DUMB


Title:DUMB

Cast:

–          Park Yuchun

–          Kim Jaejoong

–          Park Sang Yoo a.k.a Elly

–          Shin Rei Na a.k.a Asri R Saputri

Genre: Drama kalo ga romance. Mungkin akan bertambah seiring berjalannya cerita.

Rating: PG13 /Straight

Author: Lee Eun Ri a.k.a Kumiko a.k.a Chinatsu

 

a/n: ff ini dpt inspirasi dari film Hollywood yang judulnya ‘Blind’. Author lupa siapa yang maen yg jelas cast cowonya ganteng bgt deh😛 hehehe😆 n jalan ceritanya menurut author jauh banget deh. Ga ada yang author ambil/jiplak satu pun…suweeer ^^v satu lagi author minta maaf klo ada kesalahan ketik soalnya ga di edit dulu. Mian

 

Happy reading

 

YUCHUN POV

 

Aku melihat yeoja manis itu lagi di arena ice skating, yeoja itu berpegangan di pinggir arena dan maju pelahan dengan takut. Wajahnya terlihat sangat ketakutan membuatku ingin menghampirinya tapi aku terlalu pengecut hingga sudah 1 tahun ini aku hanya melihatnya dari jauh. Aku bernapas lega saat melihat ada temannya yang seorang yeoja membantu yeoja manis yang setahun ini kucintai diam-diam. Sering kumengikutinya sampai rumah hanya sekedar ingin melihatnya selamat sampai di rumah. Perlahan kudekati yeoja itu, ia duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari arena ice skating.

 

Aku duduk tak jauh darinya, kutatap wajahnya yang manis dan sedang tersenyum itu. Ia selalu tersenyum dan tak pernah kulihat yeoja itu bersedih atau pun menangis. Tak pernah bisa kuberpaling darinya. Aku selalu mengingatnya  dimana pun aku berada. Aku mempunyai beberapa fotonya yang kuambil secara diam-diam dengan kamera milikku.

 

“hei” panggil seseorang sambil menepuk pundakku yang berhasil membuatku yang tengah asik menatap yeoja pujaanku menjadi kaget setengah mati. Kulihat kebelakang dan melihat ternyata jaejoong. Aku menatapnya kesal. Namja itu hanya terseyum dan duduk di sebelaku. Kulihat jaejoong menatap ke arah yeoja yang kutatap tadi lalu kembali menatapku dengan senyuman yang menurutku sangat menakutkan bagaikan iblis dari neraka.

 

“masih saja kau mengikuti yeoja itu. Rajin sekali. Kenapa kau tidak menyapanya saja dan berusaha mendekatinya? Sudah satu tahun kau terus seperti ini. Hanya menatap yeoja itu dari jauh dan tak pernah melakukan apa-apa. Apa kau tidak takut jika yeoja itu di ambil namja lain?” ucap jaejoong membuatku berpikir. Sepertinya apa yang di katakan sahabatku ini ada benarnya, jika tak segera mendekatinya aku pasti akan kehilangannya dan mungkin yeoja itu akan di rebut oleh namja lain. Aku tak bisa melihat yeoja manis itu bersama namja lain. Aku hanya ingin yeoja itu bersamaku, mungkin ini terdengar egois tapi aku benar-benar mencintainya dan ingin membahagiakannya. Kutatap namja di sebelahku, ia tersenyum setan padaku yang membuatku merinding.

 

“jangan tersenyum seperti itu padaku, membuatku merinding dengan senyuman setanmu. Aku akan segera mendekatinya, puas? Ngomong-ngomong dimana yeojachingumu? Aku tak melihatnya? Biasanya kau selalu bersamanya.” Tanyaku sambil mencari sekeliling. Jaejoong menunjuk kesuatu arah tempat dimana yeojachingu jaejoong berada.

 

“eun ri ada di sana sedang membelikanku makanan. Seperti biasa dia melarangku makan makanan kesukaanku karena takut aku sakit. Sedikit menyebalkan tapi aku senang dengan perhatiannya padaku.” Jawab jaejoong ssambil tersenyum. Aku senang melihat sahabatku bahagia.

 

“ah iya, semoga kau sukses mendekati yeoja itu dan segera mendapatkannya. Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu yang kau katakan kemarin?” ucap jaejoong.

 

“gumawo. Pekerjaanku sudah hampir selesai karena kau menyarankanku mencari ilham di tempat yang kau katakan kemarin aku jadi bisa kembali mengerjakannya. Ah itu eun ri mencarimu.” Jaejoong pun berpamitan padaku. Kulihat namja itu pergi mendekati yeojachingunya.

 

Aku kembali menatap yeoja manis yang sangat kucintai. Kutatap dengan lembut sambil memikirkan cara untuk mendekati yeoja itu. Tak lama kulihat yeoja itu pergi dengan temannya. Temannya itu memang selalu ada di dekat yeoja manis itu selama setahun ini. Aku pun berdiri dan kembali mengikuti yeoja itu sampai di depan rumahnya.

 

Setelah melihat yeoja manis itu masuk ke dalam rumah aku pun pulang ke rumahku. Selama perjalanan pulang aku terus memikirkan cara untuk mendekati yeoja manis itu. Sampai di rumah aku menaruh tasku dan membersihkan tubuhku. Kupikir pasti tidak akan bisa mendekati yeoja itu dalam waktu dekat karena aku mulai besok akan sangat sibuk.

( ^o^ )  ( ^o^ )  ( ^o^ )

 

Sudah beberapa hari ini aku sibuk dengan pekerjaanku sebagai novelis. Aku sangat rindu pada yeoja itu tapi aku benar-benar tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Terkadang jaejoong meneleponku dan memberitahukan tentang yeoja yang kucintai, jaejoong meneleponku karena namja itu bilang tak sengaja melihat sang yeoja saat sedang berjalan-jalan dengan eun ri.

 

Aku mendesah dan meregangkan otot lenganku yang pegal. Sudah berjam-jam aku melukis membuatku sangat lelah. Kulihat ponselku tidak ada pesan maupun telepon dari jaejoong. Aku berharap jaejoong kembali bertemu secara tak sengaja dengan yeoja manis itu dan meneleponku lalu memberitahukanku tentang yeoja manis itu. Jika bukan karena pihak penerbit yang mendesakku agar novelku segera di selesaikan, aku pasti sekarang sedang mengikuti yeoja manis itu ke tempat kuliahnya.

