I Will Always Love You Chap 5


Semoga  part ini  juga ga kepanjangan ya? soalnya jari-jari author susah berhenti he he he ^^

 

Author       : Satsukisorayuki

Tittle         : I Will Always Love You

Genre       : AU/Romance, Angst

Cast         : Shin He Na, (DBSK) Kim Jaejoong, Park Yoochun,

Other cast : (DBSK) Jung Yunho, Kim Junsu, Shim Changmin & Fuzita Keiko, Haruna Suzuki

Rating       : PG/13

Lenght       : Chaptered

Disclaimer : PLOT IS MY OWN?! Terinspirasi dari K-drama ‘Tree of Heaven’

Note : Fanfic ini pernah aku post di => http://fan3less.wordpress.com/ jadi kalo yang udah pernah baca harap maklum😀

I Will Always Love You

PART 5

Haruna memasuki salah satu kamar di rumah suaminya, Sora. Dia membawa kantong berisi minuman keras dan sebungkus rokok. Kamar itu terlihat sangat rapi, bersih dan nyaman dan di penuhi nuansa warna putih dari mulai cat dindingnya, tirai dan juga seprei. Di atas meja lampu kamar itu ada sebuah foto Yuki dan Sora yang sedang tersenyum ceria. Di kamar itu juga terdapat sebuah grand piano berwarna putih dengan sedikit warna gold yang menghiasi setiap sisinya, dan di atasnya terletak sebuah buku gambar.

“Hmm, benar-benar salju semua” desah Haruna yang kemudian duduk di atas ranjang lalu mengambil satu botol sake dari kantong plastik tersebut, membukannya dan kemudian meminumnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering, langsung saja Haruna mengangkatnya.

“Moshi-moshi..” sapa Haruna

“Haruna-sama, kami sudah tau dimana keberadaan Yuki-sama” ujar suara dari sebrang sana

“Souka? Lalu dia ada di mana, sekarang?” tanya Haruna

“Centre Tokyo Hospital”

“Nani? Kenapa dia bisa ada di RS?” kaget Haruna

“Tadi saya menyuruh kekasih saya untuk menyamar sebagai salah satu perawat di sana, katanya Yuki-sama mengidap kanker darah stadium akhir dan dia baru selesai kemoterafi beberapa jam yang lalu”

“Nani, Leukemia?” Haruna semakin terbelalak kaget. Tentu saja, Haruna tau persis seberapa parah penyakit itu. Dia pun kembali meneguk sake nya dengan cepat sampai habis, dan airmata mulai membasahi pipi putihnya.

“Seperti yang saya katakan, Haruna-sama”

‘Apa-apaan ini? Kenapa saat aku mulai mencintai seseorang, orang itu malah sudah tidak punya banyak waktu lagi? Padahal aku baru saja berencana untuk mendekatinya dan membuatnya jatuh cinta padaku dengan pesona yang aku miliki’ pikir Haruna yang kemudian meletakkan botol minuman itu diatas meja, lalu mengambil foto Yuki bersama Sora dan memandangnya dengan tatapan kosong.

“Lalu dia bersama siapa disana?” tanya Haruna

“Bersama, ketiga anak buahnya.”

“Apa kau sudah meletakkan alat penyadap itu di dekatnya?”

“Kami sudah melettakan cctv dan juga alat penyadap di kamar rawatnya, saat dia sedang kemoterafi. Tapi, kami gagal Haruna-sama.. gomennasai”

“Kenapa bisa gagal? Kalau gagal begini, bagaimana aku bisa membuktikan kecurigaanku padanya?” bentak Haruna mulai merasa kesal

“U-Know-san, dia tau dan langsung menghancurkan cctv dan alat penyadap itu, padahal kami sudah meletakkannya di tempat strategis. Sekali lagi maafkan kami Haruna-sama”

“U-Know-san, dare desu ka (siapa itu)?”

“Salah satu anak emasnya Sora-sama, dia sering sekali membantu Sora-sama untuk menghancurkan semua musuh-musuhnya dan rencana yang di susunnya tidak pernah gagal. Karena itulah Sora-sama memberinya kepercayaan untuk melindungi keselamatan Yuki-sama” jelas anak buah Haruna itu pula

“Oh, Yunho-san maksudmu? Pantas suamiku menjadikannya seorang leader? Dia hebat sih dan juga sangat cerdik” puji Haruna dengan nada sinis

“Jadi, apa lagi yang harus kami lakukan sekarang, Haruna-sama?”

“Tetap selidiki gerak-gerik mereka, karena aku tidak akan pernah membiarkan mereka mengkhianati suamiku”

“Siap, Haruna-sama. Anda memang istri yang baik, kami kagum pada anda” puji pengawal itu pula. Kemudian Haruna pun memutus sambungan telpon

“Istri yang baik? Baka?! Padahal aku melakukan ini semua karena aku tidak ingin Yuki mati di tangan Sora. Yuki-kun, pokoknya kau harus menjadi milikku?! watashi wa suki dayou (aku suka kamu), setidaknya sesingkat apapun waktumu aku akan terus bersamamu. Aishiteru, Yuki-kun (aku mencintaimu Yuki)”

Haruna meletetakkan ponselnya di meja dan meletakkan foto yang di pegangnya sejak tadi di pangkuannya. Lalu dia mulai menyalakan rokok, dan menghisapnya.

