Aisenai Aishitai Chap 3


Author : Park Yoon Rie a.k.a Jessie Amelia

 

Tittle    : Aisenai Aishitai

Genre : OC/Drama, Romantic

Rating : PG13/Straight

Chapter  : 3 of ??

Cast   : Kim Jaejoong, Park Yoon Rie, Park Yoochun

Other Cast : Jung Yunho, Kim Junsu, Shim Changmin, Min Sae Rye, Han Hye Chan, and Song Minhye

 

 

>O<

=> Sebelumnya di Aisenai Aishitai *kayak sinetron ajaH* :

“Jae hyung, wae? Apa kau gila, sampai memaksakan dirimu seperti ini hah?”

“Jun.. Junsu, mianhae.. aku hanya ingin mencoba berdiri juga berjalan saja.. aku tidak mau melihat kalian bertunangan.. aku sangat mencintai Yoon Rie…” kata Jaejoong terputus-putus

“Bodoh kau, dasar bodoh kau…” teriak Junsu panik, dan tiba-tiba saja Jaejoong pingsan seketika.

“Jae hyung, irona! Bertahanlah Jae, bertahanlah…” teriak Junsu semakin kaget

>>O<<

 

‘Kenapa pintu rumah Jae terbuka lebar seperti ini? Cereboh sekali, bagaimana kalau ada penjahat masuk? Kalau aku jadi Jae, akan aku pecat pelayan-pelayan yang tidak bertanggung jawab seperti ini’ pikir seorang namja saat dia hendak datang untuk berkunjung, namun ternyata pintu tersebut sudah terbuka lebar sebelum dia sempat menekan bel

“Jae hyung, irona! Bertahanlah Jae, bertahanlah…” jerit panik seseorang dari arah kamar Jaejoong

‘Seperti suara teriakan Junsu’ pikir namja itu

Dengan tergesa-gesa dia pun lari menuju kamar, namja itu kaget setengah mati saat ia melihat ke lantai dan mendapati cukup banyak darah menodai lantai itu. Dilihatnya pula Junsu yang sedang menangis dan Jaejoong yang tidak sadarkan diri dalam pangkuan Junsu.

“Kau kenapa? ayo bangun!” teriak Junsu pula

“Junsu, apa yang kau lakukan? Mengapa kau malah sibuk menangis?” tanya namja itu yang lekas menelpon ambulance

Junsu menoleh ke sumber suara dan menangkap sosok seorang namja yang terlihat emosi, sedang berkomunikasi dengan ponselnya

“Damn, ppalli wa?!” teriak namja itu

“Yoochun-a, kau disini?” tanya Junsu masih terisak

“Sebentar, aku akan mengambil kotak P3K” ujar Yoochun yang lekas berlari mencari kotak P3K

Setelah berhasil menemukan kotak P3K itu, dia segera memberikan pertolongan pertama pada Jaejoong

“Setidaknya pendarahannya akan berhenti untuk sementara. Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Waktu aku datang, aku lihat Jae memaksakan dirinya untuk berdiri dan jalan sampai akhirnya dia jatuh dan membentur lantai” cerita Junsu

“Aigoo, lalu kenapa kau malah diam saja tadi? bukannya cepat-cepat telpon ambulance. Aish, kenapa ambulance nya lama sekali sih?!” bentak Yoochun

“Baru juga beberapa menit yang lalu kau menelponnya”

“Damn it, gendong dia Junsu-a dan bawa ke mobilku! Aku akan ngebut, kita bawa Jae ke rumah sakit terdekat saja dulu”

“Keunddeu, Yoochun-a… kalau di RS terdekat pasti fasilitasnya kurang lengkap”

“Tapi RS pusat jauh dari sini, bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya?”

“Arra” sambung Junsu yang segera menggendong Jaejoong di punggungnya

>>O<<

 

“Mweo? Are you crazy, bagaimana bisa RS ini kekurangan stock darah hah? You…”

“Yoochun-a, tenanglah!” potong Junsu

“Stock darahnya sedang dalam perjalanan kemari, mungkin sekitar setengah jam lagi baru tiba” jelas dokter itu

“Damn, Okay akan aku berikan darahku padanya”

“Mweo?” kaget Junsu

“Baik, mari ikut saya?!” ujar dokter tersebut, dan Yoochun pun mengikutinya

Junsu menunggu di ruang tunggu dengan gelisah, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sejak kejadian tadi. Dia sudah menelpon Yunho dan yang lainnya, hatinya semakin kacau karena teman-temannya belum juga tiba.

“Eottokhe?” gumam nya terus menerus

“Junsu oppa, bagaimana keadaan Joongie oppa?” tanya Yoon Rie dengan nafas tersenggal-senggal karena habis berlari

“Dokter masih menanganinya” jawab Junsu

“Junsu hyung..” teriak Changmin setengah berlari di susul Yunho di belakangnya

“Changmin-a, Yunho hyung…” sambung Junsu

Bersamaan dengan perkataan Junsu tersebut, dokter segera ke luar dan menemui mereka

“Dok, bagaimana keadaannya?” tanya Yoon Rie

“Tidak ada yang perlu di khawatirkan, luka pasien tidak terlalu parah kok.. begitu tensi darahnya normal lagi keadaannya pasti akan segera membaik” jelas dokter tersebut

“Syukurlah…” ujar mereka semua bernafas lega

“Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak pasien yang lain” pamit dokter

Tidak lama kemudian Yoochun datang menghampiri mereka, wajahnya terlihat pucat. Yoochun berjalan sempoyongan dan hampir jatuh, untung saja Yunho menahan tubuhnya.

