changmin yang hendak menariknya menuju jalan setapak itu.

“Wae, noona?” Changmin mengerutkan keningnya dan menatap bingung kearah Hyunmi.

“Bisakah kita pulang saja? A-aku… aku tidak ingin kesana. Aku-“

“Takut?” potong Changmin seolah olah mengerti kemana arah pembicaraan ini. Sedangkan Hyunmi hanya menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Changmin. Takut? Ya, Hyunmi memang takut. Ia takut akan kenyataan yang akan segera dibuktikan oleh Changmin, kenyataan bahwa orang yang ia cintai juga mencintainya, bahwa Shim Jaejoong juga mencintainya, dan juga… kenyataan pahit yang harus diterimanya karena selama ini tak menyadari bahwa Shim Jaejoong mencintainya.

“Aku tidak berhenti disini noona, aku akan tetap membawa ke sana. Jadi jangan menahanku, karena secara tidak langsung, noona sendirilah yang memaksaku untuk membuktikan bahwa hyung ku juga mencintaimu.”

Setelah Changmin mengucapkan kalimat itu, Hyunmi dapat merasakan Changmin menarik tangannya lembut, membawanya mengikutinya menyusuri jalan setapak itu, menuju sebuah tempat yang penuh kenangan baginya. Dan selama perjalanan pun Hyunmi hanya diam, namun ekor matanya tak henti hentinya melihat kesekeliling tempatnya, dan pikirannya pun terus melayang layang menuju memori masa lalunya.


*Flashback*

“Joongie, aku tidak mau. Aku ingin pulang saja…” rengek Hyunmi pada sosok Jaejoong yang tengah menatapnya dengan tatapan tak percaya. Hyunmi mengalihkan pandangannya, kini matanya menatap gelisah kearah jalan setapak yang ada dihadapannya saat ini, pikiran polos yang entah mengapa masih betah menempel pada otak gadis berumur 10 tahun itu mengatakan bahwa jalan setapak itu akan membawa mereka menuju tempat dimana para buronan penjahat sering bersembunyi didalam hutan, dan hal itu semakin membuat gadis itu gelisah.

Ya memang, saat ini mereka tengah berada jalan setapak menuju hutan yang terdapat didekat sebuah villa mewah milik keluarga Jaejoong dan Changmin, keluarga Shim. Keluarga Shim adalah keluarga yang cukup terpandang di Korea, begitu pula dengan keluarga Lee, yang merupakan keluarga Hyunmi. Dan kedua keluarga itu memang cukup dekat satu sama lain, sehingga tak heran kini kedua keluarga itu tengah berlibur ditempat yang sama, di salah satu villa mewah milik Keluarga Shim yang terletak di luar kota Seoul yang memang terkenal dengan pemandangan alamnya yang masih asri dan begitu indah itu.

“Kau takut?” tanya Jaejoong.

“A-ani, aku tidak-“

“Noona jangan takut,” ucapan yang terlontar dari mulut Changmin membuat Jaejoong dan Hyunmi menoleh padanya. “Tenang saja, ada Joongie hyung kok. Lagi pula Minnie disini, Minnie pasti juga akan melindungi noona..” Senyum tiga jari milik Changmin terpampang jelas diwajahnya, sedangkan matanya menatap lurus kearah mata Hyunmi, seolah olah mencoba menenangkan dan meyakinkan Hyunmi.

“Tapi tetap saja, bagaimana jika kita tersesat? Aku juga tidak ingin membuat eomma, appa, Shim ahjusshi dan juga Shim ahjumma khawatir. Lebih baik kita kembali ke villa saja.“ saran Hyunmi. “Jadi.. jadi sebaiknya-“

“Hyunmi, kau tidak percaya pada ku?” potong Jaejoong yang berhasil membuat Hyunmi mendongakkan kepalanya, menatap mata laki laki yang 4 tahun lebih tua darinya itu.

“Tentu saja aku percaya pada Joongie…” ucap Hyunmi dengan bibir mengerucut, dan hal itu berhasil membuat Jaejoong yang berdiri dihadapannya menjadi gemas, bagaimana tidak, Hyunmi dihadapannya saat ini tengah menatapnya dengan kedua mata besarnya, rambut tipisnya dikuncir kuda, dan bibirnya merah miliknya mengerucut, ah… benar benar menggemaskan.

“Kalau Hyunmi percaya padaku, Hyunmi mau kan ikut aku dan Minnie? Kan Hyunmi bilang sendiri, kalau Hyunmi ingin hadiah special dihari ulang tahun Hyunmi, jadi aku dan Minnie akan memberikannya. Tapi Hyunmi harus ikut, otte?” bujuk Jaejoong pada Hyunmi.

“B-baiklah. Aku ikut Joongie dan Minnie.” Ucapan Hyunmi barusan bagaikan angin segar bagi Changmin dan Jaejoong yang kini tengah tersenyum senang. Dan setelah itu, ketiga anak kecil itu pun mulai masuk kedalam hutan dengan menelusuri jalan setapak dihadapan mereka, dengan posisi Jaejoong-Hyunmi-Changmin.

*Flashback End*

“Noona, sudah sam-“

Kalimat Changmin terhenti ketika dilihatnya Hyunmi tengah menatap lurus kearah depan. Dan saat itu juga, Changmin tahu apa yang tengah dilihat oleh wanita disebelahnya itu, sebuah pohon besar yang berada dipuncak sebuah bukit kecil yang dikelilingi oleh sebuah padang rumput yang begitu indah, itulah objek yang tengah diperhatikan oleh Hyunmi.

Ya, kini mereka berdua berada di sebuah padang rumput yang begitu luas dengan berbagai bunga berwarna warni-yang mulai tumbuh karena memang sekarang sudah memasuki musim semi-, dengan sebuah bukit kecil dan sebuah danau yang berada didekat padang rumput itu, melengkapi betapa indahnya pemandangan alam ditempat itu.

Changmin menghela nafas kecil saat wanita disebelahnya-Hyunmi-masih belum mengeluarkan suara sedikitpun, mata wanita itu masih tetap menatap kosong kearah depan. “Kajja, noona.” Dengan lembut  Changmin menarik tangan Hyunmi, menuntunnya menyusuri padang rumput itu, menuju sebuah pohon yang berada dibukit dipadang rumput ini.

Sedangkan Hyunmi hanya pasrah ketika tangannya kembali ditarik oleh Changmin, menuju pohon besar tersebut. Tak ayal, memori memori masa lalunya ditempat ini pun terus berputar putar dikepala Hyunmi, membuat dadanya terasa sesak.


*Flashback*

“Noona kita sudah sampai.” Suara melengking milik Changmin memecah keheningan disekitarnya, matanya menatap bergantian kearah dua orang lainnya yang tidak lain adalah Hyunmi dan Jaejoong.

“Bagaimana? Hadiahnya indah tidak?” kali ini Jaejoong yang bersuara, kedua mata besar miliknya menatap sekilas kearah Hyunmi sebelum menatap lurus kearah pemandangan yang terpampar dihadapannya dengan wajah puas, sebuah padang rumput yang begitu luas dengan danau dan bukit kecil didekatnya, itulah pemandangan yang ada didepannya saat ini, benar benar pemandangan alam yang sungguh indah.

“I-indah sekali, Joongie.” Ucap Hyunmi terbata bata, matanya masih menatap tak percaya pemandangan dihadapannya.

“Jeongmal? Yuhuuu…. Hyung kita berhasil!” seru Changmin yang berdiri disebelah kanan Hyunmi, matanya berbinar binar, menandakan bahwa ia benar benar senang saat ini.

Jaejoong pun mengangguk dan tersenyum, “Ne, kita berhasil Minnie!” seru Jaejoong senang.

“Hyung! Noona! Bagaimana kalau kita ke bukit itu?” tunjuk Changmin pada sebuah bukit kecil yang dipuncaknya terdapat sebuah pohon besar yang terlihat rindang. Jaejoong terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan adiknya itu, begitu pula dengan Hyunmi.

“Ah changkamman…” seru Hyunmi tiba tiba, membuat Changmin dan Jaejoong yang hendak beranjak dari sana segara menghentikan gerakan mereka. “Tadi eomma dan Shim ahjumma berkata akan membuat kue kering untuk cemilanku, khusus untukku, karena aku sudah membantu eomma dan Shim ahjumma memasak. Jadi… bagaimana kalau kita balap lari? Siapa yang paling cepat sampai kesana, akan ku bagi kue kering itu.” saran Hyunmi seraya tersenyum lebar.

“Jinjja, noona???” tanya Changmin tak percaya.

“Ne!” sahut Hyunmi seraya tersenyum lebar.

“Arraseo, kita balap lari. Dalam hitungan ketiga kita mulai berlari, bagaimana? Sudah siap?” tanya Jaejoong yang diikuti oleh anggukan Hyunmi dan Changmin. “Arraseo. Aku mulai ya… 1…. 2…. 3!”

Dan ketiga anak kecil itu pun berlari menuju ke bukit kecil itu secepat yang mereka bisa, dan dengan senyum lebar yang tersungging diwajah polos mereka.

*Flashback End*


“Noona? Hyunmi noona????” Guncangan dipundaknya dan juga suara Changmin yang memanggil namanya membuat Hyunmi tersadar dari lamunannya. Ditatapnya Changmin yang kini tengah menatapnya khawatir.

“Gwaenchana?” tanya Changmin.

