Do you believe in fate? CHAP 1


Title: Do you believe in fate?
Author: Jaehyunmi a.k.a LeeHyunmi
Genre: *tentukan sendiri
*
Rating: T
Cast: Kim Junsu, Futabatei Arisa, Lee Hyunmi, Kim Jaejoong and other.

***

Jepang.

Kata itulah yang terus terngiang ngiang ditelingaku setelah Management tempatku berkarir -sebagai salah satu member dari sebuah BoyBand- memberitahukan bahwa aku, ah aniyo.. maksudku bahwa aku bersama member lainnya di grupku akan segera debut di negara tersebut.


Ya, di Negara itulah kami akan segera memulai debut kami. Debut sebuah Boy Band Korea bernama TVXQ dinegara Jepang. Dan selama kami berada disana, kami akan dikenal dengan nama Tohoshinki. Misi yang kami bawa hanya satu, menaklukkan pasar music Jepang! Sebuah misi yang cukup sulit memang. Karena setiap penyanyi pastinya tahu, bahwa tidak mudah untuk penyanyi mau pun artis luar dapat diterima bahkan sukses dinegara tersebut.

Namun justru hal tersebutlah yang membuat ku dan member lainnya sungguh tertarik. Menaklukkan pasar music Jepang! Bukankah hebat bila aku dan member lainnya dapat mencapai tujuan kami debut dinegara tersebut? Diterima, terkenal dan sukses disana!

“Junsu-a”

Sebuah tepukan ringan dibahuku yang disusul sebuah suara yang memanggil namaku berhasil membawa jiwa dan pikiranku yang tengah berlayar entah kemana kembali ke alam sadarku. Kutolehkan wajahku dan mendapati sosok hangat sahabatku, Park Yoochun, yang tengah duduk disebelah kananku. Tapi, sejak kapan dia ada disini?

“Baru saja”

Aku pun tersenyum mendengar ucapannya. Jangan heran, hal tersebut sudah biasa bagiku dan Yoochun. Sahabatku itu benar benar tahu apa yang sedang aku pikirkan dan mengerti dengan apa yang kurasakan, walau tidak dalam segala hal, namun sebagian besar dia tahu apa yang sedang kupikirkan dan apa yang kurasakan. Begitu pula sebaliknya.

Sejujurnya, aku juga tidak tahu mengapa kami berdua dapat saling tahu dan mengerti satu sama lain. Mungkin karena kami adalah sahabat karib. Alasan itu mungkin terdengar tidak masuk akal, namun siapa yang peduli tentang hal semacam itu?

Bukankah bagus bila seperti itu. Maksudku… Aku tak perlu bersusah payah menjelaskan segala sesuatu pada sahabatku bila sahabatku langsung mengerti dengan apa yang kurasakan. Bukankah itu hebat?  Dan juga… praktis?

Kutatap Yoochun lalu tersenyum tipis padanya. “Apa pendapatmu mengenai debut kita di Jepang 5 bulan lagi?” tanyaku. Dia tak menjawab, hanya memalingkan wajahnya dan menatap ke langit malam.

Kuikuti pandangan matanya. Malam ini langit terlihat sungguh mengagumkan. Jutaan bintang bertebaran dilangit dan bersinar dengan terang, seakan akan berlomba memberikan semangat untuk jiwa yang gundah, seperti jiwaku saat ini.

Ya, memang seperti itulah keadaanku. Di satu sisi, aku merasa sungguh bersemangat dan menantikan dengan sangat debut grupku di Jepang. Namun disisi lain, sejujurnya aku merasa.. takut. Takut akan bayang bayang kegagalan yang selalu menghantuiku setiap saat.

“Aku tidak tahu” suara berat Yoochun kembali menyadarkanku. Kutatap Yoochun, sebuah senyum palsu yang sudah biasa ditunjukkannya didepan kamera pun terbentuk diwajahnya. Kalau sudah seperti ini, aku tahu pasti bahwa dia sedang tidak ingin membicarakan tentang hal tersebut.

Kubuka mulutku, hendak mengatakan sesuatu. Namun sebuah suara atau lebih tepatnya sebuah rengekan yang terdengar dari dalam berhasil mendahuluiku. Dengan cepat kutolehkan wajahku kearah sumber suara, begitu pula dengan Yoochun.

“Jaejoong hyung, ayolah.. Buatkan aku ddeokbokki, aku lapaarrr…” dapat kulihat Changmin, namja yang merupakan magnae diantara kami, tengah merengek pada namja lain diruangan tersebut, Jaejoong hyung.