“Tapi, bagaimana reaksimu nanti, ya? Jika suatu saat kau mengetahui kalau kecelakaan yang di alami oleh ayahmu dan juga ibunya He Na bukanlah sebuah kecelakaan murni melainkan pembunuhan berencana yang aku dan okasan manipulasi. Apa kau akan membenciku, Yuki?” kata Haruna yang kemudian berjalan menuju grand piano itu dan duduk di atas kursinya.

Haruna yang merasa penasaran kemudian mengambil buku gambar yang terletak di sana dan membukanya. Di lembar pertama dia melihat lukisan seorang wanita yang sangat cantik sedang tersenyum.

“Wanita ini secantik kau dulu, Yuki. Inikah okasanmu?” tanya Haruna yang kemudian membuka lembar berikutnya.

Di lembar berikutnya, tertempel sebuah foto langit dan di bawah foto langit itu tertempel foto Yuki bersama Ibunya. Di bawah foto itu ada tulisan tangan Yuki, dan Haruna pun mulai tertarik untuk membacanya.

Huruf Korea, tetap saja aku bisa membacanya’ pikir Haruna sambil tersenyum sinis

“Omma, bagaimana di atas sana? Apakah menyenangkan?” Setelah membaca tulisan itu Haruna kembali meneteskan airmata.

Di lembar berikutnya Haruna melihat lukisan seorang wanita yang sedang mengajari putranya bermain piano dan kembali membaca tulisan di bawahnya.

“Hari ultahku yang ke 14. Hari itu omma mengajariku memainkan lagu favorit omma, lagu yang telah membesarkan namamu menjadi seorang pianis terkenal. Aku dulu juga ingin sekali menjadi pianis seperti omma, tapi appa malah menyuruhku untuk melanjutkan bisnis perusahaannya. Pada akhirnya aku tidak menjadi pianis ataupun bussinessman, omma. Kau pasti sangat kecewa padaku karena aku tidak punya pilihan lain selain memasukki dunia gelap ini. Tapi omma, kenapa hari itu kau meninggalkanku? Kalau aku tau itu lagu terakhir yang omma ajarkan padaku, aku tidak akan pernah memintamu untuk mengajariku lagu itu”

Airmata Haruna semakin banyak keluar. Ketika Haruna membuka lembar berikutnya dia sangat kaget, karena melihat ada bercak darah yang menodai lukisan omma Yuki yang sedang memakaikan kalung salib pada putranya itu.

“Darah? Apa saat melukis ini Yuki mimisan?” tanya Haruna yang kemudian membaca catatan di bawahnya

“Omma, ternyata ini sangat sakit.. aku tidak kuat omma, sakit sekali. Sekarang aku mengerti kenapa omma sampai meninggalkanku? Mianhae, mulai sekarang aku tidak akan menyalahkan omma karena telah pergi secepat itu. Justru aku lega sekarang, karena omma sudah terlepas dari rasa sakit dan penderitaan ini”

Di lembar berikutnya Haruna melihat lukisan seorang namja yang sedang menghampiri ibunya yang sedang jongkok sambil tersenyum, dengan bahasa tubuh seakan meminta putranya itu untuk berjalan ke arahnya dan memeluknya. Bahkan tinta tulisan itu telah luntur seperti basah oleh airmata Yuki, saat Yuki menulis kata-kata seperti ini

“Omma, saat tiba waktuku nanti.. jemput aku seperti ini, ya? ^^”

>>>>>.<<<<<

“Keiko-a, eothokkae?” tanya He Na yang sedang berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya

“Apanya yang bagaimana?” tanya Keiko bingung

“Yoochun oppa, tadi dia melamarku”

“Oh” balas Keiko datar

He Na yang mendengar Keiko tidak menanggapinya langsung mengubah posisi tidurnya, dia pun bangkit duduk dan mulai memperhatikan mata Keiko yang kini terlihat.. berkaca-kaca. He Na memiringkan wajahnya, dan semakin menatap lekat sahabatnya itu

“He Na-a, kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Keiko mulai salah tingkah

“Kau, apa sekarang kau menyukai Yoochun oppa? Sejak kapan Keiko?” tanya He Na

“Apa yang kau katakan?” tanya Keiko kaget

“Dulu kau mencintai oppa ku, tapi setelah dia pergi dalam waktu lama perasaanmu berubah dan sekarang kau jatuh cinta pada Yoochun oppa, kan?” selidik He Na

Keiko pun tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya itu

“He Na-a, bicara apa kau? mana mungkin aku jatuh cinta pada namjacingu sahabatku sendiri, kau ini ada-ada saja” bantah Keiko

