I Will Always Love You Chap 1


NB: Tadinya saya mau post fanfic baru, tetapi karena tu FF masih dalam proses pengetikan, saya post yang sudah ada saja dulu ya? Ini adalah fanfic pertama saya dan mungkin banyak yang udah pada tau cerita ini. Jadi saya hanya akan melanjutkan apabila para readers berkenan. Jika tidak berkenan, dengan lapang dada saya akan buang Fanfic ini ke laut ( tidak akan saya lanjutkan maksudnya ) ^^

Selamat membaca…

 

Author : Satsukisorayuki a.k.a Tria or Shin He Na

Tittle  : I Will Always Love You

Genre : AU/Romance, Angst

Cast   : Shin He Na, (DBSK) Kim Jaejoong, Park Yoochun, & Haruna Suzuki

Rating : PG/13

Lenght : Chaptered

Disclaimer : PLOT IS MY OWN?! Terinspirasi dari K-drama ‘Tree of Heaven’

Note : Fanfic ini pernah aku post di => http://fan3less.wordpress.com/ jadi kalo yang udah pernah baca harap maklum : D


 

I Will Always Love You

Part 1

 

 

=> He Na’s POV

“Oppa, dimana kau sekarang? Apa kau sehat? Apa kau membenciku? Ataukah kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu oppa. Seperti apa kehidupanmu sekarang? Apa kau sudah bahagia? Apa kau masih ingat aku?”

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin sekali aku lontarkan langsung padamu oppa, namun sampai sekarang semua pertanyaanku itu belum juga terjawab. Oppa tidak melupakanku, kan?

Sudah 4 tahun berlalu, tapi sekalipun aku tak pernah mendapat kabar darimu. Oppa benar-benar menghilang tanpa jejak. Masih ingatkah kau pada Shin He Na? Anni, sejak kita menjadi keluarga namaku adalah Kim He Na. Sekarang aku bukan Shin He Na/ Kim He Na yang dulu. Dulu He Na tidak pernah berbicara banyak padamu, karena He Na masih membutuhkan kamus Bahasa Korea untuk membantu berkomunikasi denganmu. Dulu oppa juga sama, tidak pernah banyak bicara padaku karena oppa tidak bisa Bahasa Jepang. Tapi He Na yang sekarang sudah fasih berbahasa Korea. Oppa harus tau, He Na belajar Bahasa Korea itu demi kau.. oppa.

“Sudah kuduga kau pasti disini, duduk di bawah pohon ini seperti biasanya…” terdengar ‘a husky voice’ yang menyadarkanku dari lamunan ku.

“Yoochun oppa…” kataku yang kemudian berdiri dan menatapnya

“Ternyata kau sudah terbiasa bicara dengan bahasa Korea ya, sekarang?  Padahal 4 tahun yang lalu, kau sering memanggilku Yuchun-niichan…” ujarnya sambil menerawang

“Ne..”

“Apa ini semua karena dia?”

“Eh?” apa yang Yoochun oppa katakan, aku tidak mengerti

“Kau duduk sendirian disini juga sedang menunggu dia, kan?” tanyanya dengan nada sinis yang membuatku sulit untuk berkata-kata

“Yoochun oppa, aku…”

“Tidak usah kau jelaskan, aku sudah tau apa yang akan kau katakan?!” potong Yoochun oppa dengan wajah kesal

“Gomen ne, niichan?”

“Akhirnya kau menyesuaikan bahasamu dengan tempat kau berada sekarang, Tokyo” katanya.

Yoochun oppa, dia adalah namjacinguku. Kami sudah berpacaran hampir 5 tahun lamanya, makanya dia possesive sekali padaku. Dia mempunyai banyak penggemar wanita, karena sejak SMA Yoochun oppa adalah idola di sekolah, bisa di bilang ‘Dia pangeran sekolahnya’. Banyak sekali para siswi yang menyukainya, karena selain tampan dan keren, Yoochun oppa juga seorang ‘karateka’ yang hebat.