Hyunmi mengerjap-kerjapkan matanya sejenak sebelum memaksakan sebuah tersenyum tipis di wajahnya dan mengangguk. “Ne, gwaenchana.” jawab Hyunmi. Matanya melirik kearah sebuah pohon besar kini ada tepat didepan mereka.

Changmin menghela nafas sejenak, ia tahu Hyunmi berbohong, tidak mungkin ia sedang baik baik saja dalam situasi seperti ini. “Arraseo.” Ucap Changmin pelan.

“Changmin-ah…” panggil Hyunmi pada Changmin.

Changmin menoleh pada Hyunmi dan menatapnya bingung, “Wae noona? Jangan bilang kau lupa tempat ini?” tuduh Changmin ketika ia melihat raut wajah Hyunmi yang terlihat ragu ragu.

“A-ani! Tidak mungkin aku melupakan tempat ini, terlebih pohon ini Changmin-ah. Hanya saja… sudah lama sekali aku tidak kemari. Dan pohon ini…” Hyunmi maju beberapa langkah menuju pohon itu dan dengan lembut tangannya terangkat, memegang batang berwarna coklat pohon besar itu. “Aku tak menyangka pohon ini sudah tumbuh sebesar ini.” Ucap Hyunmi pelan.

Changmin tertegun mendengar kalimat Hyunmi, dari suaranya, tatapan matanya, serta cara wanita itu menyentuh pohon besar itu, Changmin tahu bahwa Hyunmi memang benar benar merindukan tempat ini dan pohon itu. Changmin menatap Hyunmi lekat lekat sebelum menghela nafas dan melangkahkan kedua kakinya mendekati Hyunmi dan pohon besar itu.

“Noona….” panggil Changmin.

Hyunmi yang sedari tadi tengah menatap sendu kearah pohon itu pun kini menoleh pada Changmin, “Ne? Wae?” tanya Hyunmi.

“Tentang Jaejoong hyung….” Changmin menggantung kata katanya dan terdiam selama beberapa detik, namun matanya tetap menatap lurus kemata Hyunmi. “Dia memang tak mengatakan apapun pada ku tentang noona, tapi dia…. menyuruhku untuk memberitahu noona beberapa hal. Beberapa hal yang selama ini dirahasiakannya dari siapapun, kecuali padaku.” Ucap Changmin.

“A-apa maksudmu?” tanya Hyunmi setelah ia terdiam selama beberapa saat. Alis terpaut, menandakan bahwa ia tak mengerti maksud ucapan Changmin barusan.

Bukannya menjawab, Changmin malah berjalan menuju sisi lain pohon besar itu dan berjongkok disana. Tangannya terulur dan mulai meraba-raba permukaan tanah didekat situ, mencari cari suatu tanda yang menandakan suatu hal.

“Changmin-ah, apa yang kau-“ ucapan Hyunmi terhenti dan keningnya berkerut ketika dilihatnya sebuah senyum tipis terbentuk diwajah Changmin. Dan Hyunmi pun makin mengerutkan keningnya ketika Changmin mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

‘Eh tas? Memangnya tadi dia bawa tas?’

“Ne noona, aku memang membawa tas. Noona saja yang sepanjang jalan melamun, jadi tidak melihat tas yang aku bawa.” Kedua mata Hyunmi melotot seketika saat Changmin mengatakan hal itu.

‘K-kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan?’

“Hahahahaha….” Tiba tiba saja Changmin tertawa, membuat mata Hyunmi makin melebar dan menatap horor kearah Changmin. “Pikiranmu mudah ditebak noona, noona lupa sudah berapa lama kita bersahabat, uh?”

“Y-ya! J-jangan… jangan seenaknya menebak-nebak apa yang aku pikirkan, tidak sopan!” ucap Hyunmi terbata bata, ia benar benar tak menyangka jika Changmin bisa menebak pikirannya dengan benar. Sedangkan Changmin hanya terkekeh kecil lalu mulai menggali tanah menggunakan sekop kecil yang tadi ia keluarkan dari tasnya.

“C-Changmin! A-apa yang kau lakukan??? J-jangan  bilang kau akan-“

“Memang. Aku akan menggali dan mengambil kotak itu.” Potong Changmin dengan cepat. Ditatapnya Hyunmi yang tengah menatapnya dengan tatapan kau-gila-Shim-Changmin miliknya.

“T-tapi…. tapi kan kita sudah sepakat-“

“Akan membukanya setelah dua puluh tahun? Jangan gila, noona! Lagi pula bukankah kita bertiga juga sudah sepakat akan langsung membukanya jika salah satu dari kita meninggal sebelum dua puluh tahun kotak itu ditanam? Noona lupa?”

Hyunmi merasa tubuhnya terasa kaku seketika, kalimat yang terucap dari bibir Changmin beberapa saat yang lalu terasa menohok hatinya. Memang benar, disini, ditempat ini lah 16 tahun yang lalu ia, Changmin dan Jaejoong membuat sebuah harapan pada sebuah kertas kecil tentang masa depan masing masing, dan kertas itu mereka bertiga simpan disebuah kotak kayu yang lalu ditanam tepat didekat pohon besar yang kini ada dihadapan mereka berdua.


*Flashback*

“Hosh.. hosh…. a-aku.. hosh… aku capek J-Joongie…. Minnie…” seorang gadis kecil yang tak lain adalah Hyunmi tertunduk dengan nafas terengah-engah setelah ia berhasil menyusul kedua temannya yang juga tengah mengatur nafasnya di dekat sebuah pohon besar yang terdapat di atas bukit kecil tempat mereka berada saat ini.

“Ka-kalian berlari… hosh.. kalian berlari terlalu cepat.” Keluh Hyunmi yang masih berusaha mengatur nafasnya.

“Mian, noona. Tapi yang terpenting aku menang! Jadi aku akan dapat kue kering bikinan Lee ahjumma ‘kan, noona?” Seru bocah laki laki yang paling muda diantara mereka bertiga dengan senang, bagaimana tidak, ia memenangkan lomba lari menuju ke bukit tempat mereka berada saat ini, dan itu berarti ia akan dapat hadiah berupa kue kering bikinan Lee ahjumma. Changmin benar benar menyukai kue kering bikin eomma dari Hyunmi itu.

“Ne, Minnie. Noona tidak akan mengingkari janji noona, tenang saja.” Jawab Hyunmi seraya tersenyum manis pada Changmin.

“Hey hey, aku punya suatu ide hebat.” Seru Jaejoong tiba tiba, membuat dua orang lainnya yang juga ada disitu langsung menoleh kearah sumber suara.

“Mwo?” tanya Hyunmi dan Changmin bersamaan.

“Aku sudah memikirkannya sejak tadi pagi dirumah. Bagaimana jika kita menuliskan harapan kita masing masing dimasa depan di sebuah kertas lalu kita simpan di sebuah kotak dan kita kubur kotak itu didekat pohon besar ini? Otte? Ide bagus bukan?” tanya Jaejoong penuh semangat.

“Tapi aku tidak bawa kertas, Joongie…” ucap Hyunmi yang diikuti oleh anggukan si Changmin.

Senyum tiba tiba saja merekah diwajah Jaejoong, dengan cepat ia melepas tas punggungnya-yang sedari tadi ia bawa-dan menepuk nepuknya dengan wajah sumringah. “Aku bawa, semuanya sudah lengkap disini.” Jaejoong pun mulai mengeluarkan beberapa benda seperti pensil, kertas, spidol, dan juga sebuah kotak kayu berwarna cokelat muda-dengan ukuran yang tidak terlalu besar-dari tasnya.

“Waahhh Joongie hebat!” seru Hyunmi yang entah apa maksudnya dengan berkata ‘hebat’ pada Jaejoong. Namun yang pasti, pujian Hyunmi itu telah berhasil membuat kedua pipi Jaejoong merona.

“Ayo kita buat!” seru Changmin yang mulai mengambil kertas dan spidol dengan warna kesukaannya diantara benda benda yang tadi Jaejoong keluarkan dari tasnya. Dan mereka bertiga pun mulai sibuk dengan dunianya masing masing, memikirkan dan menulis berbagai harapan besar dimasa depan mereka di kertas masing masing.

“Aku selesai!” suara melengking milik Changmin memecah keheningan disekitarnya 10 menit setelah mereka memulai ‘pekerjaan’ mereka masing masing. Hyunmi dan Jaejoong yang masih sibuk menulis harapan mereka masing masing pun langsung menoleh kearah Changmin.

“Ne? Sudah selesai? Cepat sekali, Minnie?” tanya Hyunmi tak percaya.

“Sudah dong…….” seru Changmin penuh rasa bangga.

“Coba sini noona lihat.” Hyunmi pun mencoba meraih kertas harapan milik Changmin dari tangannya, tapi dengan cepat Changmin menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.

Ia menatap Hyunmi dengan pandangan tak suka dan bibir yang mengerucut, yang malah membuat Hyunmi dan Jaejoong yang melihatnya merasa gemas akan wajah Changmin yang begitu imut dengan ekspresi seperti itu.

“Andwae. Noona tidak boleh lihat!” ucapannya yang berhasil membuat Hyunmi dan Jaejoong mengerutkan dahinya. “Kalau noona lihat nanti tidak akan seru! Biar Minnie saja yang tahu.” Ucap Changmin yang masih kekeh atas ucapannya.

“Memang kau menulis apa, Minnie?” tanya Jaejoong yang ternyata juga sudah selesai menulis harapannya, disusul oleh Hyunmi beberapa saat kemudian.