“Ya! Shim Changmin! Apa kau lupa?? 30 menit yang lalu kau baru saja menghabiskan semua cemilan didorm ini! Aku tidak mau membuatkan makanan untukmu! Titik!”

Kutatap Jaejoong hyung yang terlihat mati matian menolak permintaan sang magnae tersebut. Sedangkan Changmin terus saja merengek rengek pada Jaejoong hyung. Beberapa saat kemudian, aku pun terkekeh melihat pemandangan didepanku. Pemandangan tersebut bukanlah hal asing ataupun hal aneh lagi bagiku, karena hampir setiap hari aku melihat kejadian tersebut. Dan sekali lagi, aku hanya dapat terkekeh melihat ekspresi Jaejoong hyung yang terlihat frustasi atas permintaan Changmin yang memintanya membuatkan makanan untuknya hampir setiap 3 jam sekali.

“Ayolah hyung, jebal.. Atau akan ku adukan hyung pada Hyunmi nuna dengan alasan hyung tidak mau memaskkan makanan untukku!” kulihat Changmin mengancam Jaejoong hyung. Sebuah senyum lirih pun terbentuk diwajahku.

“Ya! Terserah padamu, Minnie-a. Adukan saja pada Hyunmi, aku yakin dia takkan membelamu kalau dia tau alasanku menolak memasakkan makanan untukmu!”

“Hyung.. hyaaa ayolah, jebal!”

“Andwae!!!” kulihat Jaejoong hyung mulai beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju kamarnya diikuti Changmin dibelakangnya yang masih terus merengek rengek. Sebuah senyum bahagia terbentuk diwajahku. Namun hal itu hanya berlangsung sesaat, karena sedetik kemudian senyumanku berubah menjadi sebuah senyuman lirih. Sebuah senyum yang kutunjukkan untuk diriku sendiri.

Kulirik Yoochun disebelahku, dia telah kembali ke posisinya semula. Duduk diam seraya menatap langit malam. Tiba tiba saja kurasakan seseorang duduk disebelah kiriku, kutolehkan wajahku, begitu juga Yoochun. Aku dan Yoochun pun mendapati salah satu member lain digrup kami, Yunho hyung, tengah tersenyum kearah kami.

“Hallo, Junsu-a, Yoochun-a” sapanya.

“Oh hallo, hyung. Kapan kau pulang dari pemotretan? Aku tidak mendengar pintu apartement dibuka” tanyaku seraya membalas senyumannya. Kulirik tiga buah minuman kaleng yang ada ditangannya. Bertanya tanya, apa boleh aku mengambilnya satu, karena aku baru sadar betapa hausnya aku. Aku belum minum apapun sejak siang tadi.

“Baru saja” ucapnya santai.

Aku masih terus melirik tiga buah botol minuman bersoda yang ada ditangan Yunho hyung. Seakan dapat membaca pikiranku, Yunho hyung pun memberikan salah satu kaleng minuman bersoda itu padaku dan memberikan yang satu lagi pada Yoochun. Aku pun langsung bersyukur dalam hati, kubuka kaleng minuman bersoda itu dan menegaknya dengan cepat.

“Lusa kita akan berangkat, manager Choi memberitahuku saat aku mampir sebentar kekantor. Dan dia juga mengingatkan kita tidak boleh malas mempelajari bahasa Jepang.” ucap Yunho hyung, aku pun membelakkakan mataku mendengar ucapannya.

“Mweo? Lusa??? Kenapa cepat sekali??” kudengar Yoochun mendahuluiku bertanya, aku pun mendengus kesal. Kulihat Yoochun hanya terkekeh melihat wajahku yang sedang kesal.

“Aku juga tidak tahu, yang pasti besok kita harus bersiap siap.”

“Ah ya, Yoochun-a. Apa kau sudah memberitahu gahee nuna? Kekasihmu itu, tentang debut kita di Jepang?” tanya Yunho hyung pada Yoochun. Kulirik Yoochun yang berada disebelah kananku, dia mengangguk dan tersenyum. Tanda bahwa ia telah memberitahukan rencana kami debut di Jepang pada kekasihnya, Gahee nuna. Seorang wanita cantik berumur 24 tahun yang merupakan seorang trainer disalah satu management terkenal di Korea.

