Breathless chap 1


Author:  Jung Raemi a.k.a Lee Raemi

Editor:  Jaehyunmi a.k.a Lee Hyunmi

Genre:  Romance, Angst

Rating:  PG

Length:  1/2 chapter

Cast :  Park Yoochun, Lee Raemi, Lee Yongmi, etc.

 

Disclaimer:   Fanfiction ini bukan milik saya (Jaehyunmi), fanfiction ini milik sahabat saya (Lee Raemi), dan atas izin dari sang author, di post lah ff ini. Saya disini hanya bertugas meng-edit fanfiction ini agar lebih ‘wow’. Karena sebelumnya, masih ada kesalahan EYD dan macam macamnya, karna itulah saya dibutuhkan disini/plak *digampar author and readers*

Dan ya, saya minta maaf untuk authornya. Sita-chan (Raemi), gomen ne ><~!!! Karena waktu itu saya bilang hanya men-edit, tapi jadinya seperti ini. Jika fanfic ini dibandingkan dengan saat sebelum di edit, perbedaannya jauh banget dalam segi bahasa, bahkan authornya sendiri pun berkata seperti itu setelah membaca fanfic nya yang telah saya edit.

Mungkin karena saya terlalu terlarut dengan fanfic keren ini dan sedikit lupa diri bahwa fanfic ini bukan fanfic saya-_- saya memang men-edit dan mengembangkan perasaan sang tokoh utama ff ini, tapi walau begitu, alurnya tak sedikitpun saya ubah, I swear! -_-V

Oke oke, mungkin segitu aja penjelasan dari sang author dan saya. Lastly, Enjoy!

-breathless-

 

Aku sedang berjalan–tepatnya membuntuti–seorang namja tampan yang sejak 1 tahun lalu telah terikat denganku dengan janji sakral pernikahan, Park Yoochun. Ia tampak sedang menggandeng seorang yeoja yang sangat ku kenal dengan mesra. Mereka terlihat tengah berkencan.

Oke sebelum kulanjutkan, sebaiknya ku perkenalkan diri dulu. Namaku Lee Raemi, atau sekarang bernama Park Raemi sejak aku menikah dengan seorang namja bernama Park Yoochun, orang yang sama dengan namja yang menggandeng seorang yeoja yang merupakan saudara kembarku saat ini, Lee Yongmi, atau Kim Yongmi, setelah ia menikah dengan seorang  namja bernama Kim Jaejoong.

Dan sekarang, disinilah aku. Membuntuti Park Yoochun, suami ku sendiri, yang tengah berkencan dengan Lee Yongmi, saudara kembar ku. Miris. Hidup ku benar benar miris.

Yoochun terlihat sangat senang berjalan bersama Yongmi, sangat berbeda saat berjalan berdua selama ini, ah tidak, maksudku sejak setahun belakangan ini. Sedangkan Yongmi terlihat bersikap manja pada Yoochun, terbukti dari tangannya yang kini tengah memeluk lengan kekar Yoochun dengan manja.

Sakit.

Hati ku terasa sakit melihat semua ini. Dan seperti kebiasaan ku setahun belakangan ini, setiap aku melihat secara sengaja atau pun secara tidak sengaja kemesraan antara suami ku dengan saudara kembar ku, otak ku seperti telah di setting untuk men-flashback memori memori tentang masa lalu ku.

Memori tentang dua orang namja yang benar benar berarti bagi di hidup ku.

Kim Jaejoong.. Park Yoochun.

Biar ku perjelas semuanya. Aku, Lee Raemi, seorang yeoja biasa yang memiliki seseorang yang sangat special di kehidupan ku beberapa tahun yang lalu, seorang namja bernama Kim Jaejoong, yang kini merupakan suami dari adik kembarku sendiri.

Namun karena Yongmi, hubungan ku dengan Jaejoong kandas setelah aku berpacaran dengannya selama 4 tahun lamanya. Itu semua karena Yongmi, hanya karena Jaejoong lebih memilih Yongmi yang memang terlihat lebih menawan, cantik dan juga sexy.

Dan saat ini, entah dosa apa yang telah aku perbuat kepada Tuhan dan Yongmi, kejadian itu terulang lagi. Kini suami ku lah yang menghianati ku, diam diam menjalin hubungan khusus dengan saudara kembar ku.

Aku tidak dapat berbuat apa apa, karena aku tahu, aku akan kehilangan semuanya bila aku melakukan hal itu, aku tahu aku kehilangan Yoochun suami ku, kehilangan Yongmi, dan kehilangan rumah tangga ku yang susah susah ku bangun selama ini.

Lebih baik untuk ku agar terus berpura pura tidak tahu dan tetap membiarkan semuanya seperti ini. Aku tak ingin kembali menanggung perasaan sakit saat seseorang yang ku sayangi pergi dari hidupku.

Setidaknya aku masih memiliki hak untuk tetap berada didekat Yoochun, melihatnya, merawatnya, menjaganya dan terus berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Dan aku tak ingin melepaskan semua ini, walau hanya sedetik pun.

“Raemi-a.. Raemi-a!”

“Eh?” aku tersentak kaget saat sebuah suara yang memanggil namaku terdengar tepat di dekat telinga ku. Ku tatap seorang yeoja manis yang yang berada disampingku, wajah manisnya menunjukkan bahwa ia sedang kesal pada seseorang, tepatnya pada ku.

“Kau melamun lagi.” ucapnya ketus. Aku terdiam sejenak lalu menyunggingkan senyum tipis untuk menanggapi ucapannya. Kenapa? Karena yang ia katakan memang benar, sepertinya aku jadi sering melamun belakangan ini.

Kulihat Riheon memutar bola matanya kesal, aku terkekeh kecil melihat raut wajahnya. “Ah ya, kemana Hyemi? Kenapa dia tidak ada?” tanya ku bingung setelah menyadari bahwa salah satu sahabat ku yang bernama Hyemi tidak terlihat dimana mana.

Ya, aku memang menguntit Yoochun, tapi aku tidak sendirian. Aku pergi bersama kedua sahabatku, Jung Riheon dan Shim Hyemi. Hah, rasanya miris sekali hidup ku, pergi bersama dengan kedua sahabatku untuk menguntit seorang namja yang sudah jelas adalah suami ku yang tengah berkencan dengan saudara kembar ku.

“Dia pergi!” ucapnya diiringi oleh helaan nafas panjang nya.

Ku kerjapkan ke dua mata ku dan menatapnya bingung. “M-mweo? Pergi? Tapi kan-”

“Gara gara kau melamun, Hyemi pergi sendiri menguntit Yoochun dan Yongmi! Raemi-a, kau tahu? Dari awal kita mulai sampai sekarang, sudah lebih dari sepuluh kali kau melamun, Park Raemi.” aku terdiam dan menatap horror kearah Riheon. Benarkah sudah lebih dari 10 kali aku melamun sejak satu jam terakhir???

“Karena itu,” lanjut Riheon, “lebih baik Hyemi sendiri yang menguntit mereka dan aku mengawasi mu yang sedang melamun. Karena kau hanya mengganggu jalannya penyelidikan.”

Aku mengerucutkan bibirku dan menatap Riheon tajam. Tega tega nya dia mengatai ku mengganggu jalannya penyelidikan! Padahal kan aku…..

“Kyaaa!!!” aku berteriak saat tiba tiba kurasakan Riheon menarik tangan kanan ku dengan kasar. Aku melotot dan menatap Riheon yang masih menarik ku, membawa ku suatu tempat.

“Y-ya! Lepaskan aku!” teriak ku entah keberapa kalinya. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan orang orang yang sedari tadi menatap kearah kami, karena aku memang tak pernah mempedulikan pendapat orang lain terhadap diri ku.

“Omo, appayo!” rintih ku sesaat setelah Riheon melepaskan kedua tanganku. Sedangkan Riheon terlihat santai santai saja, dan hal itu berhasil membuat ku melemparkan death glare padanya.

“Ya Jung Riheon! Apa yang-“

‘deg’

Ucapan ku seketika terhenti saat mata ku menangkap sebuah cafe yang tak asing lagi baik ku di seberang tempat ku-dan Riheon-berada.

Aku terdiam dan menatap kosong kearah cafe itu. Jantung ku bergemuruh, entah apa maksud Riheon berhenti di depan café itu, aku tak mau memikirkannya. Aku takut, takut akan segala kemungkinan yang terjadi.

