Wanna Love You but I Can’t… Chap 4


Tittle    : Wanna Love You, but I can’t…

Genre : Angst, Fantasy, Romance

Rating : PG/13 (Straight)

Lenght : 4 of ??

Main Cast  : Kang Yura (Ocs), Kim Jaejoong & Shim Changmin

Other cast :  Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Lee Eunri, Jung Yoon Rie, Han Yourin, Kim So Yeon, Dana, Yesung, dll.

Disclaimer : Terispirasi dari manga ‘fruits basket’ but PLOT IS MY OWN?!

Author       : Satsukisorayuki

A/n : Ini inspirasinya dari komik diatas jadi jangan heran kalau misalnya nanti ada sedikit kesamaan cerita, tapi walaupun begitu kalian harus tetap menghargai karya saya ini, sebab saya pasti akan membuat jalan cerita yang berbeda seperti di fanfic2 author yang sebelumnya. NO PLAGIAT karena sebagian besar FF2 yang saya buat adalah hasil imajinasi sendiri. Don’t Like, Don’t Read! Kata yang bercetak miring berarti flahsback ya? ^^

Chapter 4

Drtt! drttt!

Ponsel Yoochun bergetar, dia terbelalak kaget saat melihat id caller di layar

“Yobosseo?!” sapa Yoochun ramah

“Mweoo? Ne, arraseo!”

‘klik’ Yoochun memutuskan sambungan telpon

“Siapa yang menelpon, Yoochun-a?” tanya Jaejoong

“Yunho, dia bilang.. dia ingin berbicara dengan Yura”

“Mweo?” kaget Jaejoong

“Yura, Yunho bilang.. besok pagi datanglah ke rumah utama!” jelas Yoochun

“Mweo? Yunho ingin bicara denganku?” Yura terbelalak kaget

“Jadi, siapa yang mau mengantar Yura ke rumah utama? Kalau denganku aku takut kami akan tersesat, kalian sendiri tau kan kelamahanku adalah sering lupa jalan sedangkan Yunho sangat benci menunggu walaupun hanya satu menit. Jadi kalau kami terlambat bisa gawat” ujar Yoochun

“Mian, jangan memintaku! Aku tidak ingin kembali ke rumah itu lagi”

Jaejoong memalingkan wajahnya dari Yoochun

“Arra, keundae Changmin juga tidak mungkin. Bagaimana kalau kau saja Junsu-a?” tanya Yoochun,

Junsu yang masih dalam sosok ular hanya mengangguk pertanda setuju

“Gomawo” seru Yura sambil tersenyum

‘Petok.. petok’ terdengar suara Ayam dari arah luar

“Kalian dengar? sepertinya ada ayam liar yang nyasar kesini. Junsu oppa turunlah dari leherku! aku akan menangkap ayam itu untuk makan siang besok” ujar Yura semangat

Yoochun dan Jaejoong saling pandang dengan ekspresi kaget sedangkan Junsu menuruti perintah Yura. Yura segera berlari keluar.

“Aaahhh, itu dia.. waah ternyata itu ayam jantan. Ayaaam aku akan memasakmu besok, kau pasti berhasil aku tangkap” teriakan Yura dari luar terdengar sampai ke dalam rumah

‘Bush’ Junsu pun kembali berubah menjadi sosok manusianya

“Huuft, untung aku sudah turun dari leher Yura dan dia tidak melihat tubuh nakedku, hahaha aku selamat”

Junsu menghela nafas lega dan segera memakai pakaiannya lagi

“Jae, jangan-jangan ayam itu…”

Yoochun menggantung kata-katanya dan Jaejoong hanya mengangguk pertanda setuju dengan pendapat Yoochun

Yura tersenyum lebar sambil memeluk Ayam jantan yang dominan berbulu merah kecoklatan itu di pangkuannya.

“Junsu oppa, kau sudah kembali menjadi manusia? Oppa, ayo kita sembelih ayam ini!” ajak Yura dengan semangat 45

“Andweeee” teriak Jaejoong dan Yoochun bersamaan

“Wae? Kalian tidak suka ayam? Ayolah, sekali-kali kita makan sama daging ayam bakar kek, aku bosan makan sayur!” rengek Junsu

“Pabo, coba kau perhatikan warna bulu ayam itu!” ujar Yoochun sambil melotot

Junsu pun memperhatikan ayam itu dengan teliti, akhirnya dia sadar bahwa ayam itu ingin lepas dari Yura sejak tadi tetapi tidak bisa karena pelukan Yura yang terlalu erat hingga ayam itu hanya bisa pasrah. Ayam itu juga terus menggeleng pada Junsu.

“Iteuk hyuuung” seru Junsu

“Iii.. iteeuuk hyung?” tanya Yura bingung

“Yura-a, tolong lepaskan dia!” pinta Jaejoong

“Ah, ta.. tapi.. aku ingin makan ayam, oppa!” bujuk Yura dengan wajah innocent

“Nanti kita belikan ayam untukmu yang banyak, keundae ayam itu.. jebal lepaskan dia Yura-a!” sambung Yoochun.