“Kau tidak bisa berbohong padaku Keiko-a, karena aku sudah tau semua tentang dirimu. Jika kau benar-benar menganggapku sahabatmu, kau harus jujur padaku!” desak He Na lagi

Keiko menunduk menatap lantai, hatinya mulai terasa perih

‘Wae? Kenapa hatiku tidak terasa sakit atau perih saat kutahu sahabatku menyukai Yoochun oppa? Apakah perasaan cintaku padanya sudah mulai pudar?’ pikir He Na

“Mianhae He Na-a, kurasa aku memang jatuh cinta pada Yoochun sunbae. Entah kenapa saat aku berada di dekatnya jantungku serasa berdetak lebih cepat. Perasaan ini sama seperti perasanku pada Jaejoong oppa dulu, tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk.. merusak hubungan kalian. Lagipula aku tau betul kalau Yoochun sunbae itu hanya mencintaimu He Na-a. Aku bisa melihat ketulusan di matanya, dia pasti begitu mencintaimu” cerita Keiko, panjang lebar

He Na mengenggam tangan Keiko, lalu tersenyum padanya. Sementara Keiko merasa heran dengan sikap sahabatnya itu

“Kalau kau memang mencintainya cobalah untuk merebut hatinya, Keiko-a”

“Mweo? Apa kau becanda?” Keiko terbelalak kaget

“Anni, sekarang aku sudah yakin dengan perasaanku sendiri. Aku mencintai Jaejoong oppa, dan perasaanku pada Yoochun oppa.. kurasa hanya tersisa perasaan sayang, suka, dan kagum saja sekarang” jelas He Na

“Kau jahat He Na, kurasa kau pun tau sebesar apa rasa cintanya padamu? Apa kau tega untuk membuatnya patah hati? bagaimana kalau sampai dia bunuh diri karena frustasi setelah kau menghancurkan hatinya?” bentak Keiko

“Kau ini berlebihan sekali, masa Yoochun oppa akan bunuh diri hanya karena aku menolak lamarannya?” ujar He Na sambil terkekeh

“Mungkin saja, kan? Sudah 5 tahun kau berpacaran dengannya. Apa mudah untukmu untuk mengakhiri hubunganmu dengannya sekarang, hm?”

“Tentu saja tidak, ini akan sangat sulit bagiku. Tapi, mau bagaimana lagi Keiko-a? Jika aku sudah terlanjur tidak mencintainya lagi, apa bisa aku memaksakan perasaanku sendiri? Cinta itu tidak bisa di paksakan Keiko-a”

“Tapi..”

“Jika dia terluka, aku yakin kau bisa menyembuhkan lukanya itu secara perlahan Keiko-a.. karena kau mencintainya” potong He Na sambil memandang foto mesranya dengan Yoochun yang terpajang di meja lampu, tepat disamping foto He Na bersama keluarganya –Ibunya, Ayah Jaejoong, dan juga Jaejoong-

“Tapi masalahnya dia tidak pernah mencintaiku He Na-a, jadi aku tidak mungkin bisa menyembuhkan luka di hatinya”

“Tapi cintamu pada Yoochun oppa tulus, kan?”

“Ne, tentu saja”

“Kalau begitu kau pasti bisa, cukup buat Yoochun oppa jatuh cinta padamu dan berpaling dariku!”

“Kau pikir itu mudah? Hati Yoochun oppa sudah sepenuhnya ia berikan padamu” ujar Keiko lirih, airmata mulai membasahi wajahnya, hatinya benar-benar sakit mengingat betapa besar cinta Yoochun untuk He Na

“Tapi kuharap kau mau mencobanya Keiko-a, bukankah kita tidak akan pernah tau kalau belum mencoba?” tanya He Na lembut, dia menyentuh wajah Keiko lalu menyeka airmatanya “Aku sangat mengerti rasa sakit yang kau rasakan Keiko-a, tapi cobalah?” lanjut He Na pula

“Ne, akan ku coba He Na” kata Keiko akhirnya, He Na mendesah lega lalu tersenyum

Keiko memandang lekat wajah sahabatnya, lalu mencoba untuk membalas senyuman itu

>>>>>.<<<<<

He Na kaget saat dia membuka pintu kamar Jaejoong untuk mengantarkan makanan pesanan Jaejoong. Karena tiba-tiba saja, seorang namja menyambut kedatangannya itu dengan memakai topeng hantu dan mengagetkannya

“Aaarrrgghttt…” teriak He Na

Namja itu pun lekas menarik He Na memasuki kamar sebelum para tamu lain protes padanya

“Ssstt” ujar namja itu sambil menempelkan jarinya di bibir He Na, lalu dia pun melepaskan topeng hantunya itu

“Yaa, Max!! Kau hampir membuatku kena serangan jantung, jahat?!” protes He Na sambil memukul-mukul dada Max

“Aish, sudah! kenapa kau yang datang duluan sih?” tanya Max sambil memegang kedua tangan He Na yang sejak tadi terus memukuli dadanya

“Apa maksudmu?” tanya He Na heran

“Tadi itu aku mau menjaili Xiah hyung, ah kau menggagalkan rencanaku”

“Mweo?”

