Confused Line Part 1


 

Confused Line – Part 1

Title : Confused Line

Author : Bibib Dubu

Main Cast : DBSK’s Member, Yoo Seun Mi, Yoo Seul Rin

Support Cast : Jisun

Length : Sequel

Genre : Mistery, Romance, Life, Friendship

Rating : PG-15

A.N : Ff ini pernah dipublish di wp-ku, bibibfanfiction.

 

***

 

Confused Line [1]: Memory

 

Hujan menahannya untuk pulang, dan pada akhirnya ia memilih menunggu hingga air langit itu reda. Ia menjadi teringat—memandangi arah datangnya hujan, membuatnya pernah berpikir apakah betul air itu turun dari langit? Bagaimana bisa bumi yang katanya bundar, yang menurut bayangannya—tidak memiliki atap, dapat menurunkan air dari atas? Kesimpulannya sewaktu ia kecil, bumi memang bundar, dan manusia bukan hidup di atas bumi, melainkan di dalam bumi, sehingga kulit luar bumi adalah atap—yang disebut orang sebagai langit.

Dia terkekeh, mengingat ketidaktahuannya atas teori bundarnya bumi. Setelah dewasa ia tahu, kalau manusia menapak di atas bumi, dan biru langit itu muncul karena bumi memiliki lapisan atmosfer yang menjadi tempat awan berpijak dengan gumpalannya yang terkesan lembut—putih bersih. Pertanyaannya yang belum pernah terjawab hingga detik ini, mengapa bumi, dan juga planet lainnya berbentuk bundar? Tidak kotak atau segitiga. Ia menyerah, mungkin ketidaktahuannya terus bertahan karena ia tidak pernah mencari tahu, atau bisa jadi—dia yang memang bodoh dalam pelajaran mengenai tata surya yang pernah didapatkannya selama SMA. Atau memang pertanyaan itu belum terjawab oleh manusia manapun dan hanya Tuhan yang memiliki jawabannya, bukankah hanya Tuhan Yang Maha Tahu?

Ah, dia terlalu lelah, tidak ingin memikirkan hal-hal aneh lagi. Lelah, bukan hanya karena raganya meronta—minta diistirahatkan setelah seharian penuh bergelut dengan teriknya cuaca di lokasi syuting. Ada hal lain yang mendesaknya untuk mendefinisikan perasaannya sebagai perasaan lelah.

Pikiran, sumber dari segala kekuatan manusia. Ya, seringkali raga yang tak berdaya—bisa terasa berenergi kembali tak kala kau memiliki kekuatan pikiran. Pikiran pula yang menghantarkan setiap manusia pada dua kemungkinan: kesuksesan dan kegagalan.

Masalahnya kali ini adalah—ia kembali tidak dapat mengendalikan pikirannya, kalah oleh belenggu masa lalu yang berkeliaran memenuhi isi kepalanya.

“Yoochun-ah, kau terlihat kurang enerjik hari ini? Apa sesuatu terjadi padamu? Mengingat manajermu meneleponku—memintaku untuk tidak terlalu memacu dirimu hari ini. Apa ada kaitannya dengan lokasi syuting hari ini?”

“Ah, tak apa Hyung, hanya karena cuacanya yang terik. Kau tahu, aku benci panas yang menyengat.” Yoochun, sang aktor utama dalam drama ini—memaksakan dirinya untuk kembali tersenyum, ia tidak ingin orang lain mencium penyebab murungnya.

“Hmmm, aku tidak yakin hanya itu alasanmu. Jangan berbohong padaku, aku sutradara dramamu saat yeoja itu menjadi cameo. Kau melupakanku, huh?”

Hyung,” Yoochun masih ingin berkelit, tapi syndrome kehabisan kata menyerangnya mendadak.

“Aku tahu, sorot matamu dan perhatianmu pada yeoja itu berbeda. Sayangnya dia hanya cameo, kau tidak punya waktu lama untuk bersamanya. Hei, tapi kudengar kau masih berhubungan dengannya setelah drama usai? Benarkah gossip itu dan juga gosip-gosip yang mengatakan bahwa kau merebutnya dari Kim Junsu?”