 

Aku berjalan menuju taman di depan rumahku. Aku duduk di kursi yang ada di sana dan menghirup udara segar. Hal itu menyejukkan dan menenangkan pikiranku yang sedang kacau. Kupejamkan mataku dan melihat bayangan yeoja manis itu muncul tiba-tiba membuatku tersenyum. Kubuka mataku dan kembali masuk ke dalam rumah, aku mengambil kunci mobilku. Aku memutuskan untuk keluar mencari inspirasi.

 

Aku mengelilingi beberapa kota seoul agar mendapatkan inspirasi hingga akhirnya aku lelah dan memutuskan untuk mengunjungi café terdekat. Kupesan minuman dan makanan kecil. Saat akan duduk aku melihat ada satu meja yang kosong tapi sayang saat aku akan menghampirinya sepasang kekasih langsung menempati meja itu. Kulihat sekeliling ternyata sudah tidak ada tempat. Pandanganku terhenti saat melihat ada seseorang yang tengah duduk sendirian di dekat jendela. Aku hanya bisa melihat punggung orang itu, jika melihat dari rambutnya yang panjang aku pikir itu pasti seorang yeoja. Aku pun menghampiri orang itu dan betapa kagetnya, aku melihat orang itu ternyata yeoja manis yang selama ini kucintai.

 

Aku diam dan hanya menatap yeoja itu penuh rindu. Aku sedikit tersentak saat yeoja itu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahku. Aku melihat yeoja itu seolah bertanya padaku ada apa. Aku pun mengangguk dan menanyakan apa yeoja itu sedang menunggu seseorang. Yeoja itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

 

“apa boleh aku duduk di sini? Aku tadi sudah memesan tapi ternyata meja yang tadi kulihat kosong sudah di tempati orang terlebih dahulu.” Ucapnya ramah. Yeoja itu pun tersenyum padanya dan mempersilahkannya untuk duduk di kursi depan. Ia pun duduk, ia menatap yeoja itu dan berterima kasih. Ia sangat senang dengan pertemuan tak terduga ini, ia merasa tuhan mengijinkannya untuk mendekekati yeoja manis di depannya ini.

 

“aku park yuchun kau bisa memanggilku yuchun. Namamu?” tanyaku. Kulihat yeoja itu bukannya menjawab malah mengeluarkan buku kecil lalu menulis sesuatu. Ia memperlihatkan buku kecil itu padaku. Kulihat sebuah nama, sang yoo nama yang cukup indah bagiku.

 

“itu namamu?” tanyaku yang di jawab anggukan olehnya sambil tersenyum. senyuman yang kini tertuju hanya untukku, tak seperti biasanya yang kulihat dari jauh senyumannya.

 

“namamu sangat bagus dan cantik sesuai dengan orangnya. Kau sering kemari?” ucapku sedikit merayunya. Ia kembali mengangguk menjawab pertanyaanku. Kulihat ia kembali menulis sesuatu dan tak lama ia tunjukkan padaku.

 

apa kau juga sering kemari? Aku jarang melihatmu di sini.

 

Aku menatap yeoja itu setelah membacanya. Aku sedikit bingung kenapa yeoja itu selalu bertanya dan berkomunikasi denganku melalui tulisan.

 

“aku baru pertama kali kesini. Sejak jam 10 tadi aku pergi jalan-jalan untuk mencari inspirasi untuk pekerjaanku.” Jawabku jujur. Ia mengerutkan dahinya lalu kembali menulis dan lagi-lagi memperlihatkannya padaku.

 

Memangnya apa pekerjaanmu?

 

“aku seorang novelis. Aku harus segera menyelesaikan novelku dengan segera karena pihak penerbit mengatakan akan segera menerbitkan novelku.” Jawabku jujur. Kulihat ia membelalakan mata dan tersenyum. ia terlihat bersemangat mendengar jawabanku. Ia kembali menuliskan sesuatu dan menunjukannya padaku.

 

Novel apa yang kau buat? Judulnya apa?

 

“novel yang kubuat itu ‘journey’ dan sekarang aku sedang membuat lanjutannya.” Jawabku. Ia terlihat senang dan mengeluarkan sesuatu dan memberikannya padaku. Aku tersenyum, ia memiliki novel yang kubuat. Kutersenyum padanya dan melihat ia kembali menulis.

 

Kupikir awalnya namamu dan penulis novel itu hanya kebetulan sama, ternyata kau sendiri yang menulisnya. Aku salah satu penggemar novelmu bolehkah aku minta kau menandatangani novel itu? aku sangat senang bertemu dengan penulis novel favoritku.

 

Aku tersenyum membacanya dan meminjam pena agar bisa kutandatangani novelku. Ia dengan cepat memberikan pena padaku. Aku pun menuliskan kata-kata untuknya lalu menandatanganinya di bawah tulisanku itu. kuberikan novel itu kembali padanya beserta penanya. Ia menerimanya dengan sangat senang lalu melihat tulisan dan tandatanganku. Ia terus ternyaum lalu tak lama kulihat ada semburat merah di wajahnya. Kurasa ia malu dengan tulisan yang kubuat untuknya.

 

Gumawo, aku senang sekali.

 

“sama-sama. Aku pun senang bertemu denganmu. Maukah kau datang di peluncuran novelku jika sudah selesai?” tanyaku. Ia pun dengan cepat mengangguk. Aku meminta buku kecil miliknya lalu menuliskan nomor ponselku. Kuberikan lagi buku kecilnya.

 

“boleh aku meminta nomor ponselmu?” tanyaku yang di jawab anggukan olehnya. Aku memberikan ponselku padanya agar ia bisa memberikan nomornya langsung. Saat ia mengetik nomornya di ponselku pelayan datang dengan membawa pesananku. Aku mengangguk berterima kasih. Yeoja itu memberikan ponselku lagi, kulihat nomor yang ia berikan lalu mengubah id callernya yang awalnya sang yoo menjadi my lovely girl.

 

Aku makan sambil mengobrol dengannya, ya bukan mengobrol dengan normal karena setiap aku mengajaknya mengobrol ia selalu menjawab/meresponnya dengan menulis di buku kecilnya. Aku tak tau kenapa ia tak mau mengeluarkan suara karena sejak tadi aku tak mendengar suaranya sedikit pun. Aku ingin sekali mendengar suaranya.

 

Setelah sekitar 2 jam kami asik mengobrol akhirnya aku dan sang yoo pulang. Kutawarkan untuk mengantarnya pulang tapi ia menolak dan menunjuk sebuah mobil yang berada tepat di depan mobilku.

 

“mobilmu?” tanyaku. Ia mengangguk pelan. aku tersenyum melihatnya.

 

“kalau begitu hati-hati di jalan. Ayo cepat masuk.” Ucapku. Tapi ia memandangku dengan tatapan bingung.