“Ne, aku ingin mengerjainya sekedar mencari hiburan tapi malah kau duluan yang datang” jawab Max sambil mendesah kecewa

“Yaa! Apa kau sudah gila?”

“Ah sudah, mana pesanan kami tadi?”

“Tentu saja masih di luar”

“Cepat ambil sana, aku sudah lapar!” perintah Max

He Na pun keluar dari kamar, lalu mendorong troli yang berisi menu-menu makanan pesanan Jaejoong itu ke dalam kamar

“Perasaan ini kamar oppaku, kenapa penghuninya jadi kau? Memangnya oppa kemana?” tanya He Na sambil memindahkan semua makanan itu ke meja makan

“Hyung sedang mandi. Lalu U-Know hyung dan Xiah hyung tadi pergi keluar, katanya mau membeli sesuatu”

“Oh pantesan oppa memesan makanan banyak sekali, ternyata kalian mau makan-makan bersama, ya?

“Begitulah. He Na, kau suka bunga apa?”

“Mawar? Wae?”

“O.K…” ujar Max yang kemudian menulis pesan untuk U-Know lalu mengirimkannya

To U-Know hyung:

“Hyung, ternyata He Na suka bunga mawar. Suruh beberapa anak buahmu untuk membeli semua Mawar yang ada di toko bunga sekitar sini.. pokoknya tengah malam nanti kita harus membuatnya terkejut. Tapi aneh juga sih, aku serasa mempersiapkan pesta ultah ku sendiri”

“Max, apa maksudmu dengan O.K?”

“Eh? Annio. emh wangi sekali, aku ingin cepat memakan semuanya” kata Max sambil memperhatikan semua makanan yang terlihat menggoda itu

Max pun mulai mengambil sumpit dan hendak memakan sushii ketika tiba-tiba…

“Yaa! Shim Changmin, sudah kubilang tunggu mereka berdua!” ujar Jaejoong sambil merebut sumpit dengan sushii yang di pegang Max itu

“Ah, hyung kembalikan!” rengek Max

“Shireo, nanti kau habiskan semuanya sehingga U-Know dan Xiah tidak kebagian”

Max melipat kedua tangannya di dada sambil memasang wajah cemberut, kemudian dia kembali menatap meja makan dengan wajah berbinar dan tangannya hendak mengambil tempura, ketika He Na mengangkat piring itu tiba-tiba

“Yaa!! Kalian kakak beradik yang menyebalkan” protes Max semakin mengembungkan pipinya

“Kau sangat manis saat cemberut begitu, Max” goda He Na yang kemudian tertawa diikuti tawa Jaejoong

“Tau ah, kalian berdua membuatku kesal” ujar Max sambil memalingkan wajahnya dari kedua orang itu

“Yaa Max! apa kau benar-benar seorang mafia? Kok bisa sih seorang mafia kelakuannya seperti dirimu? Ah kalian semua bener-bener tidak ada yang cocok menjadi seorang mafia, kecuali You sunbae tentunya” jelas He Na

“Bagaimana denganku?” tanya Jaejoong sambil menunjuk dirinya sendiri

“Kau juga tidak cocok, oppa?”

“Mweo?”

Max hanya tertawa mendengar ucapan He Na itu

“Akhirnya kau tertawa juga, Max” seru He Na

“Mweo? Siapa bilang? Aku masih kesal, jadi mana mungkin ketawa”  ujar Max ngeles

“Hyung, maaf kami agak terlambat tapi tugas kami sudah selesai kok, jadi kau tenang saja?!” seru Xiah yang kini sudah masuk kamar bersama U-Know

“Tugas? Tugas apaan?” tanya He Na penasaran

“Ada deh” sambung U-Know

“Aish, bahkan You sunbae juga main rahasia-rahasiaan” keluh He Na

“Oppa, tugas apaan sih?” tanya He Na, kali ini kepada Jaejoong

“Emh.. Rahasia”

“Yaa! oppa”

“Ah sudahlah! Aku lapar, ayo kita makan. He Na kau juga ikut makan, ya?” potong Max

“Aku juga?” tanya He Na seraya menunjuk dirinya sendiri

“Ne”

“Emh, bagaimana kalau aku ajak Keiko juga biar lebih seru? Ah tapi, Keiko kan sedang sibuk. Ya sudahlah tidak apa-apa. Ne, ayo kita makan sama-sama” ajak He Na

Lalu mereka semua pun duduk di kursi masing-masing dan mulai melahap semua makanan yang tersedia itu

“Apa ini benar?” tanya He Na menghentikan acara makan nya

“Wae?” sambung U-Know

“Aku ini kan seorang pelayan dan masih banyak tugas, tapi malah berlama-lama di sini”

“Sudahlah cuma hari ini saja He Na, toh di hotel ini masih banyak pelayan yang lain”

“Tapi Xiah sunbae, kalau aku di pecat bagaimana?”