“Jisun Hyung, bukannya aku tidak menghargaimu sebagai orang yang lebih tua, bukan juga tidak menghargaimu sebagai sutradara dari dramaku. Tapi, perlukah aku menjawab ini? Perlukah kita membicarakan orang yang sudah tiada? Apa dengan aku menjawab, akan berguna?” Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Yoochun menemukan jawaban yang tepat.

“Hmmm, baiklah, itu hakmu untuk tidak memberitahuku. Aku hanya ingin bilang, di dunia ini banyak namja yang hancur karena yeoja, sampai ada istilah no woman no cry. Jadi, dalam hidupmu jangan terlalu banyak mencurahkan pikiran untuk wanita—apalagi kau belum resmi menjadi nampyeon-nya, jangan buang energimu untuk hal tidak penting,” Jisun memberikan petuah untuk partnernya dalam dua kali proyek drama itu.

Yoochun hanya mengangguk, sekedar mengiyakan—walau dalam pikirannya ia tidak setuju, tapi di satu sisi ia memaklumi bahwa sangatlah wajar lawan bicaranya berkata demikian—mengingat sang sutradara belum pernah menikah dan bahkan banyak yang mengatakan bahwa ia antipati terhadap kisah percintaan, sangat kontras dengan julukannya ‘sutradara handal spesialis film romance’.

Hyung, sepertinya menunggu hujan akan memakan waktu lama. Aku pamit duluan ya? Ada tempat yang harus kukunjungi sebelum kembali ke Seoul.” Yoochun segera beranjak dari duduknya, tidak ingin berlama-lama berbincang dengan hyung-nya, mengingat topik yang sedang dibicarakan adalah hal yang paling tidak ingin dia perbincangkan dengan siapa pun.

Sang sutradara mengangguk, “Ne, hati-hati dengan jalanan yang licin,” pesannya pada Yoochun yang sedetik kemudian sudah membalikkan badan dan hanya punggungnya yang tampak. Ia memandangi Yoochun dengan sendu, “Aku tahu kisahmu tidak sesingkat yang orang ketahui…,” gumamnya lirih.

***

Namja itu tersenyum manis, membalas senyuman yang lebih dulu diberikan oleh tamunya. “Kali ini cacing perutmu minta diisi apa?” tanya Jaejoong sambil memberikan buku menu untuk tamu istimewanya, yang sengaja ia layani secara personal.

“Humm, aku sedang ingin makan yang bercabai, rasanya isi kepalaku sangat penuh akhir-akhir ini, kuharap pedas dapat meringankannya. Aku ingin sup iga sapi pedas, ingat—jangan terlalu asin, garam tidak terlalu baik untuk kolestrol.”

“Huh, baik Nona Besar. Hmm, sebenarnya—bicara tentang asin dan rasa, tidak ada rasa yang aman. Manis pun berbahaya untuk gula darah kita. Jadi menurutku di dunia ini tidak ada makanan yang aman, semuanya bergantung pada cara kau mengimbangi dengan penertalnya.”

“Yah, apapun menurutmu, Tuan Koki. Ah, aku sedang tidak ingin berbicara panjang lebar denganmu—bisa jadi rencanaku untuk pergi dari sini setelah maksimal satu jam saja membuang waktuku, terulur menjadi dua jam.” Yeoja itu menggelengkan kepalanya dengan malas, ia tahu—berbicara dengan seorang Kim Jaejoong akan membutuhkan waktu lama.

Jaejoong terkekeh menanggapi tamunya, seorang yeoja yang memang tak pernah akur dengannya sejak SMA. Tapi, yeoja itulah yang memberikan arti penting dalam hidupnya dengan ucapannya yang seringkali menohok, namun hal itu Jaejoong sadari sebagai bentuk kepedulian sang yeoja pada dirinya.

Jaejoong membungkuk sopan, pamit undur diri untuk segera menyiapkan pesanan temannya tadi, yang sering ia panggil Nona Besar karena sikapnya yang seringkali terkesan menjatuhkan orang. Padahal nama aslinya adalah Yoo Seul Rin.