 

“aku akan masuk jika sudah melihatmu pergi.” Ucapku yang mengerti tatapannya. Ia pun tersenyum dan mengangguk berpamitan pergi.

 

Setelah itu aku pun masuk dan pulang ke rumah. Sampai di rumah aku berteriak senang karena pertemuan tadi. Aku benar-benar sangat senang sekaligus bahagia. Mulai sekarang aku bisa berdekatan dengan yeoja yang sangat kucintai. Tak lama aku mengingat nomornya tadi yang minta. Kukeluarkan ponselku dan meneleponnya tapi sayang ia merejectnya. Aku mengerutkan dahiku lalu mengiriminya pesan.

 

Apa kau sedang sibuk? Mianhae jika telepon dariku mengganggumu. Aku hanya ingin tau apa kau sudah sampai rumah.

 

Kukirim pesan itu pada sang yoo. Kuharap yeoja itu tak marah karena aku menganggunya. Tak lama aku mendapat pesan darinya.

 

Anni, aku tidak sedang sibuk. Kau tak menganggu hanya saja aku malu. Apakah kau keberatan jika kita hanya saling mengirim pesan? Oiya aku sudah sampai rumah 15 menit yang lalu.

 

Aku tersenyum saat melihatnya ternyata tak marah padaku. Aku mencium-cium pesan darinya seperti orang gila. Aku kembali membalas pesannya.

 

Baiklah tak apa, kita saling mengirim pesan saja jika kau malu. Ah syukurlah jika kau sudah sampai di rumah.

 

Aku menaruh ponselku di meja samping tempat tidurku. Lalu aku berjalan menuju laptopku untuk meneruskan mengetik novelku yang tadi sempat terunda.

 

(^_^)  (^_^)  (^_^)

 

Sudah 3 minggu sejak aku bertemu dengan sang yoo, kami semakin dekat. Aku sering menemuinya di café atau tempat lain. Tapi jika tidak bisa bertemu seperti biasa kami akan saling mengirim pesan. Satu hal yang membuatku sangat bingung, sang yoo tak pernah mengeluarkan suaranya saat bersamaku. Ia selalu diam dan hanya mengobrol denganku melalui tulisan yang ia tulis. Aku ingin bertanya namun aku takut ia tersinggung jadi aku hanya diam saja. Aku berpikir untuk mencari tahu tentang itu nanti jika ada kesempatan.

 

Kini aku melanjutkan novelku yang tertunda, minggu depan aku sudah harus menyerahkan novelku. Penerbit sudah menentukan deadlinenya padaku karena mereka sudah tak bisa lagi menunggu. Aku harus segera menyelesaikannya karena setelah ini aku bisa mencari tahu tentang sang yoo yang tak mau mengeluarkan suaranya. Satu-satunya cara agar aku tau tentangnya adalah teman sang yoo yang selalu aku lihat jika berada di arena ice skating.

 

Berjam-jam aku terus mengetik novel di laptopku agar cepat selesai. Aku merasa jika sebentar lagi kulanjutkan aku akan segera menyelesaikan novelku ini dan bisa kuberikan pada pihak penerbit. Lalu setelah itu aku bisa mulai mencari tau tentang sang yoo. Aku pun kembali melanjutkan mengetik novelku, aku tak berhenti sedikitpun. Telepon dari jaejoong pun tak kuhiraukan. Semua pesan dan telepon dari siapapun tak kuangkat maupun kubaca.

 

“ahhhhhhh.” Lenguhku sambil meregangkan otot lenganku yang sangat pegal. Akhirnya novelku selesai, tinggal kuserahkan besok pada penerbitku. Aku beranjak dari kursi menuju dapur, kuambil minuman dingin lalu meminumnya hingga habis.

 

Setelah itu kuambil ponselku dan pergi ke ruang tengah. Kubaca dan kulihat siapa saja yang menelepon maupun mengirim pesan padaku. Ternyata telepon dan pesan itu dari jaejoong, sang yoo, dan umma-ku yang tinggal di jepang bersama appa. Kubalas pesan mereka satu persatu. Tak lama bel rumahku berbunyi, aku pun membuka pintu dan mendapatkan pihak menerbit datang dengan wajah kusam. Aku mempersilahkannya untuk masuk.

 

“mana novelmu? Sudah selesai?” tanyanya tanpa basa basi. Aku mendengus kesal mendengar pertanyaannya.

 

“sudah selesai. Sebentar aku ambilkan dulu.” Ucapku lalu beranjak ke kamarku dan mengambil kertas berisi novelku yang baru saja selesai. Untung tadi aku sempat mengeprintnya jika tidak Mr.Lee pasti akan menceramahiku lagi. Kuberikan novelku padanya, lalu kulihat ia sedikit mengecek ratusan lembar novelku itu. ia tersenyum senang lalu menatapku dengan wajah tak sesuram tadi saat ia datang.

 

“aku akan segera mencetak novelmu ini dan nanti akan kuhubungi jika sudah selesai. Ingat kau harus menghadiri launching novelmu ini. ini pertama kalinya kau muncul di public setelah beberapa novelmu terbit. Sebenarnya saat buku kedua kau harus muncul karena penggemar novelmu memintanya tapi kenapa baru sekarang kau menyetujuinya?” ucap Mr.Lee.

 

“ada seseorang yang ingin kutemui saat launching novelku nanti.” Jawabku asal. Aku tak mau memberitahukan alasannya karena menurutku ini sangat pribadi. Tak lama Mr.Lee pun berpamitan. Kuantar hingga kedepan pintu.

 

“ahhh akhirnya.” Ucapku lega.

 

 

 

AUTHOR POV

 

Yuchun istirahat sejenak lalu memikirkan cara agar bisa mendekati sang yoo ia pun teringat jika hari ini adalah weekend. Biasanya yeoja itu akan mengunjungi ice skating bersama temannya. Ia bisa menanyakan tentang sang yoo pada teman yeoja itu. ia pun bergegas berdiri dan mengambil kunci mobilnya lalu pergi ke arena ice skating. Selama perjalanan ia berharap jika teman yeoja itu akan datang seperti biasa jika weekend tiba.

 

Sampai di arena ice skating, yuchun langsung masuk dan mencari-cari keberadaan sang yoo dan teman yeoja itu. Matanya berhenti mencari saat melihat yeoja yang ia cari sedang bermain ice skating bersama teman yang ia cari sejak tadi. Ia pun menyewa sepatu ice skating dan menghampiri sang yeoja yang ia cintai itu. ia melihat yeoja itu kaget dengan kedatangannya. Ia reflek mencium pipi sang yoo membuat yeoja itu malu dan wajahnya langsung memerah. Ia tersenyum melihat perubahan di wajah yeoja itu.