“Gwaenchana?” tanya Yunho cemas

“Na gwaenchana, aku hanya sedikit pusing..” jawab Yoochun

Yoon Rie memperhatikan lengan Yoochun yang di tempeli perban, bekas di ambil darah

“Oppa, kau mendonorkan darahmu lagi?” tanya Yoon Rie

“Ne, wae?”

“Kenapa oppa sampai rela melakukan ini?” tanyanya lagi

Yoochun tersenyum pada Yoon Rie “Jangankan darah, jantung pun akan kuberikan padanya jika itu bisa membuatmu bahagia Yoon Rie-a, aku tau kau sangat mencintainya”

Yoon Rie menutup mulutnya dengan telapak tangan, air matanya mulai berebutan keluar. Dengan gerakan cepat Yoon Rie segera memeluk Yoochun.

“Gomawo, oppa. Jeongmal gomawo?!” gumam Yoon Rie

“Tidak usah seperti ini, lagipula Jae hyung itu sahabatku dan aku sangat menyayanginya,. Sekarang kau jangan menangis, temui Jae sana?!”

“Arra” Yoon Rie melepas pelukannya kemudian memandang Yunho

“Wae?” tanya Yunho, heran melihat Yoon Rie tiba-tiba menatapnya

“Yunho oppa, aku ingin oppa ku yang pabo ini juga istirahat disini untuk beberapa hari.. aku khawatir melihat wajahnya yang pucat seperti ini, tolong awasi dia ya? kalau dia mencoba kabur habisi saja”

“Mweo?” kaget Yoochun takut-takut karena Yunho sudah menunjukkan senyum evilnya

“Aku pergi dulu, Junsu oppa, Changmin.. kajja kita temui Joongie oppa?!” pamit Yoon Rie yang kemudian menyeret Junsu dan Changmin ke kamar rawat Jaejoong

“Nah Yoochun, kau dengar kan? Aku yang bertanggung jawab atasmu sekarang”

Yoochun menelan ludahnya sendiri “Anu hyung, aku baik-baik saja, kok?”

“Alah, jangan berkilah?! Ayo kita periksakan kesehatanmu pada dokter dan tidurlah!!” paksa Yunho sambil menyeret Yoochun

“Yaa, hyung! Shireo?!” rengek Yoochun

“Turuti perintahku atau kau aku lemparkan ke got?!” tegas Yunho pula

“Mweo?  Dasar pengacara tukang ngatur?!” gumam Yoochun

“Apa kau bilang, mau di hajar ya?” ancam Yunho sambil menatap Yoochun dengan tatapan menakutkan

“Anni hyung, aku tidak ngomong apa-apa kok”

“Aigoo, dasar pembual. Kau pikir aku tuli hah?” bentak Yunho kembali menyeret Yoochun, dan Yoochun terpaksa menurutinya karena badannya terasa lemas sehingga tidak bisa melawan ataupun memberontak lagi.

>>O<<

 

Jaejoong membuka matanya perlahan, dilihatnya kini ia sedang berada di sebuah ruangan yang dia yakini sebagai salah satu kamar di Rumah Sakit. Dia mengalihkan pandangannya ke semua penjuru dan menangkap sosok ayahnya yang sedang duduk disampingnya sambil membaca Koran.

“Appa?!” sapa Jaejoong sambil tersenyum

“Joongie, appa senang.. akhirnya kau siuman juga”

“Appa, tidak kerja?” tanya Jaejoong yang heran melihat ayahnya ada disana, menemaninya

“Ahni, Appa mengambil cuti untuk 3 hari”

“Dari kapan?”

“Dari kemarin, soalnya Appa khawatir nggak ada yang menjagamu disini. Nak, apa cemas sekali waktu mendengar kabar dari Yunho kalau kau masuk RS lagi. Pokoknya lain kali kamu nggak boleh memaksakan dirimu seperti itu lagi, arraseo?!” tegas Tn.Kim sambil menatap putranya tajam

“Keunddae appa, aku hanya ingin…”

“Kau kan bisa melakukan terafi, jangan melakukannya sendirian!” potong Tn.Kim pula

“Mianhae, arra hal itu tak akan pernah aku ulangi lagi.. aku mau terafi saja”

“Nah itu kan jauh lebih baik, nanti akan Appa bicarakan pada doktermu..”

“Ne, appa gumawo…”

“Berusahalah Jae, suatu saat kamu pasti bisa jalan lagi..”  kata Tn.Kim sambil mengelus kepala putranya itu lembut

“Kyaaa, apppaaaa?!” teriak Jaejoong tiba-tiba, membuat Tn.Kim reflek mengelus dadanya karena kaget

“Joongie-a, berisik! Kenapa tiba-tiba kau teriak hah? Bikin kaget saja?!” bentak Tn.Kim

“Mianhae, appa. Sudah berapa lama aku disini, bagaimana dengan Junsu dan Yoon Rie.. apa mereka sudah bertunangan?” tanya Jaejoong

Tn.Kim menghela nafas panjang kemudian kembali diam tanpa mengatakan apapun

“Appa, jebal.. jawab pertanyaanku?!”

“Kau itu seperti biasanya seneng banget tidur di RS sih, sekarang sudah hari senin…” jawab Tn.Kim pula

“Mweo? Berarti hari sabtu sudah lewat, itu berarti mereka sudah bertunangan?” tanya Jaejoong dengan suara lirih, rasa sakit kembali menghujam dadanya

“Ne, hari sabtu sudah lewat.. tapi mereka belum bertunangan”

“Maksud appa?”