Selepas Jaejoong pergi, Seul Rin melirik ke sisi kanannya dengan hari-hati, seolah-olah ia menoleh hanya karena iseng—bukan ingin menyelidiki siapa namja yang sedari tadi ia rasakan sebagai penguntit. Tidak seharian memang perjalanannya diikuti, tapi dari lima tempat yang ia jejaki hari ini—tempat kerjanya, supermarket, toko buku, bengkel motor, dan restoran Jaejoong, tiga diantaranya menjadi tempat bertemu namja itu. Apa masih mungkin dinilai sebagai ketidaksengajaan belaka—atau memang pertanda ia adalah calon jodoh, seperti yang sering diceritakan dalam film-film bergenre romance yang sering ditontonnya semasa SMA?

“Lumayan tampan,” bisiknya pelan sambil tersenyum. Tapi betulkah ini hanya kebetulan? Ia kembali berpikir. Ooo, ternyata walaupun aku sudah tidak peduli cinta, aku masih bisa membedakan orang tampan, lanjutnya dalam hati.

Namja tadi bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri meja Seul Rin, membuat pipi yeoja itu memerah karena merasa namja itu berniat mendekatinya. Dan benar! Sang namja tersenyum, berhenti di hadapan mejanya. “Annyeong haseyo,” sapa namja itu ramah, membuat hati Seul Rin bertalu-talu tidak menentu iramanya. Seul Rin yang gugup, hanya membalas dengan senyuman kecil.

Sayang, meleset. Sepertinya namja tadi hanyalah penganut norma kesopanan yang baik, yang menyapa siapapun orang yang ditemuinya dengan ramah, Seul Rin menilai dalam hatinya.

Beberapa detik kemudian namja itu kembali melangkah, hingga akhirnya berhenti di sebuah meja yang berada di serong kanan depan Seul Rin, tidak terlalu dekat sebenarnya—terpisah dengan dua meja.

Seul Rin memberengut, mengutuki dirinya sendiri mengapa ia masih memedulikan ketampanan. Akhirnya ia memilih mengeluarkan iPod-nya dan kemudian menyumpal telinganya dengan earphone—berharap kegiatan itu dapat mengurangi rasa jenuhnya.

Sementara, namja tadi duduk—menghampiri orang yang sedari tadi sedang ia amati. “Senang bisa bertemu orang penting sepertimu, Shim Changmin. Kau masih ingat aku? Kita pernah bertemu sebelumnya dalam kasus pencurian Red Pearl Diamond,” ucapnya sembari menarik kursi di hadapan Changmin.

“Huh, tentu saja aku ingat, kau Jung Yunho—tim penyidik khusus kasus-kasus khusus, orang yang munuduhku sebagai pencuri benda berharga tersebut hanya karena aku pernah memotretnya dari balik etalase yang dilengkapi system pengaman,” Changmin menimpali sinis, memang begitu nada bicaranya jika bertemu dengan orang yang dianggapnya ‘musuh’ ataupun ‘calon musuh’.

“Baguslah kalau masih ingat. Tapi sepertinya kau masih kesal padaku, karena nyatanya aku salah menuduhmu. Baiklah, kita lupakan yang telah lalu. Hmmm, kenapa kau berada di Busan?” Yunho berusaha membalasnya dengan sopan, ia tahu karakter lawan bicaranya—jadi tidak tersinggung.

“Perlukah aku memberitahumu apa yang sedang kulakukan? Huh, sepertinya nalurimu untuk mencurigai orang sangat besar. Kau bertanya padaku seolah kemana pun aku pergi, selalu diiringi maksud untuk berbuat jahat.”

“Hmmm, aku hanya bertanya, kau yang menyimpulkan demikian. Berarti, siapa yang mencurigai siapa?” Yunho tersenyum, merasa menang bermain kata dengan orang jenius di hadapannya.

“Cih, kau bisa saja berkelit, padahal aku jelas-jelas tahu—sejak tadi kau sedang mengawasiku.”

“Hah, baiklah, memang itu kegiatanku sejak tadi. Aku tidak sengaja melihatmu, dan menjadi penasaran mengapa kau membuntuti seorang yeoja. Namanya Yoo Seul Rin, kuberitahu kau sebagai hadiah atas pertemanan kita yang baru terjalin.”