“Kalau itu terjadi oppa yang akan bertanggung jawab” jawab Jaejoong

“Begitukah? Baiklah, kalau begitu”

He Na, Yuki, U-Know dan Xiah pun kembali mengalihkan pandangan mereka ke arah meja makan ketika tiba-tiba…

“Yaa, Max! Kau menghabiskan semuanya?” teriak keempat orang itu

“Ne, salah sendiri, malah keasikan ngobrol” timpal Max

“Dasar perut karet..” protes keempatnya serentak

>>>>>.<<<<<

He Na baru saja hendak menyetop Taxi karena ingin segera pulang ke rumahnya, tapi tiba-tiba saja seseorang berpakaian serba hitam membekap mulutnya lalu menyeretnya masuk ke dalam mobil. He Na mulai merasa ketakutan karena di dalam mobil itu masih ada dua orang namja berpakaian serba hitam dan tampangnya sangat menakutkan, bagi He Na

“Siapa kalian, ha? Kenapa mau menculikku?” teriak He Na mulai panik, airmata membasahi pipinya “Toolooong” teriaknya lagi sambil berusaha membuka jendela mobil

“Tenanglah He Na-sama, kami tidak akan menyakitimu” ujar seseorang yang tadi menyeretnya ke mobil dan duduk di samping He Na

“Nani? Kenapa kau tau namaku? Lalu apa maksudmu dengan tidak akan menyakitiku? Memangnya kalian itu siapa?” tanya He Na bertubi-tubi

“Boku wa Kyo desu (aku Kyo), dan mereka berdua itu rekan kerjaku, Matsuda dan Hyuga” jawab namja itu ramah

“Tapi aku tidak kenal kalian? Dan kalian mau membawaku kemana?” tanya He Na lagi

“Sapporo” jawab seorang namja yang sedang menyetir

“Sapporo? Aish, jangan membuatku bingung! Memangnya kalian itu siapa? Dan untuk apa membawaku ke Sapporo?” teriak He Na

“Maaf kami tidak bisa mengatakannya padamu sekarang. Tetapi yang jelas, kami tidak akan menyakitimu. Jadi kau tidak usah berteriak-teriak seperti tadi” jawab seorang lagi

“Hai, karena kami tidak akan segan untuk membiusmu sampai pingsan” sambung namja yang sedang menyetir itu pula,

He Na hanya bisa mendesah pasrah mendengar jawaban mereka itu ‘Apa maksud mereka sih?’ pikirnya, ia pun iseng melirik jam tangannya Jam 10, Keiko bisa cemas. Aku telepon saja’ lanjut He Na yang kemudian mengambil HP nya didalam tas, tapi HP itu malah di rebut oleh namja yang bernama Kyo itu

“Apa yang kau lakukan?” tanya He Na sewot

“Anda tidak diperbolehkan untuk menelpon siapapun, He Na-sama” jawab Kyo, yang kemudian menyimpan ponsel He Na ke kantong jasnya. He Na semakin terisak karena masih merasa takut

>>>>>.<<<<<

“Sudah sampai. Mari kita turun, He Na-sama!” ujar Kyo yang kemudian turun dari mobil, lalu membukkan pintu untuk He Na dan He Na pun turun dari mobil itu

He Na sangat terkejut sekaligus bingung ketika melihat sebuah rumah di depan mereka

‘Bukankah ini rumah kami yang dulu, apa maksudnya 3 namja aneh ini membawa ku kesin?

“Masuklah, He Na-sama!” ujar namja yang menyetir tadi

“Tapi itu bukan rumahku”

“Anda tidak dengar apa yang Matsuda katakan? He Na-sama, cepatlah masuk! kalau tidak aku yang akan menyeret anda masuk?!” tegas namja yang tak lain adalah Hyuga

Dengan langkah gontai dan perasaan takut He Na pun mulai melangkah menuju pintu rumah itu. Dan ketika dia sudah membuka pintu tiba-tiba.. He Na melihat banyak sekali bunga mawar dengan beragam warna memenuhi sisi dinding rumahnya itu. Ya walaupun lampu rumah itu padam dan hanya di terangi oleh banyak lilin, He Na masih bisa melihat dengan jelas. Dan He Na pun terus berjalan masuk memasuki ruang tengah

‘Wangi sekali rumah ini, tapi apa maksudnya ini? Mengapa rumahku yang dulu di penuhi bunga mawar dan kenapa penghuni rumahnya tidak ada?’ pikir He Na semakin kebingungan

Di ruang tengah itu He Na melihat sebuah meja bundar dengan dua kursi, di atas meja itu ada lilin dan juga pas bunga yang di penuhi oleh mawar merah.

‘Suasana yang sangat romantis, tapi apa maksudnya ini dan kenapa di sini tidak ada seorang pun? ’ He Na terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri

He Na kembali menatap jam tangannya Sudah pukul 23.58. Keiko pasti sangat mencemaskanku, ottokhae?’