“Jangan-jangan kau menulis tentang seorang yeoja ya, Minnie?” tuduh Hyunmi tiba tiba. Ia berharap Changmin akan menyangkalnya, tapi ekspresi yang diperlihatkan oleh Changmin malah membuat Hyunmi membelakkakan kedua matanya.

Hyunmi melirik kearah Jaejoong yang ternyata juga tengah menatapnya dengan tatapan –apa-Minnie-menyukai-seseorang-?-. Dan Hyunmi pun hanya dapat mengangguk dan kembali menatap Changmin yang tengah menunduk dengan pipi merona, menandakan bahwa bocah itu memang sedang menyukai seseorang.

‘Tapi bagaimana bisa??? Bahkan umurnya masih 9 tahun!’ batin Hyunmi tak percaya.

“Hmm, bagaimana kalau kita langsung masukkan kertas harapan kita masing masing kedalam kotak?” tanya Jaejoong, mencoba menghilangkan situasi yang… errr….. tidak terlalu nyaman itu.

“Ah ne.” Hyunmi yang mengerti pun langsung melipat kertas miliknya, begitu pula dengan Changmin. Setelah itu mereka bertiga bersama sama memasukkan kertas mereka masing masing kedalam kotak kayu itu.

“Nah, sekarang aku gali dulu lubangnya.” Ucap Jaejoong yang kini mengeluarkan sekop kecil-yang juga ia bawa-dari tas miliknya. Setelah itu ia pun berjongkok dan mulai menggali tanah didekat pohon itu.

“Kurasa sudah cukup.” Jaejoong menoleh pada Hyunmi dan Changmin, meminta mereka memberikan kotak kayu itu padanya. Hyunmi dan Changmin pun memberikan kotak itu pada Jaejoong.

“Aku masukkan ya?” tanya Jaejoong, Hyunmi dan Changmin hanya mengangguk dan Jaejoong pun langsung memasukkan kotak itu dan setelah itu menutup kembali lubang itu dengan tanah.

“Yap! Selesaaaiiii….” seru Jaejoong dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. “Sekarang kita buat peraturan.” Ucap Jaejoong pada Hyunmi dan Changmin.

“Peraturan?” tanya Hyunmi, tak mengerti.

“Ne, peraturan. Arra, biar aku saja yang buat. Kita sudah mengubur kotak berisi kertas harapan kita itu kedalam tanah, dan aku mau diantara kita bertiga tidak ada yang boleh membuka dan membaca kotak itu. Karena kita akan membukanya 20 puluh tahun kemudian, bersama sama. Untuk melihat apakah harapan kita terwujud atau tidak. Bagaimana?” tanya Jaejoong dengan wajah sumringah.

“Tapi bagaimana jika salah satu dari kita ada yang meninggal sebelum 20 tahun dari sekarang?” pertanyaan polos yang keluar dari mulut Hyunmi berhasil membuat Jaejoong dan Changmin menatap kosong kearahnya.

“Hmm… kalau begitu dua orang yang tersisa itu harus membuka kotak itu bertepatan dengan hari pemakamannya. Hanya satu orang boleh membacakan isi kertas itu, tapi orang yang membacakan itu hanya boleh membaca isi 2 kertas selain kertas miliknya.”

“Uh? Kenapa harus begitu, hyung?” tanya Changmin tak mengerti.

“Karena itu adil untuk satu orang lagi. Satu orang lain yang mendengarkan itu lah yang berkah membacakan isi kertas si pembaca pertama. Kalau begitu mereka berdua sama sama membaca surat mereka satu sama lain, bukan? Dan menurutku itu adil. Bagaimana?” usul Jaejoong.

“Arraseo.” Ucap Changmin.

“Arraseo! Kalau begitu janji ya?” seru Hyunmi dengan senyum lebar diwajahnya.

“Janji!” ucap Jaejoong dan Changmin bersamaan yang diikuti oleh gelak tawa yang keluar dari mulut mereka masing masing.

*Flashback End*


“Ini.”

“Eh?” seketika mata bulat Hyunmi melebar saat Changmin menyerahkan kota kayu-yang entah sejak kapan berhasil digalinya-itu padanya. “K-kenapa harus aku yang membukanya?” tanya Hyunmi tak mengerti.

“Karena noona lebih tua dariku. Kalau ada Jaejoong hyung, mungkin ia yang akan membuka kotak ini dan membacakan isi ketiga surat itu, karena ia yang paling tua diantara kita.”

Hyunmi tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak selama beberapa detik sebelum menghela nafas dan mengangguk. “Arraseo.” Ucap Hyunmi pelan.

“Lagi pula….. Jaejoong hyung yang meminta ku agar kau yang membukanya, noona.” Hyunmi yang tadinya tengah terdiam sambil menatap kotak kayu ditangannya dengan sendu langsung membelakkakan matanya dan menatap Changmin kaget.

Sedangkan Changmin langsung memutar bola matanya kesal saat melihat ekspresi wajah Hyunmi. “Aku tidak berbohong, noona.” Ucap Changmin yang sudah tahu apa arti ekspresi wajah Hyunmi itu. “Jadi cepat buka kotak itu.”

“Ah ne. Aku buka ya.” Perlahan namun pasti, Hyunmi membuka kotak kayu itu, dan terlihatlah tiga buah kertas dengan warna berbeda terlipat rapi didalam kotak kayu tersebut, kertas harapan mereka.

“Jaejoong hyung ingin noona membacakan miliknya terlebih dahulu, setelah itu milik noona dan terakhir milik ku.” Ucap Changmin yang diikuti oleh anggukan kepala oleh Hyunmi.

Hyunmi menghela nafas sejenak sebelum mengulurkan tangannya kedalam kotak, mengambil salah satu kertas berwarna kuning didalam kotak itu, kertas milik Jaejoong. Perlahan lahan Hyunmi mulai membuka lipatan kertas berwarna kuning itu, tangannya bergetar dan jantungnya berdetak dengan keras.

Hyunmi memejamkan matanya erat ketika lipatan terakhir kertas ditangannya terbuka. Dan dengan cepat dilipatnya kembali kertas itu dengan mata yang tertutup. Tak bisa, Hyunmi tak bisa membacanya. Ia terlalu takut, takut akan kenyataan yang akan terungkap.

“Bacakan, noona…” Hyunmi membuka matanya saat mendengar Changmin memanggilnya, menyuruhnya membaca kertas itu. Ditatapnya Changmin beberapa detik sebelum menunduk dan menggeleng pelan.

“Tidak… aku tidak bisa Changmin-ah…” lirih Hyunmi, suaranya terdengar bergetar.

“Noona yang bacakan atau aku yang bacakan?” seketika itu juga mata Hyunmi membulat, haruskah ia yang membacanya?

“Ba-baiklah. Aku yang bacakan.” Ucap Hyunmi. Ditatapnya kertas ditangannya-yang kini terlipat dua-dan terdiam selama beberapa saat. Jantungnya berdebar begitu keras, dan kilatan kilatan memori akan laki laki pemilik kertas ini berputar putar dikepalanya, tanpa bisa ia cegah, membuat dadanya terasa begitu sesak, dan air mata pun mulai menggenang dipelupuk matanya.

“Noona-“

“Arraseo. Aku baca sekarang.”

Dengan tangan bergetar dibukanya lipatan kertas itu, “Seoul, 4 Juni 1995.” Hyunmi mulai membaca. “Hari ini aku berada disini, diatas bukit kecil ini, dengan 2 sosok paling penting dalam hidupku, Changmin dan Hyunmi. Masing masing dari kami memegang kertas dengan warna yang berbeda, termaksud diriku. Kami sepakat menulis harapan kami dimasa depan dikertas ini, dan apa harapanku?………..” Hyunmi menghentikan bacanya, tenggorokannya terasa tercekat. Kepalanya mendongak, menatap Changmin dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya, mencoba mencari kekuatan dari pria dihadapannya untuk membaca lanjutan isi kertas itu.

Seolah mengerti tatapan Hyunmi, Changmin mengangguk dan tersenyum, sebuah senyum tulus yang selalu ia tunjukkan pada wanita dihadapannnya, hanya padanya. “Lanjutkan noona.” Ucap Changmin lembut, selembut tatapan matanya pada wanita dihadapannya saat ini.

“Aku memiliki banyak sekali harapan,” ucap Hyunmi yang kembali melanjutkan bacanya. “Namun dari semua harapan itu, ada dua yang aku harapkan akan terwujud. Aku ingin terus bersama dan menjaga adikku, Changmin. Dan satu lagi….. entah aku boleh berharap atau tidak…. aku ingin suatu saat nanti… menjadi sosok laki laki yang pantas mendampingi Hyunmi dimasa depan.”

‘Tes’

Tepat setelah Hyunmi selesai membaca surat itu, setetes air mata jatuh dan membasahi kertas itu. Kedua tangannya bergetar, setetes demi tetes air mata kembali jatuh, namun kini jatuh dan mengalir menuruni pipinya, membuat pipinya basah karena air mata.

Dadanya terasa sesak dan hatinya terasa begitu sakit. Seluruh tubuhnya terasa lemas, terlebih kedua kakinya. Ia mungkin sudah jatuh tertunduk jika saja tak ada sebuah lengan yang menahan tubuhnya agar tetap berdiri.

Hyunmi mendongak, menatap Changmin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Masih ada satu kertas lagi, noona. Milikku.” Ucap Changmin pelan, mencoba mengingatkan Hyunmi akan hal itu.