Karena cafe itu, cafe yang banyak menyimpan kenangan ku dan Yoochun. Cafe yang merupakan tempat dimana aku dan Yoochun sering menghabiskan waktu bersama saat berpacaran dulu, dan tak jarang Yoochun masih mengajak ku mengunjungi cafe itu, tapi hal itu tak pernah terjadi lagi, setidaknya setahun belakangan ini.

“Raemi…” Suara Riheon kembali membuyarkan lamunanku.

“Riheon-a,” ucapku cepat, masih menatap kosong kearah café itu. “Mereka…. benar benar… ada di sana?” tanyaku pelan. Kudapati suara ku bergetar dan terdengar begitu lirih.

“Raemi-”

“Just answer my question, Lee Riheon.” potong ku dengan nada datar. “Apa mereka… ada didalam sana?” tanyaku dingin, tanpa ekspresi.

Kulihat Riheon menatap ku kaget, tentu saja, karena baru kali ini aku berbicara dengannya dengan nada sedingin itu. “Well,” ucapnya, “Mereka memang ada disana. Keundae, kalau kau tidak mau kita bisa pergi. Aku akan mengabari Hyemi kalau-“

“Babo!”

“Eh?”

Ku tatap Riheon sejenak, ia benar benar terlihat shock. Aku pun menyeringai padanya, “Kau bodoh, Riheon-a! Neomu neomu baboya!” kekeh ku. “Tentu saja aku akan masuk.” Ucapku, wajah dingin yang sejak tadi ku perlihatkan berubah menjadi wajah ceria ku yang biasa.

“Eh? Keundae-“

“Oh c’mon! Sudah berapa lama kau mengenalku, hm? Aku tidak selemah itu Riheon-a, dan aku yakin kau tahu akan hal itu.” ucap ku. Sebuah senyum manis pun terpasang diwajah ku. “Tidak apa apa, tenanglah. Aku baik baik saja, ayo kita masuk. Hyemi pasti sudah menunggu.” lanjut ku.

“Arraseo.” Jawabnya, terlihat pasrah.

Aku kembali terkekeh. Segera saja ku tarik lengan Riheon dan membawanya memasuki cafe. Walau sebuah senyum manis terus terpasang di wajah ku, aku tak dapat memungkiri bahwa jantung ku berdebar keras saat ini.

Sejujurnya, ini pertama kalinya aku mengajak Riheon dan Hyemi menemani ku menguntit Yoochun dan Yongmi, karena sebenarnya, mereka berdua pun baru mengetahui tentang hubungan Yoochun dan Yongmi beberapa hari yang lalu.

Kuedarkan pandangan ku kearah sekeliling cafe saat aku dan Riheon telah memasuki cafe itu. Di sudut cafe, disalah satu meja di cafe itu, kulihat seorang yeoja yang sangat ku kenal tengah melambaikan tangannya pada ku dan Riheon. Kami pun langsung menuju kearah meja yang terdapat disudut café itu, tempat Hyemi berada.

“Maaf baru datang.” ucapku, aku dan Riheon pun duduk, aku disebelah Hyemi sedangkan Riheon duduk di depan Hyemi.

Hyemi menggeleng dan tersenyum manis pada ku dan Riheon, “Gwenchana. Ah ya, Yoochun dan Yongmi ada disana.” Hyemi menunjuk kearah meja tempat Yoochun dan Yongmi berada. Meja kami saat ini memang sedikit jauh dari meja Yoochun dan Yongmi, namun setiap gerak gerik Yoochun dan Yongmi dapat terlihat jelas dari sini.

Kedua mata ku menangkap sosok seorang namja dan seorang yeoja yang terlihat mesra, Yoochun dan Yongmi. Aku tersenyum miris, dan kembali menatap Hyemi. “Gomawo.” ucapku tulus, Hyemi menatap ku sejenak lalu tersenyum tipis.

“Sama sama, Raemi-a.” ucapnya.

Aku, Hyemi dan Riheon pun kembali mengawasi Yoochun dan Yongmi yang tengah bercanda dan tertawa bersama, sesekali kulihat Yoochun mengelus tangan, pipi atau pun rambut Yongmi penuh sayang, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap aku dan dirinya berada di cafe ini, dulu.

Jantung ku kini mulai berdetak di luar kendali ku, kulihat Yoochun dan Yongmi tiba tiba saling menatap dalam diam. Dan perasaan ku pun mulai tak tenang saat kulihat Yoochun tersenyum lembut pada Yongmi, Yoochun terlihat mulai mendekatkan kepalanya kearah Yongmi dan mulai menutup matanya, begitu pula dengan Yongmi.

Nafas ku tercekat, mata ku menatap tak percaya kearah dua sejoli itu. Kini, aku dapat melihatnya dengan sangat jelas, dengan kedua mata ku sendiri, Park Yoochun dan Lee Yongmi… Suami dan saudara kembar ku tengah berciuman dengan mesra, di cafe ini, saat ini, detik ini.

Ku kepalkan kedua tanganku, dan tanpa berpikir lebih jauh lagi, aku pun berdiri dari tempat duduk ku. Kedua kaki ku membawa ku menuju kursi dimana Yoochun dan Yongmi berada. Kudengar Riheon dan Hyemi memanggil manggil nama ku, mencoba menahan diriku.

Cih, persetan dengan Riheon, Hyemi, Yoochun, Yongmi, atau bahkan semua orang di cafe ini, aku tidak peduli lagi. Ini semua sudah kelewatan, aku harus menghentikan mereka.

Tinggal 25 langkah lagi sampai aku tiba dan segera menghancurkan ‘momen indah’ bagi sepasang kekasih yang terlihat menjijikan dimata ku itu….20 langkah lagi… 15 langkah lagi hingga aku sampai… dan….

BRUK!!

PRAAANG!!!

‘deg’

Aku tercengang, mulut ku setengah terbuka, sedangkan mata ku membulat seketika, menatap shock keadaan ku saat ini. Aku sukses terjatuh setelah menabrak seorang pelayan yang tengah membawa pesanan untuk seseorang-yang pasti nya tak ku kenal-beberapa saat yang lalu.

Dan sudah dapat ditebak, semua mata kini tertuju pada ku yang tengah terjatuh di lantai dengan piring pirih pecah dan kotor disekelilingku. Dapat kurasakan pipi ku memanas, aku pun mengutuk dalam hati atas kecerobohanku hingga aku bisa jatuh beberapa saat yang lalu.

“Aish, mianhae ngg…. tuan. Apa tuan baik-baik saja?” aku mendongak ketika kedua telinga ku menangkap sebuah suara asing yang tak ku kenal. Dan benar saja, kudapati pelayan tadi tengah menatapku khawatir.

Aku membuka mulutku, hendak mengatakan sesuatu, namun sesuatu dalam pikiranku telah lebih dahulu menarik perhatianku, membuatku terdiam, shock.

‘M-mweo? Pelayan itu memanggil ku dengan sebutan apa? Tuan? T-U-A-N? TUAN?!’

“… tuan, maafkan-“

“M-mweo?” potong ku pelan. Bukan karena aku tak mendengar apa yang ia ucapkan, aku mendengarnya, sungguh. Ucapan pelayan itu bahkan terdengar jelas ditelingaku.

“Maafkan saya tuan, saya tidak melihat anda sedang berjalan, saya…..” dan pelayan itu pun mulai meminta maaf pada ku dengan sederet kata-yang menurutku tak penting-dan dengan wajah yang sungguh memelas.

“… tuan maafkan saya ya,” entah sudah keberapa kalinya kata ‘maaf’ keluar dari mulutnya, dan entah sudah keberapa kalinya juga kata ‘Tuan’ keluar dari mulutnya, 5 kali? 20 kali? 30 kali? Entahlah, yang pasti… hal itu benar benar membuat ku shock!

Aku menghela nafas ku dalam dalam, mencoba menahan perasaan malu dan kesal yang aku rasakan. Aku pun berdiri dan menatap pelayan itu sejenak, menarik kedua sudut bibir ku, membentuk sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan. “Arraseo.” Jawabku setenang mungkin, mencoba mengabaikan tatapan semua orang di cafe ini.

Tentu saja, untuk apa aku marah? Toh pelayan itu tidak salah memanggil ku tuan. Yeah, aku memang bukan seorang laki laki, aku ini seorang yeoja tulen. Tapi sekarang aku sedang menyamar menjadi seorang laki laki, tentu saja agar Yoochun dan Yongmi atau siapa pun-kecuali Hyemi dan Riheon-tidak mengenali ku.