Jujur, hatiku sering sakit dan sesak tiap kali melihat dia dikelilingi para gadis, dulu aku sering sekali merasa cemburu. Tapi sejak 2 tahun yang lalu, entah kenapa aku mulai kehilangan rasa itu? Mungkin semua ini karena aku telah jatuh cinta pada oppaku?

“Yaa! Kenapa kau jadi terdiam begitu? Apa tanpa sadar aku telah menyakiti hatimu? Gomen ne, He Na-chan…” ujar Yoochun oppa, yang kemudian mengangkat wajahku yang sejak tadi tertunduk menatap rerumputan di bawah. Sekarang Yoochun oppa tersenyum padaku, apa artinya dia sudah tidak marah lagi padaku?

“Harusnya aku yang meminta maaf. Baiklah niichan, mulai sekarang aku tak akan pernah berbicara dengan menggunakan Bahasa Korea lagi…” kataku lirih sambil menatapnya, lalu tersenyum padanya

“Tidak usah, toh aku orang Korea dan kau juga blasteran Korea-Jepang, walaupun sejak kecil kau tumbuh besar di Jepang. Jadi sekarang aku tidak akan pernah protes lagi, jika kau berbicara dengan Bahasa Korea”

“Gomawo, oppa…” kataku,

Aku senang sekali, akhirnya Yoochun oppa bisa mengerti aku. Sebuah senyum menawan terlukis lagi di bibirnya yang merah dan menampakkan lesung pipitnya, senyum milik oppa yang merupakan favoritku.

“Kau mau tetap disini, atau mau kembali ke hotel sekarang?” tanyanya

Seketika aku langsung menepuk jidatku, “Mianhae oppa, aku lupa kalau harus melayani para tamu hotel. Apa oppa akan memecatku?” tanyaku takut-takut.

Yoochun oppa adalah putra tunggal pemilik hotel tempatku bekerja, tentu saja aku kaget sekali saat dia bertanya seperti itu. Tiba-tiba tawa khas nya terdengar di telingaku

“Sudahlah jagiya, aku tidak akan memecat seorang karyawan yang rajin seperti dirimu. Apalagi kau sudah fasih Bahasa Korea, jadi kau bisa melayani para tamu Korea yang datang ke Jepang ini dengan sangat baik. Paling aku hanya akan memotong gajimu…”

Aku mencubit pinggang Yoochun oppa dengan gemas, dan dia sedikit meringis

“Yaa! Oppa, jangan begitu! Kau kan tahu sendiri kalau aku tidak punya uang sejak okasan dan ayah tiri ku meninggal dalam kecelakaan tragis itu. Apalagi bibiku dengan seenaknya menjual rumah kami beserta seluruh isinya hanya demi membiayai biaya kuliahnya Haruna di Tokyo. Mentang-mentang orang tua ku sudah meninggal, mereka selalu jahat pada kami padahal okasan dan appa begitu mempercayai mereka. Pada akhirnya aku di usir, dan sekarang aku…”

Karena tidak tahan, aku pun tidak bisa lagi menahan air mataku untuk tidak keluar. Melihatku menangis, Yoochun oppa langsung menarikku ke dalam pelukkannya dan membelai lembut kepalaku, lalu dia mencium keningku lembut.

“Mianhae, oppa tidak akan membuatmu menangis lagi. Oppa tadi cuma ingin menggodamu saja, kok. Tenang saja, oppa tidak akan memotong gajimu apalagi kau bekerja sambil kuliah”

“Jeongmal?”

“Ne, jadi tersenyumlah jagiya…” katanya berbisik lembut di telingaku, aku pun melepas pelukannya. Menyeka air mata di pipiku dan kembali tersenyum.

“Oh iya oppa, kenapa kau tau kalau aku ada disini?”

“Karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, kan? Jagiya, biasanya kau selalu kembali ke Sapporo atau datang kesini saat hari ulang tahunnya…”

“Benar juga, oppa kan sangat mengenalku…”

“Hari ini hari ultahnya yang ke 24, kan?”

“Ne, dia lebih tua 2 tahun dariku, sama seperti oppa…”

“Arraseo, kau merindukannya? Jadi khusus untuk hari ini, oppa akan memberimu libur…”

“Jeongmal?”

“Ne, apa kau mau pergi ke Sapporo?”