“Aku tidak mau… aku tidak mau. Kau saja, kau saja yang bacakan. Aku tidak mau Changmin-ah, aku tidak sanggup.” Ucap Hyunmi dengan suara bergetar. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini penuh dengan air mata yang terus mengalir menuruni pipinya.

“Mianhae, noona. Tapi aku juga tidak bisa, noona yang harus membacanya.”

“Changmin-“

“Mianhae, noona. Aku tidak bisa.” ucap Changmin lirih, ada sebuah penyesalan dalam suaranya, dan hal itu membuat Hyunmi tertegun.

Hyunmi terdiam, hatinya masih terasa sakit dan dadanya masih terasa begitu sesak, ia tak yakin bisa melanjutkan membaca isi dua kertas lainnya. Namun pria dihadapannya ini membuatnya harus berpikir ulang.

Hyunmi menghela nafas berat, mencoba menekan rasa sakit yang masih terasa dihatinya. “Baiklah, Changmin-ah. Aku… akan membaca isi kertasmu.” Dengan tangan yang masih bergetar, Hyunmi mengulurkan tangannya dan mengambil kertas milik Changmin dari kotak kayu yang sedari tadi dipegang oleh laki laki itu.

Hyunmi menggerakkan tangannya membuka lipatan kertas itu, saat semua lipatan itu terbuka Hyunmi tak langsung membacanya. Ditatapnya Changmin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Seoul, 4 Juni 1995.” Hyunmi mulai membaca, “Menyenangkan sekali. Aku bisa datang kemari bersama Jaejoong hyung dan Hyunmi noona, dan hari ini adalah hari ulang tahun Hyunmi noona.” Hyunmi menghentikan bacaannya dan matanya beralih dari kertas itu ke wajah laki laki dihadapannya saat ini.

Hyunmi tertegun, matanya kini menatap sosok Changmin yang tengah menatap kosong kearahnya. Rasa khawatir pun timbul di hati Hyunmi, ia membuka mulutnya dan berkata, “Changmin-ah, kau-“

“Lanjutkan saja noona, jangan berhenti.”

Hyunmi terdiam sejenak sebelum mengangguk dan mulai membaca lanjutan isi kertas milik Changmin itu. “Kami bertiga menulis harapan kita masing masing disebuah kertas. Dan harapanku hanya satu…. aku ingin terus bersama-“

‘deg’

Hyunmi tak melanjutkan bacanya, kepalanya kembali mendongak, menatap tak percaya kearah Changmin yang masih menatap kosong kearahnya. “C-Changmin-ah.. b-bohong, kan? K-kau pasti-“

“Aku ingin terus bersama Hyunmi noona, dan aku berharap dapat menjadi pasangan hidupnya suatu saat nanti.”

‘deg’

Saat itu juga Hyunmi merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat, otaknya terasa blank dan tubuhnya terasa menengang sesaat setelah Changmin menyebutkan sebuah kalimat yang merupakan lanjutan dari harapan seorang Shim Changmin kecil di kertas itu.

‘Ja-jadi… jadi gadis itu… jadi gadis yang disukai oleh Changmin sejak ia kecil adalah….’

“Kau noona. Kau lah gadis itu, gadis yang aku cintai, sampai saat ini.” Ucap Changmin yang seolah-olah tahu apa yang dipikirkan Hyunmi.

“C-Changmin-ah….” kalimat Hyunmi terhenti, tenggorokannya terasa tercekat, ia tak tahu harus berkata apa, ia tak mengerti, ia terlalu bingung dengan semuanya.

“Ah… sekarang giliranku membaca kertas noona, ya?” suara Changmin yang terdengar begitu pelan ditelinga Hyunmi entah mengapa malah membuat Hyunmi seperti tersadar akan sesuatu saat itu juga. Dan saat itu juga, ia sadar bahwa Changmin tengah membuka lipatan kertas miliknya.

“C-Changmin-ah! J-jangan-“

“Seoul, 4 Juni 1995.” Changmin mulai membaca, membuat tubuh Hyunmi kaku seketika. “Saat ini aku berada disini, disebuah tempat yang benar benar indah, bersama dengan Jaejoong dan Changmin. Dan mereka mengajakku kemari karena tempat ini adalah hadiah ulang tahunku. Kami bertiga saling menulis harapan kami dimasa depan pada kertas kami masing masing. Dan harapan terbesarku saat ini adalah…….. bisa terus berada disisi Jaejoong, menjaganya, merawatnya, dan menjadi pasangan hidupnya suatu hari nanti.”

‘Bruk’

Seketika tubuh Hyunmi jatuh tertunduk ditanah, kepalanya tertunduk, dan setetes demi tetes air mata mulai jatuh dari kedua matanya, suara isakan yang terdengar begitu lirih pun  mulai terdengar dari mulut wanita itu.

“Mianhae…. jeongmal mianhae, Changmin-ah… Mianhae…..” ucap Hyunmi ditengah isakan tangisnya. Kedua tangannya kini terkepal erat dikedua sisi tubuhnya, dan tubuhnya bergetar karena tangisannya.

“Gwenchana, noona. Kau tidak perlu minta maaf seperti itu.”

“Andwae! Aku bersalah, Changmin-ah. Selama ini aku sudah menyakitimu, membuat hati mu sakit. Sekali lagi mianhae, Changmin-ah. Mianhae…..”

Changmin yang melihat Hyunmi yang masih tertunduk dan terisak akhirnya menekuk lututnya, berjongkok didepan Hyunmi. “Noona bangunlah. Aku mohon noona.” Ucap Changmin lirih. Entah mengapa hatinya benar benar terasa sakit melihat Hyunmi menangis karena dirinya.

“Noona bangunlah. Aku akan memaafkan noona jika noona bangun dan berdiri, aku mohon noona.” Ucap Changmin begitu lirih. Perlahan lahan, Hyunmi mulai mengangkat wajahnya, menatap wajah Changmin yang kini tengah menatapnya lembut. Tangan Changmin terulur, dan Hyunmi pun menyambut tangan itu.

Mereka berdua pun berdiri, berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat. Changmin membuka mulutnya, “Ada satu hal yang perlu kau tahu, noona.”

“Sesuatu?”

“Ne. Jaejoong hyung… menjauhi mu dan bersikap dingin padamu karena aku, karena aku mencintaimu, noona. Ia tahu tentang perasaanku, karena itu ia menjauhi mu dan membuat ku lebih dekat denganmu.”

“…..“

“Dan juga… sebelum ia meninggal, ia… memintaku untuk menjaga noona, dan memintaku mengatakan pada noona… bahwa Jaejoong hyung benar benar mencintai noona.”

‘deg’

Tanpa sadar Hyunmi menahan nafasnya, ditatapnnya laki laki dihadapannya tak percaya, “B-begitukah? Karena… karena itu kah ia menjauhi ku?” tanya Hyunmi yang kini menundukkan wajahnya.

“Noona, mianhae…”

Hyunmi mengangkat wajahnya saat ia mendengar Changmin meminta maaf padanya, “Wae? Kenapa kau harus minta maaf? Ini bukan salahmu, tidak ada yang salah disini.” Ucap Hyunmi yang kini tersenyum tipis pada Changmin, senyum yang dipaksakan, dan Changmin tahu akan hal itu.

“Noona-“

“Sudahlah Changmin-ah. Tidak ada yang perlu dimaafkan, lagi pula semuanya sudah lewat. Aku tidak marah pada mu, hanya saja….. aku kecewa pada mu, dan juga Jaejoong.”

“Wae?”

“Karna kau sudah menyembunyikan perasaan mu dari ku.” Jawab Hyunmi. “Kita sudah janji ‘kan? Kita tidak akan menyembunyikan rahasia sekecil apapun, tapi nyatanya kalian berdua menyembunyikan hal ini dariku. Sebuah hal kecil sebenarnya, tapi hal kecil itu sudah tumbuh menjadi hal yang besar dan membuat kita bertiga merasa sakit, bukan begitu?”

Changmin terdiam, kalimat Hyunmi barusan seolah menohok hatinya. “Noona-“

 ‘Drrtt… drtt….’

Ponsel dalam saku celana Changmin bergetar, Changmin terdiam menatap Hyunmi selama beberapa detik sebelum dengan cepat tangannya masuk kedalam saku celana hitamnya dan mengambil ponsel miliknya.

‘Appa calling…’

Changmin melirik sejenak kearah Hyunmi sebelum menghela nafas berat dan mengangkat panggilan telfon itu. “Yeoboseyo, appa.” Sapa Changmin pada sang penelfon yang tidak lain adalah ayahnya.

“Yeoboseyo Changmin-ah! Ini eomma, sayang. Eomma meminjam ponsel appa mu untuk menelfon mu.” Sapa suara disebrang sana yang ternyata adalah Mrs. Shim, ibu Changmin.

“Ah eomma. Wae?” tanya Changmin.

“Kau dimana, sayang? Kenapa tadi tidak datang ke pemakaman kakakmu?”

“Ah itu… aku ada urusan mendadak, eomma. Dengan Hyunmi noona.”

“Hyunmi? Omo, jadi sejak pagi kau bersamanya?”

“Hm.”

“Arraseo! Kalau begitu kamu pulang sekarang juga, ne? Eomma dan appa Hyunmi juga ada disini. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan pada kalian berdua. Kami menunggu mu. Bye bye sayang, salam untuk Hyunmi.”