“Teman? Huh, sangat percaya diri sekali. Baiklah, sebetulnya aku sudah tahu, jadi kau tidak perlu memberiku hadiah. Dan sebagai balasan karena kau berbaik hati menganggapku teman, aku beri tahu sebuah rahasia. Aku tertarik padanya, jadi aku membuntutinya. Percaya?” Changmin menanggapinya dengan lebih santai kini.

“Kukira orang sepertimu hanya tertarik pada cara hacking, pistol, peluru, ataupun narkotika. Rupanya kau masih normal, tertarik pada yeoja. Tertarik dalam arti sebenarnya—atau tetarik menjadikannya sebagai korbanmu?”

“Huh, terserah kau. Aku pergi, waktuku sangat berharga—sayang kalau hanya kulewatkan untuk menjawab pertanyaan sok tahumu itu. Yang ingin kujawab hanyalah—walaupun keluargaku adalah Bos Narkotika—benda haram itu tak pernah masuk dalam tubuhku.”

***

Lihatlah telapak tanganmu. Hmm…ada beberapa garis utama. Ada garis kehidupan, rezeki, termasuk jodoh tentunya. Sekarang, menggenggamlah…dimanakah garis-garis tadi?

Ternyata, semua garis tadi ada di dalam genggamanmu. Artinya, apapun keadaanmu, semua ada dalam genggamanmu sendiri. Berjuang dan berusahalah untuk menentukan keadaanmu…*)

 

Berdiri di hadapan sebuah pusara, membuat Yoochun teringat kembali perkataan yeoja yang tubuhnya terkubur di dalam sana. Benar, kehidupannya—tergantung pada langkahnya.

Kalimat itulah yang membuat Yoochun bangkit dari keterpurukannya dulu. Saat ia berjuang susah payah merambah dunia modeling hanya untuk membayar biaya rumah sakit orang yang telah mengandungnya selama sembilan bulan. Dicemooh berkali-kali oleh sang fotografer hanya karena ia tidak mau menelanjangi diri menghadap kilatan cahaya kamera.

Kalimat yang membuatnya bangkit, ketika keterpurukan kembali melandanya tatkala hartanya yang paling berharga, ummanya—pergi untuk selamanya meninggalkannya dengan lebel ‘yatim piatu’. untung saja tidak disertai label ‘kasihanilah aku’ seperti yang banyak dijadikan kedok orang-orang yang malas mencari kerja di banyak negara berkembang.

Kalimat yang membuatnya terus gigih mencoba, mengikuti berbagai casting, diusir, ditolak, hingga mendapatkan sebuah peran kecil di sebuah drama. Sampai pada akhirnya, usahanya membuahkan hasil, kini ia bukan lagi aktor yang berlakon demi sekedar menghidupi diri—melainkan seorang aktor yang sepenuh hati memainkan peran karena idealismenya akan penilaian mengenai tontonan yang bermutu.

 

Namun, lihatlah lagi genggamanmu itu…Ternyata masih ada garis  yang tidak ikut tergenggam. Nah, itulah yang ada di luar kendalimu. Itulah kendali Tuhan, di luar kemampuan kita. Itu bagian-Nya. Maka lakukanlah bagianmu dengan kerja keras dan kesungguhan hati. Dan jangan lupa sertakan Tuhan dalam setiap usahamu, karena tiada daya upaya kita tanpa pertolongan_Nya.*)

 

“Aku telah berusaha menjalani bagianku dengan sebaik mungkin, Tuhan. Tapi mengapa kau mengambilnya dariku? Aku tahu, kematian adalah hal yang hanya ada dalam genggaman-Mu, tapi tidakkah kau memberikanku kebahagiaan dalam hidupku—setelah semua ujian yang silih berganti menimpaku? Mengapa ia harus dibunuh orang—pergi di saat aku belum lama mereguk keberhasilan duniawi, yang selama ini jauh dari impianku. Aku ingin menikmati waktu lebih lama dengannya, mengapa kau memanggilnya terlalu cepat?” Yoochun terjatuh lemas di samping makam yeoja-nya, menangis sesenggukan mengutuki takdir.