Tunggu dulu, Yoochun dan Yongmi? Apa mungkin mereka….

Kuedarkan pandangan ku ke tempat dimana Yoochun dan Yongmi berada dan segera saja mataku menangkap sebuah pemandangan yang membuat hati ku kembali terasa sakit.

Yoochun dan Yongmi. Mereka masih disana, masih dalam posisi yang sama, seakan kejadian gaduh barusan tak pernah terjadi dan tak mungkin mengganggu mereka, seakan dunia ini milik mereka berdua dan tak ada yang bisa mengganggunya.

Pandangan ku kembali pada pelayan yang masih menatap ku dengan wajahnya yang memelas, aku pun melemparkan senyum tipis padanya, aku tahu apa yang ada di pikiran pelayan itu saat ini. “Aish, jinjja. Gwaenchana, aku tak akan menuntut mu cuma karena hal. Hah, sebaiknya aku pergi dari sini. Toh aku sudah selesai makan…”

Aku melirik ke arah Yoochun yang ternyata masih asik berciuman dengan Yongmi, yang tampaknya menikmati juga. Hatiku kembali terasa sakit sekali, aku pun langsung pergi meninggalkan cafe itu. Meninggalkan semua orang-kecuali Yoochun dan Yongmi- yang tengah melihat bingung kearah ku, termaksud Hyemi dan Riheon.

-breathless-

Sesampainya di apartemen ku dan Yoochun, aku segera mandi karena saat aku terjatuh tadi, terdapat sisa makanan dari piring yang jatuh di restaurant itu yang mengenai wajah ku dan mengering di wajahku ini. *Haha, bahasanya ribet. tapi ngerti kan?*

Setelah aku menggunakan baju bersih, aku langsung membersihkan apartemen ini. Meskipun aku tahu Yoochun telah mengkhianati ku, tapi kewajiban ku sebagai istri sah nya masih harus kujalani bukan? Setidaknya author dan editor fanfic ini masih menginginkan ku melakukannya.

Aku pun selesai membereskan dan membersihkan apartemen ini. Kulirik jam yang ada di dalam kamar ku, jam 9 malam. Sudah jam segini ternyata, itu artinya aku harus menelfon Yoochun dan bertanya tentang keberadaan dirinya. Ku raih telepon apartemen itu dan dengan cepat menekan beberapa angka yang aku hapal di luar kepala ku.

Beberapa saat kemudian, sambungan telpon diangkat. Entah mengapa, aku merasa senang dia menjawab telpon ku, karena biasanya dia hampir tak pernah menjawab telpon ku setelah ia menjalani hubungan rahasia dengan Yongmi.

“Y-yeoboseyo..”

Aku tersenyum manis saat mendengar suara indahnya yang selalu aku kagumi itu. Aku pun menyadari satu hal, seberapa pun aku kecewa dan sakit karena nya, senyum dan suara namja itu selalu membuat ku memaafkannya saat itu juga. Karena aku benar benar mencintainya.

“Ah.. Yoochun-ah..” ucapku riang, “Aku hanya ingin bertanya kau sedang dimana? Perlu kusiapkan air untuk mandi dan kumasak kan makan malam?”

Hal yang bodoh untuk ditanyakan. Jawaban nya sudah sangat jelas bagiku. Hanya saja aku ingin memastikan dan memberi kesempatan baginya untuk memperbaiki perasaan ku saat ini.

Tapi sepertinya aku harus kembali menelan kekecewaanku dalam dalam saat suara suara di sebrang sana terdengar begitu mencurigakan. Pikiran ku telah melayang entah kemana, memikirkan berbagai kemungkinan, dari kemungkinan terbaik sampai kemungkinan terburuk.

“Ah maaf Raemi-ah… nggh… a-aku sepertinya.. uhh… takkan pulang malam ini. Ada kerja.. ahh… lembur.” Biar ku tebak, ia sedang melakukan’nya’ dengan seseorang, atau mungkin bisa ku bilang dengan dengan Yongmi?

Aku menggeleng pelan saat itu juga, mencoba menghilangkan semua pikiran buruk ku dan mencoba mempercayai Yoochun, suami ku. Mungkin saja ia memang tidak sedang melakukan hal ‘itu’. “Yeobo, gwaenchana? Ada apa dengan suara mu?” tanya ku akhirnya.

“Aku.. ahh… jatuh dari tangga dan terluka… isshh… ini sedang di obati..”

Aku terdiam sejenak lalu berkata, “Di obati siapa? Apa aku perlu kesana?” tanyaku. Aku bisa mendengar nada khawatir ku sedikit goyah. Tapi sepertinya dia tidak menyadari nya.

“Yoochun-ah, itu siapa? Kenapa kau bertelfon disaat seperti ini?…” terdengar suara dari seberang telpon.

Aku memejamkan mataku, mencoba menahan kekecewaan, kesedihan dan rasa sakit yang tiba tiba menyerang hati ku. Aku yakin itu suara Yongmi, aku hafal betul suara nya. “Yoochun-a, siapa itu? Apa kau benar baik baik saja?” tanya ku.

“Ah… Raemi-ah tidak perlu, kau di rumah saja. Aku sudah di obati oleh… uhh…. Ta-tapi terimakasih. Sek-arang maaf a-aku harus… ahhh… bekerja. A-annyeong!” dan Yoochun pun langsung memutus jaringan.

Aku mencoba menghubungi Jaejoong, suami Yongmi, memastikan bahwa bukan Yongmi lah yang bersama Yoochun tadi. Baru dering kedua, sudah dijawab oleh nya.

“Yeoboseyo…”

“Yoeboseyo Jaejoongie?” ucap ku cepat. Ah, ironis nya diriku. Aku memanggil suamiku sendiri ‘Yoochun-ah’ sedangkan Jaejoong yang jelas jelas mantan kekasih ku, masih kupanggil dengan ‘Jaejoongie’. Sepertinya ada kebiasaan yang tidak bisa hilang juga ya…

“Ah, Mimi-yah..” aku terdiam mendengar ucapannya. Astaga… bahkan dia masih memanggil ku dengan sebutan itu. Sebutan khusus untuk ku, atau lebih tepatnya panggilan sayangnya untuk ku. Dan hanya ia lah yang pernah dan aku perbolehkan untuk memanggil ku dengan sebutan itu, bahkan Yoochun pun tidak aku perbolehkan memanggil ku dengan sebuatan itu.

“Ne Jaejoongie, ini aku. Aku menelpon hanya ingin menanyakan sesuatu, apa Yongmi sudah pulang?” tanya ku dengan suara dibuat setenang mungkin.

“Yongmi? Oh ini Raemi ya? Kukira ini Yongmi makanya kupanggil Mimi-yah. Hahaha, mianhae Raemi-ah.” jawabnya yang berhasil membuat ku mata ku melebar seketika, jawabannya benar benar membuat ku shock!

Oh shit! Memalukan! Ternyata dia memang sudah tidak menyayangi ku lagi. Kau benar benar babo Raemi! Bisa bisa nya kau berpikir Jaejoong masih menyayangi mu. Seharusnya kau sudah dapat….

“Raemi-ah? Raemi-ah!” suara Jaejoong di seberang sana kembali terdengar, aku pun kembali memasang indra pendengaran ku, “Tadi kau menanyakan Mimi-ya, ah maksudku Yongmi? Dia belum pulang, ah maksud ku dia tidak pulang malam ini, dia bilang pada ku ada pekerjaan yang harus dikerjakannya jadi dia menginap di kantor.”

“Memangnya ada apa? Tumben kau mencari Yongmi?” lanjut Jaejoong.

“Ah gwaenchana, Jaeoongie. Hanya ingin menanyakan saja. Baiklah, aku tutup telpon nya ya. Maaf menganggu, annyeong!” aku segera memutus jaringan nya.

Aku memejamkan mata dan menyenderkan punggung ku pada dinding di belakang ku. Jadi benar dugaan ku, Yongmi sedang bersama dengan Yoochun dan mereka tengah melakukan hal yang lebih baik tidak disebutkan.

Dan jika dilihat dari nada bicara Jaejoong, dia tidak tau sama sekali dengan kejadian ini. Oh my God!