“Yoon Rie, kabur dari rumah.. sejak dia kabur dari rumah teman-temanmu sibuk mencarinya, tapi sampai saat ini.. mereka belum bisa menemukan Yoon Rie” jelas Tn.Kim

“Mweo? Eottokhae? Apa yang bisa aku lakukan Appa? Aku sangat mengkhawatirkan Yoon Rie. Appa, aku benar-benar merasa tidak berguna.. aku tidak layak menjadi calon suami Yoon Rie karena aku bahkan tidak bisa melindunginya..”

“Jangan seperti itu Joongie-a, bukan salahmu kalau kau tidak bisa melindungi Yoon Rie untuk sementara waktu.. makanya kau harus cepat sembuh ya Joongie?”

“Ne, Appa. Keunddae bagaimana dengan Yoon Rie, aku ingin sekali ikut mencarinya”

“Coba ingatanmu kembali, kau pasti tau dimana Yoon Rie sekarang…” ujar Tn.Kim pula

 

“Nuna, lihat.. ada gadis kecil sendirian disana”

“Nuguya?”

“Molla..”   

“Kita samperin yuk?!

“Sepertinya dia sedang sedih, makanya hanya bermain ayunan sendirian”

“Ne, Joongie-a.. Kajja kita hibur gadis kecil itu”

“Annyeong, kau sendirian. Apa enaknya bermainin di taman sendirian?”

“Yaa, Joongie!! Kok nanya nya kayak gitu sih..”

“Terus aku harus nanya apa?”

“Kenalan dulu donk, Annyeong namamu siapa?”

“Yoon Rie..”

“Aku Jaehee, ini adikku Jaejoong.. kelihatannya kau lebih muda dari adikku, jadi panggil saja aku Hee-Unnie, ne?

“Hee-unnie?”   

“Emh, mulai sekarang kita bertiga berteman yah? Jadi kenapa kau menangis Yoon Rie”

“Aku kabur dari rumah..”

“Mweo?”

“Habisnya aku kesal, Appa mau menikah lagi.. padahal aku masih sayang umma, aku nggak mau ada orang yang menggantikan posisi umma”

 

Tn.Kim semakin cemas, melihat putranya yang tiba-tiba saja memejamkan kedua matanya dan tampak sedang meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya, dan keringat dingin sudah bermunculan di wajah putranya itu.

“Joongie, wae?” tanya Tn.Kim panik,

Jaejoong masih tampak kesakitan, dia mengigit bibir bawahnya dan terlihat begitu menderita. Tn.Kim pun menurunkan tangan Jaejoong kemudian menggenggamnya erat, berharap sentuhannya itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit putranya.

“Nuna, Yoon Rie..” gumam Jaejoong

“Apa maksudmu? Appa panggilkan dokter dulu ya?” ujar Tn.Kim yang lekas berldiri dan menekan tombol darurat untuk memanggil dokter, Tn.Kim memang sudah memindahkan Jaejoong ke RS pusat Seoul beberapa hari yang lalu

“Appa, kepalaku sakit sekali…” cerita Jaejoong dengan suara lirih dan nafas satu-satu

“Sabar ya, nak? Bertahanlah dr.Choi akan segera datang” ujar Tn.Kim sebelah tangannya masih mengenggam tangan putranya dan sebelahnya lagi mengelus kepala putranya itu lembut.

“Yoon Rie, dia dulu pernah kabur dari rumah juga…” lanjutnya masih dengan suara lirih

“Tau darimana?” tanya Tn.Kim heran

“Tadi aku melihat Yoon Rie kecil dan Nuna di dalam kepalaku”

“Mweo? Kau ingat sesuatu Joongie…” kaget Tn.Kim dengan mata membesar

“Ne, tapi sekarang mereka sudah hilang dan kepalaku sakit sekali…”

“Kalau begitu tenanglah, cukup.. jangan paksakan dirimu untuk meningat-ngingat lagi Arra?! Wajahmu semakin pucat saja Joongie” lanjut Tn.Kim

“Appa…”

“Ne?”

“Senyuman nuna sangatlah indah, dia begitu manis saat tersenyum. Tapi kenapa aku malah sedih, melihat senyumnya itu” jawab Jaejoong, air matanya menetes membasahi wajahnya

‘Mungkin kau merindukannya, Joongie-a’ jawab Tn.Kim dalam hati

“Wajah nuna, mirip sekali denganku…”

“Ne, kalian berdua memang lebih dominan pada Umma kalian.. daripada sama Appa”

“Yoon Rie, dari kecil.. dia sudah cantik. Appa tidak usah cemas lagi, aku sudah agak baikkan…”

“Jinjja?”

“Ne, kepalaku sudah tidak terlalu sakit lagi” jawab Jaejoong sambil tersenyum pada Appa nya

“Kalau begitu kau istirahat ya, tidak usah memikirkan Yoon Rie dan lain-lain dulu, jangan membuat Appa cemas lagi, Arraseo?!” tegak Tn.Kim yang hanya di balas Jaejoong dengan anggukan dan senyuman simpul.

Beberapa detik kemudian dr.Choi datang bersama dua orang asistennya dan merekapun segera melakukan pemeriksaan terhadap Jaejoong.