Kualihkan pandanganku pada langit malam yang indah, entah mengapa hatiku terasa hangat dan nyaman saat aku menatap dan melihat bintang bintang tersebut. Aku menutup mataku sejenak. Rasanya benar benar nyaman, segala beban dan permasalahan yang kuhadapi terasa menguap begitu saja. Dan aku menyukai sensasi tersebut setiap aku memejamkan mataku dimalam hari dibawah ribuan bintang yang bertebaran dilangit malam.

“Bagaimana denganmu, Junsu-a?”

“Mweo?” pertanyaan Yunho hyung membuatku menoleh padanya. Menatapnya bingung.

“Yeoja itu.. Lee Hyunmi. Apa kau sudah memberitahukan padanya mengenai debut kita?”

Deg!

Seketika jantungku berdetak keras mendengar nama itu. Hyunmi, Lee Hyunmi.

Sekelebat ingatan tentang masa lalu pun berputar putar dikepalaku. Ingatan masa lalu ku dengan yeoja bernama Lee Hyunmi itu. Seorang yeoja yang sangat aku cintai, namun juga merupakan yeoja yang tak dapat aku miliki sekeras apa pun aku mencoba mendapatkannya.

Air mata pun mulai menggenang dipelupuk mataku. Kututup mataku perlahan, dapat kurasakan cairan bening namun hangat jatuh dan mengalir dengan cepat dipipiku. Seketika itu juga, hatiku terasa seperti dipukul oleh palu yang sangat besar. Sakit. Rasanya benar benar menyakitkan menerima kenyataan pahit tersebut. Kenyataan bahwa yeoja yang aku cintai takkan pernah dapat kumiliki.

“Junsu-a.”

Sebuah suara kembali membawaku kembali kealam sadarku. Yang pertama kali ku lihat saat kubuka mataku adalah dua pasang mata yang tengah menatapku khawatir, dua pasang mata milik dua orang ‘hyungku’, Yoochun dan Yunho. Dengan cepat ku hapus air mata yang mengalir di pipiku dan tersenyum.

“Gwenchana?” aku mengangguk dengan cepat saat Yunho hyung menanyakan keadaanku. Aku tak ingin orang orang melihatku lemah seperti ini, karna itu aku pun kembali memasang senyum diwajahku. Namun aku tahu pasti, yang ada bukanlah senyum ceriaku yang biasanya, yang ada hanyalah sebuah senyum lemah yang bahkan membuat keadaanku jauh lebih mengenaskan.

“Jinjjayo?”

“Ne, Yoochun-a, Yunho hyung, aku baik baik saja. Kalian tidak perlu khawatir.”

“Arraseo.”

Hening. Suasana tiba tiba berubah hening. Atmosfer disekelilingku pun ikut berubah drastis, berubah menjadi begitu… mencekam.

“Apa Jaejoong tau tentang perasaan mu dan juga perasaan yeoja itu?”

Suara Yunho hyung memecah keheningan. Aku dan Yoochun serentak menoleh padanya. Namun, sedetik kemudian, aku tersenyum lemah dan menggeleng.

“Aniyo. Ia tidak tahu tentang hal tersebut. Yang tahu hanya aku, Yoochun, dan kau hyung.”

“Lalu, apa kau akan tetap diam? Sedangkan hubungan yeoja itu dengan Jaejoong hyung semakin hari semakin akrab?” tanya Yoochun.

Dapat kutebak bahwa ia sungguh frustasi dengan sikapku ini. Ya, sikapku yang terkesan menutupi perasaanku dan mengalah. Mengalah demi kebahagiaan yeoja yang aku cintai dan juga demi kebahagiaan hyung yang sangat aku sayangi.

“Tentu saja. Memangnya apa yang bisa kuperbuat selain tetap diam dan mengalah?”

“Kau bisa saja mengungkapkan perasaanmu dan memintanya menjadi milikmu, Junsu-a.”

Hal pertama yang aku lakukan setelah aku mendengar saran Yunho hyung adalah tertawa miris. Kalau boleh jujur, sudah dari awal aku  memikirkan dan berniat melakukan apa yang Yunho hyung sarankan. Tapi aku sadar, itu tidak mungkin.

“Aku tahu itu, hyung. Tapi itu semua tidak mungkin terjadi, dia tidak mungkin menerimaku. Dan untuk apa aku memintanya menjadi milikku jika ia tidak mencintaiku? Jika hatinya bukan untukku?” tanyaku lirih.