-breathless-

1 bulan sejak kejadian itu telah lewat. Aku masih sanggup menjalani kehidupan ini. Selama satu tahun ini, aku tau bahwa Yoochun mengkhianati janji sakral nya. Janji seumur hidup nya. Dan selama itu pula aku masih sanggup menghadapi nya dan berusaha menjadi istri yang baik baginya. Hari ini adalah hari anniversary pernikahan ku dengan nya. Dan dia sudah berjanji akan ambil cuti hari ini untuk merayakannya denganku.

Tetapi sepertinya ucapannya hanya sebatas ucapan biasa, karena pagi ini aku terbangun sendiri di tempat tidur ku dan mendapati sebuah note kecil di yang tergeletak tak berdaya di atas meja disebelah tempat tidur ku, sebuah note kecil dari Yoochun yang mengatakan bahwa ia keluar sebentar dan akan kembali siang nanti.

Tapi nyatanya? Dia belum juga kembali. Entah kemana Yoochun sekarang, aku tak tahu. Aku pun menghela nafas berat dan menujulurkan tanganku, mengambil gelas yang berisi air minuman yang terletak diatas meja.

Aku pun meneguk isi gelas itu.

Satu teguk…

Dua teguk…

Tiga teguk….

Empat teguk…

Dan….

“Raemi-a?” aku segera menghentikan kegiatan ku meneguk isi gelas itu dan menoleh kearah sumber suara. Kudapati Riheon dan Hyemi menatap ku cemas. Ya, mereka memang sedang berkunjung ke apartemen ku. Sedangkan Yoochun yang sejak pagi aku tunggu tunggu, belum juga menampakkan batang hidungnya sejak awal.

“Ne?” tanya ku  bingung.

“Kau… Kenapa kau meminum air di gelas itu???”

“Eh? Wae? Ini memang gelas ku, kan?” tanya ku semakin bingung.

“Y-ya! Itu.. itu gelas milik ku.” Ucap Riheon.

Aku terdiam sejenak. Kalau gelas itu milik Riheon, berarti isi gelas itu….

“Kyyyyaaaa!!!!!!!” teriak ku saat itu juga, mata ku melotot kearah Riheon dan Hyemi. “Babo!!! Kenapa tidak ada yang memberitahu kuuu????” bentak ku keras pada mereka.

“Kau yang bodoh! Seenaknya saja mengambil gelas ku yang berisi bir itu!” aku langsung terdiam saat Riheon membentak ku. Kalau dipikir pikir, memang salah ku yang seenaknya saja mengambil gelas di atas meja. Dan parahnya gelas itu berisi bir!

Aku paling anti meminum bir. Aku pernah mengalami sebuah kejadian buruk yang membuat ku trauma terhadap minuman yang satu itu. Aku pernah mabuk di sebuah club, dan aku hampir diperkosa oleh orang yang tak ku kenal. Tapi mungkin dewi keberuntungan tengah berpihak padaku saat itu. Saat orang tak dikenal itu mencoba melepaskan baju ku, Jaejoong datang menolong ku. Ia menghajar orang itu dan langsung menolong ku.

Ah, lagi lagi Jaejoong… Kenapa aku masih saja memikirkan namja itu???

“Raemi-a?”

Aku mengerjap dan menatap Hyemi dan Riheon bingung. “Ne?” tanyaku.

“Bisa tidak kau tidak melamun? Baru beberapa saat yang lalu kau berteriak histeris , tiba tiba saja kau malah melamun.” ucap Hyemi kesal.

“Ah mian. Aku hanya… teringat Jaejoongie. Saat ia menolong ku dulu.” Ucap ku pelan. Kudengar Riheon menghela nafas, dan kulihat Hyemi hanya terdiam seraya menatap ku kosong.

“Arra.” Aku menoleh pada Riheon dan menatapnya bingung, kulihat Riheon tersenyum manis padaku, “Mian aku sudah membentak mu. Dan, yeah… bir yang aku minum tidak mengandung alkohol, kamu tidak mungkin mabuk. Tenang saja, dan.. maaf karena secara tidak sengaja sudah mengingatkan mu akan kejadian waktu itu.”

Aku tertegun mendengar suara Riheon, suaranya terdengar lembut. Aku pun tersenyum dan mengangguk, “Gomawo.” Ucapku tulus, yang dibalas oleh anggukan dari Riheon.

 “Raemi-ya, kau yakin suami mu akan datang?” Hyemi yang sedari tadi hanya diam tiba tiba buka suara. Ia pun melirik kearah jam dinding yang terpasang di ruang tamu ku, “Ini sudah jam empat sore, dan dia belum datang.” lanjutnya.

Aku menatapnya dan mengangkat bahu, “Entahlah, mungkin sebaiknya aku tanya dia lagi ya.” Dengan segera ku raih ponsel milikku yang terletak di atas meja lalu menekan beberapa angka yang tak asing lagi bagi ku, nomor Yoochun.

Tetapi tidak di angkat. Dia sudah men-setting hp nya ke profile ‘Meeting’ dan suara mesin penjawab yang menjawab telfon nya. Hah, benar benar pemberi harapan palsu.

“Dia tidak akan datang. Dia sedang meeting. Setidaknya hp nya di setting ‘meeting.” Jawab ku yang langsung menghempaskan tubuh ku dengan lemah ke arah sofa. Sedangkan teman-teman ku hanya bisa menatap kasihan ke arah ku.

#Baby can’t you see… you belong with-# sepertinya hp Hyemi berbunyi, aku tahu karena diantara kami bertiga, hanya dia lah yang men-setting lagu itu sebagai nada panggilan masuknya. Dan benar saja, kulihat Hyemi merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel miliknya dan dia pun langsung menjawab panggilan telpon itu dengan cepat.

“Yeoboseyo, yeobo?”

“……”

“Ah, nde… aku akan kesana sebentar lagi”

“…..”

Aku bisa melihat pipi Hyemi langsung bersemu merah dan senyum terukir di bibir nya.  Sepertinya….

“Nado saranghae, yeobo”

Ah, benar saja.

Seandainya aku ada di posisi Hyemi sekarang, dan Yoochun mengatakan kata kata ‘saranghae’ kepada ku setiap hari, pasti aku akan sangat bahagia sekarang. Tapi sayang nya yang terjadi justru kebalikan nya ya. Ha-ha-ha….

“Mianhae semua. Tapi Changmin meminta ku untuk menemui nya.” dia berkata sambil tersenyum bahagia. Ah, aku iri dengannya…

“Yasudah cepat sana, jangan membuat suami mu menunggu, Hyemi-ah.” aku langsung menjawab nya dan memaksakan sebuah senyum diwajah ku. Dan tampaknya Hyemi melihat senyum ku itu. Aih dasar, dia benar benar memiliki penglihatan yang tajam. Merepotkan.

“Keundae, kalau kalau kalian hanya berdua disini, lebih baik aku menemani kalian saja.” Tolak Hyemi.

Aku pun buru buru menggelengkan kepala ku, “Ah, aniyo! Gwenchana. Kau pergilah menemui suami mu. Changmin-ah paling tidak suka menunggu, Hyemi-a.” Kali ini aku berusaha memasang senyum yang tidak dipaksakan dan memasang wajah ceria ku.

Sepertinya berhasil, kini tatapan tajam di mata Hyemi berubah menjadi tatapan penuh penyesalan, ia pun mendekat pada ku dan memeluk tubuhku. “Arraseo, maafkan aku ya Raemi-yah.” ia pun melepaskan pelukannya pada ku dan menatap ku dan Riheon bergantian, “Yasudah, aku pergi Raemi-a, Riheon-a. Annyeong!”

Setelah kepergian Hyemi, Riheon pun pamit pulang karena hari sudah mulai sore, dan juga tidak ada yang menjaga rumah. Dia juga takut bila Jung Yunho, suaminya, akan pulang lebih awal sedangkan ia tidak ada di rumah.

“Mianhae Raemi-a, sebenarnya aku masih ingin disini dan menemani mu. Keundae-“

“Arraseo.” aku memotong ucapan Riheon dan memasang senyum termanis ku. “Pergi lah, aku juga tidak enak dengan Yunho-a kalau kau terus disini. Salam untuk Yunho ya, Riheon-a.” ucap ku yang kembali tersenyum manis.

Kulihat Riheon tersenyum dan mengangguk, “Arraseo. Gomawo, Raemi-a. Aku pergi dulu, annyeong!”

Ah, akhirnya aku sendiri lagi di apartemen ini.