>>O<<

Yeoja itu duduk di atas rerumputan hijau yang di beberapa tempat tertuntu tumbuh bunga-bunga mekar yang sangat indah.. sebagian bunga itu dihinggapi lebah madu dan ada juga yang dihinggapi kupu-kupu yang cantik dan lucu, di depan matanya terlukis pemandangan yang sangat indah. Sebuah danau yang airnya masih jernih, arus air yang tenang itu membuat perasaannya sedikit lebih nyaman.. ditambah lagi dengan semilir angin lembut yang menyejukkan tubuhnya. Yeoja itu menghela nafas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ayunan yang terletak beberapa meter dari tempatnya berada sekarang, kedua kursi ayunan itu kosong tak ada seorangpun yang menduduki ayunan itu.

Yeoja itu berjalan ke arah ayunan tersebut, sebuah ayunan yang tampaknya sudah lama dan usang, tidak terawat, warna cat besinya pun sudah pudar dan karatan bahkan kursi dudukan yang terbuat dari kayu itu sebagiannya sudah patah dan sebagiannya lagi di penuhi lumut. Taman itu memang sudah jarang di kunjungi orang, mereka semua tidak tahu bahwa sebenarnya di sekitar taman yang sudah tak terawat tersebut tersembunyi pemandangan yang sangat indah, yaitu danau dan hamparan rumput yang sempat di tempatinya tadi.

Yeoja itu menyentuh tiang ayunan tersebut, dia masih ingat betul di tempat inilah pertama kalinya dia bertemu dengan calon suaminya, Kim Jaejoong.

“Hee-unnie, aku sangat merindukanmu dan Joongie oppa? Unnie, masih ingat padaku tidak?” gumam yeoja itu, dirasakannya cairan hangat sudah membasahi wajahnya.

“Unnie yang ramah dan baik benar-benar cantik, senyumanmu juga sangat indah. Saat kita pertama kali bertemu.. dalam hitungan 20 detik saja unnie sudah memberiku ucapan yang sedikit bisa mengurangi kesedihanku saat itu”

 

“Aku Jaehee, ini adikku Jaejoong.. kelihatannya kau lebih muda dari adikku, jadi panggil saja aku Hee-Unnie, ne?

“Hee-unnie?”   

“Emh, mulai sekarang kita bertiga berteman yah? Jadi kenapa kau menangis Yoon Rie”

“Aku kabur dari rumah..”

“Mweo?”

“habisnya aku kesal, Appa mau menikah lagi.. padahal aku masih sayang umma, aku nggak mau ada orang yang menggantikan posisi umma”

“eh? Hahahaha…”

“Yaa, nuna kenapa kau malah menertawakan orang yang lagi sedih?! Keterlaluan sekali…”

“Siapa yang keterlaluan? Kau saja yang pabo Joongie”

“Yaa, apa maksud nuna?”

“Yoon Rie-a, masa hanya karena masalah itu kau kabur dari rumah? Umma kami pernah berkata, masalah itu harus dihadapi bukannya dihindari, arraseo?!”

“Tapi aku tidak mau mempunyai ibu tiri dan kakak tiri, aku takut mereka jahat padaku?!”

“Yoon Rie.. Yoon Rie, memangnya kau sudah kenal mereka? Ayolah, menurutku tidak semua ibu tiri atau saudara tiri itu jahat.. mungkin ada juga yang baik. Dan siapa tau saja, calon keluarga baru mu itu baik-baik orangnya”

“Tapi unnie, Appa bilang kalau mereka sudah menikah.. kami akan tinggal di Amerika untuk waktu yang lama? Shireo, aku suka tinggal di seoul aku punya banyak teman disini.. aku nggak mau berpisah dengan teman-temanku itu”

“Bulan depan aku, Appa, Umma, dan Joongie juga mau ke Jepang. Lalu katanya kami akan tinggal disana untuk waktu yang lama, dan unnie nggak tau.. entah kenapa unnie merasa, unnie tidak akan pernah bisa pulang ke seoul lagi. Keunddae, kepindahan kami kesana juga untuk masa depan kami.. jadi kami harus menurut. Kau juga Yoon Rie, sebaiknya kau juga menuruti perintah Appa mu”

“Yaa, Nuna!! Kau baru 11 tahun tidak usah berlaga sok dewasa seperti itu, sok tahu sekali sih?!”

“Diam kau Joongie?! walaupun aku masih kecil aku kan sering sekali diajari Umma dan Appa tentang banyak hal, jadi aku sedikit banyak mengerti tentang sesuatu. Nah, Yoon Rie.. kau sayang Appamu kan?”

“Tentu saja unnie..”

“Kalau begitu, kau harus menurut padanya?! Semua yang dilakukan Appa mu itu, pasti demi kebaikanmu juga kok, demi masa depanmu”

“Ah, kau cerewet nuna sama seperti umma?!”

“Aish, diam kau bocah kecil. Aku ini lebih tua 5 tahun darimu, jadi diamlah?! Kau harus bersikap sopan dan patuh padaku… jangan pernah melawanku, arraseo?!”

 

“Kalian sangat lucu saat bertengkar?! Ekspresi Hee-unnie yang tampak galak dan juga Joongie oppa yang langsung cemberut saat itu, berhasil mengembalikan senyuman dan tawa ku lagi. Aku sangat bahagia bisa kenal denganmu Unnie, walaupun hanya dalam waktu yang sangat singkat. Saat itu aku ingin sekali punya unnie sepertimu, berharap ibu tiriku itu mempunyai seorang putri seperti Hee-unnie… keunddae aku malah dapat oppa yang menyebalkan” ujar yeoja itu sambil terkekeh

 

“Yaa! Yoon Rie-a.. ternyata kau disini. Kami semua mencarimu kemana-mana, tau?!”