“Dia tidak mencintaiku, hyung. Hyunmi mencintai orang lain, Hyunmi mencintai Jaejoong hyung.” lanjutku pelan, amat sangat pelan sampai sampai aku tak yakin mereka mendengarnya. Suaraku sedikit bergetar. Mencoba menahan tangis dengan sekuat tenaga.

Ya memang benar ya kukatakan barusan. Itulah kenyataan pahit yang selama dua tahun ini coba ku terima. Sebuah kenyataan pahit yang mau tidak mau mengharuskanku menerimanya, menerima bahwa orang yang ku cintai… mencintai hyungku sendiri, Kim Jaejoong.

“Dan untuk apa aku memberitahukan tentang debut kita padanya? Aku yakin Hyunmi pasti sudah mengetahuinya dari Jaejoong hyung. Bukankah itu yang dilakukan dua orang yang saling menyukai? Ah aniyo, maksudku dua orang yang saling mencintai? Saling memberitahukan kabar, keseharian….”

“Cukup Junsu-a, jangan teruskan!” aku pun tertawa lirih mendengar Yoochun membentakku.

“Tapi memang itu kenyataannya.” ucapku.

“Ah, sudahlah. Aku ingin tidur, Yoochun, Yunho hyung, aku duluan ya.” lanjutku. Dengan cepat kulangkahkan kakiku menjauhi balkon dan masuk kedalam kamar.

***

~Author POV~

“Aish, menyebalkan! Padahal aku benar benar lapar, Jaejoong hyung memang tega!” Changmin tengah berjalan keluar dari kamar Jaejoong seraya menggerutu. Usahanya kali ini sia sia saja, Jaejoong tak mau memasakkan makan untuknya.

“Hah, sekarang dimana semuanya? Bukankah tadi ada Yoochun hyung dan Junsu hyung? Dan seingatku Yunho hyung sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu. Tapi dimana mereka???” tanya Changmin kesal. Dilangkahkannya kakinya menuju balkon dorm tersebut.

“Lalu, apa kau akan tetap diam? Sedangkan hubungan yeoja itu dengan Jaejoong hyung semakin hari semakin akrab?”

Seketika langkah Changmin terhenti, ia mendengar suara salah satu hyungnya dibalkon. Suara Yoochun hyung, batin Changmin. Dia pun bersembunyi dibalik jendela dan mengintip. Terlihatlah ke tiga hyungnya tengah duduk dikursi dibalkon tersebut dengan suasana yang, err cukup mencekam.

‘Yoochun hyung? Junsu hyung? Yunho hyung? Sedang apa mereka duduk bertiga dibalkon malam malam begini? Dan apa yang sedang mereka bicarakan?’ batin Changmin.

“Tentu saja. Memangnya apa yang bisa kuperbuat selain tetap diam dan mengalah?”

Itu suara Junsu hyung, batin Changmin. Dia pun kembali mengintip. Dari tempatnya kini, ia dapat melihat dengan jelas raut ketiga wajah hyungnya. Mereka semua terlihat.. tegang.

“Kau bisa saja mengungkapkan perasaanmu dan memintanya menjadi milikmu, Junsu-a.”

‘Kali ini suara Yunho hyung. Eh? Tapi tunggu, apa maksud Yunho hyung barusan? Aish, aku tidak mengerti’ batin Changmin. Dia memang tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh ketiga hyungnya saat ini. Dan ia hanya dapat menunggu dan mendengarkan percakapan ketiga hyungnya selanjutnya agar dapat mengetahuinya.

“Aku tahu itu, hyung. Tapi itu semua tidak mungkin terjadi, dia tidak mungkin menerimaku. Dan untuk apa aku memintanya menjadi milikku jika ia tidak mencintaiku? Jika hatinya bukan untukku?”

‘Eh? Apa maksud Junsu hyung? Lagi pula, siapa gadis itu? Mengapa Junsu hyung berkata seperti itu? Dan kenapa suaranya terdengar begitu lirih dan.. lelah?’ batin Changmin makin tak mengerti. Namun firasatnya mengatakan suatu hal yang sangat penting akan terungkap sebentar lagi.

“Dia tidak mencintaiku, hyung. Dia mencintai orang lain, Hyunmi mencintai Jaejoong hyung.”

Deg!

Seketika Changmin membeku ditempat. Jantungnya terasa jatuh kelantai saat itu juga saat mendengar kenyataan yang keluar dari mulut Junsu. Ia benar benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Firasatnya benar, tapi ia tak pernah menyangka hal buruk inilah yang akan diketahuinya.

‘Ja-jadi.. Jadi Junsu hyung menyukai Hyunmi nuna???’ batin Changmin.