‘pip’

Dan sambungan telfon pun terputus. Changmin menghela nafas, dimasukkannya ponsel miliknya kembali kedalam saku. Ia melirik Hyunmi yang menatapnya bingung sebelum kembali menghela nafas, ia tahu apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Ia pun membuka mulutnya dan berkata, “Eomma ku. Dia menyuruh kita kerumah ku sekarang. Ada kedua orang tua mu juga, noona.”

***

“Noona.”

“……”

“Hyunmi noona.”

“Eh?” Hyunmi tersentak kaget, ia terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menatap lurus kearah Changmin yang juga tengah menatapnya. “N-ne?” tanya Hyunmi yang tak mengerti apa yang terjadi.

“Kita sudah sampai di depan rumahku.” Jawab Changmin pelan.

“A-ah. K-kalau begitu kajja. Kita masuk, apa lagi yang kau tunggu?” tanya Hyunmi yang mencoba bersikap biasa saja, bagaimana tidak, kini Changmin tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut, membuat wanita itu sedikit gugup.

“Kau. Sedari tadi aku menunggu mu, noona. Kita sudah sampai 10 menit yang lalu sebenarnya.”

Mata Hyunmi membulat seketika, “M-mwoya? Jeongmal? Y-ya! Kenapa tidak bilang padaku sejak tadi, uh?” tanya Hyunmi yang masih belum pulih sepenuhnya dari kekagetan yang menderanya. Dengan cepat ia gerakkan tangannya untuk membuka pintu mobil, namun belum sempat pintu itu terbuka, tubuhnya terasa ditarik kearah kanan. Dan sedetik kemudian, dapat dirasakannya sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Changmin menciumnya.

Tubuh Hyunmi terasa kaku seketika, matanya membulat menatap wajah Changmin yang tengah menutup matanya. Otaknya terasa blank seketika saat dirasakannya bibir Changmin menekan lembut bibirnya, menciptakan sensasi aneh yang membuat perutnya tergelitik.

Ia ingin memberontak, namun wajah Changmin yang begitu dekat dari wajahnya, dan juga sensasi aneh yang ia rasakan pada tubuhnya saat bibir tebal Changmin mulai memangut bibir bawahanya,  semua itu membuat tubuh Hyunmi terasa lemas, tak mampu memberontak. Dan pada akhirnya Hyunmi menyerah, matanya terpejam, menikmati ciuman Changmin yang terasa lembut baginya.

Changmin terus mencium bibir Hyunmi, sedangkan Hyunmi tetap terdiam menikmati ciuman itu tanpa membalasnya. Dan beberapa saat kemudian Changmin melepaskan ciumannya dan menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Hyunmi yang tengah menatapnya dengan pandangan mata yang sayu. Cantik. Wanita dihadapannya saat ini terlihat begitu cantik dimata Changmin.

“Saranghae, noona.” ucap Changmin, suaranya terdengar begitu lembut, selembut tatapan matanya yang kini menatap lurus kearah kedua mata besar Hyunmi yang terlihat semakin membesar. “Apa pun yang akan terjadi nantinya, aku tidak ingin perasaan ini menghancurkan persahabat kita bertiga, noona. Aku harap semuanya akan tetap sama, termaksud perasaanku. I’ll still love you.”

“C-Changmin-ah…”

“Kajja, noona. Semuanya sudah menunggu didalam.” Changmin mengulas sebuah senyum diwajahnya dan menatap Hyunmi selama beberapa detik sebelum memalingkan wajahnya, membuka pintu mobil dan turun dari mobil, meninggalkan Hyunmi yang kini menundukkan kepalanya, merasa amat bersalah pada Changmin.

Beberapa saat kemudian Hyunmi mendengar pintu mobil terbuka, Hyunmi menoleh dan tampaklah Changmin yang tengah menatapnya dengan tangannya terulur kearahnya. Hyunmi mentap tangan itu beberapa saat sebelum menghela nafas dan menyambut tangan itu.

Changmin kembali tersenyum saat Hyunmi menerima uluran tangannya. Dengan lembut Changmin pun menarik Hyunmi keluar dari mobil sebelum menutup pintu mobil itu. Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah mewah milik keluarga Shim dengan bergandengan tangan, hal biasa yang Changmin lakukan bahkan sejak dulu, menggandeng tangan Hyunmi saat mereka berdua saja.

“Eomma.. appa… aku pulang.” Teriak Changmin saat ia dan Hyunmi melewati pintu depan rumah itu, mereka berdua pun langsung berjalan kearah ruang tamu, tempat kedua orang tua mereka masing masing berada. Saat sudah sampai disana, terlihatlah dua orang wanita paruh baya dan dua orang laki laki paruh baya yang tak lain adalah Mr. Shim, Mrs. Shim, Mr Lee, dan Mrs. Lee.

“Changmin-ah, Hyunmi-ah, ah akhirnya kalian berdua datang juga.” Suara seorang wanita yang tidak lain adalah Mrs. Shim, ibu Changmin, menyambut kedatangan Changmin dan Hyunmi. Changmin dan Hyunmi pun hanya tersenyum tipis dan langsung duduk di sofa yang ada diruangan itu. Changmin duduk sofa yang menjadi tempat duduk kedua orang tuanya, sedangkan Hyunmi duduk disofa seberang sofa Changmin duduk dimana kedua orang tuanya juga duduk disofa itu.

“Ah, jadi karena Changmin dan Hyunmi sudah datang, bagaimana kalau kita langsung beritahu rencana kita kepada mereka berdua?” kali ini Mr. Lee yang bersuara, diikuti oleh anggukan dan senyum dari Mrs. Lee, Mr. Shim, dan Mrs. Lee. Sedangkan Hyunmi dan Changmin hanya dapat menyernitkan dahi mereka masing masing, tak mengerti maksud ucapan Mr. Lee barusan.

“Rencana? Apa maksudnya?” tanya Changmin tak mengerti, diliriknya Hyunmi sekilas-yang juga tengah menatapnya-sebelum mengalihkan menatap Mr. Lee, Mrs. Lee dan kedua orang tuanya tak mengerti.

“Kalian berdua tentu tahu tentang pertunangan Hyunmi dan Jaejoong. Karena kejadian yang terduga ini, itu berarti pertunangan Hyunmi dan Jaejoong batal, karena Jaejoong… telah meninggal.” Ucap Mr. Shim perlahan lahan. Changmin yang mendengar kalimat itu tanpa sadar mengepalkan tangannya, tak terima dengan kalimat ayahnya itu.

“Dan hal itu pasti benar benar membuat-“

“Mianhae, appa. Tapi bisakah langsung ke intinya saja?” potong Changmin cepat, suaranya terdengar begitu datar dan dingin, membuat semua orang di ruangan itu kaget akan ucapan, kecuali Hyunmi.

Wanita itu tidak kaget atas ucapann Changmin, karena sejujurnya saja tadi juga ingin mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Changmin. Ditatapnya Changmin yang kini tengah menundukkan wajahnya, sedangkan tangannya terkepal dikedua sisi tubuhnya, menahan emosinya, Hyunmi tahu itu.

“Baiklah. Kalau begitu langsung keintinya saja. Kami berempat sudah sepakat untuk menjodohkan kalian.”

“MWO??!!!”

***

“Tok… tok… tok…”

Suara ketukan pintu yang disusul oleh suara seorang yeoja dari balik pintu membuat seorang laki laki yang berada didalam kamar itu menoleh kearah pintu dengan kesal. Sejak 10 menit yang lalu, suara ketukan pintu dan suara yeoja yang memanggil nama laki laki itu dari balik pintu tak berhenti terdengar, membuat laki laki itu akhirnya kehilang kesabarannya.

Dengan langkah lebar dan cepatnya, namja itu kini telah berdiri tepat didekat pintu kamarnya.

‘Cklek’

Pintu berwarna cokelat itu pun terbuka, menampilkan sosok seorang wanita cantik yang tengah berdiri dihadapannya dan menatapnya lekat lekat. “Changmin-ah.” Panggil wanita itu. “Akhirnya kau-“

“Ada perlu apa denganku, Lee Hyunmi noona?” potong laki laki bernama Changmin itu. Ditatapnya wanita yang bernama Hyunmi itu dingin, membuat wanita itu menunduk, tak mau menatap tatapan dingin Changmin yang entah mengapa menusuk hatinya.

“Aku… aku ingin membicarakan tentang Pertunangan ki-“

“Mianhae noona,” potong Changmin lagi, “Kalau noona ingin membicarakan pertunangan itu padaku, aku tak bisa. Aku sibuk, jadi sebaiknya-“

“Dengarkan aku dulu, Changmin-ah.” Kali ini Hyunmi yang memotong ucapan Changmin.

Ditatapnya Changmin ke maniak matanya sebelum menundukkan kepalanya, “Maafkan aku karena aku menerima tawaran pertunangan kita, kau berhak marah, Changmin-ah. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku menerima pertunangan itu bukan karena aku kasihan padamu, dan aku juga masih sangat mencintai Jaejoongie…” ucap Hyunmi, kepalanya kembali mendongak dan menatap Changmin lirih.

Changmin menatap tajam kearah Hyunmi, tangannya terkepal, dan sedetik kemudian ditariknya tubuh Hyunmi kedalam kamarnya.

‘Brak!’

‘Ceklek!’