“Junsu oppa…”

“Temanmu?”

“Ne, unnie dia salah satu teman baikku”

“Annyeong, nuna cantik.. annyeong juga, eh siapa dia Yoon Rie?”

“Jaejoong, adiknya Hee-unnie”

“Jaejoong? Jadi kau namja, kenapa kau sama cantiknya dengan Hee-nuna?”

“Yaa! kurang ajar kau anak kucing…”

“Enak saja aku di bilang anak kucing, aku ini anak manusia, tau?!”

“Ne, kau ini tidak sopan Joongie-a. Keunddae, Junsu-a.. kau memang imut seperti anak kucing”

“Jinjja? Gomawoyo unnie cantik..”

“Mweo? Kenapa kalau aku yang mengataimu begitu kau marah? keunddae kau tidak marah dikatai nunaku seperti itu, aneh kau chubby”

“Yaa, diam kau! tadi kau mengataiku anak kucing, eh sekarang malah mengataiku chubby”

“Tapi, kau memang chubby.. sangat lucu. Coba adikku ini selucu kau, aku pasti akan bahagia sekali”

“Yaa, nuna! Kau jahat..”

“Jinjja, kau mau aku jadi adikku? Boleh nuna, si Jae kau buang saja hehehe”

“Yaa, memangnya aku sampah yang harus di buang?!”

“Masa bodo?! Yoon Rie-a, pulanglah Appa mu sangat mengkhawatirkanmu?!”

 

Yeoja itu tertawa sendiri, mengingat kenangan masa lalu nya itu. Kesedihannya seakan telah meluap ke atas, dan senyuman manis kembali terukir di bibirnya.

“Yaa! Yoon Rie-a.. ternyata kau disini. Kami semua mencarimu kemana-mana, tau?!”

Terdengar kalimat yang sama seperti belasan tahun yang lalu, namun kali ini suara orang itu bukan suara seorang namja kecil tetapi namja dewasa. Yeoja itu pun menoleh ke belakang dan matanya membulat seketika karena kaget.

“Junsu oppa, kenapa kau bisa tau kalau aku disini?”

“Yoon Rie-a, pulanglah semua orang sangat mengkhawatirkanmu?! Sampai kapan kau mau lari dari masalah, kau tidak berubah dibanding kau belasan tahun yang lalu. Selalu saja kabur dari rumah, aku mengerti perasaanmu.. keunddae kenapa harus sampai kabur dari rumah?”

“Aku tidak mau pulang, kecuali kalau mereka membatalkan perjodohan kita?!” tegas Yoon Rie

“Jangan pikirkan perjodohan kita, pikirkanlah mereka semua yang sangat mengkhawatirkan dirimu Yoon Rie-a. Yoochun, selama 4 hari ini dia bahkan kurang tidur karena terus mencarimu.. dia takut terjadi sesuatu padamu, Yoon Rie-a. Karena itu pulanglah Yoon Rie-a?!”

“Shireo, Appa dan Eomma pasti akan semakin memaksakan kehendak mereka padaku, kemudian menceramahiku tanpa henti. Pokoknya aku tidak mau pulang?!”  teriak Yoon Rie, dengan kesal Junsu pun melayangkan tangannya ke pipi Yoon Rie

“Yaa, oppa kenapa kau menamparku, hah?” bentak Yoon Rie sambil terisak dan menyentuh pipinya yang terasa ngilu dan memerah

“Apa sakit? Itu tak seberapa Yoon Rie-a, karena aku mengurangi tenagaku?! Keunddae kau harus pulang, Yoochun sangat keras kepala.. dia terus mencarimu sampai lupa makan dan minum. Kalau terus seperti itu, dia bisa sakit? Tidakkah kau mencemaskan kakakmu itu, hah?” bentak Junsu sambil menatap Yoon Rie dengan tatapan tajam bagaikan elang yang sedang mencari mangsa

“Okay, aku akan pulang tapi aku belum siap untuk pulang ke rumah dulu?! Aku belum siap bertatapan muka dengan Appa dan Yoohae Eomma?!” ujar Yoon Rie pada akhirnya

“Baiklah, kalau begitu untuk sementara kau tinggal di rumah Hyechan saja?!”

“Mweo? Hyechan? Memangnya dia tidak benci aku karena sekarang aku adalah calon istrimu, oppa?”

“Hahaha, tentu saja tidak yeojacinguku itu kan orang yang sangat baik hati dan lembut. Justru dia juga sangat mengkhwatirkanmu begitu tau kalau kau kabur dari rumah, Hyechan itu kan sahabatmu Yoon Rie-a. So, kau mau kan? Aku yakin sekali Hyechan juga pasti tidak akan keberatan, kok?! Nanti, kalau kau sudah siap.. pulanglah ke rumahmu” ujar Junsu sambil tersenyum

“Ne, gumawo Junsu oppa?!”

“Kajja, kita ke rumah Hyechan.. Setelah kita sampai, aku akan segera menelpon Yoochun?!” ajak Junsu yang kemudian menggandeng tangan Yoon Rie

>>O<<

 

“Jinjja? Ingatan putra ku sudah mulai kembali?” tanya Tn.Kim, setelah dr.Choi menceritakan tentang kondisi putra nya itu

“Ne, keunddae.. kurasa ingatannya yang kembali akan bertahap”

“Maksud anda, dok?”