Shock. Mungkin kata itulah yang tepat untuk keadaan Changmin saat ini. Selama ini, sepengetahuan Changmin, hyungnya itu sama sekali tidak mencintai Hyunmi. Bahkan hyungnya itu lah yang merupakan ‘penyebab’ hubungan Hyunmi dan Jaejoong bisa sedekat saat ini.

“Dan untuk apa aku memberitahukan tentang debut kita padanya? Aku yakin Hyunmi pasti sudah mengetahuinya dari Jaejoong hyung. Bukankah itu yang dilakukan dua orang yang saling menyukai? Ah aniyo, maksudku dua orang yang saling mencintai? Saling memberitahukan kabar, keseharian….”

“Cukup Junsu-a, jangan teruskan!”

Kali ini terdengar suara Yoochun yang memotong dan membentak Junsu. Sedangkan Junsu hanya dapat tertawa lirih. Saat itu juga hati Changmin mencelos mendengar tawa junsu yang terdengar sungguh memilukan ditelinganya.

“Tapi memang itu kenyataannya.” ucap Junsu, mencoba membela diri. Sekali lagi, hati Changmin mencelos mendengar ucapan Junsu. Suara Junsu terdengar begitu pasrah dan.. lirih.

‘Ya tuhan, sesakit itukah Junsu hyung selama ini?’ batin Changmin.

“Ah, sudahlah. Aku ingin tidur, Yoochun, Yunho hyung, aku duluan ya.” Changmin kaget mendengar suara langkah kaki junsu dari arah balkon, Changmin pun dengan cepat bersembunyi dibalik kursi yang ada didekatnya. Changmin dapat melihat kaki Junsu yang melangkah menuju kamarnya. Changmin pun menghela nafas lega.

“Minnie-a, apa yang kau lakukan disini?”

Deg!

Seketika Changmin membeku. Ia benar benar kaget saat tiba tiba terdengar suara yang memanggilnya dari arah belakang. Jantung Changmin bergerumuh, keringat dingin pun keluar dari tubuhnya. Ia takut, takut bilamana ia berbalik, yang dilihatnya adalah Yoochun, atau Yunho atau bahkan yang lebih parah adalah Junsu! Ia tak tahu harus mengatakan apa pada hyungnya itu.

Dengan segenap keberanian, akhirnya Changmin pun memutuskan untuk membalikkan badannya. Dadanya bergemuruh, ia benar benar pasrah apabila yang ada dibelakangnya saat ini adalah salah satu dari hyungnya yang berada dibalkon tadi.

Namun sepertinya dewi keberuntungan sedang memihak padanya. Saat ia membalikkan badan, yang dilihatnya adalah Jaejoong. Changmin pun menghelas nafasnya lega. Disekanya keringat didahinya dan tersenyum kikuk pada Jaejoong.

“Minnie-a, ada apa?”

“A-aniyo, hyung. Bukan apa apa.”

“Jinjjayo?” selidik Jaejoong.

“Ne, yasudah ya hyung. Aku ingin kekamarku, aku ngantuk. Ingin tidur, good night hyung.” dengan cepat dilangkahkannya kakinya menuju kamar, takut kalau ia tetap disana, Jaejoong hyung akan menanyakan macam macam padanya.

‘Blam’

Changmin menutup pintu kamarnya. Dia pun berjalan dengan gontai menuju tempat tidur dan dengan cepat direbahkan tubuhnya disana. Ia terdiam, matanya terpejam. Percakapan antara Junsu, Yoochun dan Yunho masih terus terngiang ngiang ditelinganya. Entah mengapa, Changmin merasa iba pada hyungnya itu.

Changmin pun membuka matanya dan duduk dipinggir tempat tidurnya. Diambilnya ponsel miliknya yang tadi ia lempar dengan asal ketempat tidur dan mulai membuka dan melihat lihat foto yang tersimpan di ponsel tersebut, foto foto disaat Junsu sedang tertawa berdua dengan yeoja yang Junsu cintai, Lee Hyunmi.

Saat itu juga Changmin mengutuk dirinya sendiri karena tak menyadari perasaan hyungnya itu terhadapa Hyunmi. Changmin juga sangat merasa bersalah, karena selama ini, didepan Junsu, ia selalu menggoda Jaejoong mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Hyunmi.

“Hyung, aku tak menyangka kau begitu menderita. Aku minta maaf, hyung. Aku minta maaf.” ucap Changmin pelan, amat sangat pelan.