Yura melepaskan ayam itu dengan ekpresi cemberut tak rela

“Hyung, untuk apa kau kemari?” tanya Junsu

“Eh? Oppa, apa kau gila? Masa ayam kau panggil ‘hyung’ sih” Yura semakin kebingungan

‘Bush’

Ayam jantan itu berubah menjadi sosok seorang namja dengan rambut berwarna merah kecoklatan

“Kkyyyaaaaaa!!”

Yura segera berlari cepat menuju kamarnya dan di lantai itu ada beberapa tetes darah

“Dia mimisan lagi” ujar Yoochun

“Annddweee, dia melihat punyaku padahal dia kan bukan istriku” teriak namja itu begitu menyadari perubahan pada dirinya

“Berisik! Kau membangunkan tidurku” ujar Changmin dari arah tangga,

Changmin melemparkan pakaian yang di bawanya pada Lee teuk. Secepat kilat Lee teuk segera memakai pakaian itu. Sementara Junsu hanya tertawa terbahak-bahak sambil gegulingan di lantai

“Ottokhae? Yeoja itu sudah melihat punyaku?”

“Sudahlah hyung! Lagipula bukan hanya punyamu yang sudah di lihat oleh Yura, punyaku juga” jujur Yoochun sambil memanyunkan bibirnya

“Punyaku juga sudah dilihat olehnya” sambung Changmin

“Jadi?”

Lee teuk menatap penuh harap pada Jaejoong dan Junsu

“Aku tidak, walaupun bagian punggungku sudah dilihat olehnya sih” jawab Jaejoong

Sementara itu Junsu masih tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena tidak bisa berhenti mentertawakan tingkah 4 namja di depannya itu, dia benar-benar merasa menang karena dia adalah satu-satu namja yang bebas dari penglihatan Yura ketika sedang naked untuk sementara ini.

“Junnsssuuuu, Shut up!” marah Yoochun yang kemudian tersenyum evil

“Omo, dia berubah menjadi black Yoochun, gawaaat” teriak Junsu yang langsung berlindung di belakang tubuh Lee teuk

“Awas kau, Kim Junsu!”

Yoochun berlari ke dapur dan kembali dengan membawa pisau dapur berukuran paling besar di tangannya. Yoochun terus melangkah mendekati Junsu yang semakin gemetar ketakutan sambil menjilat pisau itu beberapa kali

“Jangan bunuh aku Yoochun-a! Aku minta maaf jebal” mohon Junsu

“Yoochun-a, jangan!” cegah Jaejoong menghalangi langkah Yoochun

“Minggir!”

Yoochun mendorong Jaejoong dengan sangat kuat hingga tubuh Jaejoong terlempar jauh dan mengenai salah satu guci berukuran paling besar di rumah itu, pecahan guci itu melukai lengan Jaejoong. Jaejoong meringis kesakitan, lengannya berdarah. Jaejoong mencabuti beberapa pecahan guci yang masih menempel di kedua lengannya itu.

“Yoochun hyung, hentikan! Junsu hyung hanya menertawakan kita saja, masa begitu saja marah?” teriak Changmin namun tak di gubris oleh Yoochun

Yoochun terus mendekati Junsu sambil tersenyum sinis.

“Yoochun, hentikan! Kembalilah pada kepribadiamu yang asli! Lagipula Junsu juga sudah meminta maaf, kan?” sambung Lee Teuk

“Berisik!”

Yoochun mendorong Lee Teuk dengan kuat hingga tubuh Lee Teuk terlempar dan mengenai meja hingga keningnya terluka

“Aish, black Yoochun ternyata tidak kalah kuat dari Yunho” umpat Lee Teuk sambil meringis, benturan itu benar-benar membuat kepalanya terasa pening

Yoochun terus mendekati Junsu. Junsu terus berlari menghindar, tetapi Yoochun selalu berhasil menyusulnya.

“Aaauuu” ringis Junsu ketika pisau itu mengenai lengannya

“Park Yoochun, jangan sakiti adikku!” teriak Jaejoong dengan wajah merah karena kesabarannya sudah habis

“Keluar! Kita berkelahi di luar, cepat!” bentak Jaejoong sambil melotot

“Oh, jadi kau menantangku?” sinis Yoochun

Yoochun dan Jaejoong sudah berada di halaman rumah dan mereka mulai berkelahi habis-habisan, saling memukul, saling menendang dan saling membanting.

“Ada apa sih? Kenapa daritadi ribut sekali? Dan kenapa kalian bertiga diam saja? Apa mereka berdua gila? Masa berkelahi malam-malam” ujar Yura yang sudah berada di sekitar ke lima namja itu

“Yoochun hyung berubah menjadi black Yoochun dan tikus jelek itu marah, dia tidak terima adik kesangannya di lukai oleh Yoochun” jelas Changmin

“Aku tidak bisa ikut campur, kekuatanku tidak sebanding dengan mereka. Lihat, kepalaku saja sampai bocor begini!” sambung Lee Teuk

“Ya ampun, apakah Yoochun yang melakukannya?” tanya Yura cemas

“Ne, dan aku juga tidak bisa ikut campur. Mereka berdua adalah salah satu dari Juunishi yang berkepribadian unik, makanya mereka menakutkan sekali kalau sedang marah seperti itu dan kekuatanku juga tidak sebanding dengan mereka” jawab Junsu