 

Sang yoo menundukkan wajahnya karena malu. Ia tak menyangka jika yuchun akan mencium pipinya di depan umum seperti ini apa lagi di hadapan temannya, rei na. ia tak berani melihat wajah namja itu sekarang karena ia yakin wajahnya sangat merah seperti kepiting rebus. Tak lama ia merasakan tangan namja itu menyentuh dagunya membuatnya menatap namja itu.

 

“gwenchana?” tanya namja itu padanya. Ia pun mengangguk pelan sambil tersenyum. ia menoleh kesamping melihat temannya rei na hanya diam menatapnya juga yuchun bergantian.

 

“kau siapa?” tanya rei na. yuchun menatap rei na lalu tersenyum ramah.

 

“aku park yuchun. Kau temannya sang yoo ya?” jawab yuchun.

 

“aku rei na. ah kau park yuchun. Sang yoo sering menceritakanmu padaku. Kalian berpacaran?” tanya rei na menggoda keduanya. Mendengar pertanyaan itu membuat wajah keduanya memerah. Rei na tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.

 

“aku bukan pacarnya tapi calon pacar.” Jawab yuchun mantap. Sang yoo menatap yuchun tak percaya, selama ini ia berpikir jika yuchun hanya menganggapnya teman saja dan tak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Namja itu menatapnya lembut sambil tersenyum. ia membalas senyuman namja itu. ia beralih menatap rei na dengan tatapan tak percaya tapi temannya itu hanya tersenyum penuh arti padanya.

 

“jadi sang yoo sering membicarakanku denganmu?” tanya yuchun sambil menatap rei na lalu sang yoo.

 

“jujur iya. Hampir setiap hari ia membicarakanmu.” Jawab rei na.

 

Yuchun tersenyum mendengar semua itu, ia kembali menatap yeoja manis yang ia cintai itu dengan lembut. Tak lama yeoja itu kembali menundukkan kepalanya. Ia mengelus lembut rambut sang yeoja.

 

“kau ternyata diam-diam bercerita tentangku pada rei na.” ucap yuchun. Yeoja itu hanya mengangguk pelan.Tak lama ia memberi isyarat jika ia akan membeli minum. Dengan cepat ia pergi membeli minum, ia tak tau lagi harus bersikap bagaimana jika terus berada di sana. Pasti ia akan semakin malu karena rei na membongkar semuanya. Tadi saja ia di buat malu karena yeoja itu mengatakan jika ia pernah menceritakan tentang namja itu padanya.

 

Sementara itu yuchun mengobrol dengan rei na. ia merasa jika yeoja itu sangat ramah. Yeoja itu pun memberitahukannya jika sepertinya sang yoo mencintainya. Mendengar itu membuatnya sangat senang, ia sudah tak sabar untuk menyatakan cintanya pada yeoja yang ia cintai, sang yoo. Ia pun teringat alasannya kemari dan langsung menanyakan tentang apa yang ada di benaknya selama ini.

 

“rei na-sshi, aku mau bertanya sesuatu boleh kah?” tanya yuchun. Ia melihat yeoja itu bingung namun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaannya itu.

 

“mengapa sang yoo tidak pernah mengeluarkan suaranya jika sedang bersamaku? Apa dia malu? Sejak pertama kali bertemu dengannya aku tak pernah mendengar suaranya sedikit pun. Aku sangat ingin mendengar suaranya. Selama ini jika saling bertemu dia selalu berkomunikasi denganku melalui tulisan. Dan ia menolak jika kutelepon, jadi aku hanya bisa mengiriminya pesan saja.” Ucapnya panjang lebar. Ia melihat yeoja di depannya ini menatapnya dengan pandangan tak percaya. Ia hanya menatap yeoja itu dengan bingung.

 

“ada apa? Kenapa kau berwajah seperti itu? ada yang salah dengan pertanyaanku?” tanyanya lagi. Yeoja itu mengangguk tapi satu detik kemudian menggelengkan kepalanya.

 

“kau tidak tau?” tanya yeoja itu balik padanya.

 

“apa?”

 

“sang yoo itu bisu. Ia bisa bicara sedikit tapi itu pun tak jelas karena memang ia bisu sejak kecil. Orang tuanya melakukan terapi padanya agar paling tidak bisa berkomunikasi sedikit. Tapi jika memang mau berkomunikasi lancar dengannya kita harus belajar bahasa isyarat. Apa sang yoo tak pernah memberitahukanmu?” ucap yeoja itu. Yuchun diam dan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

 

 

“dia tak pernah memberitahukanku. Sejak awal bertemu ia selalu berkomunikasi denganku melalui tulisan. Aku pun tak menyadarinya karena aku terlalu terbuai olehnya. Karena aku terlalu mencintainya hingga tak sadar akan hal itu.” jawab yuchun sambil berpikir sesuatu.

 

Tak lama sang yoo datang dengan membawa 3 minuman. Yuchun pun tiba-tiba berpamitan. Ia pun kembali mencium pipi sang yoo.

 

“aku pulang dulu.” Ucap yuchun setelah mencium pipi yeoja itu. ia pun berpamitan dengan rei na. ia bergegas pergi ke rumahnya.

 

Sang yoo menatap yuchun yang sudah pergi. Ia merasa aneh dengan perubahan yuchun yang sangat tiba-tiba itu. Ia menatap rei na yang juga menatap pintu keluar. Ia merasa ada suatu hal yang di bicarakan yuchun dengan rei na yang membuat sang namja langsung pergi begitu saja. Ia menyentuh bahu temannya itu lalu memberi isyarat ada apa dengan yuchun. Ia melihat rei na hanya menggelengkan kepalanya.

 

“tidak ada apa-apa. Aku tak tau mengapa yuchun tiba-tiba aneh seperti itu.” jawab rei na bohong. Ia tak tega mengatakan yang sebenarnya pada sang yoo jika namja yang di cintai temannya itu pergi setelah mendengar penjelasannya kalau sang yoo itu bisu. Ia pun merutuk yuchun yang langsung pergi setelah mendengar penjelasannya. Ia pikir namja itu berbeda dengan namja lainnya tapi ternyata sama saja.

 

‘mianhae sang yoo -a aku tak bermaksud membohongimu. Aku hanya tak mau kau sakit hati lagi sama seperti dulu. Kau di tinggalkan namja yang kau cintai hanya karena kekuranganmu itu’ batin rei na sedih sambil menatap temannya itu lalu menatap pintu keluar.

 

‘apa rei na memberitahukan pada yuchun jika aku bisu ya?’ batin sang yoo sambil menatap rei na.