***


“Jaejoong hyung, ayo cepat. Sebentar lagi pesawat kita akan berangkat.” Junsu memanggil Jaejoong yang tengah terdiam dan sesekali melihat ponselnya dengan wajah cemas. Namun Jaejoong yang tengah terperangkap dengan dunianya sendiri, tidak menyadari Junsu memanggilnya.

“Hyung! Ya, Jaejoong hyung!” kali ini Junsu berteriak tepat ditelinga kanan Jaejoong. Jaejoong pun terlonjak kaget saat itu juga. Ditatapnya Junsu tajam, sedangkan Junsu hanya menyeringai pada Jaejoong dengan wajah tan-pa-do-sa miliknya.

“Ya! Kim Junsu! Kau benar benar tidak sopan!” kesal Jaejoong.

“Mianhae, hyung. Siapa suruh tidak menyahut saat aku tadi memanggil. Ayo cepat, sebentar lagi pesawat kita akan berangkat, hyung.” ucap Junsu. Yoochun pun mulai melangkah terlebih dahulu, diikuti oleh Yunho, dan Changmin.

“Hyung, ayo.” Junsu membuyarkan lamunan Jaejoong.

“Ah chamkkan, Junsu-a.” Jaejoong tiba tiba menahan tangan Junsu yang hendak berjalan pergi. Junsu memiringkan kepalanya dan menatap Jaejoong heran. Ia tak mengerti dengan sikap hyungnya. Dengan cepat Jaejoong memanggil Yoochun, Yunho dan Changmin dan meminta mereka menunggu.

“Waeyo?” tanya Changmin tak sabaran.

“Tunggu sebentar lagi, aku sedang menunggu seseorang.” pinta Jaejoong. Dia pun melepaskan tangannya yang menahan lengan Junsu dan kembali melihat kesekelilingnya. Mencari seseorang.

Jaejoong yang tengah sibuk melihat kesekelilingnya pun tak menyadari bahwa ada seorang namja didekatnya yang tengah tersenyum lirih padanya. Ya.. namja itu adalah Kim Junsu. Dan Junsu tahu dengan pasti siapa orang yang tengah hyungnya itu tunggu.

Seorang yeoja yang Jaejoong cintai, dan juga merupakan yeoja yang Junsu cintai.. Lee Hyunmi.

“Ah itu dia~” raut wajah Jaejoong seketika berubah cerah setelah ia melihat orang yang ia tunggu datang. Senyuman manis pun terbentuk diwajahnya yang cantik. Semua member mengikuti arah pandang Jaejoong dan mendapati seorang yeoja manis tengah berjalan atau lebih tepatnya berlari kearah mereka.

“Annyeong Hyunmi-a.” sapa semua member dengan ramah, kecuali Changmin dan Junsu.

“A-annyeong, oppa.” ucap yeoja itu seraya mengatur nafasnya.

“Hyunmi-a, ah~ akhirnya kau datang juga. Aku sudah tidak kau tidak datang.” ucap Jaejoong ceria. Dia benar benar senang yeoja itu datang.

“Ne, oppa. Aku tidak mungkin tidak datang.” Hyunmi tersenyum manis pada Jaejoong, begitu pula sebaliknya. Yoochun dan Yunho pun ikut tersenyum senang mendengar jawaban Hyunmi. Namun tidak dengan Junsu, yang ia lakukan adalah mengalihkan pandangannya kearah lain.

Sakit. Ya, Junsu sakit melihat pemandangan didepannya. Ia sakit, hatinya hancur melihat keakraban diantara Jaejoong dan Hyunmi. Ingin sekali saat itu juga ia berteriak dan menangis. Namun semua perasaan itu lagi lagi coba ditahannya. Ia kembali mengalah.

Tanpa Junsu sadari, sepasang mata tengah menatapnya tajam. Mata itu adalah milik seorang pemuda bernama Shim Changmin, seorang namja yang tanpa siapapun sadari telah mengetahui rahasia terbesar yang dipendam oleh seorang namja bernama Kim Junsu.

Changmin pun menghela nafas berat. Ditatapnya Junsu lirih, kini namja itu tengah menatap Hyunmi dan Jaejoong bergantian dengan perasaan terluka terlihat jelas dimatanya.

‘Kau benar benar bodoh, hyung!’ batin Changmin lirih.

Tiba tiba saja terdengar pemberitahuan bahwa pesawat tujuan Jepang akan segera berangkat. Jaejoong pun segera berpamitan pada Hyunmi, disusul oleh Yoochun dan Yunho. Namun tidak dengan Changmin dan Junsu.