“Chagmin oppa, jebal tolong hentikan mereka! Mereka sudah babak belur dan terlihat kelelahan, aku sangat cemas” mohon Yura

“Tapi sejak dulu aku juga tidak pernah berhasil mengalahkan tikus jelek itu, apalagi kalau di tambah dengan black Yoochun, bisa mati aku” ujar Changmin

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Ah, kalian semua benar-benar keluarga yang aneh” teriak Yura frustasi

Sementara itu Jaejoong dan Yoochun masih belum berhenti dari aktivitas berantem mereka walaupun wajah keduanya sudah penuh dengan peluh dan nafas mereka mulai terengah-engah. Keduanya sama-sama terluka dimana-mana.

“Aaah, aku tidak kuat lagi melihat pemandangan seperti ini. Harusnya kalian jangan diam saja! Jangan jadi pengecut seperti ini! Junsu oppa, Jaejoong oppa itu berkelahi karena membelamu kan?”

“Arra. Lalu apa yang harus kami lakukan Yura-a?” tanya Junsu

“Kau dan Iteuuk oppa tahan gerakan mereka berdua, sekarang! Dan Chanmin oppa, siapkan selang air!”

“Mweo? Untuk apa?”

“Sudah, lakukan saja perintahku!” tegas Yura

Changmin bergegas menyiapkan selang air, sementara itu Junsu menahan tubuh Jaejoong, dan Lee Teuk menahan tubuh Yoochun yang masih mengamuk.

“Ini selangnya, aku juga sudah memasangkannya dengan saluran air itu. Kau ingin menyiram mereka, ya?” tanya Changmin sambil menyerahkan selang itu pada Yura

“Ne, aku tahu kau benci air, jadi kau aku suruh menyiapkan selang ini. Ngomong-ngomong walaupun kau benci air, kau tetep mandi setiap hari kan, oppa?”

“Yaa! tentu saja, pabo!” protes Changmin,

Yura hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Changmin itu

“Lepaskan aku, ayam kampung!” teriak Yoochun

“Hyung, hentikan! Nan gwaenchanha” ujar Junsu sambil tersenyum pada Jaejoong

“Aaaaahhhhh, apa yang kau lakukan, Kang Yura?” protes Lee Teuk tepat setelah air dalam jumlah banyak itu membasahi seluruh tubuh mereka berempat

>>>>>.<<<<<

“Dasar, kenapa harus menyiram kami malam-malam begini sih?” protes Yoochun sambil mengigil kedingan walaupun keempat namja itu sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang lebih hangat

“Yang lebih parah, kenapa aku dan Iteuk hyung harus kau siram juga?” sambung Junsu

“Benar, kau keterlaluan sekali” lanjut Lee Teuk

“Kalau kami sakit, kau harus bertanggung jawab!” tegas Jaejoong

“Ne, mianhae. Abiznya aku tidak tau harus menghentikan perkelahian kalian berdua dengan cara apa lagi?” jawab Yura sambil menunduk menyesal

“Tapi tidak seperti ini juga caranya?” ujar ke empat namja itu kompak

“Yaa, hentikan! Jangan membulli Yura lagi! Yura kan sudah meminta maaf, dia juga sudah mengobati luka-luka kalian itu” bela Changmin, membuat Yura tersenyum mendengarnya

“Baiklah, kali ini dia aku maafkan” kata keempat namja itu serentak

“Gomawo” kata Yura berulang-ulang

“Jadi, ada perlu apa hyung kesini? Lalu kenapa kesininya dalam wujud ayam, kau tidak sakit kan, hyung?” tanya Yoochun dengan raut wajah cemas

“Akhirnya white Yoochun kembali. Aku lebih suka dan lebih sayang Chunie yang lembut, baik hati dan perhatian seperti ini” ujar Lee Teuk sambil mengacak-ngacak rambut Yoochun yang masih basah

“Yaa, jawab dulu pertanyaanku!”

“Ne, my dongsaeng. Begini, Yunho menyuruhku untuk mengantar Yura ke rumah utama, besok” jawab Lee Teuk

“Eh? Kenapa harus oppa?” tanya Yura tak mengerti

“Yoochun sering tersesat jalan, Changmin tidak mungkin, lalu Jaejoong.. aku sangat mengerti diantara kita semua kaulah yang paling tidak ingin kembali ke rumah utama walaupun hanya untuk sekedar berkunjung selama beberapa menit, benar kan Joongie-a? dan Junsu…” Lee Teuk menghentikan kata-katanya

“Aku kenapa?” tanya Junsu meminta penjelasan

“Yunho bilang, untuk sementara kau tidak boleh bertemu dengan Yourin lagi, mianhae Sui-a” jawab Lee Teek sambil menyentuh bahu Junsu

“Ne, arraseo” sambung Junsu dengan raut sedih di wajahnya.