Seolah langit senja sedang bermuram durja—hatinya terseret dalam luapan kesedihan dan perasaan kehilangan. Ia tidak paham filosofi dari sesuatu hal yang dikatakan baik, dan hal yang dikatakan tidak baik. Sejatinya, apa yang terbaik menurut kita, bukanlah hal yang terbaik menurut Tuhan.

“Itu kutukan untuk kalian. Pengkhianatan yang berujung pada pembalasan yang lebih sadis. Huh, perlukah aku berterima kasih pada pembunuh Seun Mi?” Sebuah suara datang, bergabung dengan kesedihan Yoochun.

“Jaga ucapanmu, tidak bisakah kau menahan kalimat pedasmu? Setidaknya jangan di hadapan pusaranya.” Yoochun marah, matanya memunculkan garis-garis tipis diantara putihnya kornea. Ia bangkit menghampiri sang pendatang baru.

“Aku hanya mengatakan isi hatiku? Aku tidak akan mengatakannya andaikan kau bukan pengkhianatnya—mengambilnya dari sisiku,” orang tadi membalas dengan parau, suaranya sudah mulai dibalut kesedihan.

“Aku minta maaf. Tapi ia sendiri yang akhirnya memilihku, bukan aku yang memintanya. Junsu-ya, aku merindukanmu sebagai sahabat kecilku? Mengapa kau yang sangat polos—kini berubah menjadi sosok bermulut pedas?”

“Masih berani menyebut dirimu sebagai sahabat—setelah semua kebusukan yang kau lakukan di belakangku? Selamanya pencuri adalah pencuri. Walaupun ia telah mendapatkan sanksi hukum—namanya akan tetap tercemar.” Junsu terisak kali ini, buket bunga yang dibawanya mendarat di tanah, diikuti dengan dirinya yang jatuh.

“Sudah, jangan dibahas. Aku datang untuk memberinya do’a dan penghormatan—karena aku tidak sanggup melakukannya saat pemakaman Seun Mi berlangsung,” Junsu menyudahi, ia tidak sanggup lagi menahan luapan emosinya jika membicarakan masalah ini.

Aniyo, perlu kujelaskan. Bukan aku yang mencurinya, kau yang masuk terakhir dalam kehidupan kami….”

“Cukup! Aku ingin tenang menghantarkan do’a untuknya. Dan aku tidak peduli siapa duluan yang datang mengenalnya—nyatanya ia menerima pernyataan cintaku dan akulah yang lebih dulu memilikinya. Kalau masih ingin berdalih, lakukan lain kali di saat emosiku stabil.”

***

Seul Rin melangkah, keluar dari Restoran Jeojoong. Ia segera menuju parkiran motor-tempat kendaraan kesayangannya ia simpan sementara.

“Huh, kempes? Bagaimana bisa? Perasaan ban motorku baik-baik saja saat aku masuk tadi? Hhh…adakah orang yang sedang mengerjaiku?” ia mendengus kesal karena baru saja mendapati ban motornya ‘kurang angin’.

“Seul Rin-ah!” Jaejoong berlari kecil, menghampiri Seul Ri yang masih meletakkan kedua tangannya di pinggang—mengamati kondisi motornya, yang membuat emosinya hari ini makin memuncak.

“Ini untukmu, siapa tahu kau lapar nanti malam. Atau adikmu ingin mengicipi kelezatan masakanku.”

Seul Rin menatap Jaejoong sengit. “Kau menghinaku? Ya, aku bukan lagi Nona Besar anak konglomerat Korea. Tapi aku masih mampu membeli makanan, jangan menghinaku dengan sangat rendah. Jangan merasa kau berada di atasku kini hanya karena kondisi perekonomian kita. Dunia memang berputar, ya, aku tahu itu. Kau jauh lebih kaya kini. Puas?”

Hati Jaejoong mencelos, tidak menyangka niat baiknya disalahpahami oleh Seul Rin. Ia hanya ingin membawakan oleh-oleh untuk keluarga Seul Rin—keluarga yang ia harapkan agar bisa menyatu dengan keluarganya suatu hari nanti.