“Junsu oppa, Changmin-a.. sampai jumpa.” ucap Hyunmi seraya tersenyum. Junsu hanya menanggapinya dengan senyum tipis, ia pun tidak yakin yeoja itu akan melihat senyumnya. Sedangkan Changmin sama sekali tak menggubris salam perpisahan hangat dari Hyunmi, ia menatap tajam kearah Hyunmi sejenak sebelum berjalan menyusul yang lainnya.

Sedangkan Hyunmi hanya bisa terdiam mematung, ia tak mengerti dengan sikap Junsu dan Changmin yang terlihat begitu.. dingin padanya.

‘Junsu oppa, Changmin-a, ada apa dengan kalian?’ batin Hyunmi tak mengerti.

Didalam pesawat, semua personil TVXQ mulai mencari cari tempat duduk mereka.

“Um, permisi.. apa tempat duduk disebelah anda belum ada yang menempati? Karena sepertinya itu tempat dudukku.” Junsu bertanya pada seorang yeoja yang duduk disebelah tempat duduknya. Yeoja itu menoleh pada Junsu dan menatap Junsu dengan tatapan tak mengerti.

Sedangkan Junsu? Ia hanya diam terpaku melihat wajah yeoja yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tak mengerti. ‘neomu yeppeo.’ batin Junsu. Matanya masih terus menatap wajah yeoja dihadapannya. Yeoja dihadapannya tidak terlihat seperti yeoja Korea, yeoja dihadapannya terlihat seperti gadis… Jepang. Matanya yang sipit, wajahnya yang cantik, pipinya yang chubby, rambutnya yang panjang dan juga kulitnya yang putih.. semua itu membuat yeoja dihadapannya itu terlihat begitu sempurna dimata Junsu.

“Ma.. maaf? Tapi aku tidak mengerti dengan apa yang anda katakan. Aku tidak mengerti bahasa Korea.” yap, benar dugaan Junsu. Yeoja dihadapannya berbicara dengan bahasa Jepang dan menunjukkan bahwa yeoja itu memanglah bukan orang Korea, namun Jepang.

“Ah, maaf. Aku hanya bertanya, apa kursi penumpang disebelah anda belum ada yang menempati? Karena sepertinya itu tempat dudukku.” ulang Junsu, kali ini dengan bahasa Jepang yang memang sudah bisa dikuasainya dengan cepat.

“Ah tentu saja belum, kalau begitu silahkan.” ucap yeoja itu. Junsu pun berterima kasih dan duduk dibangkunya. Dia merasa lega karena tak harus berlama lama berdiri dan dapat segera duduk. Diliriknya yeoja disebelahnya. Yeoja disebelahnya terlihat tengah asik membaca sebuah novel ditangannya seraya mendengarkan lagu dari Ipod miliknya.

Merasa sedang diamati, yeoja itu pun meolehkan wajahnya kearah Junsu. Seketika mata Junsu bertemu dengan mata indah yeoja itu. Jantung Junsu pun berdetak keras tanpa bisa ia control, darah berdesir hebat dan matanya seakan enggan melihat hal lain selain mata dan wajah yeoja dihadapannya.

Dengan cepat, Junsu mengalihkan pandangannya kearah lain. Jantungnya masih terus berdetak keras, keringat dingin mengucur didahinya. Dia pun menarik nafas dalam dalam, karena ia tak menyadari bahwa ia menahan nafas saat bertatapan dengan yeoja dihadapannya.

‘Perasaan apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa jantungku berdetak keras hanya karna menatap matanya?’ batin Junsu.

Ia benar benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Disaat Junsu menatap mata yeoja tadi, Junsu sadar bahwa entah mengapa sulit baginya untuk melepaskan pandangan dari mata yeoja itu. Mata yeoja itu seperti.. menghipnotisnya.

“Anda baik baik saja?” sebuah sentuhan lembut dilengan Junsu dan juga suara lembut seorang yeoja berhasil menyadarkan Junsu dari lamunannya. Dengan cepat ditolehkannya wajahnya kearah sumber suara dan mendapati mata indah yeoja tadi tengah menatapnya khawatir. Wajah Junsu pun terasa memanas tatkala Junsu merasakan tangan yeoja itu masih memegang lengannya dengan lembut.