 

Ya selama ini sang yoo memang sengaja tak memberitahukan yuchun jika ia sebenarnya cacat, tak bisa berbicara. Itu ia lakukan karena ia tak mau namja itu pergi setelah tau ia bisu. Ia tak mau kejadian yang menimpanya dulu terjadi lagi. Semua namja akan menjauhinya setelah mengetahui ia bisu. Ia takut namja yang mulai ia cintai itu akan pergi sama seperti namja lain yang pernah dekat dengannya.

 

Tak lama ia pun mengajak rei na untuk pulang karena ia sudah tak mau berada di arena ice skating. Selama perjalanan pulang ia terus termenung sambil memikirkan yuchun yang tiba-tiba pergi tadi. Saat sampai di rumah ia langsung pergi ke kamarnya dan mengirim pesan pada namja itu. lama ia menunggu tapi tak ada satu pun balasan dari namja itu membuatnya sedih.

 

‘biasanya ia akan langsung membalas pesan dariku atau paling tidak membalas pesanku dengan singkat. Sama seperti tadi ia akan membalas pesanku walaupun cukup lama. Tapi ini sudah cukup lama ia tak membalas pesanku.’ Batinnya lemas.

 

‘apa yuchun sudah tau kalau aku bisu? Lalu ia sama seperti namja lain yang akan pergi setelah mengetahui aku bisu.’ Batinnya lagi lalu kini perlahan menangis. Ia membenamkan wajahnya di atas bantal. Ia merasa dunia tak adil baginya, setiap namja yang ia cintai pasti akan pergi jika sudah mengetahui tentang kekurangannya.

 

Malamnya ia berusaha kembali mengirim pesan pada yuchun tapi sama seperti tadi. Namja itu tak membalas pesannya. Setelah makan malam ia kembali ke kamarnya dengan langkah lesu. Ia tak menyangka jika yuchun akan sama seperti namja lain. Awalnya ia berpikir jika yuchun berbeda.

 

‘kenapa kau sepertinya menjauh?’ batinnya

 

***

 

Sudah seminggu yuchun tak mengirim pesan atau pun menemui sang yoo. sang yoo merasa jika yuchun sudah melupakannya. Selama seminggu itu pula ia menjalani harinya dengan tak bersemangat. Ia juga terlalu malas untuk bertemu siapa pun. Ia kini berada di rumahnya menatap novel yuchun yang pernah di tanda tangani oleh namja itu. ia kembali mengingat pertemuan pertamanya bersama namja itu. ia tersenyum kecil saat mengingat kenangan manis itu.

 

‘jika aku tak seperti ini sepertinya yuchun tak akan pergi meninggalkanku.’ Batinnya sedih.

 

Di sisi lain kini rei na tengah menatap yuchun tajam dan tak suka. Setelah satu minggu menghilang tanpa kabar, membuat temannya sedih dan sulit di temui. Tiba-tiba saja sekarang datang padanya dan meminta bantuan agar bisa bertemu sahabatnya itu. Namja itu terus meminta bantuannya berkali-kali selama dua jam ini tapi ia diam saja.

 

“kenapa kau tidak menemuinya langsung? Kenapa meminta bantuanku?” tanya rei na ketus. Ia melihat namja itu menatapnya dengan memelas.

 

“aku sudah menemuinya langsung di rumah tapi orang rumahnya bilang jika dia tak mau bertemu siapapun. Hanya kau yang bisa membantuku agar aku bisa bertemu dengan sang yoo lagi. Ayolah bantu aku.” Pinta yuchun lagi.

 

“kenapa kau baru muncul? Dan kenapa setelah aku menjelaskan tentang sang yoo kau malah langsung pergi. Asal kau tau sang yoo jadi tak bersemangat satu minggu ini setelah melihatmu tiba-tiba pergi waktu itu. hal ini sering terjadi padanya, dulu pun sering terjadi. Ada namja yang mendekatinya lalu pergi begitu saja setelah mengetahui jika ia bisu. Dan kau salah satu dari mereka. Aku tak mengatakan padanya tentang aku sudah bercerita tentangnya padamu tapi kurasa dia sudah sadar saat kau pergi.” Ucap rei na panjang lebar. Hati yuchun sedikit sakit saat mendengar jika yeoja yang ia cintai sering di tinggal begitu saja setelah mengetahui kalau sang yoo itu bisu.

 

Ia berusaha meyakini rei na agar membantunya menemui sang yoo. Ia pun berusaha menjelaskan mengapa ia tiba-tiba pergi waktu itu. Semuanya ia jelaskan pada yeoja di hadapannya ini. Mendengar penjelasan yuchun hati rei na pun luluh, ia tak tega pada yuchun yang ternyata berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan rei na.

 

“jadi kau selama seminggu ini belajar bahasa isyarat? Dan kau melakukan itu hanya untuk teman baikku, sang yoo? Kenapa kau tak menghubunginya? Kasihan sang yoo. Dia merasa kau telah menjauhinya.” Ucap rei na mulai melunak.

 

“ne, selama satu minggu ini aku belajar bahasa isyarat mati-matian sampai aku lupa jika ponselku mati dan itu hanya untuk sang yoo seorang. Aku pun baru sadar jika ponselku mati setelah pihak penerbit bukuku datang ke rumah kemarin malam. Bisakah kau menolongku? Aku akan mengadakan launching novel terbaruku sekarang di seoul green mall. Bisakah kau mengajaknya ke sana? Aku akan ada di sana sampai jam 3 sore nanti. Dan kumohon jika dia tak datang bujuk dia untuk datang ke sungai han. Aku akan menunggunya di sana.” Ucap yuchun sambil menatap yeoja itu penuh harap.

 

“baiklah aku akan berusaha membujuknya.” Jawab rei na pada akhirnya. Mendengar jawaban yeoja itu yuchun pun langsung tersenyum dan berpamitan.

 

“aku pergi. Sebentar lagi akan di mulai. Gumawo rei na-a” ucap yuchun sambil berlari menuju mobilnya.

 

Rei na pun langsung pergi dari arena ice skating tempatnya bekerja sambilan. Ia bergegas menuju rumah teman baiknya itu. Ia berharap jika sang yeoja mau menemui yuchun di seoul green mall. Selama perjalanan ia terus berdoa untuk kebahagiaan temannya itu.

 

Sampai di rumah sang yoo ia berusaha menemui temannya itu tapi tetap saja temannya itu tak membukakan pintu untuknya. Ia terus berdiri selama dua jam di depan pintu kamar sang yeoja berharap yeoja itu keluar dan mendengarkannya. Ia mendesah kecil, sudah berkali-kali ia membujuk agar yeoja itu membuka pintu tapi tak juga di buka.