“Ne..”

“Kalau begitu, ayo aku antar!”

>>>>>.<<<<<

=> Sapporo, Jepang

Akhirnya aku kembali kesini, ke kampung halamanku, tempat yang selalu di penuhi oleh salju saat musim dingin. Yoochun oppa langsung pergi ke rumah neneknya saat kami tiba, Jadi aku pergi jalan-jalan sendirian.

Aku tidak bisa menahan tangisku lagi saat aku melihat rumah kami yang kini sudah dimiliki oleh orang lain. Seketika itu juga, aku kembali teringat masa lalu.

=> Flashback <=

“Jam segini baru pulan berarti kau sudah makan kan, tadi?”  ketus bibiku, yang sedang enak menikmati makanan di atas meja bersama putrinya, Haruna.

“Tentu saja okasan, dia pasti sudah makan. Dakara, semua makanan ini untuk kita berdua saja” jawab Haruna.

Padahal aku belum makan malam, jahat sekali mereka. Pagi tadi mereka hanya menyiapkan sarapan untuk mereka berdua saja tanpa membaginya denganku dan juga dengan oppa. Untung saja saat makan siang di sekolah, temanku Keiko membagikan sebagian bekalnya untukku. Lalu bagaimana dengan oppa, waktu di sekolah dia kan tidak makan sama sekali?

“Obasan, oppa sudah pulang?”

“Untuk apa aku mengurusi anak bodoh dan kurang ajar itu?”

“Bukannya setiap hari kalian selalu bersama, ya? kok bisa tidak tahu?” sambung Haruna

“Kalau kau punya banyak waktu untuk mengurusi dia, cari saja sendiri!” usir bibiku

Aku tidak habis pikir, kenapa mereka jahat sekali pada kami? Padahal Ayahku adalah kakak kandungnya bibi Haruka, segitu bencinya kah dia padaku dan pada ibuku yang telah menikah lagi dengan Ayah oppa, satu bulan yang lalu? Padahal sedikitpun aku dan okasan tidak pernah melupakan otousan. Walaupun otousan sudah meninggal saat aku masih kecil, mana mungkin aku melupakannya. Otousan adalah orang yang sudah memberiku nama He Na, nama yang sangat indah, dan aku begitu menyayanginya. Aku juga suka salju karena otousan. Saat kakiku menyentuh salju, Aku bisa merasakan nafas otousan di salju itu. Jadi aku sangat menyukai salju, sama seperti oppa.

Ketika aku hendak pergi keluar untuk mencari oppa, telepon rumah berdering. Saat bibi mengangkat telepon itu entah kenapa wajahnya terlihat terkejut?

“Ji Yeong-ssi, He Na? Ya, dia baik-baik saja”

Okasan, ternyata itu okasan. Aku rindu sekali pada Okasan dan Appa sejak mereka pergi dua minggu yang lalu untuk mengurusi bisnis mereka di Korea. ‘Okasan, aku ingin sekali bicara denganmu?!’, tapi bisakah? Memangnya bibi mau memberikan telepon itu padaku?

“Ingin bicara dengannya, tunggu sebentar Ji Yeong-ssi akan ku panggilkan” kata Haruka-obasan lagi, dia menatapku dengan tatapan tak suka, seakan aku ini sampah yang harus segera di bakar. Lalu, dia menyerahkan gagang telepon itu padaku

“He Na”

Suara Okasan masih tetap lembut. Aku ingin sekali menangis saat ini, karena mereka berdua sangat jahat padaku dan juga pada  oppa. Tapi obasan dan Haruna menatapku sinis dan penuh kebencian, hingga aku terpaksa harus menahan air mata yang hampir tumpah ini.

“Okasan, bagaimana kabarmu dan appa? Baik-baik sajakah disana?”

“Hai, kami baik-baik saja. Kau dan oppa mu, ogenki desu ka?”

“Hai, genki desu”

“Souka?”

“Ya, nande yo okasan? Kok seperti tidak yakin begitu?”