“Dalam kasus Jaejoong-ssi, ingatannya akan kembali secara perlahan.. yaitu dimulai dari ingatan lamanya sampai ingatannya sebelum kecelakaan yang di alami nya setahun yang lalu. Tapi saya sarankan, kalian jangan memaksanya untuk segera mengingat-ingat deretan kejadian yang pernah dia alami. Perlahan-lahan saja, biarkan hal itu mengalir sendiri seperti air.. sebab bila dipaksakan saya takut, kondisinya malah akan semakin memburuk. Dalam kasus tadi saja, dia sudah mengalami sakit kepala yang hebat.. padahal memorinya yang kembali itu baru sedikit” cerita dr.Choi pula

“Baik dok, saya mengerti… saya juga akan selalu mengawasinya agar tidak memaksakan diri”

“Emh, terimakasih atas pengertian anda Tn.Kim”

“Dokter, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan?”

“Silahkan, Tuan”

“Putraku ingin segera melakukan terafi, apa bisa? Keunddae dalam waktu dekat ini, dok?! Soalnya Jae sepertinya ingin cepat-cepat bisa jalan lagi..”

“Maaf sebelumnya Tn.Kim, bukankah saya pernah mengatakan bahwa kemungkinan besar putra anda akan lumpuh permanen?!”

“Ne, saya paham dok.. keunddae, tidak ada salahnya jika mencoba bukan? Saya mohon dokter, saya sangat memahami perasaan putra saya.. sebab itulah saya ingin setidaknya Jaejoong berusaha dulu, siapa tau dengan keinginannya yang kuat.. dia akan sanggup melakukannya dokter?!”

“Baiklah, kalau memang putra anda serius ingin melakukan terafi ini.. namun sebaiknya menunggu keadaannya benar-benar sehat dulu baru kita lakukan”

“Arra, gamsahamnida dokter. Keunddae  saya mau tanya, kira-kira saat Jae melakukan terafi nanti.. apakah akan ada resikonya?”

“Karena itu terafi pertama, mungkin pasien akan sering jatuh.. itu saja kemungkinannya?! Banyak berdo’a saja Tn.Kim, saya anjurkan terafi itu dimulai minggu depan saja?!”

“Baiklah dokter, gamsahamnida?!” ujar, Tn.Kim sambil tersenyum dan di balas dr.Choi dengan anggukan

‘Joongie-a, teruslah berusaha.. berjuanglah semaksimal mungkin, kau pasti akan segera sembuh’

>>O<<

 

“Yoon Rie-a, kau dimana?” gumam Yoochun sambil terus memperhatikan jalanan yang dilewatinya

“Yoochun hyung, ini sudah sore.. bagaimana kalau kita lanjutkan pencariannya besok saja?” tanya Changmin sambil tetap fokus menyetir

“Shireo, aku tidak bisa menunda-nunda waktu?! Pokoknya aku akan terus mencari Yoon Rie sampai ketemu, kalau kau sudah lelah kau bisa pulang duluan sana! Biar aku yang mencarinya sendiri, lagipula siapa yang ingin kau temani, kenapa kau tidak pergi bersama Junsu atau Yunho hyung saja?”

“Aish, dasar keras kepala. Lihat dirimu! Kau tampak lesu dan wajahmu pucat, bahkan lingkaran hitam di matamu sudah semakin membesar karena selama beberapa hari ini kau kurang tidur, kalau bukan karena Yunho hyung yang menyuruhku aku juga tidak sudi pergi bersama orang se’egiois kau”

“Kau bicara seperti itu karena Yoon Rie itu bukan adikmu, kan?” sela Yoochun

“Aish, munafik! Bukankah alasan sebenarnya kau begitu mencemaskan Yoon Rie itu, karena dia adalah yeoja yang kau cintai, hah?” sinis Changmin pula “Sadarlah, Yoochun hyung?! Yoon Rie hanya menganggapmu kakaknya, tidak ada sedikitpun perasaan cinta padamu.. harusnya kau lupakan dia dan cari yeoja lain. Ingatlah hyung, Yoon Rie itu calon istri Jaejoong hyung dan dia juga hanya mencintai Jaejoong hyung?!” lanjut Changmin dengan nada tegas

“Aku tau Changmin-a, aku juga sudah berusaha.. keunddae menyingkirkan Yoon Rie dari hatiku itu sangat sulit Changmin. Semakin aku berusaha untuk melupakannya, aku malah semakin ingin terus bersamanya.. aku ingin Yoon Rie menjadi milikku Changmin-a, hanya milikku. Bukan milik Jae ataupun Junsu?!”

“Aish, dari dulu kau memang sangat manja dan egois.. susah dibilangin. Sadarlah, Yoochun hyung di dunia ini masih banyak yeoja lain, jangan sampai kau menyesal nanti?!”

“Shut up! Berhenti mengguruiku, kau pikir kau siapa hah? Kau bukan Appa ku atau eommaku dan juga bukan dosenku, jadi diam lah! Kau hanya temanku yang sekaligus sudah ku anggap sebagai adikku, jadi kau tidak berhak bersikap sok dewasa padaku?!” bentak Yoochun pula.

Dengan kesal, Changmin menginjak pedal rem sekaligus.. membuat mobil Yoochun berhenti secara mendadak dan tubuh mereka condong ke depan dan hampir membentur stir di depannya.