 

“baiklah sang yoo -a, aku tak akan membujukmu untuk kedua kalinya aku hanya ingin kau pergi denganku ke seoul green mall karena ada yang ingin kutunjukkan padamu. Tapi kau sepertinya tak mau, kalau begitu aku pulang ya sang yoo.” Ucapnya lalu melangkah pergi dengan perlahan. Ia berharap jika temannya itu akan membuka pintu.

 

“naaaa.” Panggil sang yoo padanya dengan suara yang terbilang tak jelas tapi ia sudah  hapal dengan suara temannya itu. Ia pun berbalik dan tersenyum. senyumnya hilang saat melihat kondisi temannya yang sangat kacau. Ia menghampiri temannya itu dan menatapnya dari atas hingga ke bawah.

 

“aigoo kenapa temanku menjadi kusut seperti ini? Ayo ganti baju, kau harus berdandan yang cantik dan manis. Lalu setelah itu kita pergi.” Ucap rei na sambil mendorong pelan yeoja itu agar masuk ke kamar. Ia merombak habis temannya itu agar terlihat cantik saat bertemu dengan yuchun nanti.

 

Sang yoo melihat rei na yang terus tersenyum senang. Ia tersenyum tipis saat melihat temannya itu. Ia ikut senang jika temannya ini senang. Ia diam saja di dandani oleh rei na. Tak lama ia melihat yeoja itu menyuruhnya berdiri. Yeoja itu melihatnya dan tersenyum puas.

 

“cantik.” Ucap rei na sambil menggerakkan tangannya yang merupakan bahasa isyarat.

 

“ummaooo (gumawo) “ balas sang yoo dengan menggunakan bahasa isyarat. Keduanya tersenyum. Saat melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2:30 sore rei na pun langsung menarik tangan temannya itu agar cepat pergi ke seoul green mall. Ia menyuruh yeoja itu untuk masuk. Selama perjalanan ia merutuk dalam hati karena merasa jarak antara rumah sang yoo dengan seoul green mall sangat jauh.

 

Saat sampai di tempat yang di tuju rei na kembali menarik tangan sang yoo untuk masuk. Ia melihat sekeliling, ia sedikit bingung karena tak tau jelas dimana tempat launching berada. Ia mencari di sekeliling mall itu dengan perasaan panik.

 

Sementara itu sang yoo merasa jika orang-orang menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.  Ia sedikit berlari kecil karena rei na menarik tangannya sejak tadi. Ia berusaha menahan yeoja itu agar berjalan santai saja tapi yeoja itu tak menghiraukannya.

 

‘aish di mana sih tempatnya?’ batin rei na kesal. Akhirnya saat melihat ada sepasang kekasih yang keluar dari toko buku ia pun menanyakan tentang launcing novel yuchun. Ia melihat sepasang kekasih itu menatapnya dan sang yoo.

 

“ada apa? Kenapa kalian menatap kami seperti itu? Terutama temanku ini? apa kalian bisa memberitahuku dimana tempat launching novel park yuchun?” tanyanya lagi.

 

“tidak ada apa-apa hanya saja temanmu itu ternyata memang sangat cantik. Sesuai yang aku dan namjachinguku lihat di novel. Jika kalian mau datang ke launching itu, sayang sekali launching itu sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.” Jawab yeoja itu pada rei na. Rei na sedikit mengerutkan dahinya.

 

“lihat temanku ini di novel?” ucapnya. Kedua orang itu mengangguk lalu memperlihatkan novel yuchun yang baru mereka beli padanya dan sang yoo. Ia dan sang yoo sangat kaget saat melihat foto sang yoo ada dalam novel terbaru yuchun. Namja itu pun menuliskan sesuatu untuk sang yoo.

 

“tadi saat acara launching novelnya. Park yuchun-sshi mengatakan tentang isi hatinya untuk yeoja yang ia cintai, park sang yoo. Perkataannya tadi membuat kami terharu dan membuat kami semua yang ada di sana mendukungnya untuk mendapatkan cintanya. Dia mengatakan juga jika dia tak mempedulikan kekurangan anda sang yoo-sshi. kami rasa park yuchun-sshi sudah pergi sejak tadi.” Ucap namja itu pada sang yoo.

 

Rei na dengan cepat mengembalikan novel itu pada yeoja itu dan berterima kasih. Ia masuk dan dengan cepat membeli buku yuchun yang baru saja terbit. Lalu setelah itu mereka berdua pergi. Rei na menyuruh sang yoo untuk segera masuk. Setelah melihat yeoja itu masuk ia pun masuk dan mulai mengemudikan mobilnya menuju tempat ke dua yang di beritahu yuchun tadi. Ia melihat sekilas yeoja di sampingnya yang terlihat jelas sangat sedih. Ia tau jika yeoja itu merasa sudah terlambat untuk menemui yuchun lagi.

 

‘tenanglah sang yoo-a, kau pasti akan bahagia. Sebagai teman sejak kecil aku akan membantumu bersatu dengan yuchun.’ Batin rei na. Ia kembali merutuk dalam hati.

 

‘kenapa yuchun menyuruh ke sungai han sih? Jaraknya kan sangat jauh dari mall itu. Dasar, awas kau jika bertemu nanti.’ Batinnya lagi.

 

Sang yoo membaca novel yang di beli rei na tadi. Ia membaca bagian yuchun yang mengungkapkan isi hatinya melalui buku itu. Ia membaca semuanya yang yuchun katakan. Mulai dari selalu mengikutinya dari jauh selama satu tahun sampai terakhir kali mereka bertemu. Ia perlahan menangis karena tak menyangka yuchun mencintainya sama seperti ia mencintai yuchun.

 

Kau inspirasiku dan kau merupakan matahari bagiku. Semenjak kedatanganmu di dalam hidupku, hidupku menjadi cerah dan selalu kulalui dengan semangat. Setiap mataku terpejam yang kulihat hanyalah dirimu. Senyumanmu membuat jantungku selalu berdetak sangat cepat. Kau lihat kan fotomu di sini? Kau sangat cantik saat tersenyum. Kekuranganmu itu bukanlah apa-apa, itu bukan penghalang bagiku. Aku akan tetap mencintaimu sama seperti dulu bahkan lebih besar dari sebelumnya. Aku ingin sekali membahagiakanmu sampai akhir hidupku nanti. Maukah kau menjadi yeojaku sampai akhir hayatku?