Changmin menutup pintu kamarnya dengan keras setelah sebelumnya menarik Hyunmi kedalam kamarnya lalu dengan cepat ia mengunci pintu kamarnya, membuat mata besar Hyunmi melebar mendengar bunyi pintu kamar Changmin dikunci.

Changmin pun membalikkan badannya, menatap tajam dan penuh kemarahan pada Hyunmi yang kini tengah menatap takut kearahnya. Perlahan namun pasti, kaki Changmin maju selangkah demi selangkah mendekati Hyunmi, sedangkan Hyunmi berjalan mundur, mencoba menjauhi Changmin dan tatapan penuh bencinya.

“Kau bilang masih mencintai hyungku, tapi kenapa kau menerima tawaran pertunangan itu, uh? Wae, noona?” tanya Changmin dengan pelan namun terdengar begitu menusuk.

“C-Changmin-“

“Wae? Kau tidak bisa menjawabnya, noona?”

“A-aku..  aku-Akh!” mata Hyunmi membulat seketika, punggungnya kini membentur dinding dekat tempat tidur Changmin, sedangkan Changmin terlihat semakin mendekat kearahnya.

“Kau mempermainkan perasaanku noona. Kau mencintai hyung ku dan kau malah menerima pertunangan yang ke empat orang sialan itu tiba tiba rencanakan, tepat dihari pemakaman Jaejoong hyung.” Ucap Changmin dengan penuh penekanan dikalimat terakhirnya. Kini ia sudah berdiri tepat dihadapan Hyunmi, dan matanya tak henti hentinya menatap tajam kearah Hyunmi.

“Changmin-ah, a-apa yang kau lakukan?” Hyunmi bertanya saat Changmin mulai menurunkan sedikit wajahnya dan mendekatkannya ke wajah Hyunmi.

“Aku benci pada mu noona.” Bisik Changmin ditelinga Hyunmi, membuat Hyunmi tanpa sadar menahan nafasnya. “Tapi aku mencintaimu.” Lanjut Changmin dengan suara yang terdengar begitu dingin.

Hyunmi membulatkan matanya, nafasnya terasa berat dengan Changmin yang berdiri begitu dekat dihadapannnya. Dengan segala akal sehat dan kekuatannya yang tersisa, Hyunmi mendorong tubuh Changmin, menyebabkan Changmin terdorong beberapa langkah kebelakang. Dan saat itu juga Hyunmi berinisiatif berlari menuju pintu, namun baru beberapa langkah ia berlari, sebuah tangan menarik tubuhnya dengan cepat dan…

“Akh!” sekali lagi punggung Hyunmi sukses menghantam dinding dibelakangnya saat Changmin menarik lengannya dan mendorongnya ke dinding. Hyunmi memejamkan matanya dan merintih, ia merasa punggungnya membentur dinding dengan keras, menyebabkan punggungnya terasa sakit dan juga panas. Sedetik kemudian dirasakannya tangan Changmin mencengkram kuat kedua tangannya dan meletakkan tangan kiri Hyunmi disisi kepalanya, mengunci tubuh Hyunmi.

Perlahan lahan Hyunmi membuka matanya, dan…

‘deg’

Hyunmi merasa jantungnya berhenti selama beberapa detik sebelum berdetak begitu keras, sepasang mata yang begitu tajam kini tengah menatap langsung ke matanya dengan jarak yang begitu dekat, pandangan mata yang seolah olah ingin membunuhnya.

“Changmin-ah.”

“Wae? Kau takut noona? Kau takut padaku?”

“T-tidak, hanya saja…”

“Hanya saja apa?” tanya Changmin datar.

“C-Changmin… B-bisakah lepaskan dulu ta-tanganmu? Sa-sakit…” rintih Hyunmi, sekarang bukan hanya punggungnya yang terasa sakit, tapi kedua pergelangan tangannya juga mulai terasa sakit dan perih.

“Apa? Sakit? Begitukah? Bagaimana kalau yang ini, noona?” Changmin mencengkram kedua pergelangan tangan Hyunmi semakin kencang, membuat Hyunmi kembali merintih kesakitan.

“Bagaimana? Sakit ‘kan, noona?” tanya Changmin dengan nada yang begitu dingin. Dan Hyunmi hanya dapat mengangguk, mengiyakan pertanyaan Changmin, karena ia sibuk menahan sakit dikedua pergelangan tangannya yang terasa sakit.

“Tapi sayangnya, rasa sakit yang aku rasakan jauh lebih sakit. Apa noona tahu itu?” tanya Changmin, kali ini dengan suara yang lebih lembut. Hyunmi menatap mata Changmin lekat lekat, ada air mata yang menggenang di mata itu, membuktikan bahwa laki laki dihadapannya tengah berusaha menahan tangis akibat rasa sakit yang ia rasakan, membuat Hyunmi merasa bersalah.

“Mianhae, Changmin-ah…” lirih Hyunmi, kepalanya kini tertunduk, tak kuat menatap mata Changmin lebih lama lagi.

“Mianhae? Hanya itu, kah? Kenapa semua orang begitu mudah mengatakan ‘mianhae’? Wae?!” bentak Changmin saat itu juga. Dan Hyunmi pun semakin menundukkan kepalanya.

Changmin terdiam sejenak, menatap lirih kearah Hyunmi yang menundukkan wajahnya. Perlahan lahan Changmin menurunkan tangan kiri Hyunmi dan langsung melepaskan cengkramannya pada kedua pergelangan tangan Hyunmi, membuat Hyunmi langsung mendongak dan menatap Changmin tak mengerti.

“Disini sakit, noona.” Ucap Changmin lirih, tangannya terangkat dan menyentuh dadanya. “Sakit, benar benar sakit.” Changmin menatap lirih kearah Hyunmi, membuat Hyunmi tertegun dan merasa benar benar bersalah pada laki laki dihadapannya.

Perlahan namun pasti Hyunmi bergerak maju, memeluk tubuh Changmin erat dan membenamkan wajahnya dilekukan leher Changmin. Dapat dirasakannya tubuh Changmin menegang saat ia memeluknya, namun tubuh Changmin berangsung angsung rileks dalam pelukannya.

“Mianhae, Changmin-ah.. mianhae…”

Changmin menggeleng dalam pelukan Hyunmi, “Ani, jangan minta maaf, noona. Kau tidak salah. Lupakan ucapanku tadi, aku terbawa emosi. Maaf, aku sudah membentakmu.” Perlahan lahan Changmin mulai melepaskan pelukan wanita dihadapannya, ditatapnya Hyunmi lekat lekat dan memaksakan sebuah senyuman diwajahnya.

“Apakah noona benar benar menginginkan pertunangan ini?”

Hyunmi terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan. “Ne, aku menginginkannya.”

“Wae?”

“Karena aku tak ingin mengecewakan eomma dan appa.” Jawab Hyunmi pelan.

“Tapi aku tidak bisa bertunangan denganmu, noona. Aku tidak bisa, bahkan kau tidak memiliki perasaan padaku, noona. Jika kita meneruskannya, sama saja aku memaksa mu.”

“Kalau begitu buat aku menyukaimu, Changmin-ah.”

Mata Changmin membulat seketika, ia menatap horor kearah wanita dihadapannya saat ini. “Wae? Kenapa noona benar benar menginginkan pertunangan ini?”

“Ada alasan lain, bukan hanya karena aku tidak ingin mengecewakan eomma dan appa, tapi juga…. karena Jaejoong. Ia meminta mu untuk menjaga ku, dan aku percaya, kau bisa menjagaku, Changmin-ah.”

***

“Hah, akhirnya selesai.”

Shim Changmin menghela nafas lega dan menatap bangga kearah tumpukan kertas di atas meja kerjanya. Kini laki laki itu tengah berada di ruangannya yang berada di salah satu perusahaan ayahnya yang-sejak 1 tahun yang lalu-sudah menjadi miliknya.

Ya, sudah 1 tahun sejak ia menjadi pemimpin perusahaan milik ayahnya, dan itu berarti, sudah 1 tahun ia menggantikan kakaknya menjadi pemilik perusahaan itu. Kakak yang sangat disayanginya, Shim Jaejoong.

Diliriknya jam tangan bermerek miliknya. ‘Pukul lima sore, saatnya pulang.’ Pikir laki laki itu.

Changmin mengulas sebuah senyum di wajahnya dan berdiri dari posisinya yang semula duduk dikursi kerjanya. Ia hendak melangkah pergi saat tiba tiba saja iris matanya melihat foto seorang wanita yang terbingkai indah dan terletak manis di mejanya.

Ia terdiam sejenak sebelum menghela nafas berat, dengan cepat diraihnya dompet dan ponsel miliknya yang tergeletak di meja dan bergegas pergi dari tempat itu.

***

“Ternyata benar disini.” Gumam Changmin saat matanya menangkap sosok seorang wanita yang tengah duduk termenung di bangku ayunan yang ada di sebuah taman di tengah kota Seoul. Taman itu cukup sepi, karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul  5.30 sore.

Dengan cepat Changmin keluar dari mobilnya dan berjalan menuju wanita itu. Namun saat ia hendak memasuki taman itu, tiba tiba saja ia menghentikan langkahnya, berbalik dan berjalan menuju sebuah mesin penjual minuman yang terletak tepat didekat pintu masuk taman.

Laki laki itu dengan cepat memasukkan koin kedalam mesin itu, dan beberapa saat kemudian keluarlah dua buah kaleng minuman bersoda dari mesin itu. Ia mengambil kedua botol itu dan langsung mengalahkan kedua kakinya memasuki taman itu.