“Yaa, are you crazy? Kau hampir melukai dirimu sendiri sekaligus melukai ku Changmin-a?!” teriak Yoochun, Changmin menatap tajam hyungnya itu dengan matanya yang sudah melotot dan terlihat begitu mengerikan

“Dengar?! Aku seperti ini karena aku peduli padamu hyung, tidakkah kau tau aku sangat mengkhawatirkanmu?! Aku bahkan sampai rela mengurangi porsi makanku, karena kau jarang sekali makan sejak beberapa hari yang lalu. Memangnya perutmu tidak terasa lapar dan perih, hah?” bentak Changmin pula

“Aku tidak makan, karena di luar sana Yoon Rie mungkin juga tidak makan selama beberapa hari ini. Bagaimana kalau dia sakit di luar sana tanpa ada yang merawatnya? Bahkan, bagaimana kalau di luar sana dia bertemu dengan orang-orang jahat?!”

“Apa kau tidak bisa tenang, hah? Yang mencarinya bukan hanya kita berdua, aku yakin salah satu diantara mereka semua pasti bisa menemukan Yoon Rie, lagipula yeoja itu sudah dewasa.. jadi dia pasti bisa melindungi dirinya sendiri?!”

“Damn, kau benar-benar tidak mengerti perasaanku ya?”

“Aku mengerti hyung, keunddae…” ucapan Changmin terhenti karena tiba-tiba ponselnya berdering

Changmin merogoh ponselnya di saku, lalu mengeceknya.. ternyata itu adalah pesan dari Junsu.

“Changmin-a, aku sudah menemukan Yoon Rie. Sekarang dia ada di rumah Hyechan dan akan menginap untuk sementara waktu, bagaimanapun caranya kumohon urusi Yoochun.. aku ingin dia istirahat, lakukan cara apapun agar dia mau istirahat.. jebal aku sangat mengkhawatirkannya”

‘Baiklah, hyung’ pikir Changmin yang kemudian tersenyum

Changmin turun dari mobil Yoochun, kemudian berjalan ke area sebelah lalu menyeret Yoochun untuk turun dari mobil itu juga.

“Yaa, mau apa kau hah?” tanya Yoochun sambil terus berusaha melepas cengkraman Changmin

“Lihat, di depan ada restoran, kita makan dulu yuk? Jebal, aku lapar hyung?” ujar Changmin dengan tampang memelas

“Kenapa yang ada di dalam otakmu cuma makan, shireo?!” tegas Yoochun,

Dengan gerakan cepat “Buuugghhh” changmin pun memukul perut Yoochun dengan sangat keras, sampai Yoochun tidak sadarkan diri dan jatuh dalam pelukannya.

“Mianhae, hyung?! Aku terpaksa melakukan ini semua karena kau begitu keras kepala, kau sudah lelah hyung.. bahkan kau mungkin dehidrasi. Buktinya hanya dengan satu pukulanku saja, kau langsung pingsan seperti ini” ujar Changmin yang kemudian menggendong Yoochun ke dalam mobil dan membawanya ke Rumah Sakit.

>>O<<

 

“Bagaimana, apa kau sudah melihat tanda-tanda dimana Yoon Rie berada?” tanya seorang namja kepada yeoja yang tengah duduk di sampingnya, dengan pandangan tetap fokus pada jalanan di depannya.

“Belum, oppa? Aigoo, sebenarnya Yoon Rie pergi kemana sih? Merepotkan orang saja tuh anak, oppa kemana lagi ya kita harus mencarinya? Sejak beberapa hari yang lalu kita sudah mengunjungi semua tempat yang sering di datangani Yoon Rie, keunddae.. dimana pun tidak ketumu?! Minhye juga belum bisa menemukannya?”

“Molla, aku juga bingung. Andai saja amnesia Jae sudah sembuh, dia pasti tau dimana Yoon Rie berada dan kita akan segera menemukannya dalam waktu singkat” jawab namja itu pula

“Ah, Yunho oppa.. ada pesan dari Hyechan?!” seru yeoja itu setelah mengecek ponselnya yang baru saja berbunyi

“Jinjja? Coba kau baca Sae Rye! Mungkin, Hyechan sudah menemukannya?!” saran Yunho pula, dan Sae Rye pun mulai membaca pesan singkat itu

“Sae Rye-a, Junsu oppa sudah berhasil menemukan Yoon Rie dan sekarang dia sedang istirahat di rumahku, dia juga akan tinggal sementara bersamaku. Jadi kalian tidak usah cemas lagi, Yoon Rie baik-baik saja kok”

Yunho memarkirkan mobilnya sejenak, kemudian tersenyum mendengar kabar itu, begitu pula dengan Sae Rye.

“Hah, aku lega sekarang.. oppa kita makan malam berdua, yuk? Aku sudah lapar nih?!”

“Jinjja? Kau serius mengajakku?” tanya Yunho heran

“Hmm, satu lagi.. aku ingin melupakan Yoochun oppa. Apa kau mau membantuku?:”

“Eh? Tentu, tapi apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?”

“3 bulan” ujar yeoja itu sambil tersenyum

“Maksudmu?” tanya Yunho masih bingung

“Jadilah namjacinguku selama 3 bulan, kalau dalam waktu 3 bulan itu aku bisa melupakan Yoochun oppa.. aku ingin kita meneruskan hubungan kita sampai pada tahap yang serius” jawab Sae Rye sambil tersenyum manis pada Yunho

Dheg! Dheg! Jantung Yunho dag dig dug, tak karuan dan dia bengong karena masih belum percaya dengan ucapan Sae Rye barusan

‘Benarkah? Ataukah dia hanya becanda saja?’ pikir Yunho masih bengong

“Aku serius, oppa?! Tapi kalau misalnya kau keberatan karena tidak mencintaiku juga tidak masalah, aku bisa mencari namja yang lain kok, jadi bagaimana apa kau mau?” lanjut Sae Rye seakan bisa mendengar kata hati Yunho, kemudian dia mengecup pipi namja itu yang sukses membuat semburat merah di wajah namja itu.