 

Sungai han

 

Park Yuchun

 

Ia menangis dan sedikit mengerutkan dahinya. Ia bingung mengapa ada kata sungai han di akhir kata-kata namja itu. ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Ia menatap rei na yang tengah fokus mengemudikan mobilnya. Lalu ia menatap keluar jendela tempat yang tak asing baginya.

 

Ia merasakan jika rei na memperlambat laju mobilnya lalu memarkirkannya. Ia keluar saat temannya itu pun keluar. Ia melihat yeoja itu menatapnya sambil tersenyum. yeoja itu kembali menuntunnya untuk mengikuti yeoja itu. Ia melihat ada cukup banyak orang yang sepertinya sedang melihat sesuatu.

 

“bisa permisi? Kami mau lewat.” Ucap rei na ramah. Ia cukup bingung dengan adanya orang-orang yang berkumpul di sungai han itu. Ia melihat beberapa orang menatapnya dan sang yoo lalu setelah itu memberi mereka jalan. Orang yang berada di depan orang sebelumnya juga seperti itu. terus seperti itu hingga ia dan sang yoo bisa melewati kerumunan orang-orang dengan lancar. Di carinya sosok namja yang ingin ia pertemukan dengan sang yoo. Tak lama seorang yeoja menunjukkan sesuatu padanya.

 

“di sana jika kau mencari park yuchun sang novelis itu. Sejak dua jam yang lalu dia duduk di sana.” Ucap yeoja itu padanya.

 

“lalu ada apa dengan orang-orang di sini? Mencari yuchun?” tanyanya bingung.

 

“kami penggemar novelnya dan saat membaca tulisan untuk sang yoo dan ada tulisan sungai han kami berpikir jika yuchun akan menunggu yeoja itu di sini. Kami hanya ingin memberinya dukungan. Apa temanmu itu sang yoo yang di tunggu yuchun?” ucap yeoja itu. rei na pun menjawab dengan anggukan kecil.

 

Rei na mengajak sang yoo agar menghampiri yuchun tapi saat sudah hampir sampai yeoja itu menahannya. Ia pun menatap temannya itu yang berdiri di belakangnya. Ia melihat yeoja itu sepertinya tidak yakin.

 

“kau takut? Atau kau sudah tidak mencintai yuchun lagi?” tanya rei na lembut sambil tangannya kembali menggunakan bahasa isyarat. dengan cepat yeoja itu menggelengkan kepalanya.

 

“auuu u up an t ta uuut uuu chuun annya b boong (aku gugup dan takut yuchun berbohong).” Ucap yeoja itu tak jelas dengan tangannya menggunakan bahasa isyarat agar temannya itu mengerti. Ia melihat teman baiknya itu tersenyum lembut. Lalu mendekatinya perlahan.

 

“jangan khawatirkan tentang hal itu. Yuchun sangat mencintaimu dan aku yakin jika itu tidak berubah sama sekali. Dengarkanlah penjelasannya nanti mengapa dia menghilang begitu saja waktu itu. Ayo jangan membuatnya menunggu lama. Kau lihat punggungnya itu? Kurasa ia sudah sangat kelelahan.” Ucap rei na dengan tangannya menggunakan bahasa isyarat. Ia pun kembali menuntun tangan sang yoo agar menghampiri yuchun.  Saat sudah sampai ia pun memanggil yuchun.

 

“yuchun-a.” panggil rei na. Mendengarnya memanggil, namja itu pun menoleh kebelakang menatapnya dan sang yoo bergantian. Ia bisa melihat raut wajah namja itu yang terlihat sangat bahagia.

 

“aku sudah membawanya ke sini sesuai janjiku. Selanjutnya kau yang harus berusaha.” Ucap rei na lalu melangkah menjauh dari kedua pasang yang saling mencintai itu. sang yoo menatap kebelakang, ia menatap rei na dengan bingung.

 

Yuchun tersenyum cerah melihat yeoja yang sangat ia cintai akhirnya datang. Ia menghampiri yeoja itu dan memberikan bunga mawar yang ia beli tadi. Ia mengelus lembut pipi yeoja manis itu. Ia melihat mata sang yoo, ia tau jika yeoja itu baru saja menangis.

 

“kau menangis? Karena aku? Mianhae.” Ucap yuchun sambil menunjukkan hasil belajarnya mengenai bahasa isyarat. Sang yoo menatap yuchun tak percaya, namja itu bisa bahasa isyarat membuatnya lebih mudah mengerti ucapan yuchun. Walaupun ia bisa mengerti jika namja itu berbicara tanpa menggunakan bahasa isyarat tapi terkadang ia juga mengalami kesulitan. Ia pun menjawab pertanyaan namja itu hanya melalui bahasa isyarat.

 

 Jangan meminta maaf

 

“kau masih tak mau membuka suara? Aku tau jika kau tak bisa bicara sejak kecil tapi kau masih bisa berbicara walaupun tak terlalu jelas kan? Aku ingin mendengar suaramu.” Ucap yuchun dengan tetap seperti tadi, menggunakan bahasa isyarat agar sang yoo mengerti. Ia melihat yeoja itu diam saja. Yuchun pun menjelaskan kemana ia pergi selama satu minggu ini pada yeoja itu.

 

Setelah mendengar penjelasan yuchun, sang yoo merasa senang karena ternyata dugaannya yang menyangka namja itu pergi dan tak mau menemuinya lagi itu salah. Ia tersenyum lalu meminta maaf karena telah berpikiran yang tidak-tidak tentang yuchun. Keduanya berkomunikasi dengan bantuan bahasa isyarat. Melihat yeoja itu kesulitan dalam menggunakan bahasa isyarat yuchun pun membantu membawakan bunga yang di pegang yeoja itu. Yuchun merasa gemas karena sang yoo tak kunjung membuka suara walaupun hanya satu kata. Ia sudah tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar yang menatapnya sejak tadi.

 

“masih tak mau mengeluarkan suara? Bisakah sekali saja aku mendengarkan suaramu?” tanyanya lembut.

 

“uu cchun (yuchun).” Ucap yeoja itu. Mendengar itu yuchun sangat senang karena akhirnya yeoja manis di depannya mengeluarkan suara dan yeoja itu menyebutkan namanya. Ia membungkukkan badannya agar sejajar dengan sang yoo.

 

“suaramu sangat indah. Sama sepertimu.” Ucap yuchun yang sukses membuat wajah yeoja itu memerah. Sang yoo menundukkan kepalanya malu, saat ia menunduk dan melihat novel baru namja di depannya ia pun mundur sedikit dan membuka halaman yang memuat foto dirinya dan tulisan yuchun untuknya. Setelah menemukannya ia menunjukkannya pada namja di depannya. Ia melihat namja itu hanya tersenyum penuh arti.