“Oppa, kenapa kau bilang Changmin oppa tidak mungkin mengantarku? Lalu siapa Yourin itu?” tanya Yura penasaran

“Mianhae, itu adalah masalah pribadi Changmin dan Junsu, jadi aku tidak bisa memberitahumu. Tak masalah, aku percaya suatu hari mereka semua akan terbuka padamu sekaligus berbagi penderitaan dan kesedihan mereka denganmu” bisik Lee Teuk tepat di telinga Yura

‘Aku mengerti oppa, gomawo. Ternyata aku memang belum tau banyak tentang kalian semua’ ujar Yura dalam hati

“Lalu kenapa kau kesini dalam wujud ayam, hyung?” tanya Jaejoong

“Saat aku dalam perjalanan kemari, aku tak sengaja bertabrakan dengan seorang yeoja yang sedang mabuk berat, untungnya dia sedang mabuk berat.. jadi kurasa tak masalah, kau tak perlu menghilangkan memori yeoja itu, Sui-a?” cerita Lee Teuk

“Kau yakin, hyung?”

“Tentu saja, lagipula begitu tubuhku berubah menjadi seekor ayam, aku segera berlari menerobos hutan. Pokoknya aku yakin 100%, yeoja itu tidak tau tentang rahasia keluarga kita”

“Kalau begitu bagus” sambung Junsu sambil tersenyum

>>>>>.<<<<<

Yura memasukkan kedua kakinya kedalam kolam ikan di depannya. Yura terus menunduk sambil terus memperhatikan segerombolan ikan yang sedang berenang di sekitar kakinya. Kolam ikan itu airnya memang sangat jernih. Perlahan airmata Yura mengalir membasahi wajahnya, sekali lagi Yura menyentuh pipi kanannya yang kini terhiasi perban dan perban yang sama juga menempel di kening kiri Yura. Yura mengigit bibir bawahnya, luka-luka nya memang masih terasa sakit tetapi hatinya jauh lebih sakit. Pertama kalinya Yura mengalami rasa sakit yang teramat sangat seperti ini. Awalnya Yura tidak mengerti namun akhirnya dia sadar bahwa hatinya terasa sakit dan sedih karena dia sangat menyayangi namja-namja itu, orang-orang yang sudah Yura anggap sebagai keluarga barunya.

‘Yunho-ssi adalah dewa para Juunishi. Awalnya kupikir dia itu juga salah satu dari Juunishi, pantas tidak ada seorangpun yang berani melawannya termasuk Yoon Rie, adiknya’ pikir Yura

Yura semakin terisak ketika mengingat kembali perkataan Yunho kemarin. Sungguh dia tidak ingin jika hal itu harus terjadi, sebab Yura mulai menyadari bahwa ternyata dirinya mencintai Changmin dan Yura tidak ingin kehilangan namja itu. Tapi disisi lain Yura juga sangat menyayangi Jaejoong, Jaejoong yang sudah Yura anggap sebagai kakak kandungnya sendiri dan Yura juga tidak bisa memungkiri bahwa perasaannya terhadap Jaejoong sama seperti perasaannya pada Yoochun dan Junsu.

‘Jika aku memilih untuk mati bersamanya, bisa tidak ya?’ tanya Yura pada dirinya sendiri

Yura ingin sekali bisa mematahkan kutukan itu, kutukan yang membelenggu orang-orang yang sangat Yura sayangi, orang-orang yang sudah Yura anggap sebagai bagian dari keluarganya, bagian dari hidupnya.

‘Baiklah, jika memang di hukum mati itu sudah menjadi jalan hidupku aku tak keberatan, keunddae aku harus melakukan sesuatu, setidaknya aku harus bisa memberikan kenangan indah pada mereka semua sebelum aku pergi’ pikir Yura sambil menengadah menatap langit biru yang membentang luas

Yura memejamkan kedua matanya ketika sinar mentari menganggu penglihatannya, semilir angin menerpa wajah dan rambutnya dengan lembut. Yura tersenyum, menikmati udara segar di musim semi yang tidak lama lagi akan berganti menjadi musim panas.

‘Setidaknya kami masih punya banyak waktu, ajaran baru belum lama kami lalui dan aku sendiri juga baru kelas satu, keunddae mereka kan sudah kelas dua. Ottokhae? Bagiku 2 tahun itu terlalu singkat’ perasaan galau kermbali merasuki jiwa Yura

Yura masih memejamkan matanya sementara otaknya terus berpikir ‘apa yang harus dia lakukan?’. Yura tersentak saat merasakan sentuhan lembut di punggung tangannya

‘Siapa? Siapa yang mengenggam tanganku?’ tanya Yura, namun dia masih enggan untuk membuka matanya

“Sejak kemarin kau terlihat sedih, Yura-a. Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Tidak bisakah kau menceritakannya padaku?”

‘Su.. suara lembut ini?’

“Jika aku menceritakan sedikit kisahku padamu, maukah kau membagi bebanmu itu padaku? Sebenarnya aku ingin menceritakan semuanya, kenddae aku belum siap untuk itu, lagipula kisahku terlalu panjang untuk di ceritakan”

‘Oppa’

“Kenapa kau masih diam? Buka matamu! Tatap aku dan berbagilah denganku!”

Yura membuka matanya dan memperlihatkan wajahnya pada seseorang yang kini tengah duduk disampingnya, namja itu tersenyum padanya dan Yura pun membalas senyuman itu dengan senyum terbaiknya.