Rasanya dingin sekali ya, dan juga sepi. Yoochun-ah, kenapa kau selalu seperti ini? Dan kenapa kau berselingkuh dengan Yongmi? Apa aku sudah tidak cukup lagi untukmu? Jika iya, maka apa yang bisa kulakukan agar kau mau kembali melihat ku, dan aku seorang?

-breathless-

Ini adalah tahun ke-3 aku menikah dengan Yoochun. Dan selama itu juga dia masih berhubungan dengan Yongmi. Parahnya lagi, Jaejoong pun masih belum tahu. Entahlah, aku tidak mengerti, Jaejoong memang tidak peka, atau dia sudah punya simpanan pengganti Yongmi? Kalau memang Jaejoong sudah mempunyai simpanan pengganti Yongmi, aku sangat berharap bisa memiliki pengganti Yoochun. Tetapi aku tahu itu tidak mungkin, hatiku sudah dicuri oleh Yoochun. Tepatnya saat itu…

-Flashback on-

Aku sedang duduk di bawah pohon beringin, menunggu seseorang. Langit mulai terlihat mendung dan aku mengutuk diriku sendiri karena tidak membawa payung. Kemana sih namja itu? Katanya mau datang jam 3, ini sudah jam 4! Dia terlambat satu jam!

Saat sedang menggerutu tak jelas, ku lihat orang yang kutunggu itu berjalan ke arah ku…. bersama seseorang. Tidak terlihat jelas tapi aku yakin itu dia dan seseorang. Namja chingu ku, Kim Jaejoong.

Aku segera berdiri dan menghampiri dia. Aku kaget karena ternyata sosok yang berjalan bersama Jaejoong adalah kembaran ku, Yongmi. Kenapa mereka bisa bersama? Dan kenapa tangan Jaejoong memeluk pinggang Yongmi?

Aku pun membuka mulutku ketika Jaejoong dan Yongmi berhenti tepat didepan ku, aku pun berkata, “Jaejoongie, kenapa lama sekali? Kau tau kalau kau terlambat 1 jam? Dan kenapa kau bersama Yongmi?” suaraku sedikit serak karena tidak berbicara selama satu jam.

Jaejoong pun menjawab,Maaf kan aku, Raemi-ah…” aku menatapnya bingung. Aneh, dia tidak memanggilku Mimi-yah seperti biasanya, “…tapi sebaiknya kita putus. Kita sampai disini saja Raemi-ah. Mianhae.

‘deg’

Aku terdiam membantu, mata ku membulat dan mulutku terbuka lebar.

Aku benar benar tak percaya kata kata itu dapat keluar dari mulutnya, kekasih ku, orang yang ku cintai. Putus? Kenapa? Aku sangat ingin menanyakan itu ke Jaejoong, tapi aku terlalu shock.

“Aku menyadari bahwa yang aku suka adalah Yongmi, bukan kau Raemi-a.” ucapnya seperti dapat membaca pikiranku. ”I’m sorry, we’re over Raemi-a. Mianhae…” dapat kudengar dengan jelas Jaejoong melanjutkan kata katanya tadi. Sedangkan aku yang masih kena gelombang radiasi Shock hanya terdiam.

Setelah beberapa saat hening, aku pun menatap mata Jaejoong yang indah itu dan menjawab dengan suara serak. “Apa itu yang kau mau, Jaejoongie? Apa kau akan bahagia dengan keputusan mu itu?” dapat kulihat Jaejoong menatapku dalam dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan Yongmi terlihat tersenyum pada ku, senyum kemenangan.

“Baiklah, kebahagiaan mu lebih penting Joongie. Terimakasih untuk selama ini ya. Maaf kalau aku menjadi beban untukmu. Jeongmal Saranghae, jeongmal mianhae. Tidak apa kalau kau ingin memutuskan ku, selama kau bahagia Jaejoong-ah.”

Seketika wajah mereka terlihat cerah, berlawanan sekali dengan wajah ku dan juga suasana hati ku saat ini.

“Gomawo, Jeongmal Gomawo Raemi-ah. Terimakasih karena telah merestui aku dan Yongmi. Terimakasih banyak.” dan setelah beberapa saat yang cukup bahagia untuk pasangan Jaejoong-Yongmi, mereka pergi dari hadapanku.

Sementara aku kembali ke pohon beringin tadi, menahan tangis. Tetapi ketika hujan mulai turun, pertahanan ku runtuh. Aku langsung menangis, menumpahkan semua rasa sakit yang kurasa. Aku menangis bukan hanya karena aku merutuki nasib ku, tapi juga menangis bahagia karena orang yang ku suka sudah bahagia.

Tapi aku tahu, rasanya begitu sakit melihat orang yang kita sayangi bahagia dengan orang lain, bukan dengan kita. Tapi sekali lagi, aku harus bahagia karena dia bahagia. Tapi kenapa justru aku semakin ingin menangis mengingat hal itu?

Entah berapa lama aku menangis di tengah hujan itu. 30 mnt? 1 jam? Entahlah, yang jelas hujan semakin lebat dan petir mulai menyambar disana-sini. Tapi tidak kupedulikan semua itu. Hanya hati ku yang sakit ini yang ku tau.

Lalu tiba tiba saja, aku tidak merasakan lagi air hujan mengguyur tubuh ku yang sudah basah seluruhnya oleh air hujan itu. Aku mendongakkan kepala ku dan terlihatlah  sosok seorang namja yang tidak ku kenal.

Tangan kiri namja itu memegang sebuah payung yang melindungi kami dari hujan, sedangkan tangan kanannya terulur dan membantu ku berdiri. Aku menatap wajah orang asing itu, namun yang tertangkap oleh indera penglihatan ku hanyalah sebuah wajah yang terlihat buram, mungkin karena air mata yang terus mengalir dari mata ku?

Tiba tiba saja aku merasakan tubuh ku menggigil. Ya, sejak awal hujan turun dan membasahi tubuhku, aku sama sekali tidak merasa kedinginan. Dan anehnya aku baru merasakannya sekarang. Bukan hanya tubuhku yang terasa menggigil kedinginan, kepala ku pun terasa pening dan penglihatan ku menjadi semakin kabur.

Dan hal terakhir yang kudengar adalah suaranya, suara namja yang menolong ku. Suaranya terdengar begitu indah yang mengatakan,Gwenchanayo?” sebelum semuanya menjadi gelap.

***

Ketika aku bangun, aku berada di sebuah ruangan, yang terlihat seperti kamar tidur. Disamping ku ada seorang namja, yang ku ingat sebagai namja yang menolong ku. Ia duduk di kursi dekat tempat tidur ku dan tengah menatap ku. Tiba tiba saja kurasakan darah ku berdesir ketika tatapan ku bertemu dengannya, ia pun tersenyum manis padaku, dan saat itu juga jantungku berdetak di luar kendali ku dan dapat kurasakan pipi ku memanas.

Aku bangkit dari posisi tidur ku dan mengalihkan pandangan mata ku dari nya, entah mengapa aku merasa dapat meleleh hanya dengan melihat senyum dan tatapan matanya. Aku pun lebih memilih memperhatikan piyama ku dari pada…. wait! What?! Piyama???

Aku langsung menatap horror ke arah namja itu, meminta penjelasan darinya. Dia yang sepertinya mengerti maksud tatapan ku pun langsung menjawab,Ah Aniya, yang mengganti pakaian mu adalah noona ku, bukan aku.jelasnya

Aku menatapnya sejenak, mencoba mencari kebohongan dimatanya. Tapi yang kutemukan hanya lah kejujuran dan aku pun mencoba mempercayainya. Lebih baik mencoba mempercayainya dari pada terus menerus ber-negative thinking, bukan?

“Ah ya,” aku menoleh padanya dan ia pun tersenyum manis padaku. “Maaf belum memperkenalkan diri, namaku Yoochun. Park Yoochun. Aku menemukan mu di bawah pohon beringin di Seoul Park. Saat itu hujan dan kau terlihat pucat dan kedinginan, saat aku menanyakan keadaan mu, kau tiba tiba pingsan. Dan akhirnya aku membawa mu kesini.jelasnya(lagi) dan aku pun mengangguk tanda mengerti.

Beberapa menit kemudian datang seorang yeoja, mungkin 4 tahun lebih tua dari ku, membawa makanan. “Ah, dia sudah bangun ya?” tanya yeoja itu pada Yoochun, yang dibalas Yoochun dengan anggukan kepalanya.