 

“kau sudah membacanya? Itu kubuat khusus untukmu. Kau tau aku tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku menyatakan perasaanku padamu melalui novelku hingga seluruh korea tau akan perasaanku padamu. Sengaja aku meminta pihak penerbit agar mencetaknya di halaman depan agar orang-orang membaca itu terlebih dahulu. Lalu bagaimana jawabanmu?” ucap yuchun. Ia melihat ada keraguan di mata sang yoo, ia bisa mengerti akan hal itu.

 

“semua perasaanku yang kutulis di buku, itu benar-benar semua yang kualami dan kurasakan selama ini. Aku tak pernah berbohong padamu.” Ucap yuchun sambil menggerakan tangannya perlahan agar sang yoo mengerti. Lama ia menunggu jawaban yeoja itu. Jantungnya berdetak sangat cepat, suara teriakkan orang-orang sekitar yang mendukungnya pun malah membuatnya tambah gugup. Tak lama ia melihat yeoja itu menatapnya lembut dan tersenyum.

Saranghae yuchun-a

 

Melihat yeoja itu memberi isyarat seperti itu membuatnya amat bahagia. Ia mendekati yeoja itu dan langsung memeluknya dengan erat. Ia sangat bersyukur karena sang yeoja menerima cintanya. Ia bisa mendengar sangat jelas sorak sorai orang-orang yang mendukungnya. Orang yang merupakan pembaca setia novelnya.

 

“katakan kau mencintaiku. Sekali lagi.” Pinta yuchun lalu melepas pelukannya dan menatap sang yeoja.

 

“ s sarrang eee (saranghae).” Ucap yeoja itu dengan bersusah payah mngeluarkan suaranya yang hanya bisa keluar sangat sedikit dan pelan.

 

Mendengar yeoja itu mengatakannya sekali lagi membuatnya tersenyum lebar dan sangat bahagia. Ia memegang kedua pipi yeoja itu dan menatap mata indah itu sangat dalam.

 

“nado saranghae. Gumawo telah menerimaku. Aku sangat bahagia.” Ucap yuchun lalu mencium bibir yeoja itu dengan lembut. ia sudah tak mempedulikan puluhan orang yang menatapnya yang tengah mencium yeojanya itu.

 

Keduanya sangat bahagia sekarang dan akan memulai langkah baru dalam hidup mereka. Suasana saat ini sangat romantic tapi sayang kedua sejoli itu tak menyadarinya. Mereka saling berciuman di tengah sungai han dan sunset yang membuat pemandangan terlihat sangat indah. Rei na tersenyum bahagia melihat temannya sudah meraih kebahagiaannya.  

 

END

 

Huweeee mianhae ya kalo ada yang ngerasa ni ff gaje n ga dpt feelnya. Harap maklum soalnya author ngetiknya dalam kondisi sakit berat😥. Author maksain nyelesein ini buat kalian jadi harap hargain author ya dengan komen kalian.

 

Gumawo:mrgreen:

26 thoughts on “DUMB

  1. Asri berkata:

    Nama pnyakitnya itu tuna grahita say….^^

    so sweet bgt crtanya….^^
    kyana hal msthal wat uchun… uchunkan cassanova kelas paus:D

    @sang yoo(elly)::: ya!!!! kau hrz btrima kash ma aku……. aku baik ya^^

    • hahaha iya baru eng’eh. ^^v

      males di edit lg…yowislah toh dah ada km yg ksh tau.hhahahaha*author edan*
      hahaha beruntung aq jdiin baek tdnya mau dibikin jahat

  2. shaakimchi berkata:

    park yoochun salah minum obat kah ?atau kejedot pintu kepalanya ?
    Tp sumpah eon,ffnya romanteeeees..
    Daebakk!
    :DTp sumpah eon,ffnya romanteeeees..
    Daebakk!😀

  3. Bagus! Jjang!
    Abang uchun keren bgt dah. Dia mau menerima apa adanya. Gimana ya? Pokoknya daebak lah^^ apa adanya. Gimana ya? Pokoknya daebak lah^^

  4. ellYChun9 berkata:

    Huahahahaha aaaa uuuu sss soooo*aku syok* hahaha keren!! Uchun keren. . . . Trnyata aq jd bisu?? Haha tak apalah yg penting uchun cinta aq mpe mati/plak
    ciuman ditengah sungai han?? Gmn critanya un?? Gak keleleb apa??
    @asri un. Makasih bu,muahh teman masa kecilku,saranghae#lipat2 tangan pke bahasa isyarat sampe tangan jd ruwet(?)

  5. haajeyong berkata:

    Ya ampuuun uchun oppa romantis bangeeet…^^ untung lgi ga jdi cassanova hehehe daebak eon aku suka crta.a ^^

  6. so sweet bngt !!
    Ya ampn uchun bnr2 romantis bngt udh gtu dy nrma kekurangan sang yoo..
    Uuuh,drtd qu bc smbl snym2 sndri nh, sru crta’a!! Romantis,,,,,u dy nrma kekurangan sang yoo..
    Uuuh,drtd qu bc smbl snym2 sndri nh, sru crta’a!! Romantis,,,,,

  7. Ayara berkata:

    Pas awal” baca kirain si jj bakal deketin sang yoo juga ternyata udah ada cewenya haha…
    Romantisnya pas bgt yg di sungai han, yoochun so sweet ampe blajar bahasa isyarat gitu….

  8. hyun gi berkata:

    Baru baca dan ini bener2 bagus, suka bgt sama ceritanya. Yuchun nya baik bgt mau nerima kekurangan nya
    sang yoon. Author (´▽`)ง

  9. RossyMicky berkata:

    Waaah~
    Suami qu so sweet banget2an deh,
    Hahay,
    Kiarain mau ninggalin sang yu gt aja,😀

    _Rossy triplescassiopeia^^

  10. puspitasoul berkata:

    annyeong author…
    puspita imnida , q reader bari disisni
    akhirnya nemu blog yang isnya ff oppadeul DBSK semuanya

    ffnya bagus fellnya dapet
    kyaaaaa chunnie romantis di ff ini jadi lebih suka chunnie romantis deh dari pada playboy #kissuchunnie
    kirain chunie bakalan ninggalin sang yoo pas dia tau kalau bisu eh ternyata buet belajar bhs isyarat SO SWEETTT…

    happy ending chunnie nembak sang yoo trus mereka ciuman di sunggai han

  11. Abang Jidat? Apa di fanfict ini kamu salah minum vitamin, eoh?
    sejak kapan kamu jadi namja setia & malu2 kucing begitu?

    Eon, apa yg kau lakukan ke Abang Jidat? *lebay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s