He Na masih berpikir keras, ketika tiba-tiba lampu ruangan itu menyala. Tak lama kemudian muncul 4 orang namja sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun, salah satu di antara mereka berjalan sambil membawa Kue ulang tahun yang di atas nya berdiri sebuah lilin berbentuk angka ‘22’. He Na pun berlari ke arah seorang namja yang kini menatapnya sambil tersenyum.

“Oppa, Pabo! Kalian sudah membuat aku takut, tadi” kata He Na yang kemudian menangis di pelukan Jaejoong. Jaejoong pun membelai lembut rambut adiknya itu, lalu mencium keningnya lembut dengan penuh kasih sayang

‘Cup’

“Mianhae, oppa hanya ingin memberimu kejutan, tapi berhasilkan? kau terkejut” kata Jaejoong yang kemudian tertawa seenaknya diikuti tawa renyah Xiah, Max dan juga U-Know

“Jahat, oppa jahat! Aku pikir mereka bertiga itu kidnapper, tapi ternyata anak buahnya oppa! Bagaimana kalau aku mati kena serangan jantung, ha! Oppa mau bertanggung jawab? Air mata ku hampir habis, tau. Dan tubuhku gemetaran sejak tadi” bentak He Na melampiasakan segala kekesalannya

“Mianhae He Na-a, Jeongmal Mianhae” ujar Jaejoong mulai merasa bersalah dan menyesal karena telah membuat adiknya seperti ini

He Na pun mulai menangis kencang di pelukan Jaejoong “Huuaaa, oppa jahat… jahat”

“Waduh hyung, kau harus bertanggung jawab” timpal Xiah

Jaejoong mulai menatap U-Know dengan wajah bingungnya seakan bertanya ‘Yunho-a, apa yang harus aku lakukan?’ tapi U-know hanya tersenyum sambil mengangkat bahu

“Huaaa….huuaa, hikz hikz… jahat..” ujar He Na lagi, masih belum berhenti menangis.

Jaejoong pun mengalihkan pandangannya ke arah si magnae, seakan bertanya hal yang sama tapi Max malah meleletkan lidah ke arahnya

“Aish, awas kau Max” gumam Jaejoong

“Hayo hyung, kalau udah gini apa yang akan kau lakukan?” goda Xiah

Jaejoong mulai berpikir keras, dan karena dia tidak tau lagi harus berbuat apa? Jaejoong melepas pelukan He Na. Jaejoong semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah He Na, di tatapnya He Na lekat

“Huuaaa… oppa ja…”

‘Cup’

Seketika tangisan He Na pun berhenti, tergantikan oleh rasa kagetnya karena kini Jaejoong telah mencium bibirnya

“Hyung kau lihat? Mereka berciuman” bisik Max pada U-Know yang sejak tadi berdiri di sampingnya, U-Know pun tersenyum pada Max

“Bukankah ini bagus” ujar U-Know

“Mweo? Astaga hyung, apa kau begitu senang melihat mereka berciuman?” tanya Max heran

“Tentu saja, semoga mereka berdua bahagia hari ini”

“Omo! Aku tidak menyangka. Untung aku tidak sampai menjatuhkan kue tar ini saking kagetnya” sambung Xiah yang kemudian menaruh kue itu di atas meja, dan kembali terbengong menatap pemandangan di depannya

Jaejoong kemudian berhenti mencium He Na dan tersenyum lega

“Syukurlah, akhirnya kau berhenti menangis. Hari ini hari ultahmu dan juga Max, jadi seharusnya kau tidak boleh menangis seperti tadi. He Na-a, tersenyumlah dan mari kita bersenang-senang!” ujar Jaejoong bersemangat

“Mianhae, harusnya oppa tidak sampai menciummu tadi. Tapi mau bagaimana lagi? oppa tidak tau lagi harus berbuat apa, agar kau berhenti menangis” lanjutnya

He Na masih terpaku di tempat, dia benar-benar kaget saat Jaejoong tiba-tiba menciumnya. He Na menyentuh bibirnya dengan jari, wajahnya mulai memerah dan jantungnya terasa berdetak jauh lebih cepat

‘Oppa, dia menciumku? Rasanya sangat berbeda dengan waktu dia mencium paksaku dulu, entah kenapa tiba-tiba hatiku terasa hangat dan aku bahagia?batin He Na

“He Na-a, gwaenchanha? Mianhae.. jeongmal mianhae. Oppa janji deh tidak akan mengulangi hal yang sama seperti tadi” tanya Jaejoong cemas

“Gwaenchanhayo, oppa” jawab He Na sambil tersenyum, Jaejoong menghela nafas lega

“Yaa, kalian berdua?! Apa-apaan itu? Kalian seakan melupakan kehadiran kami di sini” tegur U-Know yang sontak membuat keduanya terbelalak kaget sekaligus merasa malu secara bersamaan

“Mianhae” ujar keduanya kompak sambil membungkukkan badan sedikit

“He Na-a, cepatlah kau tiup lilinnya! Sebelum lilin ini meleleh sepenuhnya dan menodai kue ini” seru Xiah