“Tentu, karena sebenarnya aku… sebenarnya aku.. mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu Sae Rye-a” ungkap Yunho yang sukses membuat Sae Rye kaget, karena tidak menyangka bahwa selama ini ternyata Yunho mempunyai perasaan terhadap dirinya.

“Oppa, serius? Oppa benar-benar mencintaiku?” tanya Sae Rye sambil menatap mata Yunho penuh

“Apa aku terlihat becanda? Bukankah kau sendiri juga tau, kalau aku ini bukan tipe orang yang suka becanda ataukah kau merasa tidak yakin dengan perasaanku ini. Mianhae Sae Rye, selama ini aku sama sekali tidak bermaksud untuk merebutmu dari Yoochun apalagi menghancurkan hubungan kalian. Keunddae, aku sudah tidak tahan memendam perasaan ini terus-menurus.. sebab hal itu benar-benar membuat hatiku tersiksa. Selama ini aku mencintaimu, aku ingin sekali mencintaimu.. keunddae aku tidak bisa mencintaimu karena kau hanya mencintai Yoochun, kan?” tegas Yunho panjang lebar

“Kalau begitu mengapa kau tidak mengungkapkan perasaanmu padaku sejak dulu oppa, sebelum aku terlalu mencintai Yoochun oppa seperti ini?”

“Karena kau pacar Yoochun, pacar sahabatku”

“Mweo? Jadi hanya karena alasan itu? Sudahlah oppa, mulai detik ini kita jadian saja ya?”

“Keunddae, bagaimana dengan Yoochun?!” tanya Yunho masih ragu-ragu

“Sejak masalah yang terjadi diantara kami aku sudah putus dengannya, keunddae setelah aku memutuskan ikatan kami, reaksinya biasa saja… kurasa dia tidak peduli. Jadi, kau tidak usah cemas soal itu lagi oppa, satu lagi oppa jangan berpikir kalau oppa hanya pelarianku saja”

“Wae? Bukankah itu memang kenyataannya dan aku juga tidak keberatan, kok”

“Bukan oppa, aku sama sekali tidak berpikir kau itu hanya sekedar pelarian. Aku membuat keputusan ini, sebagai usahaku dalam menemukan cinta yang baru, oppa percaya kan?”

“Ne, gumawoyo Sae Rye-a..” jawab Yunho sambil tersenyum, dia benar-benar bahagia hari ini

“No.. no.. mulai sekarang panggil aku jagiya, oke?!”

“Ne, baiklah. Keunddae, bagaimana kalau misalnya dalam waktu 3 bulan itu.. kau masih belum bisa melupakan Yoochun? Apakah kau akan kembali padanya?”

“Kalau begitu oppa berusahalah untuk membuatku benar-benar jatuh cinta padamu, sebelum waktu 3 bulan itu.. kalau kau tidak berhasil membuatku jatuh cinta padamu, aku akan mencoba untuk mencintaimu, oppa. Jadi intinya, berhasil atau tidaknya misimu itu.. aku tetap akan membuka hatiku untukmu oppa”

“Gumawo..” seru Yunho yang kemudian memeluk Sae Rye erat

‘Buatlah aku mencintaimu, oppa?’ pikir Sae Rye pula.

 

=>To Be Continued<=

 

                                                                                                                  

Udah dulu yaH? Ngetiknya cape.. lagian chap ini udah kepanjangan juga. Ayo kasih komen dan kritik, jangan jadi SILENT READER, jadilah GOOD READER! aku cape bikinnya tau.. jadi mohon dukungannya. GAMSAHAMNIDA #Bow ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9 thoughts on “Aisenai Aishitai Chap 3

  1. euchan she peef berkata:

    jae oppa..
    Fighting!!^^
    semoga jaeppa bisa jalan lagi..

    Wow!
    Yunho kejam juga yh..
    Ckckck..
    Lanjut kan eonni..^^
    Fighting..!!😀

  2. dkrain jae’a bakal pulih stlh jtuh itu,eh ternyata,,,,,
    emank’a jaehee unnie itu skrng kmn?? Kok udh ga prnh kdgran kbr lg?
    Ternyata junsu, jejung, sm yoon rie itu udh knl dri kcl toch..

    • Kalo ingtnnya lngsng pulih entar nggak seru donk say ehehehe😀
      JaeHee unnie’A dah meninggal, kn d chap 1 jg udh djelasin scra singkt padat dan jelas #enangnya news
      Iya mrka udh kenalgo dari kecil ^^

      Gumawo udh nyempetin baca sekaligus komen🙂

  3. jaejoong pasti bisa jalan.. hehehe

    changmn pikirannya tetep 1 ya.. makanan terus

    junsu kok nampar cewe’ya??
    ish gk ada perasaannya..

    yoochun egois banget sih..
    sampe dia gak ngerawat dirinya sendiri

    yunho.. cie yang baru jadian hehehe

    NICE FF CHINGU

  4. chunnie_man berkata:

    Wah junsu oppa inget dimana tmpt persembunyiin yoon rie,ternyata mereka temenan dri kecil sama nuna jj yang udah meninggal.jj oppa fighting mudh2an bisa jln lagi.yunho oppa fighting smoga mendptkan cintanya.dan siplayboy chun oppa akan menyesal nnti.*dilemparchun.hemm author ditunggu lanjutan partnya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s