***

Lee Hyunmi tersentak kaget dari lamunannya, matanya terbelakak dan kepalanya mendongak saat dirasakannya rasa dingin dan juga basah menjalar di pipi kirinya. Kedua matanya kini menangkap sesosok pria dengan senyuman manis tersungging diwajahnya, seorang pria yang tak asing lagi baginya, tunangannya, Shim Changmin.

Seakan tersadar akan sesuatu, Hyunmi menarik kepalanya, pandangan matanya kini berpindah pada sesuatu yang sedari tadi sempat menempel dipipinya yang ternyata adalah sebuah kaleng minuman bersoda.

“Untukmu.”

“Eh?” sepasang mata besar milik Hyunmi kembali terarah pada sosok Changmin yang berdiri dihadapannya, senyuman manis-yang dapat membuat setiap wanita tersipu saat melihat senyum itu- pun masih tersungging diwajah tampannya, membuat wajah Hyunmi tiba tiba saja memanas dan membuatnya harus memalingkan wajahnya saat itu juga. Jantungnya kembali berdetak keras, suatu hal yang sering terjadi selama beberapa bulan belakangan ini, entah apa penyebabnya.

“G-gomawo.” Tanpa melihat kearah Changmin, Hyunmi dengan cepat mengambil minuman kaleng itu dari tangan pria dihadapannya. Namun bukannya membuka minuman itu, ia malah menggenggamnya dengan kedua tangannya, kepalanya kini tertunduk, mencoba menyembunyikan rona merah yang sepertinya masih nyaman berada dikedua pipi wanita itu sedari tadi.

“Hahahaha….” tiba tiba saja terdengar suara tawa yang begitu keras dari arah Changmin yang masih senantiasa berdiri dihadapan Hyunmi, membuat Hyunmi sontak mendongakkan kepalanya dan menatap pria dihadapannya dengan dahi mengerut.

“W-wae? Kenapa kau tertawa?”

“Kau tersipu, noona.”

Kedua mata Hyunmi melebar saat itu juga, menatap pria dihadapannya dengan tatapan tak percaya. “Y-ya! Mana mungkin.. mana mungkin aku bisa dibuat tersipu oleh orang seperti mu. Jangan mentang mentang kau-”

“Kalau kau memang tidak tersipu, seharusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu, noona.” Potong Changmin yang berhasil membuat Hyunmi terdiam. Ditatapnya Changmin yang kini tengah melangkahkan kakinya menuju ayunan yang berada tepat disebelah ayunan yang tengah Hyunmi duduki.

Sekelebat ingatan masa lalunya tiba tiba saja berputar putar ingatan gadis itu. Dan sesaat kemudian, tubuh Hyunmi yang sebelumnya terasa kaku seketika terasa menegang, ia seperti tengah mengalami yang disebut orang orang sebagai deja vu.

‘T-tidak mungkin… ucapan itu… gerakan tubuh itu…’

Ekor mata Hyunmi terus menerus mengikuti setiap gerak gerik Changmin yang kini telah duduk di ayunan disebelah ayunan tempatnya duduk, seakan akan bila ia lengah sekali saja, pria itu akan hilang untuk selamanya dari pandangan matanya.

‘Andwae… ini tidak mungkin… ini pasti mimpi, aku pasti hanya bermimpi. Bagaimana bisa… bagaimana bisa Changmin-‘

“Lagi pula tadi aku hanya menggodamu.”

‘deg’

Saat itu juga Hyunmi merasa dirinya bagai tersambar petir, tubuhnya menegang, dadanya terasa sesak dan jantungnya berdetak keras diluar kendalinya. Mata besarnya kini semakin melebar, menatap tak percaya pada sosok Changmin yang kini tengah menatapnya lekat lekat.

‘Tatapan itu…. kata kata itu….’

“Kau…. kau begitu mirip dengannya Shim Changmin.” Gumam Hyunmi tanpa sadar.

Seketika kedua alis Changmin terpaut, ditatapnya Hyunmi tak mengerti. “Mwo? Dia?” tanya Changmin tak mengerti.

“Kau mirip dengannya, kakak mu, Shim Jaejoong.” Jawab Hyunmi tanpa melepaskan tatapannya pada Changmin yang kini tengah menatap kosong kearahnya.

“Begitu, kah?” tanya Changmin yang telah mengalihkan pandangannya dari Hyunmi dan tersenyum miris. “Ternyata benar, aku memang tak pernah bisa lepas dari bayang bayang Jaejoong hyung, bahkan setelah setahun ia meninggal. Hahaha…” Gumam Changmin yang kini tengah tertawa, sebuah tawa yang dipaksakan.

“Changmin-ah, apa maksud mu berbicara seperti itu, uh?“

“Memang benar ‘kan, noona? Semua orang juga pasti berpendapat seperti itu, karyawan karyawan ku contohnya, mereka memang tidak berkata langsung pada ku, tapi dari tatapan mereka aku tahu bahwa mereka merindukan pemimpin perusahaan mereka yang lama, bahwa mereka masih membanding bandingkan ku dengan hyungku.” Ucap Changmin.

Ia menolehkan kepalanya dan menatap Hyunmi sendu. “Bahkan… kau pun begitu, noona.” Ucap Changmin. “Aku tahu, selama 1 tahun ini noona masih memikirkannya, bukan begitu? Bahkan kau masih berpikir aku begitu mirip dengannya, mantan tunanganmu yang juga merupakan satu satunya hyung ku, Shim Jaejoong.”

“Changmin-ah, kau salah. Tidak se-“

“Sudahlah, noona.” Potong Changmin cepat. “Kau tidak perlu berbohong lagi. Dan yeah, bisa kita lupakan saja percakapan ini? Anggap saja kita tidak pernah membicarakannya. Aku sedang tak ingin dan tak pernah ingin membicarakan hal ini.”

“Lagi pula…. sesuai perkataanku 1 tahun yang lalu pada mu noona, aku akan tetap menunggu mu sampai kau bisa mencintaiku.” Ucap Changmin, kali ini terdengar begitu lembut, membuat Hyunmi terdiam.

“Baiklah.” Ucap Hyunmi.

“Oke.” Changmin melirik sekilas kearah jam tangannya dan kembali menatap Hyunmi setelah sebelumnya menghela nafas saat dilihatnya jarum jam menunjukkan pukul 6 sore saat ini. “Waktu ku tidak banyak, aku lelah sekali, ingin istirahat, jadi bisa kita langsung masuk ke intinya saja? Aku ingin tahu kenapa noona bersikeras ingin bertemu dengan ku sore ini, dan bahkan menyuruhku menebak sendiri tempat noona ingin bertemu denganku, benar benar merepotkan.”

Kalimat Changmin barusan berhasil membuat Hyunmi menatapnya kesal. “Ya! Dasar, tidak bisakah kau bersikap perhatian pada tunanganmu sendiri, uh? Kenapa sikap mu semakin hari semakin menyebalkan, Shim Changmin?” kesal Hyunmi yang kini tengah menatap tajam kearah Changmin.

Changmin menatap wanita dihadapannya yang merupakan tunangannya itu dengan pandangan kosong, ‘Itu karena semakin hari hatiku semakin sakit menyadari satu hal, noona. Fisikmu memang milikku, tapi hatimu bukan milikku. Aku ingin kau tahu bahwa aku bersikap seperti itu hanya agar kau tidak melihat betapa rapuhnya aku saat berada didepanmu, noona.’ Lirih Changmin dalam hati.

“Tidak bisa.” Jawab Changmin setelah ia kembali dari lamunannya. “Karena aku bukan Jaejoong hyung, karena aku berbeda dari hyung ku yang bisa memperlakukan wanita dengan begitu lembut dalam situasi apapun, karena aku adalah aku.” Ucap Changmin yang kini menatap Hyunmi dengan sebuah senyum miris tersungging diwajanya.

“Changmin-ah, aku tidak bilang bahwa kau itu-“

“Kau memang tidak mengatakannya, noona. Tapi secara tak sengaja ucapanmu memiliki makna yang sama.”

Hyunmi terdiam, tertegun akan ucapan laki laki dihadapannya. Ia benar benar tak menyangka Changmin akan dapat membalas setiap kalimatnya, “Terserah pada mu lah, Shim Changmin. Aku meminta bertemu denganmu bukan ingin berdebat.” Hyunmi menghela nafas, mencoba mengalah pada Changmin.

“Lalu apa tujuan noona meminta ku bertemu?”

Hyunmi terdiam terpaku, pertanyaan simpel dari seorang Shim Changmin, tapi entah mengapa jantung wanita itu kini berdetak begitu keras diluar kendalinya, sedangkan matanya kini menatap gugup kearah Changmin, “A-ah itu… Aku.. mm.. aku…“

Hyunmi menghentikan ucapannya, ditatapnya pria dihadapannya saat ini lekat lekat, pria yang sudah lebih dari 1 tahun menjadi tunangannya dan pria yang selama 1 tahun lebih ini membantunya bangkit dari kesedihan yang dirasakannya pasca meninggalnya orang yang dicintainya.

Pria di sampingnya ini juga adalah pria yang selama 1 tahun lebih ini selalu menjaga dan melindunginya, yang membantunya melupakan Jaejoong, dan juga pria yang tanpa sadar sudah berhasil membuat seorang Lee Hyunmi kembali jatuh cinta untuk kedua kalinya, jatuh cinta pada seorang namja yang merupakan adik dari orang yang dicintainya dulu.