“Jaejoong oppa”

“Jadi, deal untuk berbagi kisah denganku”

“Ne, keunddae.. oppa kan mau menceritakannya sedikit, jadi aku juga hanya akan menceritakan sedikit biar adil”

“Baiklah kalau kau belum siap untuk menceritakan semuanya. Ayo, kau duluan!”

“Anni, oppa saja yang duluan!” tolak Yura

“Arra. Aku yang duluan”

“Kalau begitu cepat mulai!” desak Yura antusias

Yura memang sangat menantikan ini, menantikan orang-orang yang dia sayangi berbagi masalah sekaligus kesedihan mereka dengan dirinya karena Yura ingin sekali semakin dekat dengan mereka, ingin membantu jika dia mampu, dan ingin memberikan kebahagian untuk semuanya.

Jaejoong menghela nafas berat, sulit baginya untuk membuka luka lama yang selama ini dia pendam sendiri namun dia sudah memutuskan untuk berbagi dengan Yura sedikit demi sedikit, karena Jaejoong sangat menyayangi yeoja itu, yeoja yang sudah dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.

“Orang tuaku bercerai sejak aku masih sangat kecil. Appa mengambil adikku yang baru berusia 6 bulan dan aku sendiri juga tidak bisa mengingat wajah adikku, karena aku baru 2 tahun saat itu. Umma dan Appa berpisah, aku kehilangan adikku dan kehidupanku bersama umma sangat tidak menyenangkan, itu adalah masa lalu yang sangat pahit” cerita Jaejoong, Yura hanya mendengarkan dengan sesksama

“Umma, aku tidak bisa tidur, temani aku!” ujar Jaejoong kecil sambil menarik-narik rok umma nya

“Dasar anak manja, tidur saja sendiri sana!”

“Tapi, umma…”

“Lagipula aku juga tidak bisa memelukmu, kan? Aku muak denganmu, aku benci kau. Kau juga sudah berusia 5 tahun sekarang, jadi mulai bulan depan sampai selamanya, tinggal saja di rumah keluarga Jung!” bentak Mrs.Kim sambil menendang putranya sampai jatuh

Jaejoong kecil hanya bisa menangis karena perlakuan ibunya itu

“Berisik! Kau itu anak laki-laki, jadi jangan cengeng! Dengar, seorang namja pantang untuk menangis.. chamkan itu!” teriak Mrs.Kim yang kemudian melengos pergi

 

“Dia bilang aku tidak boleh menangis, keunddae bagaima mungkin aku tak menangis jika ibu kandungku sendiri membenciku? Salahkah aku jika aku menangis karena alasan itu, hah?” lanjut Jaejoong sambil mengepalkan kedua tangannya dan setetes air mata jatuh membasahi wajahnya

“Oppa” ujar Yura sambil mengelus punggung Jaejoong “Keunddae aku masih tidak mengerti, kenapa umma oppa membencimu?” tanya Yura

“Bayangkan saja jika kau menjadi ummaku! ketika itu kau masih sedih karena sudah lama tidak pernah berjumpa dengan putramu yang satu lagi, harus berjuang sendiri tanpa bantuan suamimu untuk bertahan hidup padahal kau begitu menyayangi kedua putramu dan masih mencintai suamimu. Lalu ketika kau butuh pelukan, ketika kau begitu ingin memeluk putramu yang saat itu ada di depanmu, putramu berubah menjadi binatang. Kurasa kau juga akan membenci putramu itu kan, Yura-a?”

“Ya Tuhan” gumam Yura dengan air mata bercucuran

“Aku tidak berguna. Aku tidak bisa sedikit saja meringankan beban ummaku, aku malah semakin menambah bebannya. Aku benci, aku benci menjadi salah satu dari Juunishi. Kenapa harus aku?” teriak Jaejoong penuh emosi

“Oppa, jangan bicara seperti itu!”

“Aku hanya ingin mencintai dan dicintai. Tapi gara-gara takdir ini, aku tak bisa, aku tak bisa, Yura-a?!”

“Aku mengerti perasaanmu, oppa. Aku sangat mengerti, keunddae.. kumohon hentikan! Jangan pernah merasa seperti kaulah satu-satunya yang paling menderita di dunia ini, oppa! Yoochun oppa, Changmin oppa, Junsu oppa dan juga yang lainnya juga pasti merasakan hal yang sama denganmu”

Jaejoong terdiam, hatinya mencelos. Dia menyadari bahwa Yura berkata benar, bukan hanya dia yang menderita, maka dari itu harusnya dia tidak boleh egois. Tidak seharusnya dia menyalahkan takdir ini, harusnya dia percaya sesulit apapun masalah yang dihadapi, suatu saat pasti akan ada jalan keluarnya. Selalu ada solusi dalam setiap masalah namun terkadang memang sangat sulit untuk kita menemukan solusi yang baik, solosi yang benar-benar bisa membantu memecahkan semua masalah.

“Aku bahkan rela mepertaruhkan nyawaku untuk mematahkan kutukan itu, oppa” lanjut Yura sambil tersenyum,

Jaejoong tidak bisa berkedip, baginya senyuman Yura kali ini terlihat misterius seakan ada sesuatu yang tersembunyi dibalik senyuman itu.