“Biar aku saja yang meniupnya, hyung” kata Max yang kemudian meniup lilin itu

“Oh iya, hari ini kan ulang tahunmu juga, ya?” goda Xiah

“Yaa!, jadi kau lupa kalau hari ini juga hari ultahku?” kata Max yang kemudian menekuk wajahnhya, Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa menyaksikan pemandangan itu

“Diam, jangan tertawa terus?! Kalian ini sangat menyebalkan” protes Max

“Ne, aku berhenti. Max, ayo kita potong kue nya sama-sama!” tawar He Na, yang kemudian di balas Max dengan anggukan

He Na dan Max pun lekas memotong kue itu dan meletakkannya di atas piring kecil

“O.K, potongan pertama untuk oppaku tersayang” ujar He Na yang kemudian menyuapi Jaejoong sambil tersenyum

“Gomawo, He Na-a”

“Aku untuk siapa ya?” tanya Max

“Untukku saja, Max” pinta Xiah

“Shireo, untuk U-Know hyung saja” balas Max yang kemudian meleletkan lidah

“Aish, hyung. Kalian lihat? Max selalu kejam padaku” adu Xiah membuat semua orang di ruangan itu tertawa

“Oppa, ngomong-ngomong kenapa kita bisa mengadakan party di rumah ini?” tanya He Na yang mulai menyadari sesuatu

“Ini hadiah ulang tahunmu He Na-a. Rumah ini sekarang sudah menjadi milikmu lagi, karena aku sudah membelinya kembali” jawab Jaejoong, He Na pun kembali memeluk Jaejoong lagi

“Jeongmal? Jadi sekarang rumah ini sudah menjadi milik kita lagi?”

“Ne, apa kau bahagia?”

“Tentu saja oppa, aku sangat bahagia hari ini. Gomapta oppa” kata He Na yang kemudian melepaskan pelukkannya lalu tersenyum pada Jaejoong dan Jaejoong pun membalas senyuman itu

‘He Na-a, aku senang kalau kau bahagia. Tapi dari kejadian tadi, aku semakin yakin kalau kau pasti akan sangat ketakutan jika suatu saat mereka mencelakaimu. Karena itulah, aku pasti akan terus melindungimu dari ancaman bahaya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka sedikitpun, He Na-a.. tidak akan pernah’ batin Jaejoong

“Jadi apa harapanmu tahun ini He Na-a?” tanya U-Know

“Aku ingin terus bersama oppa selamanya” jawab He Na mantap

‘Kau ingin terus bersamaku? Oppa juga sangat ingin He Na-a, tapi.. apakah itu mungkin?’

“Bagaimana denganmu Max, apa harapanmu?” tanya He Na

“Aku ingin hyung panjang umur” jawab Max polos, membuat Jaejoong meneteskan airmata

“Hyung yang mana, maksudmu?” tanya He Na pula

“Tentu saja mereka bertiga” jawab Max sambil tersenyum ‘terutama kau, Jaejoong hyung’

“Wah kau adik yang sangat baik” puji He Na

“Nah sekarang silakan, kau dan Hiro-hyung berduaan saja. kajjha Max, hyung kita pergi! jangan ganggu mereka!” ajak Xiah yang kemudian menarik tangan Max dan U-Know lalu pergi keluar

“Yah, mereka benar-benar meninggalkan kita berdua saja.. dasar” kata He Na yang kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jaejoong yang terlihat sedih

“Oppa, kau kenapa? Habis menangis, wae oppa? Apa ada sesuatu yang membuatmu sedih?”

“Anni, ini tangisan kebahagiaan.. jeongmal” jawab Jaejoong bohong

“Jinjja? Tapi, kenapa oppa seperti menyembunyikan sesuatu dariku?” selidik He Na

“Bicara apa kau He Na? Tidak ada hal yang oppa sembunyikan darimu ko” jawab Jaejoong sambil tersenyum

“Jeongmal?” tanya He Na sambil menatap mata Jaejoong

“Ne”

“Anni, kau bohong oppa. Aku bisa melihat kebohongan itu di matamu. Sebenarnya apa yang oppa sembunyikan? Ayo katakan!” desak He Na

“Tidak ada He Na-a”

He Na menggeleng dan melangkah mundur “Kau bohong oppa, kau bohong!!” bentak He Na

“Wae? Kau tidak percaya? Oppa tidak bohong”

“Aku tidak percaya, ayo ceritakan padaku! Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, oppa?” teriak He Na, emosinya semakin meluap

He Na tau betul kalau sejak tadi Jaejoong terus membohongi dirinya

‘Ya Tuhan, haruskah aku memberitahu He Na? Waktu di taman hiburan He Na percaya padaku karena saat itu Max yang menjawab pertanyaannya, tapi kali ini.. Max tidak membantuku memberikan jawaban dan He Na terus menatap mataku, padahal sejak dulu aku memang tidak pernah bisa membohonginya’

“Katakan sebelum aku membencimu, oppa?” ancam He Na

“Arraseo, akan ku katakan” jawab Jaejoong menyerah

He Na kembali mendekat ke arah Jaejoong “Katakanlah!”