Ya, Lee Hyunmi mencintai Shim Changmin, entah sejak kapan.

“Ayolah noona,” suara tak sabar yang keluar dari mulut Changmin berhasil membuat Hyunmi tersadar dari lamunanya. Kini Changmin telah berdiri dari posisinya yang semula duduk, matanya menatap kesal kearah Hyunmi. “Aku benar benar lelah, aku ingin istirahat, jadi-“

“drrtt… drrtt…”

“Shit!” Changmin mengumpat pelan saat dirasakannya ponselnya bergetar didalam saku jas miliknya. Dengan kesal ia merogoh jaket jasnya, mencari ponselnya. Ia pun langsung mengangkat panggilan telfon itu dengan wajah kesal, tanpa melihat siapa penelfon.

“Yeoboseyo?”

“Y-yeoboseyo, Mr. Shim.”

“Ah ne, Raemi-ah, wae? Ada apa menelfon ku?” tanya Changmin saat ia mengenali suara Raemi disebrang sana, sekretarisnya.

“I-itu… mianhae, Mr. Shim…. tapi aku lupa memberitahu kalau malam ini jam 7 malam anda ada rapat dengan Mr. Park dari perusahaan Park, teman baik anda.”

“Mwo?! Ya! Kenapa baru mengatakannya?! Lagi pula.. aish yang benar saja, saat ini aku sedang bersama tunanganku, jadi aku tidak….. argh! Oke baiklah, aku akan menghadiri rapat itu. Kirimi aku e-mail berisi alamat tempat rapat itu akan diadakan, arraseo?”

“A-arraseo, Mr. Shim.”

‘pip’

Dan Changmin pun memutus sambungan telfon itu, ia menolehkan kepalanya, menatap Hyunmi yang-entah sejak kapan-telah berdiri dan tengah menatap bingung kearahnya.

Changmin menghela nafas sejenak sebelum berkata, “Mianhae, noona. Tapi aku harus pergi sekarang, aku ada meeting dengan klien, jadi bisakah noona mengatakan hal yang ingin noona katakan lain kali?” tanya Changmin. Namun Hyunmi hanya terdiam, tak menjawab pertanyaan Changmin.

“Hm, sebagai permintaan maafku, besok aku akan membatalkan semua rapat ku dengan klien dan akan bersama dengan noona seharin. Jadi noona bisa mengatakan hal yang noona ingin katakan besok, bagaimana?” tanya Changmin lagi, ia pun melirih kearah jam tangannya dan menghela nafas berat.

“Aish, aku harus pergi sekarang.” Gumam Changmin. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya mendekati Hyunmi dan mengecup kening Hyunmi dengan lembut, sebuah kebiasaan yang ia lakukan setiap ia akan berpisah dengan Hyunmi, sejak ia menjadi tunangan Hyunmi lebih dari 1 tahun yang lalu.

“Mianhae noona, aku harus pergi, maaf tidak bisa mengantarmu pulang. Aku akan menyuruh supirku untuk mengantar mu pulang. Setelah selesai rapat aku akan langsung menghubungi noona. Daah..” Changmin tersenyum tipis pada Hyunmi sebelum membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi.

“Saranghae.”

‘deg’

Seketika langkah Changmin terhenti, tubuhnya terasa kaku dan jantungnya terasa berdetak keras. Dengan cepat dibalikkan tubuhnya, menghadap seorang wanita yang tak lain adalah Lee Hyunmi, orang yang dicintainya.

“A-apa?” tanya Changmin. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Hyunmi mengatakannya, Hyunmi mengatakan ‘saranghae’ pada Changmin, dan itu benar benar membuat laki laki itu kaget.

“Saranghae… jeongmal saranghae, Changmin-ah. Itu lah yang sedari tadi ingin aku katakan padamu, itulah alasan aku ingin menemui dan meminta mu menebak dimana aku ingin bertemu. Aku memilih taman di karena ditaman ini lah kau menghiburku saat kematian Jaejoong.“ ucap Hyunmi lirih.

“Changmin-ah, aku-“

Belum sempat Hyunmi menyelesaikan kata-katanya, sebuah tangan menarik tangannya lembut, membuat tubuhnya terhuyung ke arah depan. Dan saat Hyunmi sadar, ia sudah ada dipelukan hangan milik seorang namja bernama Shim Changmin, laki laki yang dicintainya.

“C-Changmin-ah..”

“Katakan lagi. Katakan lagi, noona.” Ucap Changmin yang kini melepaskan pelukannya dari Hyunmi. Kedua tangannya ia letakkan di kedua pipi Hyunmi, menelungkup wajahnya. Sedangkan matanya kini menatap lurus kearah wanita dihadapannya saat ini.

“Changmin-ah…”

“Katakan lagi noona, katakan bahwa kau menyukaiku, ah ani.. bahwa kau mencintaiku. Aku ingin-“

Belum sempat Changmin menyelesaikan kalimatnya, Hyunmi langsung menarik tubuh Changmin kearahnya dan menyatukan bibir mereka, mencium Changmin lembut, membuat kedua mata Changmin membulat akibat tindakan yang Changmin lakukan padanya.

“Aku mencintaimu, Shim Changmin. Jeongmal saranghae..” ucap Hyunmi setelah ia melepaskan ciumannya. Ditatapnya wajah pria tampan yang merupakan tunangannya itu dengan seksama sebelum ia mengulas sebuah senyum manis diwajahnya. “Aku sudah mengatakannya ‘kan, Shim Changmin? Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?”

Changmin terdiam selama beberapa saat sebelum tersenyum jahil pada Hyunmi, “Apa yang akan aku lakukan? Tentu saja aku akan menikahi mu, Shim Hyunmi.”

“M-mwo? Y-ya! Jangan seenaknya mengganti marga seseorang, atau kau akan ku- mmpphh….”

Belum sempat Hyunmi melanjutkan kata-katanya, sesuatu yang lembut tiba tiba saja menyentuh bibirnya. Seketika itu juga ia merasa jantungnya berhenti berdetak, dan napasnya terasa berhenti berhembus. Waktu seolah-olah berhenti, berhenti oleh sesuatu yang entah tak Hyunmi sesali. Ia tak menyesal telah berusaha melupakan Jaejoong, dan ia tak pernah menyesali dirinya karena sekarang ia mencintai orang lain, mencintai Shim Changmin, sosok namja yang benar benar sempurna dimata Hyunmi.

The End

Well, bagaimana? Jelek, kah? Alur kecepetan? Feelnya kurang dapet? Ending aneh? Ide cerita gak asik? Typo(s) dimana mana? EYD acak kadul? Ngebosenin? Huaaaa Gomeeeeennnn kalau jelek ff nya, saya tahu saya memang kurang berbakat menulis fanfic, tapi saya sudah berusaha semaksimal yang saya bisa ;A;

Saya minta maaf dan…. saya mohon doa untuk kelancaran saya saat UN ataupun UAS nya, karena saya ingin masuk SMA fav di Jakarta jadi saya harus berjuang keras #curcol

Dan ah, saya ingat… kalau ada yang ingin meminta pw untuk ff ff saya, sebaiknya minta lewat twitter, karena saya sudah jarang sekali buka fb. untuk nama twitter saya, kalian bisa melihat di postingan yang sudah admin blog ini buat yang berisi nama nama twitter atau fb para author~

Jaa minna-san!! Sampai bertemu setengah tahun lagiiii~~ Jangan lupa coment ya😛

9 thoughts on “Heart, Mind, and Soul (Oneshot)

  1. changmin romantis banget!
    awalnya aku mw nangis tau gra” nampyonku jaeppa mati, udh gtu changmin miris bgt suka sm hyunmi tp hyunmi cinta bgt sm jaeppa..
    tp aku seneng akhirnya happy end.
    o y, bwd nisa semoga sukses y ujian sm target”nya,,
    fighting!😀

    • aku awalnya gak tega mau bikin jae meninggal, maunya yg meninggal itu yunho atau yoochun, tapi…. makin gak tega akunya, eon~ jadinya jae aja ><
      tapi endingnya gaje ya, eon? aku pernah bisa bikin fict yang happy ending kaya gini sih-_- wkwk

      amin! makasih udah baca dan makasih coment dan doanya, unnie^^

  2. uh penantian changmin ngak sia2 akhir y setelah sekian lama mendam n ngerasa d kasianin n nunggu hyunmi…. akhhhh romantis jadi y………
    kenapa jaepa q nongol y pas udah meninggal,,,, kasian…. yeobo pulang k sini ja…..
    hwaiting buat UN y semoga sukses n memuaskan hasil y………

    • ternyata ada yang nyadar kalau endingnya sangat dipaksakan, haha, iya maaf.. ini emang rada maksa endingnya, soalnya saya gak ada waktu lagi buat bikin ending yang lebih baik, dan saya memang gak pernah bisa bikin fict yang happy ending kaya gini. makanya nanti kalau saya udah balik dari hiatus, mau saya bikin sequelnya. makasih udah baca dan coment~

  3. menyayat hati banget dah,, dlain sisi ga tega kalo jaejoongnya mati tapi akhrnya happy ending..
    jejung rela ngejauhin cwe yang dy cinta cuma demi adiknya changmin, sampe akhrnya dy nyelametin cwe yang dy cinta,huhuhuhu
    saeng kalo yang ga punta twitter gimana dong? ToT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s