“Aku sayang kalian” lanjut Yura

‘Cup’

Mata Jaejoong membulat, ciuman lembut Yura di dahinya terasa begitu hangat, begitu nyaman, ciuman itu terasa penuh dengan cinta dan kasih sayang yang tulus.

“Ceritamu belum selesai kan oppa, ayo lanjutkan!” perintah Yura

Jaejoong mengangguk dan kembali melepas senyumnya, lantas dia pun segera memulai ceritnya lagi

“Hari itu umma membawaku ke dunia yang berbeda, dunia ‘Jung’, dunia keluarga Yunho. Rumah itu begitu besar dan tanahnya pun sangat luas, saat itu aku sampai tidak bisa berkedip, sebuah pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku sangat terkagum-kagum, namun anehnya ada sesuatu yang berteriak keluar dari suatu tempat yang jauh di dalam lubuk hatiku”

“Apa itu, oppa?” tanya Yura

“Molla, selanjutnya yang aku ingat adalah, aku selalu berada disamping Yunho. Aku menganggapnya teman sekaligus saudaraku, keunddae sepertinya Yunho hanya menganggapku sebagai mainannya saja. Aku bahkan tidak diperbolehkan untuk melawannya, harus selalu mematuhi apa Yunho perintahkan sebab Yunho adalah kepala keluarga Jung sekaligus dewa kami, dewa para Juunishi. Aku bahkan tak pernah di izinkan untuk pergi keluar, dan kami berdua menghabiskan setiap menit dari semua waktu bersama-sama. Yunho akan marah jika kami melakukan sesuatu di luar kehendaknya” Jaejoong mengatur nafasnya sebelum kembali berbicara

“Keunddae, rasanya ada juga saat-saat dimana Yunho menangis. Salah satunya adalah ketika eomonim kembali dari luar negri. Sisi Yunho yang berbeda dari biasanya bisa kulihat, sisi manjanya. Beberapa kali aku sering melihatnya memeluk lengan ummanya. Tapi terkadang dia juga suka melakukan sesuatu yang membuatnya sedih, atau melakukan sesuatu yang membuat kami menderita”

Jaejoong memejamkan kedua matanya, kepalanya semakin lama semakin terasa sakit, kenangan pahit itu terus berputar-putar di kepalanya. Kenangan tentangnya bersama ibunya, kenangan pahit ketika dia hidup dalam dunia yang terisolasi. Sebuah dunia dimana tidak ada kebebasan untuknya. Dunia yang dia benci. Dunia yang bagi Jaejoong hanya ada kegelapan, tak ada sedikitpun titik terang. Dunia yang penuh dengan siksaan fisik sekaligus sisksaan bathin yang membuatnya berkali-kali terasa berada di ambang kematian. Dunia dimana dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dunia gelap yang sangat menyiksa dan begitu menyakitkan.

“Kau harus tetap berada di sini! Dengar, ibumu itu tidak akan pernah kembali untuk membawamu ke sisinya, jadi berhentilah mengharapkannya! Dan kau harus selalu mematuhiku, karena hidupmu tidak berharga!”

“KAU JANGAN PERNAH MENGATURKU!! APAKAH KAU SUDAH LUPA? KAU ITU HANYALAH MAINANKU, KIM JAEJOONG?”

““DIAM! Kau milikku, hanya milikku.. jadi jangan pernah mengaturku sebab akulah yang menentukan kehidupanmu.  Apakah kau lupa, eommamu itu sudah membuangmu dan menyerahkanmu padaku? Dia tidak membutuhkanmu. Kau tidak di butuhkan di dunia ini, tak ada seorang pun yang membutuhkanmu, Kim Jaejoong”

“Bahkan semua orang membencimu!”

“Changmin, Yoochun, bahkan Junsu.. mereka semua sangat membencimu Kim Jaejoong, begitupula aku”

“Asal kau tahu, semua orang membenci tikus.. terutama Changmin. Bahkan Yoochun yang lembut juga membencimu, karena dia sering menjadi bahan olok-olokkan gara-gara kau?!”

“Kan sudah aku bilang kalau kau hanyalah seperti sampah yang harus di buang, tidak ada seorangpun yang membutuhkanmu!”

“Umma, aku ingin pulang, aku ingin tinggal bersamamu saja. Yunho, dia selalu mengatakan hal-hal yang menakutkan padaku. Jebal umma, bawa aku pergi! Yunho selalu mengurungku di tempat yang sangat gelap dan dingin. Dia juga sering memukulku dengan tongkat besi yang sangat panas, aku takut umma, aku takut”

“Tidak mungkin, Tuan muda itu adalah anak yang baik, tak sepertimu, jadi berhentilah berbohong! Toh aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekarang kau sudah menjadi milik keluarga Jung. Jung Jaejoong, kau bukan putraku lagi, jadi aku sudah tidak punya kewajiban apapun lagi terhadapmu dan aku tidak membutuhkanmu”

 

Wajah Jaejoong semakin lama semakin pucat dan penuh dengan peluh. Sinar di matanya seakan menghilang, kini pandangannya terlihat begitu kosong. Jaejoong hanya mematung dan tak bergerak sedikitpun, namun tubuhnya terus bergetar hebat, akhirnya Jaejoong mulai mengigil dan dia terus merapatkan kedua tangannya di telinganya. Jaejoong seakan tidak ingin mendengar apapun, dia mulai terlihat ketakutan.