Yeoja itu pun mengalihkan pandangannya padaku, ia tersenyum dan berjalan mendekat padaku. “Ah, annyeong.” sapanya padaku, “Siapa nama mu? Aku Hyunmi, Park Hyunmi. Kakak dari Park Yoochun, namja yang telah menolong mu.” terangnya.

Aku pun tersenyum dan menjawab dengan sopan,Maaf telah banyak merepotkan, Hyunmi eonnie. Aku Raemi, Lee Raemi.” ujarku sambil mebungkukkan kepala sedikit. Tapi tiba tiba aku tersentak kaget, karena suaraku yang semula indah berubah menjadi serak dan terdengar aneh..

Aku mengangkat wajah ku dan menatap Hyunmi-onnie dan Yoochun-ssi, mereka tampak menahan tawa medengar suara ku ini. Aku yang malu pun langsung menutupi wajah ku dengan tangan ku.

Jangan di paksa menjawab, Raemi-ah. Oiya, panggil aku Hyunmi-onnie saja ya.” dia menjawab lembut. “Apakah masih ada yang pusing dan sakit? Kebetulan aku ini dokter.”

Ah, ani.” Tolak ku halus. “Keundae, gomawo sudah mau menolong ku.

“Gwenchana Raemi-ah. Ah ya, kenapa kau hujan-hujanan di taman itu? Apa kau tidak bawa payung?” tanyanya yang berhasil membuat ku terdiam.

Aku berdehem sejenak lalu tersenyum, “Ani. Aku nggak bawa payung. Dan untuk alasan aku disitu, aku lebih memilih untuk melupakan alasan nya. Mianhae…” ucapku. Ya, aku lebih memilih untuk melupakan nya. Aku tidak ingin mengingat lagi kejadian itu. Dimana namja itu memutuskan ku untuk kembaranku sendiri.

Well, sejujurnya aku sudah menduganya dari dulu bahwa Jaejoong ada suatu hubungan khusus dengan Yongmi. Karena meski aku dan Yongmi kembar, kami memiliki sifat yang berbeda. Sangat berbeda.

Dan jujur saja, kami mungkin identik tapi Yongmi jauh lebih cantik daripada aku. Rambutnya yang hitam bergelombang selalu dapat mengundang mata. Sedangkan aku, rambut ku hitam dan lurus, lebih sering ku ikat karena sering menganggu pekerjaan ku. Yah, intinya Yongmi lebih cantik dari aku.Karena itu aku yakin Jaejoong pasti jatuh cinta pada Yongmi.

Setelah lama mengobrol, aku pun langsung pamit kepada mereka. Tapi sebelum pulang, Yoochun meminta nomor handphone dan alamat rumah ku. Tentu saja yang kuberi hanya nomor ku, tidak mungkin kuberitahu alamat ku kan?

“Sekali lagi gomawo karena sudah merawat ku, Yoochun-ssi, Hyunmi noona. Dan pakaian ini, aku akan mencucinya dirumah lalu mengembalikannya.” Ujar ku saat mereka mengantar ku sampai ke depan gerbang rumah mereka yang cukup besar itu.

“Aniya, gwenchana, Raemi-a. Itu buat mu saja, aku tidak masalah.”

“Keundae-“

“Sudah lah Raemi-ssi, ambil saja. Kakak ku ini keras kepala, dia pasti akan melakukan apa pun sampai keinginannya tercapai. Jadi mulai sekarang baju itu milik mu.” Potong Yoochun.

Aku menghela nafas dan tersenyum, “Arraseo. Gomawo unnie.” Ucap ku.

“Sama sama.”

“Yasudah, aku pergi ya. Annyeong.” Aku pun berpamitan dan segera berjalan menuju halte bus terdekat.Jika aku membawa mobil, mungkin aku akan naik mobil ku. Tapi karena aku tidak membawanya, aku putuskan untuk pulang dengan bus, aku sedang malas naik taksi.

“Tiiinn… Tiiinnnn…”

Aku berhenti sejenak saat mendengar suara klakson mobil dari arah belakangku. Kubalikkan tubuh ku dan mendapati sebuah mobil-yang aku tahu betul adalah-Lamborghini Murcielago Black a640 berada di jalan di belakang ku. Aku tahu bukan karena aku mengenal siapa pemilik mobil itu, tapi karena aku juga adalah pengamat mobil, salah satunya adalah mobil mewah merek Lamborghini Murcielago Black a640 itu.

Ku coba melihat siapa pemilik mobil itu, tapi sayangnya kaca mobil itu terlalu gelap sehingga menghalangi ku untuk melihat kedalam mobil dari luar sini. Tapi akhirnya, karena tidak merasa bahwa mobil itu menyuruhku berhenti, aku pun tidak mempedulikan mobil itu dan terus berjalan ke arah halte bus.

Namun sepertinya dugaan ku salah. Karena saat aku terus melangkah, mobil itu terus membunyikan klaksonnya seolah seolah memanggil ku. Aku pun masih tidak mempedulikan mobil itu dan terus berjalan, sampai pada akhirnya mobil itu berhenti tepat disebelah kiri ku.

Aku berhenti berjalan dan menatap terdiam menatap kearah mobil itu. Entah mengapa jantung ku berdetak keras saat pemilik mobil mewah itu membuka pintu mobilnya dan…

‘deg’

“Y-yoochun-ssi?” panggil ku tak percaya. Bukan hanya tak percaya bahwa ia lah pemilik mobil mewah itu, tapi juga karena ia pergi menyusulku. Well, bukan dalam arti kata ‘menyusulku’ yang sebenarnya, maksudku.. mungkin saja ada barang ku yang tertinggal dan ia mengantarkannya, kan?

Dan oh my.. senyumnya. Dia tersenyum pada ku! Oh, mungkin aku gila. Hanya karena melihat senyum namja yang baru beberapa jam yang lalu ku kena itu, aku merasa sesuatu dalam diri ku memberontak keluar dan membuatku ingin berteriak kegirangan.

Ia berdehem sejenak dan  kembali tersenyum padaku, senyum yang sama. “Ne, ini aku.” Jawabnya yang kini telah berada di depan ku.

“Omo, ada apa menyusulku? Apa ada barang ku yang tertinggal?” tanya ku.

“Ah itu…” ia terlihat gugup, dan hal itu kedua sudut bibir ku tertarik, membentuk senyuman tipis diwajahku, aku tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.

“Aku… ingin mengantar mu pulang.” Gotcha! Dugaan ku tepat. Hahaha, sepertinya namja ini memang menyukai ku. Raemi, kau benar benar hebat.

Aku pun tersenyum manis padanya, “Jinjja?” tanya ku.

“Ne.” Jawabnya singkat.

“Aahh.. mian, tapi aku-“

“Menunggu pacar mu menjemput mu, uh?”

‘deg’

Pacarku?

“Baiklah.” Suara Yoochun membuat lamunan ku buyar.

Kutatap dirinya bingung. “Sepertinya kau memang sedang menunggu pacar mu,” lanjutanya, “kalau begitu aku-“

“Tunggu gulu.” Potong ku cepat, kuraih tangannya saat ia beranjak pergi. Ia menoleh padaku, dan seketika aku seperti terhipnotis saat pandangan mata ku bertemu dengannya.

My God! Apa yang kau lakukan, Lee Raemi??? Kenapa kau menahan tangannya??? And, oh damn! Lihat matanya, bibirnya, hidungnya, semuanya! Oh my… Kenapa bisa ada lelaki wajah yang begitu tampan seperti ini???

“Raemi-a?” dan suara itu, suaranya benar benar terdengar sexy dan….

“Raemi-a!”

“Eh?” aku tersentak saat seseorang menggoncang goncangkan bahu ku. Aku mengerjap dan mendapati Yoochun menatap ku bingung, “A-ah itu…”

“Ne?”

“Aku.. aku tidak punya pacar.” jawab ku pelan. Aih! Kenapa aku jadi gugup seperti ini????

“Lalu?”

Shock! Aku menatap Yoochun dengan mata membulat, aku benar benar tak percaya dengan yang ia ucapkan.Sedangkan namja itu hanya menatap ku dengan wajah datar, seakan akan aku tak mengatakan apa pun beberapa saat yang lalu.

“Y-ya! Tadi kan kau bertanya apa aku sedang menunggu pacarku atau tidak. Aku tidak memiliki pacar dan aku tidak menunggu siapa pun.” Ucapku kesal.

Ia terlihat terdiam sejenak lalu tersenyum manis padaku, “Baguslah.”