“Hari ini hari ulang tahunnya Jaejoong. Appa kalian bilang, Jaejoong tidak pernah merasa bahagia di hari ultahnya.. jadi okasan tidak yakin kalau sekarang dia baik-baik saja”

“Doushite?”

“Ketika Jaejoong berusia 14 tahun, ibunya meninggal tepat di hari ulang tahunnya itu. Setelah dia berkata ‘Saengil Chukkae hamnida Jaejoong-a, saranghaeyo’. Tampaknya Jaejoong sangat sedih dan terpukul atas kematian eommanya, dan sejak saat itu dia tidak pernah tersenyum lagi”

“Nani?” kataku kaget sekaligus sedih

“Ya, karena itu gantikan Okasan untuk memperhatikannya ya, He Na? Kalau bisa buat dia tersenyum lagi. Dia sama sepertimu sangat menyukai salju, karena bagi Jaejoong salju adalah eommanya” jelas Okasan lagi

“Baik okasan, aku pasti akan membuatnya tersenyum lagi”

Setelah sambungan telepon terputus, dengan tergesa-gesa aku lekas berlari ke luar untuk mencarinya. Tentu saja aku tak lupa membawa kamusku agar aku bisa bicara dengannya.

Aku kembali teringat saat pertama kali bertemu dengan Jaejoong oppa, waktu itu ayahnya cemas sekali karena oppa tiba-tiba menghilang. Padahal setengah jam lagi pesawat menuju ke Jepang akan segera berangkat. Aku pun menawarkan diri untuk mencarinya.

Ternyata Jaejoong oppa sedang berdiri tanpa alas kaki di tempat yang tidak jauh dari Bandara, padahal salju itu kan dingin sekali. Apa yang ada di pikirannya? Dia sedang berdiri tegak sambil menengadah ke langit, lekas ku peluk dia dari belakang. Karena aku baru saja belajar Bahasa Korea, kata pertama yang ku ucapkan saat itu adalah

“Oppa, saranghaeyo…” tentu dengan logat Jepang yang kental, mungkin bagi orang Korea seperti oppa, aku mengucapkan kata itu dengan aneh sekali dan bahkan mungkin, tidak jelas. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa ku katakan saat itu?

Kemudian dia menatapku dengan tatapan sinis dan dingin, lebih tepatnya ‘menakutkan’. Entahlah aku tidak mengerti kenapa dia begitu? Apakah mungkin dia membenci ibuku yang kini sudah menjadi pengganti ibunya? Tapi aku sama sekali tidak sedih di tatap begitu rupa, karena aku bisa melihat kesedihan mendalam dari sorot matanya itu.

>>>>>.<<<<<

 

Setelah lama berlari, akhirnya aku menemukannya. Dia sedang berdiri di atas jembatan layang, sambil menatap sungai di bawah sana. Aku melakukan hal yang sama seperti waktu itu, memeluknya dari belakang, tapi kali ini aku menangis sambil berkata

“Mianhae, mianhae oppa, Jeongmal mianhae?!”

Tapi lagi-lagi dia tidak bicara padaku dan malah menatapku dengan tatapan dinginnya lagi, kemudian aku tersenyum dan menariknya pergi sampai akhirnya kami tiba di sebuah kedai ramen. Dengan uang saku terakhirku, aku membeli semangkuk ramen. Ku tatap lagi kamusku, butuh waktu lama untuk mencari kata-kata yang ingin ku ucapkan pada oppa. Setelah selesai, aku menyodorkan ramen itu padanya. Dia menatapku bingung.

“Makanlah oppa, kau belum makan dari pagi, kan? Aku tidak mau oppa sakit, ayo!”

Yes, kalimat terpanjang pertama yang berhasil ku ucapkan. Walaupun kosakatanya mungkin masih berantakan, entah oppa mengerti atau tidak? Tapi kemudian, Oppa menatapku sekilas, lalu mulai melahap ramen itu. Sebenarnya aku juga lapar, tapi sudahlah itu untuk oppa saja.

Setelah porsi ramen itu tinggal setengah oppa menghentikan makannya, lalu dia menatapku dan memberiku isyarat mata seakan dia berkata, ‘Kau juga makan lah, aku tau kalau kau juga lapar’

Aku menggeleng.. tapi dia menatapku dengan tatapan memaksa, akhirnya aku pun memakannya, setelah ramen itu habis aku membaca kamus ku lagi.