“Sudah, aku pulang, makin malam makin jarang bus yang melintasi kawasan ini.” Seul Rin mengusap wajahnya yang terasa memanas, ia berusaha mengendalikan emosinya—ia menyadari dirinya menjadi sangat tidak terkendali, padahal ia tahu betul kalau Jaejoong memiliki hati murni—tidak pernah menyimpan obsesi untuk merendahkannya balik.

Mwo? Bus? Bukankah itu motor kesayanganmu?” Jaejoong menunjuk motor yang masih mendarat damai di samping Seul Rin.

“Aku titip, kempes,” balas Seul Rin ketus. “Ah, atau ini trikmu? Mengempeskan ban motorku, lalu selanjutnya berpura-pura menawarkan bantuan untuk mengantarku pulang? Cih, aku tahu kau mengidolakanku sejak lama, tapi perlukah kau melakukan cara sekuno ini agar bisa bersamaku dalam waktu lama?”

Mwo? Ya! Aku tidak seprimitif itu—menggunakan trik konyol hanya untuk bisa berada di dekatmu? Huh, kau terlalu banyak menonton film romance kacangan sepertinya.”

“Cih, mana aku percaya. Sudah, aku naik bus. Jangan harap impianmu tercapai!” Seul Rin makin kesal, terutama ketika Jaejoong menyebutkan film romance.

Jaejoong tidak tahu kalau Seul Rin sangat membenci film romance kini. Hanya menyuguhkan cerita kosong dengan segala hal yang menurut Seul Rin, konyol. Yeoja itu tidak habis pikir mengapa dirinya dulu sangat menggemari film  beraliran romance.

Seiring bertambahnya kisah hidup, Seul Rin makin membenci cinta. Menurutnya, cinta tidaklah beda dengan tipuan belaka. Hanya sebuah perasaan yang disaat ia timbul, maka semua isi dunia menampakkan kepalsuan—berubah seolah menjadi penuh taburan bunga dan lalu-lalang kupu-kupu beraneka corak. Padahal tidak lama kemudian, cinta akan menjelma menjadi samurai berkilat nan tajam—yang dapat memporak-porandakan banyak hal: pertemanan, persaudaraan,  dan juga melenyapkan ketentraman hidup, bahkan tak jarang nyawa terenggut. Jadi apa masih bisa cinta diangung-agungkan sebagai sesuatu yang membawa keindahan tiada tara?

“Permisi, Tuan Koki Kaya,” sindir Seul Rin sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Jaejoong dengan langkah yang dipercepat—karena ia sudah tidak mampu menahan tangisnya, mungkin.

***

Senja menghilang, tidak lagi menampakkan semburatnya. Yang kini merajai langit hanyalah kegelapan—dengan sedikit titik terang nyaris tak tampak, bintang. Jalanan mulai ramai dengan hiruk pikuk malam, mobil dan kendaraan lainnya melaju tertib dari arah area perkantoran—menuju bangunan beratap penuh kenyamanan milik pengemudinya yang didefinisikan sebagai rumah.

Pemandangan itu hanya ia amati dari balik kaca jendela bus yang ia tumpangi. Tidak benar-benar diamati sebenarnya, hanya agar pandangannya teralihkan—wajahya tidak terlihat oleh penumpang bus lainnya. Ia malu, tidak ingin dilihat siapapun kalau matanya yang sembab, menandakan ia baru saja menangis.

Bus berhenti di sebuah halte berikutnya setelah halte tempat yeoja tadi naik. Beberapa penumpang masuk, salah satunya—namja jangkung dengan sorot mata penuh kemenangan, bergegas mengarahkan langkahnya menuju bangku yang diincarnya sebelum penumpang lain menempati posisi yang sebenarnya sudah dia prediksi sebelum dia menaiki bus ini.

I got you,” bisik namja itu nyaris tak terdengar, lalu segera duduk di bangku kosong yang ada di sebelah Seul Rin. “Maaf mengganggu kenyamananmu, tapi bolehkah aku duduk di sini?” ia berbasa-basi, hanya ingin mengetahui reaksi teman sebelah bangkunya.