“I.. iya. Aku baik baik saja.” dengan cepat Junsu melepaskan tangan yeoja itu dari lengannya. Yeoja itu terlihat kaget, namu sedetik kemudian sebuah senyum manis terbentuk diwajah yeoja itu.

“Syukurlah, ah ya.. Aku lupa memperkenalkan namaku, aku Arisa.. Futabatei Arisa.”

“Aku.. aku Junsu.. Kim Junsu.”

~TBC~

Gyakakak *ketawa setan*

Akhirnya nge post juga setelah lama gak nge post >.<

Untuk para readers, semoga suka. jangan lupa coment ya ^^

Ditunggu comentnya, mau itu masukan atau pun kritikan pasti aku terima. Malah itulah yang aku inginkan, kkk~

15 thoughts on “Do you believe in fate? CHAP 1

  1. ANDWE!!! JUNSU (KU)!!!? T.T

    Lebih rela junsu bersanding sma chunnie dripda cewe lain dah /plak

    Hweeeeee su-i kau lupa denganku istrimu yg tak kau kunjungi selama 22 thn? /plak

    Ya! Nisa!! Apa2 in itu junsu suka sma hyunmi hee?? *siapin bom buku*

    Okeeh lanjuut pendek akh :p

    • Wkwkwk😄
      Ikhlaskanlah, eon. Hyunmi itu kan aku, nah kan aku lagi demen tuh sama junchan, jadi aku bikin aja junchan suka sama aku/plak #authorngarep XDD

      Pendek ya, eon? wkwk, emg sengaja aku bikin pendek😛
      Pengen liat, ada yang pengen gk ff ku ini aku lanjutin. Makin banyak yang coment, makin cepet deh ada lanjutannya *dibunuh readers* haha, enggaklah canda😛

  2. Hikzz… siapa yg membuatmu patah hati Junchan ??? Udah sini ama kau aja. Bagus koq ceritanya aku penasaran. Tapi kurang gregetnya gitu *menurut aku sih*.

  3. niita minnizer berkata:

    kyaaaaa..minnie ga baek lo nguping pmbicaraa. org lain..ckckck
    hya! jgn2 nii yeoja baru yg bakal ngisi hati junsu ya?!

  4. Jjessie72 berkata:

    Junchan.. Jgn cari bini org jepang..
    Awas aja smpe naksir tuh yeoja
    *bawa silet skilo*

    biarkan junchan sma uchun..
    Hahahaha

  5. Kynya kalo jd junsu itu bnr2 skt ya!?
    Kerasa bngt feelnya,hhe..
    Hha, changmin gokil ,stlh dy tau junsu sk sm hyunmi, eh mlh dy yg marah sm hyunmi tp salut sm changmin yg peduli sm junsu pdhl kn biasanya kerjaannya berantem truz😄..
    Tinggal dong nh yg blum tau perasaan junsu?
    Junsu udh mli jth cnta sm yeoja lain nh yee, hahaha

  6. H_n berkata:

    on,knapa ksanny jd jae oppa y g ga pka?pdahal kn jae oppa t yg pling pkaaaaaaaaaaa………………………bgt ma skeliling.
    But aq ska on.cpetan y lanjutny.

  7. H_n berkata:

    eon,knapa ksanny jd jae oppa y g ga pka?pdahal kn jae oppa t yg pling pkaaaaaaaaaaa………………………bgt ma skeliling.
    But aq ska eon.cpetan y lanjutny.

  8. H_n berkata:

    eon,knapa ksanny jd jae oppa y g ga pka?pdahal kn jae oppa t yg pling pkaaaaaaaaaaa………………………bgt ma skeliling.
    But aq ska eon.cpetan y lanjutny.*author:maksa bgt seh ne anak?*

  9. TriaJJcassie berkata:

    Sakit bgt jdi JS oppa, ku pikir ptah htinya bkln lma, tau nya cpt jg dia jth cinta ma yeoja lain?!
    JJ oppa tumben jd yg paling ga pka. Lanjuut cingu, next part nya…panjangin dikit ya author?

  10. ama_chan berkata:

    ahahahahahaha…ahehehehehe..
    ternyata min sk godain jae..??
    whuooo…min jantungna ud balik..??*pletak*
    min ngrasa bersalah yha…hiks…hiks…
    d.a.e.b.aaaaaa.k,,^^v

  11. linasuhadi berkata:

    Junsu sakit hati..kekekek..tp d pesawat liat cwek cantik..ech lupa di..ckckckck..
    Junsu playboy nih..junsu oppa nakal..hahahahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s