“Oppa, Saengil chukkae hamnida. Saranghaeyo…” kataku terbata-bata, karena Bahasa Korea susah sekali di ucapkan.

Tiba-tiba oppa menunduk, matanya berkaca-kaca dan perlahan air mata itu mengalir di pipinya yang putih. Wajah nya yang tampan kini terlihat layu.

Pertama kalinya aku mendengar dan melihat oppa menangis di depanku. Oh Tuhan! Apakah aku telah mengingatkannya pada ibunya? Aku ikut menangis melihat oppa yang tampak begitu sedih malam ini. Entah kenapa hatiku ikut sakit melihatnya menangis seperti itu? Seakan aku bisa merasakan kesedihannya.

“Oppa, kau suka salju? He Na, juga suka salju” kataku lagi, tapi dia tetap menangis dan tak menjawabku. Aku ingin sekali menghiburnya, tapi bagaimana caranya?

Lalu kami pun pulang. Saat tiba di depan rumah, pikiran jahil terlintas di kepalaku. Oppa sedang berdiri tepat di sampingku saat itu?! Dengan cepat ku tarik ranting pohon di atas kepalaku sambil berjinjit, sehingga butiran salju yang tertampung di daun pohon cemara itu tumpah menimpa kami.

Dan aku pun tertawa lepas, karena berhasil menjahilinya. Lagi-lagi tatapan dingin dan menakutkan itu dia tujukan padaku.

“Mian…” perkataanku tercekat, karena aku takut.

Tak kusangka, ternyata Jaejoong oppa menarik ranting pohon cemara yang letaknya jauh lebih tinggi, sesuai tinggi tubuhnya. Di atas kumpulan daun itu, tertampung butiran salju yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang tadi. Seketika kumpulan-kumpulan salju itu jatuh menimpa kami.

Aku menatapnya, kulihat oppa tersenyum. Pertama kalinya aku melihat senyumnya, Jaejoong oppa ternyata memiliki senyuman yang sangat manis. Dan dia terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum, lalu dia tertawa saat melihat tampang bodohku.

“Oppa, kau tertawa! Senangnya He Na bisa melihatmu tertawa” seru ku kegirangan ‘Okasan, aku berhasil membuat oppa tertawa untuk pertama kalinya. Aku bahagia sekali hari ini…’

Setelah berhenti tertawa oppa mengacak-ngacak rambutku sambil tersenyum, saat itu wajahnya dekat sekali denganku. Kenapa wajahku rasanya memanas ya? apa sekarang wajahku merona?

“Gomawoyo…” kata pertama yang oppa ucapkan, ternyata suara oppa ku ini bagus sekali. Lembut gimana, gitu? Spontan aku pun bengong, ini pertama kalinya oppa bicara padaku.

=> End Flashback <=

>>>>>.<<<<<

Oppa, saengil Chukkhae! Apakah kau bahagia, hari ini? He Na, ingin merayakan hari ultah bersama denganmu lagi. He Na sangat merindukanmu, bogoshipo! Aku merindukan suara oppa, wajah oppa, senyum oppa, tawa oppa, semuanya. He Na rindu sekali, aku ingin di lukis lagi olehmu, pergi ke sekolah lama bersama, dan bermain salju bersama denganmu lagi.

Aku semakin sedih mengingat kenangan kami, air mata berebut keluar dari sudut mataku, rasanya sesak. “Oppa, kau dimana?”

=> Author POV

Tanpa He Na sadari, ada seorang pemuda tampan dan tegap berpakaian serba hitam sedang memperhatikannya dari jauh dan dia berdiri tepat sekitar 4 meter di belakangnya.

=> To Be Continued <=

 

Oh iya saya belum kenalan, tapi kalau kalian sering berkunjung ke fan3less, kalian pasti dah kenal saya, kan? *nggak tuh* L. Annyeong semuanya (Admin, Author sunbae, readers, siders) saya author baru disini. Mohon bantuan dan dukungannya, ya? Kalian juga pasti udah tau peraturan di blog ini kan, yaitu semua FF dari chap 2 sampai ending akan di protect, jadi kalau kalian ingin mendapatkan passwordnya ‘mohon tinggalin komentar kalian’?!