“Pertama, ini bus umum, tempat duduk itu bukan milikku. Kedua, kau terlanjur duduk, baru minta izin—lalu bagaimana bisa aku menyuruhmu berdiri dan  mencari tempat lain?” Seul Rin membalas dingin, tanpa melirik sedikit pun ke hadapan orang baru itu. Baginya, tangisnya adalah aib yang harus disembunyikan.

“Hmmm, suaramu bergetar agasshi. Kau sedang menangis, atau habis menangis? Wah, sayang sekali yeoja secantikmu menangis. Katanya, tangisan dapat membuat kecantikan seorang yeoja pudar. Bahkan kalau terlalu sering, maka kemolekan parasnya bisa lenyap permanen.”

Seul Rin tidak menggubris, pandangannya masih ia arahkan pada jalanan.

“Hmm, kau mungkin tipikal yeoja sok tegar—yang tangisnya tidak ingin dilihat orang. Baiklah, jangan melihatku.” Namja tadi tersenyum simpul, lalu tangannya merogoh kantong terdepan dari tas ranselnya, “Aku punya sesuatu untukmu. Ini, hapuslah air matamu.”

Namja itu meletakkan sebuah sapu tangan di paha Seul Rin yang terbalut celana jeans. Sang yeoja meraihnya, karena ia merasa perlu menghapus air matanya segera. Ia membuka lipatan rapih sapu tangan berwarna biru dongker itu, di salah satu sudutnya—ada rangkaian huruf yang dijalin melalui bordiran.

 

-SCH-

 

Begitulah bentuk yang tergambar sederhana di atas lembaran kain berukuran 30×30 centimeter persegi yang kini sudah ia siapkan untuk membabat habis air mata yang membasahi area sekitar mata dan wajahnya. “Gomawo, SCH ssi…,” ujar Seul Rin singkat, sedikit ragu-ragu.

***

Jaejoong termenung di kursi yang sebelumnya diduduki Seul Rin, ia sesekali mengeluarkan hembusan udara dari mulutnya, menahan kesal. Bukan kesal pada Seul Rin, tapi pada dirinya sendiri. Harusnya ia tahu, harus lebih berhati-hati berbicara pada Seul Rin kini, apalagi yang menyangkut kehidupan perekonomian. Yeoja itu sangat sensitif setelah kebangkrutan keluarganya pascakematian sang appa. Yeoja itu tetap galak memang, tapi tak setegar biasanya, juga—tawanya jarang terlihat lepas lagi, berbeda dengan sebelumnya.

Biasanya Jaejoong mengamatinya dari kejauhan, melihat yeoja itu dan seorang yeoja lainnya bersenda gurau sembari bersantap di meja favoritnya, tempat Jaejoong termenung kini.

Kedua yeoja itu, sering tertawa hanya karena membicarakan ulah kucing angora peliharaan mereka yang lucu. Keduanya tampak akrab, wajar saja—karena yeoja yang satunya lagi adalah sepupu Seul Rin, seorang pianist muda berbakat yang kemampuannya memaintan tuts—sudah terkenal di seantero Korea, bahkan merembet ke Jepang.

Beberapa kali, yeoja yang datang bersama Seul Rin itu meminta izin pada Jaejoong untuk memainkan piano yang terkesan hanya dijadikan penghias interior, yang Jaejoong letakkan di salah satu sudut restorannya.

Jaejoong hanya tertawa ketika Seun Rin mencemoohnya, mengatakan bahwa piano itu bagaikan barang rongsok di mata Jaejoong, tidak pernah disentuh—apalagi dimainkan oleh pemiliknya. Yeoja pujaannya itu salah sangka, puluhan lagu cinta telah Jaejoong mainkan setiap kali ia tengah merasa rindu pada Seul Rin, ataupun ketika keinginannya untuk memiliki Seul Rin kembali mencuat ka zona kesadarannya.

Lalu, setiap kali pianonya itu dipinjam Seun Mi, semua mata yang berada di dalam ruangan tertuju pada si pemilik jari lentik yang tengah memainkan deretan tangga nada bermelodi indah. Decak kagum, dan diakhiri dengan tepukan tangan riuh setiap kali sebuah lagu selesai dimainkan.