“Eh?” sekali lagi mata ku membulat mendengar ucapannya. Namja ini.. benar benar aneh! Aku benar benar tak mengerti jalan pikirannya!

“Yasudah ayo, aku akan mengantarmu.” Ucapnya, dan sedetik kemudian kurasakan lengan ku ditarik lembut oleh Yoochun kedalam mobilnya.

“Dimana rumah mu?” tanya Yoochun saat ia sudah masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Aku pun memberitahunya dan ia pun langsung tancap gas menuju rumahku.

Dan sejak saat itu… Aku tahu satu hal. Hati ku telah dicuri oleh seorang namja bernama Park Yoochun, namja yang bahkan baru ku kenal beberapa jam yang lalu.

-Flashback off-

“Aish!” aku menggeleng dengan keras saat memori indah itu kembali berputar di kepala ku. Ingin sekali aku melupakan memori itu, karena setiap aku mengingat kejadian itu, hanya rasa sakit lah yang aku rasakan. Tak ada lagi perasaan bahagia yang aku rasakan, dan itu cukup membuat ku tersiksa selama ini.

Sekali lagi aku menggeleng dan menghela nafas berat. Kulangkah kan kaki ku menuju tempat di tidur. Entah mengapa aku merasa lelah, dan istirahat yang cukup mungkin akan membuat ku lebih baik.

Aku terus melangkahkan kaki ku sampai sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja di dekat tempat tidur menarik perhatian ku. Ke dua kaki jenjang ku yang semula kulangkahkan menuju tempat tidur pun kini beralih membawa ku menuju meja itu.

Ku julurkan tangan ku dan dengan lembut ku ambil bingkai foto itu, sebuah bingkai foto yang berisi sebuah foto yang sangat berarti bagi ku, foto pernikahan ku dan Yoochun.

Aku menghela nafas sejenak, kududukkan diri ku di pinggir tempat tidurku dan mengamati foto itu dalam diam. Dapat kurasakan dada ku sesak melihat foto itu, mata ku memanas dan kurasakan air mata ku menggenang di pelupuk mataku.

“Yoochun-a.” Ucapku pelan. Dengan perlahan tangan kanan ku terangkat dan mengelus lembut wajah sempurna seorang namja bernama Park Yoochun yang tengah bersanding dengan ku di foto itu.

“Saranghae.” Ucap ku lirih. Air mata kini telah jatuh membasahi pipi ku, dan rasa sakit itu semakin lama semakin terasa sakit dan menyesakkan dada ku. “Yongwonhi.” Aku menekuk lutut ku dan memeluk bingkai foto itu, menangis dan terisak dalam kesendirian dan kesakitanku.

~ TBC ~

Yap yap~

Segini dulu ya~ Sebenarnya fanfic ini oneshoot, tapi karena kepanjangan… jadinya twoshot😛

Chapter 2 nya minggu depan ya, soalnya sejujurnya endingnya belum selesai saya edit-_-

Gomawo udah baca, jangan lupa coment ya? Hargai sang author dan hargai juga saya yang udah mati2an edit ff ini. Jujur aja, awalnya ff ini gak sebanyak ini, awalnya cuma 20 page lebih di Microsoft office word, Tapi memang sayanya saja yang terlalu terlarut dengan ff ini, jadi setelah saya edit, jadi 40an page nya~ jadi tolong hargai kami berdua, oke?🙂

Untuk chapter depan akan saya protect sesuai peraturan Blog ini. Dan sedikit informasi, chapter depan (chapter terakhir) gak akan ada NC~!!! Karena sang author anti fanfic NC straight sedangkan saya lebih suka yaoi, jadi gak ada NC~ Oke?😛

Ah ya, kalian minta PW nya kalau saya udah post chapter berikutnya ya~ Kalian bisa minta PW lewat FB, nama fb saya —> Annisa Fitri Wulandari, tapi kalian jangan search pake nama, karna saya punya 3 fb dgn nama yang sama-_- search nya pake e-mail fb saya ya —> hyunmi_cassie@yahoo.com (minta lewat inbox), atau mau lebih gampang, minta lewat twitter @annisafitriw (mention lalu saya akan balas lewat DM)

Tenang aja, kalau kalian udah coment, pasti saya kasih PW nya~😉

Sekali lagi… gomawwwoooooo…. *bow bareng Changmin*

46 thoughts on “Breathless chap 1

  1. Waww~~ menyiksa bgt tuh yongminya! Huwaaaa, sedih bgt dah thor>,<
    Sabar dh Raemi, dunia ini memang kadang ga sesuai dg apa yang kita inginkan^^v LOL

    • Jaehyunmi berkata:

      Sedih? Beneran? >.<
      Wah, berarti kerja keras sang author yang telah membuat ff ini dan kerja keras saya untuk mengembangkan perasaan tokoh Raemi di ff ini berhasil😀
      Gomawo coment nya *bow*😀

  2. Jung Raemi berkata:

    Jae hyunmi sayaaang, pen-name saya Raemi, buka Mirae. Kenapa di credit nya nama saya Jung Mirae??

    Ohiya, Ini FF gue di sulap ya? Beda bangeeeeet… Bahasanya bener2 bahasa yang baik dan benar sesuai dengan EYD (??) Ada yang ngga sih tapi masih parahan versi original nya. Dan jujur di sini tokoh Raemi dibuat jauuuuuuhhh lebih menderita daripada yang asli. Dan angst nya dari awal sampai akhir full. Versi asli nya masih ada lucu-lucu an nya.

    Oke kayaknya ini dulu komentar nya. Bagi PW nya ya nis😉

    • Jaehyunmi berkata:

      hahaha😄 *ngakak bareng Changmin*
      Gomen ne~ Tapi, pen-name lo gak gue ganti sit, dari awal lo kasih ff lo buat gue edit, namanya udah gitu-_- Yaudah nanti gue ganti😉
      Haha, sebenernya pingin gue bikin Raemi lebih menderita lagi, soalnya menurut gue si Raemi belum menderita. Tapi saya gak tega sama anda. anda kan raemi😛

      Gomawo buat kritikannya, baru sadar kalau EYD nya masih banyak yang salah dan masih ada beberapa kesalahan penulisan walau udah gue edit ><

      Sip, lo udah pasti bgt dapet PW kok~
      Gomawo kritikan dan coment nya *bow*😀

  3. hyun gi berkata:

    Sedih bgt, kembarannya mati aja *opss*
    Kalo aku jadi Raemi udh aku labrak dari pertama *emosisendiri*
    Lanjut..lanjut ;D

  4. wah, ada apakah gerangan yg membuat jaepa n yuchun oppa bisa terhipnotis olehku wkwkwk #plak di tampar author# sorry2 mulutku keseleo… maksudnya terhipnotis,bisa suka ke yongmi., n klo aku jd raemi liat yuchun oppa selingkuh pa gi ma saudara kembarku bkal aku ceraikan saja,dr pada sakit hati terus,… bikin gregetan za., hehe mian klo gaze komennya

  5. Jaehyunmi berkata:

    @Hyun Gi: Haha, sabar chingu~ Raemi aja sabar kok, hehe😄
    Thanks coment nya *bow*🙂

    @Park Ji Hee: Dicerai kan? Haha, tapi kalau Raemi cerai sama Yoochun, kasian Raemi juga~ kalau aku jadi Raemi, aku juga akan ngelakuin hal yang sama kaya yang Raemi lakuin^^ btw, gomawo coment nya🙂

  6. hadeh…si yongmi nyebelin aja sih,apa aja yang punya raemi diambil,nggak jaejoong nggak yoochun diembat semua…#kebawa suasana

    Si jjmalah nggak peka lagi,udah tahu istrinya nempel2 keorang lain bukan dikasih tahu #kebawa lagi…

    Mian thor banyak ngomong,asap deh

  7. nasib raemi miris bgt sih .. Kasian mesti dihianatin sama dua namja yg dicintainya ..
    Tuh si yongmi ga tau diri bgt sih, ngerebut suami kembarannya sendiri ..
    Jdi penasaran sma endingnya,, nasib raemi jdi gimana tuh .. Lanjuut ..
    Ditunggu ya part selanjutnya .. ^^

  8. Itu sodara kembarnya jahat banget, semua aja direbut begitu,,,
    untung raemi msih sabar,,
    penasaran next chap-ny,, kira2 bakalan happy ending atau sad ending,,

  9. deewookyu berkata:

    Kenapa gak tukeran aja…
    Coba ngomong ke JJ…sapa tau dia juga mau bales Chun_Mi
    khan lumayan….. dari pada nahan sakit hati 3 tahunn…

    aaarrgghhh……………… mendingan selingkuh jugaaa…..