Maaf kalau tanda bacanya berantakan and banyak typo, ya? maklum IWALU adalah FF pertamaku setelah aku menjadi author newbie di Fan3less. Mau lanjut? Don’t Forget to Comment or Critic, please?! Arigatou😀

 

 

 

19 thoughts on “I Will Always Love You Chap 1

  1. 1st kh??😄
    Jejung kh i2 namja berpkaian srba hitam?
    Sbnr’a jejung prgi kmn? ?
    Berarti ortu mrk meninggal ya!? Why ??
    Apa yuchun udh tau he na jth cnta sm oppa’a ? ?
    Kyaaa,, bnyk bngt pertnyaan’a,,pnsran!! Lnjt chingu ><
    Btw ,,qlo mu mnta pw'a kmn??

  2. hena nya kn suka sma jaejoong , , jaejoong nya suka ga sama he na ?
    Jaejoong kah yg pke htam htam ?
    D tnggu ya next chap nya🙂

    klo minta pwd nya gmana ya cra nya ?

  3. euchan she peef berkata:

    berpakaian serba hitam??
    Jadi penasaran.. –”
    jaejoong pergi karna apa tuh?
    Kasian si he na, sendirian..
    Untung masih ada yuchun..🙂

    Lanjutkan ff nya~^^

  4. @DB5KFOREVER & Karina : Semua pertanyaan cingu akan terjwb d next chap #evilsmirk
    Klo mo minta PW blh via FB => Astria ‘Cassiopeia’ or Twitter => @45TI214
    Sankyuu dah bca n comment ^^

    @euchan she peef: perasaan km udh prnh baca deh, saeng. Ne, aku msh inget ID km d fan3less kok ^^
    v makasih lho coz dah baca & komen lg🙂

  5. vv berkata:

    wah penasaran nih chingu kelanjutannya ..
    siapa ya namja berpakaian hitam ??
    smoga heena cepet ketemu jaejoong ..
    lanjut iia …^^

  6. reeenny berkata:

    aku suka ceritanya tapi rada bggung si coz antara flashback sm ga nya bkin bggung , next chap smoga lebih bae (´▽`ʃƪ)

  7. @Vv : siapa ya? #pura2nggakTau
    Ne, lanjutan nya saya post tiap hari Jum’at ya ^^
    @reeenny: jinjja? Ah Mian klo gtu, maklum ini karya pertamaku hehe

    @all: gomawo udh nyempetin bca n komen ^^

    • Gomawo. Ne, cinta segitiga emng slalu Ada dimana-mna ^^
      V Jujur aja nih, ini udh aku edit lg klo yg di fan3less tanda bacanya masih berantakn.. jd aku jamin ga enak dibaca kekeke…

  8. deewookyu berkata:

    masih bingung…..
    JJ nya knp……..
    trus hub dgn JJ like bro n sis or ……….?
    who’s that guy in the black clothes …………JJ kah ??????????

  9. di awal ceritanya agak membingungkan tp terakhirnya membaik . maaf tp ada inspirasi dr drama korea gak sih?krn tulisan terakir ingetin aku sama dramanya lee wan sama park sin hye. Tp aku pingin baca next capter

    • iya aku juga ngerasa, maklum ini FF prtamaku wktu prtama x jd author newbie. Ho’oh ‘Tree of Heaven’, kan di atas jg udh aku kasih disclaimernya cingu, klo pngn bca lanjutannya.. silahkan minta pw ke saya, sankyuu ^^

  10. hana muditha berkata:

    Wowwwwww menyentuh bgt si hena nya aja ga suka sama chun oppa mending chun sama aku ajjaaaaa p^.^q /? *plak

  11. nisa6002 berkata:

    Okasan itu artinya apa?
    Ceritanya bagus thor. Lucu kali ya pas ngomong hrs lihat kamus dulu.
    Aku penasaran sma pemuda tampan yg memerhatikan He Na itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s