“Aku.. aku.. aku sakit He Na?!”

“Mweo? Sakit apa, oppa?” tanya He Na kaget “Jadi yang di maksud Max…” lanjut He Na

“Ne” jawab Jaejoong lirih

“Kau sakit apa, oppa?”

“Penyakit yang di derita omma dulu?”

“Mweo? Penyakit apa itu, oppa?” tanya He Na semakin penasaran

“Leukemia, stadium akhir”

“Sta.. stadium akhir?” tanya He Na terbata-bata,

He Na tak sanggup berkata-kata lagi, dia benar-benar shock mendegar pengakuan Jaejoong, airmata nya kembali membasahi kedua pipinya. Dia langsung terduduk lemas di lantai dan membanamkan wajahnya di atas lutut.

“He Na-a, oppa tidak apa-apa kok, uljimara!” ujar Jaejoong yang kemudian duduk di samping He Na, lalu menyenderkan kepala He Na di dadanya sementara He Na masih terus menangis

“Yaa! Kim He Na-a, mengapa responmu seperti ini? Oppa tidak membutuhkan tangisanmu, justru oppa membutuhkan dorongan semangat darimu, saengi. Haruskah kau seperti ini? Apa kau tidak mau memberikan semangat untuk oppa mu ini, hm?”

He Na  kaget mendengar perkataan Jaejoong itu ‘Benar juga, harusnya aku tidak boleh putus asa seperti ini.. harusnya aku terus memberikan oppa motivasi untuk sembuh. Dan aku harus percaya, kalau penyakit oppa pasti akan segera sembuh. Tapi Leukemia itu, kan? Susah sekali untuk di sembuhkan, andwe.. oppa pasti akan kembali sehat’

He Na pun segera menghapus air matanya lalu mencoba untuk tersenyum tulus dan menatap Jaejoong, Jaejoong pun membalas senyuman tulus He Na itu, sungguh senyuman He Na sama sekali tidak terlihat di paksakan dan Jaejoong senang akan hal itu

“Mianhae, oppa. Aku tidak akan bersikap seperti tadi lagi. Oppa, HWAITING!! Pokoknya kau harus bisa mengalahkan penyakitmu itu, arraseo!” tegas He Na bersemangat

Jaejoong hanya tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut He Na

“Yaa!! kau kembali seperti dulu, oppa. Suka sekali membuat rambutku berantakan” protes He Na, Jaejoong hanya terkekeh mendengar omelan He Na itu

“Emph, coba lihat ke jendela! Sebentar lagi akan ada kejutan lain untukmu” ujar Jaejoong

He Na menurut, dia melangkah menuju jendela kemudian berdiri di dekat jendela itu sambil terus menatap keluar dan Jaejoong mengikutinya.

“Kejutan apa lagi sih, oppa? Tidak ada apa-apa juga”

“Bersabarlah. O.K, kita hitung sama-sama! Hana, dul, set…”

Tepat saat Jaejoong mengucapkan kata ‘set’ kembang api dalam jumlah banyak meluncur dengan sangat indah

“Waah..” kagum He Na

“Kau suka?”

“Ne, aku sangat menyukainya oppa. Ternyata kau masih ingat kalau aku sangat suka melihat kembang api…” seru He Na kegirangan

“Semua tentang dirimu, mana mungkin oppa lupakan”

“Gomawo oppa” ujar He Na sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Jaejoong dan mengenggam erat tangan Jaejoong dengan mata masih menatap kembang api itu

=> To Be Continued <=

Cukup sekian dulu yah soalnya kepanjangan? Sekali lagi mianhae karena ini fanfic pertamaku, jadi kebanyakan dialognya deh, maklum masih belajar, dan karena 2 chap lagi end, so Don’t Forget to Comment or Critic, please! If you want get ending password, Arigatou😀

10 thoughts on “I Will Always Love You Chap 5

  1. eunchan she peef berkata:

    akhirnya he na tau klw JJ sakt..🙂
    aku sedih pas bagian changmin bilang ‘aku ingin hyung panjang umur’..
    Huft.. #tahan nangis

    next chap~^^

  2. vv berkata:

    wah ceritanya makin keren aja …
    kasian jeje dpet penyakitnya parah amet ..
    smoga jeje bisa sembuh dan bersatu ama he na ..
    lanjut ya chingu ..^^

  3. ya ampun masa haruna suka sm jejung sih,,dasar cuma manfaatin harta ayahnya aja tuh =.=
    hemmm,, keiko ternyata suka chun tai baguslah jadi disitu he na bisa nentuin siapa yang sebenernya dy pilih dan sayang..

  4. nisa6002 berkata:

    Tdi aku sempat takut pas Hena d bawa sma orng2 itu. Tpi ternyata orng suruhan x Jaejoong.
    Klau Jaejoong sma He Na, Yoochun pasti hancur bgt. Tpi aku harap Keiko bisa buat yoochun ngerelain Hena untuk jj. Klau jj mati gmna? Waduh bener2 deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s