Yura sangat cemas melihat perubahan pada diri Jaejoong

“Oppa, kau kenapa?” tanya Yura

Yura menurunkan kedua tangan Jaejoong, lalu menghapus keringat dingin yang membasahi wajah Jaejoong dengan sapu tangannya. Yura benar-benar sangat khawatir dan takut disaat yang bersamaan. Yura menyentuh wajah Jaejoong dengan kedua tangannya.

“Oppa, jangan seperti ini! Jangan membuatku takut, jebal! Kau kenapa oppa? Tatap mataku oppa, ayo lihat aku!” desak Yura, namun Jaejoong tetap tak bergeming

“Aku tidak boleh memelukmu, jadi kuharap ini bisa sedikit membantu”

‘Cup’

Ciuman Yura kembali mendarat di kening Jaejoong, airmata berjatuhan dari wajah Yura membasahi wajah tampan Jaejoong.

‘Test Test’

Kini butiran bening itu mengalir mulus dari sudut mata Jaejoong, dan sinar mata Jaejoong akhirnya kembali. Didepannya wajah Yura mengulas sebuah senyum yang sangat cantik, kini jarak wajahnya dengan wajah Yura hanya beberapa inci saja. Tiba-tiba pipinya merona dan getaran yang Jaejoong rasakan terasa lain dari biasanya, jantungnya terasa berdetak 3x lebih kencang dan darahnya berdesir. Kini perasaan hangat dan nyaman yang Jaejoong rasakan, perasaan aneh yang bahkan tak Jaejoong yakini apa namanya. Apakah cinta ataukah hanya sebatas rasa sayang?

“Oppa, gwaenchanha?” tanya Yura lagi

“Nan gwaenchanha, Yura-a? Tadi sudah sampai mana ceritaku?” tanya Jaejoong yang ternyata sudah kembali ke alam nyata

“Anni, kita pulang saja. Sebaiknya oppa istirahat saja, ne?”

“Shireo, aku masih ingin melanjutkan ceritaku”

“Keunddae, oppa nanti kau…”

“Itu tidak akan terjadi lagi, yaksu”

Yura menghela nafas panjang, dai benar-benar tidak ingin melihat Jaejoong yang memaksakan dirinya sendiri untuk menceritakan sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan.

“Janji akan baik-baik saja?” tanya Yura ragu

“Ne, aku janji!”

“Tapi kenapa kau masih ingin menceritakannya, oppa? Bukankah tadi oppa bilang, hanya ingin menceritakannya sedikit?”

“Memang hanya sedikit, kan sudah kubilang kalau kisahku sangat panjang. Aku hanya akan menceritakan padamu sedikit lagi. Kau tau perasaan apa yang aku rasakan sekarang? Apa kau tahu seperti apa rasanya?” tanya Jaejoong

“Ba.. bagaimana oppa?” tanya Yura

Jaejoong menempelkan tangannya di dadanya “Sekarang disini terasa lega, yah seperti yang Yoochun katakan. Jadi tadi aku baru sampai mana?” tanya Jaejoong lagi sambil mengukir senyum manisnya

“Tapi terkadang Yunho-ssi juga suka melakukan sesuatu yang membuatnya sedih, atau melakukan sesuatu yang membuat kalian menderita” ujar Yura mengingatkan

“Ah iya, aku ingat sekarang. Gomawo, Yura-a”

“Ne cheonma”

“Aku heran entah sudah berapa lama sejak ibuku terakhir kali datang? sejak saat itu sampai sekarang, aku belum pernah berjumpa dengannya lagi padahal aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu dengan umma sekali lagi. Dan saat itu akhirnya aku juga menyadari, para juunishi lain tidak pernah berbicara kepadaku hingga aku sulit untuk mengenal mereka. Kenyataannya aku selalu berada di sisi Yunho dan aku bahkan tidak pernah bertukar kata dengan orang yang mereka sebut adikku” lanjut Jaejoong

“Maksud oppa? Orang itu, apakah Junsu oppa?”

“Ne, saat aku tanya pada Yunho. Dia bilang, anak laki-laki cute itu namanya Junsu dan dia adalah adik kandungku. Kata Yunho, Appa juga menyerahkan Junsu pada keluarga Jung. Kau tau Yura, saat itu adalah pertama kalinya aku merasa bahagia, sungguh. Bahagia karena ternyata aku bisa bertemu dengan adikku lagi, adik kecilku yang sangat kurindukan, keunddae tak kusangka dia adalah salah satu dari orang-orang yang membenciku. Hatiku terasa hancur begitu aku tahu bahwa dia membenciku. Umma bahkan adikku, mereka semua membenciku dan aku sangat sedih”

“Anni, oppa. Junsu oppa tidak bermaksud seperti itu dan kurasa umma oppa juga tidak bermaksud seperti itu, aku percaya mereka itu sebenarnya sangat menyayangimu” sambung Yura

Jaejoong hanya terkekeh mendengar perkataan Yura itu

“Sudahlah, tidak perlu menghiburku”

“Eh? Aku tidak menghiburmu, aku bicara yang sesungguhnya oppa”

“Sudahlah, Yura! Kau juga membenci tikus kan?”