Setiap itu pula, Jaejoong ikut memandang takjub—sekaligus berharap ia dapat mengiringi permainan piano itu dengan suaranya yang merdu, sekedar mempersembahkan lagu cinta untuk Seul Rin. Sayangnya semua itu hanya khayalannya, keberaniannya tidak pernah muncul sekalipun.

Chosohamnida, Kau pemilik restoran ini, kan?” Sebuah suara menyeret Jaejoong kembali ke dunia nyata.

“Ah iya, memangnya kenapa?” Jaejoong membalas ramah, sekalipun ia tidak mengenal orang yang membuyarkan lamunannya tadi.

Yeoja yang tadi duduk di sini, apa dia yeojachingu-mu?” orang itu bertanya lagi, kali ini sedikit ragu nada bicaranya—juga sorot matanya yang tampak tidak yakin dengan pertanyaannya.

“Sayangnya bukan. Ah iya, kau pengunjung baru di restoranku ya? Rasanya aku baru pertama kali melihatmu sekarang.”

“Oh, hampir lupa. Aku tidak sopan ya, seharusnya memperkenalkan diri di awal. Baiklah, aku Jung Yunho, memang baru pertama kali datang ke tempat ini karena aku memang bukan penduduk Busan.”

“Ooo, tak apa. Sebetulnya tidak perlu memperkenalkan diri pun aku tidak akan marah. Hmm, ngomong-ngomong kenapa kau menanyakan Seul Rin?” Jaejoong segera mengarahkan pembicaraan agar dapat menjawab rasa penasarannya pada namja yang menanyakan hubungan dirinya dengan Seul Rin.

“Tidak, hanya saja tadi aku sempat mendengar adu mulut kalian membicarakan rasa asin dan manis. Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan pembicaraannya. Jaejoong ssi, sedikit petuah dariku, mungkin keberanianmu akan mampu meyeretmu ke tahap yang lebih maju, tidak sekedar memendam rasamu dalam hati.”

Jaejoong mendesah pasrah, “Walaupun aku berani—hasilnya akan tetap sama, status kami hanya sebatas teman, aku tak pernah ada di matanya.”

Yunho mengangguk mengerti—ia bisa merasakan kesedihan yang menghinggapi hati Jaejoong. Tapi menurut Yunho, Jaejoong masih lebih beruntung darinya, Yunho bahkan hanya bisa memendam perasaannya, sekaligus ini adalah perjumpaannya yang kedua dengan yeoja itu. Dan yang menyedihkan adalah Seul Rin sama sekali tak mengingat dirinya, terbukti saat Yunho memberinya senyuman—tapi yeoja itu hanya membalas tersenyum kecil. Padahal Yunho selalu menyimpan sebuah kaset yang diberikan yeoja itu padanya ketika perjumpaannya yang lalu, kaset yang berisikan lagu-lagu yang sering Yunho mainkan di tape mobilnya, lagu-lagu yang Yunho sebut sebagai ‘lagu kenangan’.

TBC…

***

Oya, yang aku kasih tanda bintang, itu adalah kalimat dari sebuah SMS yang masuk ke handphoneku yang dikirim oleh teman sejurusanku, dan aku sih cukup ngerasa tertohok dengan kalimatnya, bagus.

Gomawo untuk semua yang udah mau baca. Aku mengharapkan komen kalian berupa masukan. Aku butuh masukan—supaya ke depannya aku bisa jadi lebih baik.  Aku ga akan marah kalau dikritik, asal jangan bash dbsk, aku bakalan marah banget. Atau, kalau kalian bukan tipe pengkritik, minimal berikan penilaian agak rinci mengenai ff ini, mau bantu aku?

Don’t be silent reader, OK?

About these ads

2 comments on “Confused Line Part 1

  1. Bnr2 hrs bacany konsen bget, kl ga salah arti jdny.. Tp seru sih jd dsini YC n JS suka sm ce yg sama.. Jae, YH, CM suka sm cewe yg sm.. Bener gt kn?

  2. wah.. keren , baru pertama kali baca ff DBSK yang YC sma JS saingan(?)
    nantinya bakal nyambung ya, cerita antara JS , YC,JJ,CM,YH ? pasti kereen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s