  10. @tissarafifah berkata:

    Raemi nya sabar bgt terlalu sabar kembarannya keterlaluan nyampe..begitu sm suami nya raemi ._.
    Lanjut lanjut ceritanya susah di tebak😄

  11. nteph berkata:

    Raemi bego ap gmn ya? Knp diem aj….aarrggghh setidakny bales klakuan YC dgn cara mrubah diri jd cantik n lbh gaya n lbh tegar kl ktmu YC lg sm kmbaranny, jgn cm nyumput.. Pgnny raemi lg dandan n sgaja lwt dpn kmbrn n YC trs dgn pede trsenyum..pgn liat reaksi mrk b2…

  12. Lee Raemi berkata:

    Kalo Raemi jadi sama Hyunmi, cerita ini ga mungkin ada karena author nya keburu di bantai duluan sama sang editor.. *lirik Hyunmi*

    Nah kalo Raemi dandan, trus ketemu sama Yoochun oppa n Yongmi, biasanya jalan cerita nya udah ketebak, kecuali ada twist nya (author males nulis twister nya)

    Oh iya, saya sebagai author sama hyunmi sebagai editor nya mengucapkan terimakasih udah comment ya *bow 90 derajat*

    Kalo jalan ceritanya nanti tidak terlalu memuaskan, mianhamnida

    • LOLOLOLOL~~ *ngakak guling guling*
      Anda gak akan saya bantai kok, karena kalau anda meninggal karena saya bantai, kasian Yoochun nanti kesepian dan udah pasti dia single, nanti gue bingung lagi milih jae atau yoochun😛 *dihajar sita*

      Btw, aku suka bgt cerita kamu sit! Sumpah keren bgt! #eeaa😀

  13. ok *sok serius* ada be2rp koment ‘n pmkran qu stlh bc ff ini..
    1. Dri awl smpe akhr bc ff ini hny ada satu kt bwt menggmbrkn perasaan qu yaitu EMOSIIIII
    2. Qlo qu jd raemi,mngkn yg qu lkukan bklan ngebnh yuchun sm yongmi *kejam ya,haha*,,tp knp raemi terlalu bdoh,kn jd gemes sndri!!
    3. Qu pnsran sbnr’a yongmi ngelkuin hal ky gni ada alsn’a ga sh? Pdhl kn mrk sdr kmbr,knp yongmi sngt kejam sm ka2’a sndri?
    4. Raemi tuh udh ky malaikat tp yongmi kblkan’a ky,,,,,
    5. Hny ada satu kt bwt ff ini terutma u/ jln crta’a ‘DAEBAK’
    Ok, sekian,, terima ksi,,, lol,,,, #plakplak

    • Emosi?-_- Wah sepertinya benar… saya dan author berdosa karena ngebuat readers emosi~ Kyaaa gomen ><
      Raemi kaya malaikat? wah, hati hati.. nanti author nya nge fly~ #plak😄
      4. [Fill in the blank] Raemi tuh udh ky malaikat tp yongmi kblkan’a ky,,,,,
      Saya yakin 100%, jawabannya Iblis, atau gak, pasti evil! *sok tau*

      Pertanyaan no 2 sama 3 bakal di jawab di next chapter ya~ Gomawo comentnya^^ *bows*

  14. Dear my beloved readers… #eaa
    Beberapa pertanyaan kalian udah dijawab langsung sama authornya ya~ *nunjuk2 coment sang author-Lee Raemi-diatas🙂
    Kalau saya yang jawab semua, saya ngerasa gak enak sama authornya, karena saya bukan pemilik ff ini, saya cuma editor^^ hehe~

    Kalau masih ada beberapa pertanyaan kalian yg masih belum terjawab oleh sang author ataupun saya, itu berarti jawabannya ada di next chapter, jadi tunggu aja ya~^^
    Sekali lagi… HONTOU NI ARIGATOU GOZAIMASHU atas coment kalian. Coment kalian bener bener berarti banget buat sang author dan juga saya~ And yeah, makasih juga buat para silent readers yang udah baca ff ini, semoga suatu saat nanti kalian taubat jadi silent readers *amin* ^^~

    Arigatou minna san😀 *bows bareng author*

  15. yoochun tega bgt dah:'(:'(:'(
    aku jg kasian ma istri y n kembaran y tega bgt apa dia ngak punya perasaan pdhl mereka kan kembar sampe 2x pacar sodar y d rebut mana skrng yg lebih parah udah od punya suami *mian emisi*
    sakit hatiaku baca ni ff feel y dapet,,, pgn ikut nangis malu lg kerjaan baca y,,,,,
    Lanjut……

  16. Asagi berkata:

    ko bisa ya Yoochun jd gitu???!
    apa dia melupakan *Love at Firstsight.y*
    Sulit dipercaya !!!

    bisakah Raemi berubah untuk mempercantik dirinya sendiri, agar tidak kalah dari kembarannya?? *ngarep pengen cerita yg kya gitu* :))

  17. RossyMicky berkata:

    Nyesek se nyesek2nya,
    Sumpah deh,
    Yuchun tega amat,
    Jae kejam,
    Yg palin busuk yg kembaran ny itu,
    Tuhan, smoga mrk dpt balasan setimpal,
    Huhu

    I like that author n auditor,
    Hehe
    Chapter 2 ny, bg pw nya ya,😀

  18. Nayunho berkata:

    Pas lgi iseng nyari ep ep eh nemu yg ini
    sedih sesedih sedihnyah.
    apalagi pas bagian akhir nangiz sendirian smbl mluk poto.huwaaaa gw mending nangis smbl meluk yinho de #ngarep.com
    tpi ko yg chap2 nya g ad y thor?
    aUthor ma editor ny kreeeennnn.
    btw bagi pw ny donkk…

  19. Lagi iseng nyari ep epnemu ini
    sedih sesedih sedijnya.nyesek bgt,apalagi pas bagian akhir,nangis sndri smbl mluk poto
    author ma editorny kren bgt de
    chingu,ko yg chap 2 ny g ad y?
    btw,bgi pwny dong

  20. maaf sebelumnya atas ketidaknyamanan para readers, tapi ff nya belum bisa aku post. karena ada sedikit perubahan mendadak antara saya dan authornya untuk cerita ini, perubahan pada bagian ending dan alur cerita. agar bisa sesuai dengan sequelnya. karena rencananya ff ini akan ada sequelnya, kolaborasi antara saya dan sang author. sekali lagi saya dan author mohon maaf yang sebesar besarnya *bows with author*

  21. raemi kasian bgt y pny sodara kembar jahat, masa’ tega bgt ngerebut chunie yg jls2 suami sodara kembar sndri!
    trus berkhianat sma jaeppa! jaeppa-ku kurang apaaaa????
    sebel banget deh sm yongmi!
    raemi jg trlalu cinta mati ama chunie sihh

  22. Raemi kok gitu sich suami sendiri hrs diperjuangin dong jgn pasrah aja wlupun sama kembar sendiri. tp emang susah sich namanya saudara apalagi kembar pasti sejelek2nya saudara pasti kita sayang banget.

    • haha, kalau aku pasti bakal lakuin semua yang dilakuin raemi, karna aku atau gimana rasanya sayang sama kembaran sendiri🙂
      btw, makasih udah mau baca dan coment🙂

  23. Wuaaa aku baru baca, dan ternyata FF ini genre nya adalah genre fav ku ^^
    Yongmi egois banget sih, masa suami kembarannya sendiri di rebut?
    Yoochun juga kurang ajar, masa selingkuh ma kembara istrinya? *emosi.com*BaFF ini Baguus, thor, ide nya lain dari yang lain n aku suka, udah tamat kah? *berabe minta pw*

    • gak apa apa kok, eon🙂
      belum tamat, itu masih ada chapter 2A sama chapter 2B nya^^
      Idenya lain dari yang lain? memang, makanya aku suka banget sama ff bikinan temenku ini (sang author). ide ide ff nya gak pernah bisa ditebak, kaya ff dia yang ini :))

  24. Resty berkata:

    mianhe thor sebenarnya reader dah baca tapi belum sempat ninggalin jejak😦

    FF ini bener-bener bikin reader sesak nafas aja. sabar banget lihatin suami sendiri selingkuh ama saudara.

    thor endingnya happy ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s