“Ne, keunddae kalo tikusnya itu oppa aku tidak benci lagi kok, sungguh” tegas Yura

“Jeongmal?”

“Ne”

“Anni. Yunho benar, kenyataannya orang-orang memang membenciku. Waktu itu aku belum pernah bertemu Changmin sebelumnya. Setiap hari aku harus mendengarkan kata-kata negatif tentangku dan Changmin dari Yunho. Yunho juga sering sekali membahas soal kegelapan padaku, dia benar-benar membuatku takut. Akhirnya aku sadar bahwa semua yang Yunho katakan adalah kebenaran, hingga aku menjadi takut untuk menjangkau tanganku sendiri. Aku sungguh takut pada Yunho, keunddae tiap kali aku berkata jujur padanya kalau aku takut, dia hanya menatapku dengan matanya yang acuh tak acuh. Lalu hari itu datang, hari dimana aku bertemu dengan Changmin untuk pertama kalinya. Changmin menatapku dengan mata penuh kebencian. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk datang dan melihatku, terutama orang tuaku, karena  bagi umma aku tidak berharga. Dia tak peduli padaku, tak peduli situasi apapun, karena di dalam keluarga orang tua adalah pemenang”

“Oppa” gumam Yura

“Jika aku berbicara tentang masa lalu, masa laluku itu benar-benar tidak menyenangkan, bukan? Tapi itu saja yang ingin kuceritakan untuk hari ini. Nah, sekarang giliranmu. Ayo ceritakan apa yang terjadi di rumah utama, kemarin!”

“Yunho-ssi, dia bilang.. anni”

“Wae?” tanya Jaejoong

“Aku ceritakan besok saja ya? Aku janji, aku belum siap kalau hari ini oppa”

“Arra. Besok kita bicara disini lagi, ne?”

“Hmm” jawab Yura sambil tersenyum

Yura berdiri dari posisi duduknya lalu merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal karena kelamaan duduk, tiba-tiba mata Yura menangkap sosok seekor kelinci yang sangat lucu sedang duduk dengan mata terpejam tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Whooaaa, ada kelinci. Oppa akan kutangkap kelinci itu untuk makan siang kita nanti!!” seru Yura yang langsung berjalan mengendap-ngendap menuju tempat si kelinci

“Andwweeeee, kau tidak boleh memasaknya nanti Junsu bisa semakin membenciku” teriak Jaejoong

=> To Be Continued <=

 

Aaaaa *TeriakPakeToa* udah dulu ya reader setiaku? ^^ Sepertinya chap ini kepanjangan hehehe *evilsmirk*. Mian kalau ceritanya makin aneh, gaje and ada typo. Mudah-mudahan di chap ini angst nya lebih berasa, Ammin. Jangan lupa berikan komentar atau kritik kalian ya soalnya chap end pass nya beda lagi dan syarat untuk mendapatkannya harus komen minimal 70% dari keseluruhan jumlah chapter yang ada?! Gomawo ^^

 

 

9 thoughts on “Wanna Love You but I Can’t… Chap 4

  1. vv berkata:

    wah keren ceritanya …
    makin penasaran aja nih …
    aq kira yura sukanya ama jeje eh ternyata ama changmin ya …
    lanjut chingu ..^^

  2. eunchan she peef berkata:

    ngga kepanjangan kok..
    Malah kurang panjang..😀 #PLAK!–”

    kasian JJ oppa~
    cerita dulu nya kejam bgt!
    Sabar yh JJ oppa :3
    wahh! Yoochun oppa klw marah serem bgt! >,<
    si Junsu seneng bgt! Mentang2 dia belum diliat sama yura..😀
    hemm…
    Aku masih bingung..
    Apa yh, yg di omongin yunho sama yura??

    LANJUTKAN!!~^^

  3. Kayanya ceritanya menyedihkan bgt. Jadi Yura th dmen ama Changmin ato Jaejoong? Huhuhu
    Di tunggu bgt ya Tria eon lanjutannya^,~
    Makin seru aja nh! Hohoho

  4. Kim Hyun Rin (cassiopeiay) berkata:

    aku rada gimana gitu sama yunho di ff ini…
    jeje kasian bgt yah, ibunya udh kyk gitu
    tapi udh takdir jeje jd juunishi😦

  5. Resty berkata:

    yura itu pemakan segala, apa yang dilihat mau ditangkap dan dimasak
    ckckcck =_=”

    konfliknya makin jelas, yunppa kenapa bisa kejam gitu?

  6. Sungie berkata:

    ya ampun, Yuraa~
    ktmu ayam mau dimasak, ktmu kelinci mau dimasak jg… ckckc~
    aq pikir cuma changmin yg pemakan segala, trnyata…
    kisahnya Jeje kasian bgt… hidupnya pnuh kebencian orng dsekitarnya… jd sedih *hug Jeje*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s